Bab 20

1086 Words
“Aku tidak menganggu kalian, bukan?” Langkah Alesha mendekat, wajahnya tersenyum sumringah seolah tak ada beban apapun. Cantika hanya terdiam, rahangnya mengeras. Pikirannya berputar kencang, melintasi berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi semuanya berkisar pada dirinya sendiri. Namun Alesha tetap santai. Ia mendekat lebih jauh, menundukkan kepala untuk menatap tangan Cantika yang masih berdarah. “Aku mau ngajak kamu ke mall,” ucapnya dengan nada tenang, tapi suaranya itu seperti kilat yang menyambar detak jantung Cantika langsung berpacu cepat. “Boleh tidak aku mengajak istrimu ke mall?” Orion terdiam sejenak. Mata hitamnya menembus Cantika dengan pandangan yang dalam, membuatnya merinding. Sontak Cantika menggelengkan kepala dengan cepat, matanya memohon, berharap kali ini Orion akan mendengarnya. Alesha hanya menunggu, seringai kecil tercetak jelas di bibirnya. Senyum itu cukup untuk membuat siapa saja yang melihat berpikir hal-hal yang tidak pantas. “Mau apa mengajaknya, Kak? Dia tidak akan bisa membantu apapun malah akan membebani kamu!” cetus Orion. “Justru itu!” Alesha kekeh, berdiri tegak dan menatap Orion lekat-lekat. “Aku ingin dia membawakan semua barang yang aku beli! Biar dia setidaknya ada gunanya sedikit.” Orion mengeluarkan suara decakan, bukan karena marah melainkan kekaguman yang aneh. Ia cepat menunjuk jari Cantika yang masih memerah. “Dia tidak akan bisa membawa apapun, Kak! Yang ada malah menyusahkan. Kau benar-benar ingin membuat hidupmu terlihat menyebalkan?” “Astaga! Kau benar, tangannya pasti lemah, tapi masih bisa sedikit! Kalau tidak dia, siapa yang akan kubawa? Disini hanya ada satu pembantu, mumpung ada dia. Bisalah menjadi babu ku.” Orion terdiam lagi, matanya kembali menatap Cantika yang sudah menggigil di sudut. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun hanya dingin seperti es. Ia melipat tangan, merenung sebentar sebelum mengucapkan kata-kata yang membuat hati Cantika hancur lebih jauh. “Terserah.” Satu kata saja. Tanpa nada, tanpa perhatian. Seolah apa keputusan tentang dirinya hanyalah hal yang remeh. Cantika menunduk lebih rendah, jari-jarinya memegang luka di tangannya sampai terasa sakit lagi. Ia tidak berani mengeluh. Ia tahu, apapun yang keluarganya inginkan, itu yang harus ia lakukan. Alesha tersenyum lebar, matanya bercahaya dengan kegembiraan jahat. “Lihat ya, Orion? Sudah kubilang kan, ada gunanya dia sedikit.” Ia mendekat Cantika, menepuk bahunya dengan kekerasan yang membuatnya terkejut. “Jadi, siap-siap ya, Cantika. Hari ini jam sepuluh kita berangkat. Jangan sampai terlambat kalau tidak, kamu tahu kan apa yang akan terjadi?” Orion hanya menghela nafas pendek, memalingkan wajah ke jendela seolah tidak ingin melihat apa yang akan terjadi. Semua yang penting hanyalah kepuasan Alesha. Dan Cantika? Hanya alat yang bisa digunakan kapan saja. Beberapa menit kemudian, Alesha mendorong Cantika keluar rumah dan naik mobil. Perjalanan hanya terdiam, Alesha sibuk main ponsel, sementara Cantika duduk kaku di kursi belakang, tangan luka masih disembunyikan di balik rok. Begitu tiba di mall, Alesha langsung membujuk Cantika ke lantai atas yang penuh toko mewah. Ia masuk ke toko baju mahal, menyentuh setiap baju dengan jari j****t, sambil menyeringai ke penjaga toko. “Ambil yang ini, yang itu, dan yang warna merah itu juga!” perintah Alesha, menunjuk ke tumpukan baju. “Dia yang akan bawa semua.” Penjaga toko menatap Cantika dengan pandangan meragukan, rambutnya kacau, bajunya sederhana, dan tangannya yang terlihat sedikit memerah. Tapi karena Alesha terlihat kaya, ia hanya mengangguk. Cantika berusaha mengambil semua baju, tapi tangannya yang lemah membuat beberapa jatuh ke lantai. “Ah, bodoh!” teriak Alesha dengan suara yang cukup keras, membuat orang-orang di toko menoleh. “Tidak bisa apa-apa ya? Hanya tahu membuat malu!” Ia menendang salah satu baju yang jatuh, lalu menarik lengan Cantika sampai ia merasa sakit. “Pergi ke kasir! Dan jangan sampe salah hitung, kalau tidak aku minta Orion marah padamu!” Cantika berjalan pelan, kepala tergelundur, sambil semua mata di toko menatapnya. Beberapa orang membisik-bisik, menyeringai merendahkan. Ia merasa malu sampai kepala terasa panas, tapi tidak berani mengeluh. Setelah membayar, Alesha memaksa Cantika membawa semua tas yang berat sampai tangannya luka mulai berdarah lagi, noda merah menutupi kain tas. “Jalan cepat! Aku mau ke toko make-up lagi!” teriak Alesha lagi, memukul punggung Cantika sehingga ia hampir terjatuh. Di toko make-up, Alesha malah meminta Cantika duduk di kursi percobaan. “Coba ini lipstik warna hitam!” ucapnya dengan senyum jahat, mengoleskannya ke bibir Cantika tanpa izin. “Lihat ya, lucu banget! Seperti hantu!” Orang-orang di sekitar tertawa. Cantika melihat cermin bibirnya hitam menyebar, wajahnya pucat, rambutnya kacau. Ia ingin menangis, tapi hanya bisa mengangguk perlahan. Cantika hanya kembali mengangguk, tanpa mengangkat kepala. Air mata mulai menggenangi matanya tapi ia menahannya, takut kalau Orion melihatnya akan marah. Sedangkan, Alesha semakin senang, memaksa Cantika mencoba semua produk make-up yang aneh, eyeshadow hijau tua, blush yang terlalu merah, sampe maskara yang membuat bulu mata terjepit. Setiap kali Cantika bergerak salah, ia akan disebalkan dan memukul tangannya yang sudah berdarah. “Udah, cukup!” teriak Alesha akhirnya, menarik Cantika berdiri. “Sekarang kita ke lantai dasar, beli makanan. Dan ingat jangan berdiri terlalu dekat denganku, nanti orang pikir kamu temanku yang miskin!” Cantika mengangguk, membawa tas-tas berat yang membuat punggungnya bungkuk. Mereka berjalan melewati lorong ramai, dan setiap orang yang lewat pasti menoleh, beberapa bahkan mengambil foto dengan ponsel sambil tertawa. Tangannya yang luka semakin lemah, sampai akhirnya salah satu tas terlepas dari genggaman dan jatuh, barang-barang di dalamnya tercampur aduk di lantai. “Aduh!” pekik Cantika. “Ah, bodoh banget!” teriak Alesha, menendang tas itu sampai beberapa baju terlempar ke jalan. “Bisa apa sih kamu selain bikin merepotkan!” Cantika terkejut, ingin membungkuk mengambilnya tapi kaki dia tersandung tali tas lain hingga membuatnya terjatuh mendarat di lantai penuh orang. Semua orang yang lewat semakin banyak tertawa. Alesha hanya berdiri diam, tersenyum jahat tanpa mau menolong. “Cepat ambil! Jangan bikin orang menunggu dan menonton kau!” Cantika menangis diam-diam, berusaha merapikan barang-barang sambil tangannya berdarah lebih banyak. Tiba-tiba, sepasang sepatu sepatu hitam terlihat di depan matanya dan seseorang dengan tangan kuat mulai membantu dia mengumpulkan barang-barang. “Biar aku yang membantumu!” Suara itu sangat familiar. Cantika mengangkat kepala perlahan, dan matanya langsung meleleh ketika melihat Leon. Leon mengangkat semua barang, lalu berdiri dan menatap Alesha dengan pandangan yang membara. “Kamu siapa sampai memperlakukan dia begini?” Alesha terkejut, tapi segera bersikap angkuh. “Jangan ikut campur, ini adalah urusan keluarga aku!” “Keluarga yang memperlakukan orang seperti barang?” Leon melengkungkan bibir dengan nada marah. “Kalau gitu, saya tidak akan diam saja.” Ia lalu menggenggam tangan Cantika yang luka, memandangnya dengan perhatian. “Saya akan—”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD