Bab 17

1075 Words
Keenan terdiam sejenak, ia melirik Orion dengan seulas senyuman tipis yang agak menyakitkan, sambil menggarukkan tengkuk kepalanya meskipun tidak terasa gatal. “Lho? Kakak tidak mengenaliku, ya? Padahal kita sudah sering bertemu di lobby kantor Anda, dan aku sering sekali menegur Kakak. Jadi, bukankah itu adalah hal yang wajar?” jelasnya. Orion terdiam. Namun, matanya mulai meneliti pria muda itu dengan tajam, lalu beralih pada Cantika yang hanya diam. Ia memandangi mereka begitu bingung seolah tidak mengenal salah satu dari dua orang itu. Tak ada perkataan dari ketiganya, mereka seolah memilih untuk menikmati kekosongan yang penuh tekanan dan semilir angin yang begitu sejuk menyentuh kulit, tapi tidak mampu meredakan panas di d**a. “Hm!” Cantika berdiam singkat, lalu bangkit dari tempat duduk dengan langkah lemah. “Kalian mengobrol saja dulu, akan aku bawakan minuman.” “Tidak perlu, Kak. Aku harus pergi ke kantor lagi. Aku kesini juga hanya ingin memastikan kakak baik-baik saja. Sesekali, mainlah ke rumahku ya.” “Baiklah, hati-hati di jalan,” jawab Cantika dengan suara lemah. Keenan hanya menganggukan kepala, lalu berpamitan pada Orion dengan senyuman yang sama. “Maaf mengganggu waktu Kakak Ipar. Sampai jumpa lagi.” Tanpa menunggu jawaban, ia beranjak pergi dari hadapan mereka, langkahnya mantap meskipun punggungnya terlihat sekuat itu. Keduanya memandang punggung Keenan yang mulai menjauh dari pandangan, namun Orion justru menatapnya dengan pikiran yang penuh kekhawatiran dan keraguan. “Mulai esok, jangan suruh dia datang kemari!” desis Orion, tangannya kembali menggenggam erat. “Ini rumahku, dan hanya aku seorang yang bisa memutuskan siapapun yang boleh masuk dan bertamu di sini.” Helaan napas langsung terdengar keras dari bibir Cantika. Entahlah, ia tak pernah mengerti dengan keinginan suaminya yang selalu begitu keras. Keenan hanya datang untuk sekedar mampir, memastikan dia baik-baik saja, tapi ia malah mempersulitnya. “Berarti, aku bisa bertemu dengan dia diluar?” Orion langsung menatapnya tajam, matanya membara seperti api. “Silakan,” katanya dengan suara rendah tapi penuh ancaman. “Jika ingin kakimu, ku tukar sebagai hukumannya.” Kata itu langsung membuat Cantika terbebani, d**a terasa sesak sampai sulit bernapas. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia berusaha keras menahan air mata agar tidak menetes. Ia menatap Orion dengan pandangan yang campur marah dan sedih. “Hukuman? Padahal aku cuma mau bertemu dengan adikku?” ujar Cantika dengan suara yang gemetar, tubuhnya mulai bergetar. “Apa salahnya aku ingin memiliki orang yang peduli padaku selainmu?” Orion tidak menjawab. Ia hanya berdiri tegak, matanya tetap tajam seperti baja. Tak ada tanda perasaan di wajahnya, hanya d******i dan kemarahan yang menyebar. Dia mendekat sedikit, napasnya hangat menyentuh telinga Cantika. “Kamu hanya butuh aku,” katanya dengan suara rendah yang bergema di telinga. “Ikuti saja perintahku, Cantika! Kau tahu, aku tidak butuh penolakan darimu, jika kau tak suka … kau sendiri yang akan menanggung akibatnya. Bukan bocah ingusan itu!” Cantika menunduk, tangannya menggenggam ujung baju sampai lusuh. Dia tahu berbicara dengan Orion sia-sia. Pria itu selalu punya alasan sendiri, selalu merasa benar. Semua yang dia lakukan selalu dianggap salah, bahkan hanya bertemu dengan adiknya sendiri. “Baiklah, Mas.” Suara Cantika terdengar lemah dan tak berdaya, tanpa secercah perlawanan lagi. “Bagus! Sekarang masuklah, ingat aku mengawasi kamu dan jangan coba-coba keluar dari rumah ini,” cetus Orion dengan nada yang tegas, lalu langsung melangkah menjauh dari hadapan istrinya. Orion masih berdiri di taman, pikiran sudah mulai melayang ke Keenan dan rahasianya. Tangannya mulai merogoh kantung celananya, jari-jari mencari sesuatu yang selalu ada di sana. Ia meraih sekotak rokok, mengambil satu batang dengan perlahan, lalu meraih korek api. Orion mulai menyesap rokoknya, napasnya keluar bersama asap abu-abu yang mengepul perlahan di taman. Angin sepoi menyebarkan asap itu, membawa ia kembali ke kenyataan yang pahit. Ia menghela napas pendek dan datar, menyemprotkan api ke ujung rokoknya. Asap abu-abu keluar dari bibirnya, menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sesaat terlihat lemah. Tanpa ragu lagi, ia mengambil ponselnya dan mencari nomor Dante. Dia menekan tombol panggil, dan teleponnya hanya berdering sekali sebelum Dante menjawab. “Tuan Orion? Ada perintah?” suara Dante terdengar hormat dan siap di seberang telepon. “Dante, carikan informasi tentang seorang pria yang bernama Keenan, adik dari istriku.” Ada jeda sejenak di seberang telepon, seolah Dante sedang mencatat. “Keenan, Tuan? Apa ada poin khusus yang ingin Tuan ketahui?” “Semua,” jawab Orion dengan tekanan yang tak bisa dibantah, menyesap sisa rokoknya sampai habis. “Riwayat hidupnya, pekerjaannya sekarang, siapa yang dia temui sehari-hari, dan … kenapa dia tahu tentang proyekku yang seharusnya rahasia hari ini.” Dante menghela napas lemah. “Baik, Tuan. Akan kulakukan secepat mungkin. Tapi membutuhkan waktu beberapa jam. Informasi tentang orang awam tidak selalu langsung didapat.” “Cepat,” desis Orion, nada suaranya tetap datar tapi penuh ancaman. “Saya butuh semua informasi sebelum hari ini berakhir. Jangan gagal.” “Tidak akan gagal, Tuan. Nanti saya akan menghubungi kembali segera.” Telepon terputus. Orion membuang batang rokok yang habis ke troli sampah dengan gerakan kasar, tangannya masih menggenggam ponselnya. Ia menatap langit yang sudah gelap, pikiran penuh dengan pria muda itu. Tiba-tiba terdengar suara orang jatuh dari dalam rumahnya itu, disusul dengan teriakan nyaring yang membuat d**a keduanya berdebar kencang. “Arggh! Orion, lihat istrimu ini!” Suara itu berasal dari ibunya, Bu Saraswati, yang sering mampir tanpa pemberitahuan. Orion langsung berbalik, langkahnya cepat menuju pintu rumah. Ketika ia membuka pintu, ia melihat Nyonya Elena duduk terkulai di lantai koridor, baju bajunya sedikit kusut, sedangkan Cantika berdiri di dekatnya dengan wajah pucat, tangannya menggenggam pundak yang tampak sakit. “Kau sengaja melukai aku, bukan? Lantai ini kenapa begitu sangat licin?!” bentaknya. Cantika menggeleng lemah, suaranya gemetar. “Tadi aku sudah memberitahukan kepada mama dan Kak Alesha untuk hati-hati.” “Kenapa kau selalu membuat masalah? Aku sudah bilang diam-diam di kamarmu, kan?” cetus Orion. Ia mendekat, tapi tidak mendekati Cantika. Ia menunduk melihat ibunya seraya mengulurkan tangannya. Nyonya Elena bangkit dengan bantuan Orion, lalu menatap Cantika dengan pandangan hina. “Istrimu ini selalu mencari alasan! Kemarin Alesha yang ia sakiti, sekarang aku! Entah apa yang sebenarnya dia inginkan kepada kita? Apa dia begitu bahagia melihat kami ini terluka?” Cantika menunduk lebih rendah, air mata yang sudah lama ditahan akhirnya menetes ke lantai. “Aku tidak berniat melakukan itu, Ma. Aku sudah bilang ke mama—” “Cukup! Masuk ke kamar sekarang! Jangan keluar sampai aku yang menyuruhmu dan jangan sesekali meminta Bi Iyem untuk mengambilkan makanan!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD