11

1092 Words
Atmosfer dalam mobil terasa kaku setelah Sasa dan Dinda turun. Firli tidak tahu harus bicara apa sebab Azam sendiri terlihat tak berniat membuka suara. Ia terus memandangi Azam yang fokus mengemudikan Honda Jazz biru miliknya dengan satu tangan. Siku kanannya bertumpu pada jendela mobil sembari menggigiti kuku jarinya. Raut wajah Azam juga tak mengisyaratkan apa pun. Firli tebak, pria itu tengah berpikir keras untuk menyampaikan berita ini kepada kekasihnya. Dan jika itu benar, Firli akan menjadi perempuan paling jahat karena menjadi penyebab putusnya hubungan Azam dan Tita. “Mas tuh kenapa coba main iyain aja maunya Bude sama Pakde. Kita nggak ngapa-ngapain dan harusnya Mas tolak. Kalau Mas nggak berani bilang ke Pakde sama Bude, biar aku yang bilang.” Azam tak berniat menyahuti Firli. Saat ini ia tengah memikirkan posisi tidurnya semalam. Bagaimana bisa ia tidur memeluk Firli padahal tadinya ia duduk di bawah? Apa tanpa sadar ia berjalan sambil tidur? “Mas! Kok diem aja, sih!” hardik Firli jengkel. “Diem kenapa sih, Fir. Itu mulut nyerocos mulu. Lama-lama Mas lakban.” Sambil berkacak pinggang Firli melotot ke arah Azam. “Enak aja! Emang mulutku kardus apa dilakban segala.” “Ya makannya diem,” ujarnya tanpa melihat sebab ia setengah memperhatikan mobil yang melintas agar ia bisa berbelok menepi. “Ayo, turun.” Ia melepas sabuk pengaman, mematikan mesin mobil, lalu membuka pintu bersiap turun. Karena tak ada pergerakan dari sisinya, ia pun menoleh. “Nggak turun? Mas lapar ini. Kalau mau di sini ya nggak apa-apa.” Azam keluar mengabaikan Firli merajuk. Firli menghela napas panjang sembari menatap punggung Azam. Bukan bahagia yang ia rasakan saat ini, tapi rasa bersalah dan sedih. Ia bersalah kepada Tita dan Sasa. Sedih karena Azam akan terpaksa menikahinya jika masalah ini tidak diluruskan. Firli memang menyukai Azam. Tapi jika hubungan ini melukai pria itu, lebih baik Firli memilih mundur. Lagi pula, apa enaknya punya suami tapi tak mencintainya? Itu namanya bunuh diri pelan-pelan sebab hanya sakit hati yang akan ia terima. Karena itu, Firli bertekad untuk membatalkan semua ini. Ia tak ingin egois dan terus menerus dirongrong rasa bersalah. Setelah memantapkan hati, Firli turun menyusul Azam yang sudah terlihat lahap menyantap nasi pecel lengkap dengan peyek dan teh hangat. *** Firli masuk rumah dengan langkah gontai setelah berhasil mengusir Azam yang berniat turun menemui orang tuanya. Ia tak ingin mereka bertemu sebelum Firli menjelaskan dan membuat orang tuanya menerima permintaan Firli. Rina baru saja akan menelepon Firli saat pintu depan terbuka. Putrinya tampak tidak bersemangat mengucap salam dan menyalami tangan Rina. Firli bahkan langsung masuk ke kamarnya. Kening Rina berkerut. Ia memutuskan mengikuti putrinya ke kamar. “Fir. Ini Mama bingung tadi Bude telepon ....” “Itu salah paham, Ma,” potong Firli cepat. “Aku nggak mau kalau pernikahan ini dilanjutin. Mas Azam itu udah punya Mbak Tita. Masa gara-gara lihat Mas Azam nggak sengaja tidur meluk aku, main nikahi aja,” ungkap Firli sebal kemudian mengempaskan tubuhnya ke kasur. “Aneh banget kan, Ma? Lagian kasihan Mas Azam kepaksa gitu. Aku nggak mau.” “Tapi kata Bude, Azam mau. Mana yang bener?” Rina pun duduk di sisi Firli. “Emang kejadiannya gimana, sih?” tanyanya penasaran. Perempuan berkulit