Bab 15

1064 Words
“Jangan banyak tanya!” “Tapi, Mas … kepalamu berdarah! Pasti ini rasanya sakit,” bisik Cantika dengan suara gemetar, langsung menarik tangan Orion dengan cepat. “Mas tunggu disini, aku akan mengobati kamu. Jangan kemana-mana!” Orion mendegus pelan, tapi tubuhnya tetap mengikuti apa yang Cantika suruh. Dia duduk di kursi ruang tamu dengan langkah yang goyah, lalu menatap Cantika yang melesat pergi dengan gerakan tergesa-gesa. Tak lama, wanita itu kembali membawa baskom yang diisi air hangat dan lap, ditambah kotak P3K yang dia selalu simpan rapi. Gerakannya cepat tapi cermat, seolah takut luka Orion semakin parah. “Kau kenapa heboh sekali?!” cetus Orion dengan suara yang masih jelas terdengar. Namun, Cantika memilih untuk mengabaikan itu. Dia duduk di sebelah Orion dengan hati-hati, lalu tangannya dengan telaten mengambil lap, memerasnya sampai tidak terlalu basah, dan menempelkannya tepat di kening suaminya yang berdarah. “Lain kali, hati-hati ya, Mas,” ucap Cantika dengan suara pelan namun tulus, mata dia tetap menatap luka di wajahnya. Dia membuka kotak P3K dengan telaten, mengambil kapas dan obat antiseptik. Pertama, dia membersihkan luka di kening Orion dengan kapas yang dibasahi air, gerakannya perlahan sekali. Orion hanya diam, matanya menatap Cantika dengan pandangan yang tajam. “Ini kalau lukanya tidak langsung diobati, nanti jadi infeksi, Mas.” “Jangan banyak bicara. Aku pusing dengar ucapan kamu!” ujarnya dengan suara pedas. Cantika hanya diam, memilih untuk mengabaikannya saja. “Kalo sakit, bilang ya, Mas,” bisiknya lagi, lalu meneteskan antiseptik ke kapas. Ketika dia menempelkannya, Orion mengerutkan alis dan berkata, “Kau sengaja menekannya, ya?” “Tidak, Mas. Aku melakukannya dengan hati-hati,” ujarnya seraya tetap mengobati luka di keningnya, lalu mengambil perban dan membungkusnya dengan hati-hati. Ketika beralih ke luka di tangannya yang lebih parah, Orion melihat bagaimana tangannya dia berkerja dengan telaten “Kau terlalu heboh. Ini cuma luka kecil doang, tidak perlu dibuat sebesar itu.” “Bukan kecil, Mas! Sudah berdarah banyak dan mungkin sudah terkontaminasi debu,” jawab Cantika dengan tegas. Cantika merendam kapas lagi, membersihkan luka di tangannya perlahan-lahan, sambil berbisik doa diam-diam agar luka itu cepat sembuh dan Orion tidak merasa sakit lagi. Selama proses pengobatan, Orion masih sesekali mengeluarkan kata-kata pedas yang seolah tidak disengaja terucap dari bibirnya. Ketika Cantika mengambil perban dan mulai membungkus luka di tangannya. “Kau mengambil perban yang salah ukuran! Ini terlalu lebar, membuat tangan aku tidak nyaman!” ucap Orion seraya mendengus sebal. Cantika tak menanggapinya, ia langsung mengambil perban yang lebih kecil dan membungkusnya kembali. “Jangan menyeka terlalu keras di bagian ini! Aku bukan kain yang akan kau cuci kasar!” cetus Orion lagi yang membuat Cantika mendengus sebal. Setelah selesai mengobati semua lukanya. Cantika menaruh kotak P3K dan baskom kembali ke tempat semula. Dia melihat Orion yang masih duduk di kursi dengan posisi yang goyah. “Kamu pasti lelah banget ya, Mas? Mending tidur aja deh, biar tubuhmu cepat pulih,” ajak Cantika. Orion mencoba berdiri dengan sendirinya, tapi tubuhnya terasa terlalu berat dan sakit di mana-mana. Dia tergelincir sedikit, dan Cantika langsung menopangnya dengan kedua tangan yang kecil tapi kuat. “Kau ngomong seolah aku tidak bisa berdiri sendiri,” ujarnya dengan suara yang masih pedas. Cantika langsung mengikutinya berjalan ke kamar. Dia bahkan membantunya melepas baju yang sobek dan penuh debu, lalu mengambil selimut tebal untuk membungkus tubuhnya. “Kalo bukan karena kau yang heboh dan takut aku jatuh, aku sudah tidur di ruang tamu saja,” ujar Orion dengan suara yang lebih pelan, matanya mulai berat karena kelelahan. Cantika tersenyum sedikit, meskipun air mata masih ingin menetes. “Tapi Mas butuh tempat yang nyaman untuk pulih dengan cepat.” Orion berbaring diam, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sebelum dia tertidur sepenuhnya, dia melihat Cantika yang berdiri di sisi ranjang, masih melihatnya dengan khawatir. “Tetap disini!” **** Matahari menyinari kamar melalui celah tirai ketika Orion bangun tidur. Tubuhnya masih sedikit sakit, tapi sudah lebih baik. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang hangat menempel di tubuhnya membuatnya menoleh dan mendapati Cantika sedang memeluk punya ku dengan erat, kepalanya terletak di d**a dia. Orion membulatkan matanya, jantungnya berdebar kencang, dan tanpa berpikir panjang, dia langsung mendorongnya keras. “Aw! Kenapa dorong aku, Mas?!” rintih Cantika dengan suara sakit, tubuhnya terjatuh ke lantai dengan lemparan itu. Orion langsung bangkit dari ranjang, wajahnya langsung datar dengan pandangan meremahkan istrinya. “Jangan karena kau membantuku, kau bisa memeluk dengan seenaknya jidatnya saja, Cantika!” teriaknya dengan nada yang marah, seolah lupa semua yang terjadi malam itu. “Tapi, tadi malam Mas yang minta aku tetap disini dan kamu yang menarik aku ke ranjang untuk memelukku. Aku tidak akan mungkin melakukannya tanpa disuruh kamu, Mas.” Orion mengangkat alisnya, wajahnya semakin gelap. “Anggap saja, itu angin lalu. Jangan bermimpi kalau aku yang memintanya, Cantika! Kau cuma istriku yang harus mengikuti perintahku, bukan yang bebas melakukan apa saja!” ujarnya dengan tegas. “Lebih baik kau mandi dan siapkan makanan untuk kita sekarang!” Cantika terdiam, hati dia menyakitkan. Dia mengangguk perlahan, lalu bangkit dari lantai dengan langkah yang lembut. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menuju kamar mandi untuk mandi, menangis diam-diam di dalamnya sambil air pancuran membasahi tubuhnya. Setelah mandi dan berpakaian sederhana, Cantika turun ke dapur untuk memasak. Tapi ketika dia melewati ruang tamu, dia melihat Nyonya Elena dan Alesha sedang duduk. Mereka melihat Cantika dan langsung menyeringai dengan nada yang hina. “Wah, lihat siapa ini? Perempuan yang cuma bisa memanfaatkan anakku untuk hidup!” ujar Nyonya Elena dengan suara yang menyakitkan. “Kamu pasti senang banget kan, bisa tidur bareng Orion malam ini? Padahal kau tidak pantas!” Alesha pun ikut menambah, “Iya, bener Ma. Dia hanya benalu yang bisa memasak dan mengobati luka. Kalau bukan karena itu, Orion sudah buang dia jauh-jauh!” Cantika hanya menunduk, tidak berani menjawab. Dia terus berjalan ke dapur, hatinya semakin hancur. Dia baru saja selesai memasak ketika penjaga rumah, Pak Joko, masuk dengan wajah yang cemas. “Maaf, Nona Cantika … diluar ada seorang pria yang menunggu nona,” ujar Pak Joko dengan suara pelan, melihat Orion yang baru saja turun ke lantai. “Dia bilang ingin bertemu nona Cantika secara pribadi. Dia tidak mau memberitahu namanya, katanya biar Nona yang datang untuk bertemunya secara langsung saja.” Cantika mengangkat kepala, mata dia penuh kebingungan. Siapa yang mau bertemu dia di pagi hari? Dan apa yang ingin dia sampaikan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD