Wajah nelangsa Firli dua hari ini membuat Dita penasaran. Ada apa lagi gerangan dengan kanjeng ratu cerewet itu? Tidak biasanya juga Firli tidak bercerita padanya. Apa ada masalah berat hingga tak bisa dibagi dengannya? Begitu duduk di samping Firli, Dita menepuk ringan lengan Firli. Alisnya terangkat seolah berkata “Ada apa?” pada Firli saat temannya itu menoleh.
“Gegana,” sahutnya pendek.
Kening Dita berkerut. Ia tak paham maksud Firli. “Cita Citata?” Hanya itu yang terpikir di otak Dita.
“Nggak lucu!” sembur Firli ketus. Dia sedang tidak ingin bercanda karena suasana hatinya buruk.
“Yang ngelucu juga siapa, Jaenab! Kulempar sepatu juga, nih.” Dita pun ikutan emosi. “Kalau lagi cari pelampiasan, sono hajar orang yang bikin kamu marah. Enak aja nyembur-nyemburnya ke aku. Emang aku monster, pakai disembur?” Dita mengibaskan rambutnya ke belakang, lalu mengambil bedak dari tas.
Firli menghela napas kemudian menempelkan pipi dengan lesu di atas lipatan tangannya di meja. Ia sedang tak bersemangat dan sumber semua itu adalah Azam. Ia membutuhkan penjelasan, tapi Azam hanya menjawab singkat, “Nggak usah mikir yang aneh-aneh.” Jawaban apa itu? Bukannya plong, Firli malah terus kepikiran.
Seakan belum cukup membuatnya galau, Azam mengirim pesan jika tiga hari ini dia harus ke Surabaya untuk menghadiri undangan perusahaan tempatnya bekerja. Masalah Tita belum ketemu titik terangnya, ditambah Sasa, dan diperparah jawaban Azam yang seakan acuh tak acuh. Lama-lama Firli bisa gila. Eh, amit-amit. Jangan gila dulu. Ia belum nikah.
“Kenapa, sih, Fir? Cerita gitu, lho. Sumpah nggak enak banget lihat mukamu. Ini kupingku juga nggak enak nggak denger kicauanmu.” Dita berusaha melucu agar suasana hati Firli membaik meskipun guyonannya garing.
“Jadi dua hari lalu tuh aku ke rumah dia. Biasa, ngumpul gitu. Nah, aku lihat Mas Azam di taman. Dia ... pelukan gitu sama Mbak Sasa. Lihat mereka gitu kok sakit ya, Dit? Padahal, kapan hari aku maksa dia buat batalin nikahan kita. Artinya, dia bebas, kan? Dia bisa balikan sama Mbak Tita, pikirku gitu. Tapi kok lihat dia sama Mbak Sasa ... kayak nggak rela gitu. Waktu pulang kan dia yang antar, kirain dia bakal jelasin gitu, eh dia cuma bilang 'nggak usah mikir aneh-aneh' gitu. Kan aku jadi kesel, Dit. Masalah Mbak Tita belum jelas, Mbak Sasa ikutan. Ngelu ndasku.”[1]
“Hmm, Detektif Dita perlu beraksi ini kayaknya.” Dita mangut-mangut sambil mengusap-usap dagunya, berpikir. “Btw, kamu nggak tanya gimana hubungan dia sama ceweknya yang dulu sebenarnya?”
Firli menggeleng. “Mas Azam ngeles kalau ditanya. Ngalihin pembicaraan gitu. Lupa deh aku.” Raut wajah Firli berubah muram.
“Makanan terus sih otaknya,” omel Dita spontan. “Soalnya gini, menurutku lho, ya. Menarik kesimpulan dari ceritamu, duh aku udah kayak detektif beneran aja ngomongnya, Mas Azam tuh bukan tipe cowok berengsek yang suka tebar ranjau. Okelah anggap dia b******k, dia tetep bakal mikir waktu iyain pernikahan kalian. Itu kan hal serius nggak mungkin main oke aja.