kuning langsat itu duduk bersila menghadap Rina. “Aku juga nggak tahu gimana sebenarnya, Ma. Orang waktu kita tidur, Mas Azam belum pulang. Aku kan tidur di sofa, yang lain di karpet. Pagi-pagi Mas Azam tidur meluk aku gitu. Aku nggak sadar. Itu aja aku dikasih lihat Mbak Dinda kok.” Firli menceritakannya tanpa mengurangi sedikit pun yang ia tahu. “Aku juga udah jelasin sama Pakde kalau kita nggak ngapa-ngapain. Ya kali aneh-aneh di sofa, tapi tetep aja maksa Mas Azam. Kan kasihan, Ma.” Rina tidak tahu harus berkata apa, ada benarnya juga omongan Firli. Tangannya terulur mengelus lengan Firli. “Terus Mama harus gimana?” “Kalau ditolak aja gimana, Ma?” saran Firli coba-coba. Refleks Rina memukul kuat lengan Firli hingga putrinya itu berteriak. “Ngawur kalau ngomong.” Tubuh Firli mendadak lunglai. “Lha, terus gimana? Misal nih misal ya, Ma, aku suka Mas Azam tapi Mas Azam sukanya sama Mbak Tita, yang bakal sakit hati terus siapa? Aku, kan?” Firli berusaha membuka pikiran Rina untuk mendukung keputusannya. Jujur saja, terasa berat hati Firli menolaknya, tetapi ia tak ingin terjebak dalam pernikahan semu. “Mas Azam bisa aja terus sama Mbak Tita. Terus aku, Ma? Aku nggak bakal dimaafin kalau jadi prang ketiga. Jadi menurutku, mending sekarang batal daripada nanti udah nikah terus pisah. Bener nggak omonganku? Dan parahnya lagi, hubungan keluarga kita nanti bisa pecah.” Semoga mamanya mendukung. Firli berdoa dalam diam. Wanita berdaster biru di hadapan Firli itu memindai wajah putrinya lamat-lamat kemudian tersenyum. “Iya, sih. Eh, tapi Mama mau tanya deh, Fir. Menurutmu, Azam itu gimana?” Firli tampak berpikir. Dahinya berkerut. Dia menggigit bibir bingung. Matanya melihat ke atas dan kedua alisnya terangkat. “Apa ya, Ma. Standar, sih. Ngemong, baik, ya karena kita saudara kali. Nggak pelit. Ya gitu-gitulah,” jelas Firli sambil merebahkan badan tengkurap dan bermain ponsel. “Sabar?” “Heum.” “Perhatian juga?” “Bener.” “Ganteng, nggak?” “Iya,” balas Firli asal sebab ia tengah fokus pada permainan Candy Crush. “Cocok deh dijadiin suami.” “Iya.” “Suka nggak sama dia?” “Suka,” jawab Firli enteng. Alis Rina pun terangkat diiringi senyum simpul. “Cinta, nggak?” Kepala Firli mengangguk yakin. “Cinta, dong.” Tangan Firli berhenti bergerak dari layar ponsel. Sontak matanya membelalak. Ia langsung beranjak duduk. “Eh, nggak, Ma. Ngawur itu tadi. Beneran deh ngasal jawabnya.” Rina tertawa keras melihat Firli geragapan. “Ketahuan ya siapa yang bikin kamu galau. Dia ternyata,” goda Rina membuat pipi Firli bersemu merah sampai menyebar ke seluruh wajah. “Cieee ...” “Nggak, Ma. Mama salah denger itu,” elak Firli, tapi ia tahu percuma saja sebab Rina sudah mengetahui yang sebenarnya. “Beneran. Kan aku cuma jawabin pertanyaan Mama.” Rina semakin terbahak. Astaga! Firli terlihat lucu saat malu seperti pencuri yang ketahuan mencuri baju. “Iya juga nggak apa-apa, Fir. Nggak dosa juga,” goda Rina lagi dan wajah Firli semakin merah. “Kalau gitu kita terima aja lamaran Bude Astri.” “Jangan, Ma! Mbak Tita mau dikemanain? Aku nggak mau.” “Ya nggak dikemana-manain,” sahut Rina enteng lalu beranjak pergi. “Orang mereka udah putus kok.” Firli terdiam. Matanya mengerjap beberapa kali. Kening Firli berlipat mencoba mencerna omongan Rina. Putus?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD