“Ada apa?”
Orion baru saja turun dari lantai atas, langkahnya mantap namun penuh tekanan saat mendekati istrinya. Tatapan tajam menusuk begitu kuat sehingga Pak Joko segera menundukkan kepala seolah ingin menyembunyikan diri. Tubuh Pak Joko bahkan gemetar ketika ia memutuskan untuk mundur beberapa langkah.
Cantika berbalik, matanya memandang suaminya dengan tatapan bingung yang tidak menyembunyikan keraguan. Orion berdiri tepat di sebelahnya.
“Ada apa?” ulang Orion, kali ini suaranya terdengar tegas.
“Anu, Tuan… Di luar ada seorang pria yang ingin bertemu Nona Cantika,” jelas Pak Joko dengan suara yang terengah-engah. “Namanya tidak dia sampaikan, tapi dia yakin bahwa Nona mengenalinya, Tuan.”
Orion tidak menjawab. Ia mendegus perlahan, napasnya terasa hangat di udara dingin ruangan. Matanya tetap menatap Cantika dengan tajam, seolah ingin menguluti hidup wanita itu hidup-hidup.
“Suruh dia pergi!” desis Orion dengan nada yang tegas sekali, tak ada ruang untuk penolakan. “Rumah ini tidak menerima tamu yang tidak diundang!”
“Baik, Tuan.”
Tanpa ragu lagi, Pak Joko berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruangan, langkahnya tergesa-gesa seolah ingin melarikan diri dari tekanan yang dipancarkan oleh sang tuan.
“Tunggu dulu!”
Suara Cantika membekukan Pak Joko tepat di tengah langkahnya. “Jangan diusir.”
Setelah mendengar itu, tangan Orion menyatu dalam genggaman yang erat, tulang jari menekan kulit sampai memerah dan berdarah noda. Ia melirik Cantika dengan pandangan yang menyiksa, wajahnya memerah karena kemarahan yang menyembur seperti api dalam perut. Terlihatnya begitu marah membuat Cantika gegas menoleh, tubuhnya sedikit menggoyangkan dan terasa gugup seolah angin dingin menyelimuti badannya dari ujung rambut hingga ujung jari.
“Mas, boleh ya aku samperin dia? Takutnya itu adikku atau orang yang aku kenal,” ujar Cantika dengan suara yang lemah dan bergetar, matanya menunduk tidak berani bertemu pandangan suaminya yang membara.
“Tidak!”
Kata itu keluar dari mulut Orion dengan tekanan yang kuat, seperti kilat yang memecah kegelapan, tanpa jeda sama sekali. Udara di ruangan menjadi lebih padat, penuh tekanan yang membuat orang sulit bernapas.
“Mas, sekali ini saja,” pinta Cantika lagi, nadanya penuh harapan yang rapuh, seperti daun yang hancur oleh angin kencang. “Tidak akan lama, kok. Cuma mau tanya saja.”
Lama mereka berdiam, hanya napas yang terengah-engah yang terdengar. Orion masih menatapnya dengan mata yang membara, tapi di dalamnya terlihat secercah keraguan yang ia coba sembunyikan.
Akhirnya, ia menghela napas panjang yang terdengar berat, napasnya hangat menyebar di udara dingin.
“Terserah,” katanya dengan suara yang datar, tapi penuh tekanan.
Cantika merasakan lega yang meluap, meskipun jantungnya masih berdebar kencang. Ia berbalik ke arah Pak Joko, yang masih berdiri terketak-ketak di sana, matanya terbelah antara sang tuan dan Nona Cantika.
“Pak Joko, bawa dia ke ruang tamu belakang ya,” ujarnya dengan suara yang sedikit lebih tegas, meskipun tubuhnya masih gugup. “Jangan sampe ada yang lain lihat.”
Pak Joko mengangguk cepat dan melangkah keluar dengan langkah yang tergesa-gesa. Cantika hendak mengikuti, tapi tangan Orion tiba-tiba menahan lengan dia — tegas tapi tidak menyakitkan. Ia mendongak, melihat wajah suaminya yang masih tak terbaca maknanya.
“Segera selesai,” katanya, nada suaranya rendah tapi penuh ancaman. “Kalau ada yang salah, kamu tahu apa yang akan kulakukan.”
Cantika mengangguk lemah, d**a terasa sesak lagi. Ia melepaskan diri dari genggaman Orion dan melangkah keluar, langkahnya terasa berat seolah membawa semua beban tekanan. Udara luar rumah terasa segar menyegarkan tenggorokan yang kering, tapi kegelisahan di hatinya hanya makin bertambah.
Sampai di ruang tamu belakang, Pak Joko sudah menunggu dengan seorang pria yang berdiri menghadap jendela. Pria itu memutar badannya ketika Cantika masuk.
“Keenan?” panggil Cantika.
Nama itu keluar dari bibirnya dengan gemetar. Pria yang berdiri di sana memang Keenan, adik laki-lakinya.
Rambutnya yang selalu rapi seperti biasa dengan kemeja bersih dan rapi, hanya saja matanya terlihat lelah dan di pipinya ada bekas luka yang masih merah menyengat.
“Kakak?” sapa Keenan dengan seulas senyuman manis di bibirnya, matanya menyinari. “Mau bertemu denganmu susah sekali, masa harus menunggu dan mendapatkan izin dulu. Kau tega sekali!”
“Bukan begitu ….” Cantika mendekatinya dengan langkah lembut, wajah manis adiknya memang tak berubah sedikit pun. Hanya saja, kini ia tumbuh dengan badan tegap dan tinggi, membuat Cantika merasa kecil di depannya. “Ini kan rumah suami kakak, wajar aja kalau harus menunggu izin dulu. Lagian, kamu tumben sekali datang kemari.”
“Iya! Tapi, sama adik ipar sendiri, kenapa tega sekali?” ujarnya dengan nada canda tapi sedikit menyakitkan.
Cantika tak menjawab. Ia mendegus sebal, napasnya terasa panas di d**a, lalu langsung duduk di kursi taman yang ada di sudut ruangan. Keenan mengikutinya dengan cepat, duduk di kursi sebelahnya.
“Kau kesini mau apa?”
Keenan menatapnya sebal. “Aku hanya mampir saja, ingin bertemu dengan kakakku ini. Bukankah sudah sejak lama kita tidak pernah bertemu? Dan bagaimana pekerjaanmu?”
Cantika terhenyak, d**a terasa sesak. Bingung harus menjawab apa pada adiknya, sementara tatapan Keenan begitu dalam seolah ingin menembus semua yang ia sembunyikan.
Perlahan, Keenan mengambil tangan kakaknya dengan lembut, jari-jari yang lembut menyentuh kulitnya. Ia memandangnya khawatir, memastikan bahwa ia tidak salah liat.
“Kenapa tangan kamu biru? Pipi kakak juga ada luka kecil di situ.”
Cantika langsung menarik tangannya dengan cepat, menyembunyikannya di balik punggung. “Ini hanya luka biasa aja. Tak apa-apa. Kerjaan kamu gimana?” tanyanya cepat, mencoba mengalihkan perhatian.
Saat itu, pintu ruangan terbuka perlahan-lahan. Orion berdiri di ambang pintu, tubuhnya sedikit bersembunyi di balik pintu sambil mata tajamnya mengawasi kedua orang. Dia melihat Keenan yang sedang memegang tangan Cantika, lalu melihat Cantika yang buru-buru menyembunyikan tangannya. Ia melangkah masuk dengan hati-hati, langkahnya lembut tapi tetap penuh d******i.
“Siapa dia?” tanya Orion dengan suara yang datar.
Keenan segera bangkit dari kursinya, wajahnya kembali tampak ceria meski matanya masih menyimpan kekhawatiran. Dia menunduk sejenak sebagai tanda hormat, lalu tersenyum ke arah Orion.
“Hai, Kakak Ipar,” sapa Orion dengan senyuman yang manis, tangannya terbuka seolah ingin bersalaman. “Aku Keenan, adik laki-laki Cantika. Maaf ya kalau tiba-tiba mampir tanpa memberitahu.”
Orion hanya mengangguk, matanya masih menatap Keenan dengan waspada. Ia tak mau menyentuh tangan yang diulurkan adiknya Cantika, hanya berdiri tegak di sana sambil memeriksa setiap gerakan Keenan.
“Kau kenapa datang?”
“Cuma mau bertemu kakak Cantika aja, Kak. Sudah lama tidak bertemu.” Tapi tiba-tiba, matanya terlihat bingung dan dia menatap Orion dengan tatapan yang heran. “Eh, kenapa Kakak Ipar ada disini? Bukankah kalian ada rapat tentang proyek besar?”
Kata itu langsung membuat Orion terkejut. Matanya membesar, dan ketegangan yang sempat mereda kembali terasa padat di udara. Dia melangkah sedikit mendekat, tatapannya menjadi lebih tajam lagi.
“Kenapa kau tahu tentang proyek itu?”