Ingatannya runtuh seperti daun kering yang jatuh satu per satu.
Cantika berdiri mematung di kamar, napasnya tercekat. Ia meraih bingkai foto di meja, foto yang diambil bertahun setelah Tuan Danu tiada, tapi senyum Cantika di sana berasal dari kenangan yang baru saja muncul di benaknya.
Ia menyusuri wajah Orion dengan ujung jarinya, suaranya pecah pelan. “Aku … selalu jatuh cinta padamu, Mas. Sejak hari itu.”
Kalimat itu menggantung di udara—manis, getir, dan menakutkan sekaligus. Ia tak pernah menyangka, jika jatuh cinta dengan Orion malah menuntunnya seperti ini.
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekati pintu. Cantika menoleh, tubuhnya segera menegang dengan perasaan gusar yang tak bisa dijelaskan.
Pintu terbuka perlahan, mengungkap wajah Orion yang datar. Tangannya memegang cangkir air panas dan porsi makanan. Melihatnya, Cantika tak sengaja tersenyum bahagia, meskipun hatinya masih berguncang.
“Kau pasti lapar, bukan?” tanyanya sambil melangkah dan duduk di pinggir ranjang.
Cantika mengangguk tanpa ragu, ingin mendekat. Namun, Orion mengangkat tangan, menghentikannya. Matanya kembali gelap, dengan seringai tipis yang mengganggu di bibirnya. “Berjongkoklah!”
Cantika terhenyak, tubuhnya secara otomatis melengkung. Tapi Orion berdecak sebal. “Kau ingin makan tidak?”
Ragu, tapi ia mengiyakan. Tubuhnya luruh ke lantai, mendongak dengan pandangan penuh harap. Tapi yang ia dapat hanyalah senyum tipis Orion, sebelum jari-jarinya menyentuh pucuk kepalanya dengan lembut yang menyakitkan.
“Kau sudah menyiram air panas pada Kak Alesha!” cetus Orion, lalu meraih gelas air panas.
Asap mengepul. Lalu, perlahan-lahan, ia menuangkannya tepat ke tangan Cantika. Suara teriakan penuh kesakitan melantun. Buliran air mata langsung luruh, mencampur dengan cairan panas yang menyala di kulitnya.
“Kau juga sudah membuat Mama jatuh!”
Cantika menggeleng-geleng kepala, air mata mengalir deras menyapu pipinya. “M-mas … bukan aku, tapi mereka yang sengaja melakukannya.”
Orion tak mau mendengar. Ia hanya terkekeh ringan, nada itu dingin seperti es. Lalu, tangannya meraih rambut Cantika dan menariknya dengan kuat.
“Ini semua hukuman untukmu!” ujarnya dengan nada tegas, sambil menginjak jari Cantika yang masih berdarah dengan kaku. “Kau tahu, di rumah ini, setiap perbuatan selalu ada konsekuensinya.”
Hati Cantika seolah ditusuk oleh puluhan batu besar, rasa sakitnya meluas sampai ke ujung jari. Tapi yang lebih menyakitkan darinya adalah pikiran bahwa Orion mungkin tidak akan pernah bersamanya lagi.
Kekejaman Orion tak berhenti,.jari-jari yang kuat masih menekan luka di tangan Cantika, membuatnya menggigil kesakitan.
Drrt!
Drrt!
Ponsel Cantika yang tergeletak di ranjang berdering nyaring, memecah keheningan kamar yang menyakitkan.
Orion terkejut, langsung melepaskan tangannya dari Cantika. Ia melesat mengambil ponsel itu, mata menyipit melihat nama yang muncul di layar: Leon. Rahangnya langsung mengeras, rahang atas dan bawah saling bersentuhan dengan keras.
“Ini apa, selingkuhmu?!” serunya dengan nada mendesis, menodongkan layar ke hadapan Cantika yang masih tergeletak di lantai.
Cantika menggeleng lemah, bibirnya gemetar tak bisa mengeluarkan suara yang jelas. Tanpa menunggu jawaban, Orion dengan tega menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan.
“Siapa? Mengapa kau menelponnya?”
Di ujung lain, Leon mengkerutkan keningnya. Suara itu, suara yang terdengar begitu familiar.
Leon berdeham singkat seraya mengatakan, “Perkenalkan, saya Leon, senior dr. Cantika di rumah sakit. Bolehkah saya berbicara dengan dia? Dia sudah dua minggu tidak hadir di tempat kerja dan belum melakukan pengecekan berkala. Para kolega dan saya sangat khawatir, mengingat dia juga ingin mengundurkan diri.”