“Selain karena kamu sepupunya, dia juga nggak mau nyakitin perasaan dan bikin malu orang tuanya, juga keluarga besar kalian. Bisa jadi dia terima permintaan papanya karena dia emang single, udah putus gitu maksudku sama ceweknya. Coba deh nanti kalau ketemu tanyain gimana hubungan dia sama ceweknya.
“Terus soal Mbak Sasa, mending bersikap biasa aja. Turuti gitu omongan Mas Azam, toh dia udah milih kamu. Emang kamu rela lepasin Mas Azam buat dia kalau seandainya Mbak Sasa minta kamu mundur?” ujar Dita menantang.
Firli menggeleng cepat. Jauh di lubuk hatinya ia tak ingin Azam kembali pada Tita dan dirinya pasti gila kalau sampai melepas Azam. Melihat pria itu dengan Sasa kemarin saja hatinya nyeri, apalagi melepasnya, bisa mati berdiri dia.
“Ya udah nggak usah aneh-aneh. Ntar kalau ada waktu coba tanyain lagi. Siapa tahu Mas Azam mau cerita,” saran Dita. “Senyum dong biar cantik gitu. Masa dari kemarin mendung terus, nggak enak tahu.”
Firli mengangguk. Senyum manisnya terlihat. Perasaannya sedikit lega walaupun masih ada ganjalan. “Makasih, Dit. Udah agak plonglah, dikit gitu, tapi masih kepikiran juga.”
****
Peluh membanjiri tubuh ramping tersebut saat ia duduk bersandar di tembok sanggar senam Apotek Sawojajar Mas. Musik dan canda tawa menghiasi ruangan berukuran besar itu. Suasana yang lama ia tinggalkan. Malam ini untuk mengalihkan kegundahan hatinya, Firli mendatanginya lagi. Tubuhnya lelah, kakinya nanti pasti akan terasa njarem[2], tapi perasaan Firli lega.
“Lama, Fir, nggak ikut. Sibuk? Di grup juga jarang muncul. Biasanya aja beugh.” Zin Novie—instruktur zumba—duduk berselonjor di samping Firli. Tangannya mengibas-ngibas mengusir panas yang dirasa.
“Ho'oh ini, Cikgu, sering lembur. Pulang-pulang udah capek. Bawaannya tidur mulu. Ini tadi ....” Ucapan Firli terputus ketika ponselnya berdering dan bergetar. Cepatcepat ia mengambilnya. Nama Maszam muncul di layar. “Cikgu, aku terima telepon dulu,” ucap Firli lalu keluar dari ruangan agar tidak bising.
“Ya, Mas?” ucap Firli cepat.
“Kamu di mana?”
“Di apotek tempat senam. Kenapa emang?” tanya Firli sambil memijat-mijat kakinya.
“Udah selesai? Bawa motor?”
“Udah. Ngojek soalnya mau jalan sama temen-temen ke ....”
“Mas jemput. Kamu WA tempatnya.”
“Ini orang main tutup aja. Kebiasaan banget deh,” gerutu Firli sebal. “Eh, tunggu ... berarti itu orang udah balik dong, kok mau jemput?”
Seketika hati Firli berbunga-bunga. Pria yang ia rindukan pulang. Dengan langkah ringan seakan melayang, Firli kembali ke ruang senam. Ia menghampiri instrukturnya dan mengatakan jika ia tidak ikut jalan. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, Firli bergegas turun ke pelataran parkir. Ia pikir, Azam akan lama ternyata pria itu sudah menunggu.
Senyum lebar Firli mengiringi langkahnya menuju Azam. Namun, sejenak kemudian senyumnya luntur. Ia ingat jika mereka harus bicara. Azam berutang penjelasan padanya. Ia baru saja akan bicara kala Azam memeluknya erat. Semua rangkaian kata dalam otak Firli hilang dalam hitungan detik. Kegundahan, kegelisahan, dan ketidakpastian yang selama ini ia rasakan mencair sempurna dan tanpa jejak.
“Mas kangen, Fir.”