Orion menyipit mata, tidak pernah mendengar nama Leon sebelumnya. “Dia tidak bisa berbicara sekarang. Saya adalah suaminya. Apa keperluanmu yang mendesak dengan dia?”
“Sebagai seniornya, saya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rekan kerja saya, Pak Orion,” jawab Leon dengan nada tegas tapi tetap sopan. “Saya hanya ingin mengetahui kabar Cantika, apakah ia sedang sakit atau tidak!”
Orion terkejut mendengar itu, tapi segera menyembunyikannya dengan nada yang lebih kejam: “Kesehatannya adalah urusan saya sebagai suami. Anda hanyalah rekan kerjanya, jangan ikut campur urusan keluarga saya dengan bahasa yang seolah-olah Anda memiliki hak atas dia.”
“Ini bukan soal hak, ini soal keselamatan dr. Cantika!” Leon sedikit meninggikan suaranya. “Saya tahu Anda suaminya, tapi dia juga profesional yang memiliki tanggung jawab dan kondisi yang tidak bisa ditunda untuk para pasien! Kenapa kau melarangnya?”
Orion terkekeh dengan nada menyakitkan, suaranya tetap terkontrol tapi penuh ancaman. “Itu hak saya untuk mengaturnya! Profesinya atau kondisinya, semua ada di bawah tanggung jawab saya. Jangan pernah telepon nomor ini lagi, Pak Leon. Jika Anda berani muncul di rumah saya atau ganggu dia lagi, saya pastikan Anda tidak akan pernah bekerja bersamanya lagi bahkan di rumah sakit mana pun.”
Suara Leon terhenti, tertekan oleh kekerasan yang tersembunyi di bahasa Orion. Tak ada kata-kata lagi yang bisa dia ucapkan, cuma napas tersengal-sengal. Tanpa menunggu jawaban, Orion langsung menutup panggilan dengan gerakan cepat, lalu melemparkan ponsel ke sudut kamar.
Ponsel itu menabrak tembok dan terjatuh ke lantai, pecah sedikit di bagian layar.
Orion melemparkan ponsel yang pecah ke lantai, matanya langsung berbalik ke arah Cantika yang masih tergeletak menggigil. Langkahnya berat menuju dia, tiap langkah membuat lantai berguncang.
Dia berhenti tepat di depan Cantika, menginjakkan sepatunya tepat di sisi tangan yang masih menyengat sakit. Matanya memancarkan api kemarahan, tapi di dalamnya terlihat secercah kebingungan yang dia coba sembunyikan.
“Dengar baik-baik, Cantika,” suaranya rendah tapi tegas, seperti guntur yang mendekat. “Jangan sesekali telepon orang itu lagi. Tidak pernah!”
Cantika mendongak, mata penuh air mata yang tak berhenti mengalir. Dia hanya bisa menggeleng lemah, bibirnya terlalu kaku untuk berbicara.
Orion menekan sepatunya lebih kuat, membuat Cantika menggigil lagi. “Blok semua nomor dia! Semua kontak yang berhubungan dengan dia di ponselmu, hapus! Kalau aku melihat dia lagi menghubungi mu, aku tidak akan berbaik hati lagi.”
Dia membungkuk sedikit, wajahnya mendekat dengan wajah Cantika yang memerah. “Kamu adalah milikku. Hanya milikku. Jangan pernah lupa itu.”
Setelah itu, Orion berdiri kembali, meninggalkan Cantika tergeletak sendirian di lantai dengan luka di tangan, air mata di pipi, dan rasa takut yang meluas di hatinya. Dia berjalan menuju pintu, menoleh sebentar sejenak tanpa berkata apa-apa, lalu keluar sambil mematok pintu dengan keras.
Bunyi itu menggantung di udara yang sunyi dan dingin. Cantika hanya bisa melihat pintu yang tertutup, otaknya kosong oleh rasa lelah dan ketakutan. Tiba-tiba, pintu itu sedikit terbuka lagi.
Seorang wanita berdiri di ambang pintu, rambutnya tergeletak rapi di pundaknya, sambil melambaikan tangan dengan senyum yang seolah tahu semua hal. Kak Alesha.
Cantika mengangkat wajah, mata yang berkaca-kaca hanya bisa menatapnya. Suaranya keluar lemah, seperti bisikan angin, “Apalagi ini, Tuhan?”