Bab 21

1060 Words
Cantika menggelengkan kepala perlahan, matanya basah. Ia menyenggol lengan Leon dengan kekerasan yang tak disangka, sedangkan buliran air mata hampir meluncur dari sudut matanya. Suaranya bergetar, tertekan, saat ia berkata, “Cukup, Leon. Jangan pernah lagi membuatku terjebak dalam masalah seperti ini.” Alesha yang mendengar itu menyeringai dengan nada sinis. Ia melangkah cepat ke arah mereka, lalu menarik tangan Cantika dengan kekuatan yang membuat wanita itu terhuyung-huyung, tubuhnya hampir terjatuh ke lantai. “Kau dengar sendiri, bukan?!” teriak Alesha, suaranya penuh amarah dan malu karena orang-orang tengah menatapnya. “Jangan pernah lagi ikut campur urusanku dan mempermalukan aku di depan orang!” Leon menggelengkan kepala dengan ragu. Ia benar-benar tak mengerti apa yang ada dipikiran rekan kerjanya itu sehingga begitu menurutinya. Tapi satu hal yang pasti: instingnya berderap kencang, menyuruhnya untuk segera menolong Cantika. Lantas Leon melangkah maju, tubuhnya membentang melindungi Cantika di belakangnya. Matanya menyipit menatap Alesha dengan amarah yang sama kuatnya. “Sialan! Kau keterlaluan,” ucapnya dengan suara yang mendadak tegas dan mantap. “Dia tak salah apa-apa. Kenapa kau harus menyakiti dia? Kau pikir, dia adalah babu yang bisa kau suruh dan sakiti?! Aku tahu, kau kakak iparnya dia, harusnya kamu memperlakukan dia sebagaimana adik iparmu!” Alesha menghela nafas dengan keras, wajahnya memerah karena kemarahan. “Jangan berlagak pahlawan di sini! Kau tak tahu apa-apa tentang kita! Lagipula, Cantika tak masalah dengan ini semua. Kenapa kamu yang marah? Apa jangan-jangan kamu menyukai wanita sialan ini?” katanya seraya menuding Cantika. “Astaga! Kenapa kau berpikir seperti itu? Apakah otakmu sudah hilang? Jadi, orang jangan menyebalkan apalagi menyakiti yang lemah!” Kemarahan Alesha meluap. Ia menggoyangkan tangan Cantika yang masih terjepit, membuat wanita itu teriak ringan. “Kau bicara apa, sialan? Aku akan telepon Orion sekarang juga, biarkan dia yang memecahkan masalah ini!” Leon mengangkat bahu dengan penuh keberanian. “Silahkan saja. Biarkan dia tahu betapa kejammu pada istrinya.” Tiba-tiba, tubuh Cantika mulai bergetar hebat. Ia meluruskan badannya, matanya penuh air dan takut, lalu melihat langsung ke mata Alesha dengan nada memohon yang menyakitkan. “Tidak! Jangan, Kak Alesha … jangan telepon Mas Orion!” suaranya gemetar, hampir tersedak tangisan. “Lebih baik kita pulang saja sekarang juga, tolong … aku mohon, jangan lakukan itu.” “Cantika, apa-apaan kamu!” pekik Leon tak menyangka. Cantika menoleh, ia menggelengkan kepala. Berharap Leon mau menyudahi pertengkaran ini. “Aku nggak apa-apa, kamu pergi saja. Terimakasih atas bantuannya.” Leon hanya terdiam. Sementara itu, Cantika buru-buru menarik tangan Alesha, berusaha cepat-cepat menjauh dari keramaian dan tatapan sinis para pengunjung mall. Bahkan, beberapa cibiran menyelinap masuk ke telinga mereka, menyakitkan. Genggaman tangan kencang hanya bisa diberikan oleh Leon dengan tatapan yang nanar. Hatinya gusar, apa gunanya ia ingin melangkah jauh jika Cantika lebih memilih menerima sikap kakak iparnya itu. “Leon,” panggil salah seorang wanita yang berjalan melangkah dengan tangan yang memegang beberapa paper bag. Leon menoleh, mendapati sang mama. “Sudah, Ma? Ayo kita pulang.” Sementara itu, Alesha menolak tubuh Cantika dengan kekuatan, bahu nya mendorong secara gegas. Tangan kanannya melesat untuk melepaskan genggaman Cantika yang terlalu erat—ia benar-benar tidak suka itu. “Jangan sentuh aku!” suaranya tajam, menyilang udara. “Jangan karena kamu membela aku, aku akan memaafkan Cantika! Semua ini karena mu, kalau saja kau tidak bertingkah lemah dan menarik perhatian orang banyak. Aku tidak akan jadi bahan omongan, dan kalau sudah begini, aku tidak akan tinggal diam!” “Kak, tolong … aku tidak tahu ada seniorku di sini. Aku bukan bersikap lemah, aku benar-benar lelah, Kak.” “Berani kamu melawan aku?!” Cantika menundukkan kepala, d**a nya naik turun kencang. Napas terjepit, seolah ada benda berat menekan dadanya. Semua yang dia lakukan selalu salah hingga takutnya meluas, dan berpikir apa kalau Orion tahu semua ini, pria itu akan semakin membencinya? “Maaf, Kak,” suara Cantika pelan, seperti bisikan yang tak berdaya. Jari-jarinya meremas bagian pinggang bajunya, sampai kain itu terlipat-lipat rapat di genggaman. “Aku tidak akan mengulangi kesalahan lagi. Maaf, maaf, maaf, Kak.” Lontaran maaf terus mengalir dari bibirnya, harapannya tergantung pada setiap kata. Tapi wanita dihadapannya hanya menatapnya dari atas ke bawah, senyum tipis menyeringai di bibirnya. Sampai di rumah, Alesha melesat masuk duluan. Matanya berkeliling kencang, mengintai setiap sudut seolah mencari sesuatu yang sudah menunggu. Tapi tak ada yang ditemukannya. Berbeda dengan Cantika yang masih berdiri di halaman, langkah-langkahnya terhuyung-huyung. Barang-barang Alesha menumpuk di tangannya, tas belanja bergantung tebal di kedua siku, paper bag lain tergantung di pergelangan. Tapi wanita itu seolah tidak melihat beratnya sama sekali, melangkah cepat ke dalam rumah dan meninggalkan semua itu di hadapan Cantika. Suatu pemikiran menyelinap, apakah dia hanya ada di sini untuk menangani semua urusan semacam ini? “Cantika, cepet …!” suaranya memecah keheningan, tangan terlipat di d**a seolah kelelahan hanya karena berjalan. Cantika mengangguk pelan. Kakinya masih terhuyung-huyung, tapi dia segera mendekat ke tumpukan barang. Lebih baik patuh daripada mendengar lagi suaranya memekik. “Taruh saja di sofa. Setelah itu, buat aku jus mangga!” Cantika langsung mengangkat tumpukan barang yang berat itu, bahunya menekuk sedikit karena beban. Baru saja dia melangkah dua kali ke arah ruang tamu, suara Alesha sudah kagetkan lagi dari baliknya: “Oi, satu lagi! Jangan lupa siapkan makanan untukku dan Mama. Dia sebentar lagi akan turun kemari!” Cantika berhenti sejenak, d**a naik turun perlahan sambil menghela napas panjang, berharap napasnya bisa melepaskan sedikit kelelahan. Tapi Alesha langsung mendekat, matanya menyipit tajam. “Kenapa kamu menghela napas? Tidak suka denganku ya? Atau mau mengeluh karena disuruh banyak? Pfft, kayak pembantu aja mau sombong. Kalau tidak mau, ya keluar saja dari rumah ini!” “Bukan seperti itu, Kak! Aku hanya menghela napas saja. Tidak berniat mengeluh atau apapun.” “Ck!” Alesha berdecak sebal. “Kenapaa, sih, Orion malah menikah dengan wanita sepertimu! Tidak tahu diri, hanya seorang dokter umum saja. Karier mu juga sudah dibatas jurangan. Harusnya, Orion itu menikah dengan seorang yang lebih dari kamu!” Cantika menundukkan kepalanya. Dadanya kembali sesak namun ia berusaha untuk tetap kuat. “Orion itu menikah sama kamu adalah suatu kesialan! Harusnya, dia mendengar ucapan kami daripada pria tua yang sudah mati itu! Dia beranggapan bahwa kau yang menyelamatinya! Tapi, sekarang lihat, kau hanya p*****r saja, pemuas nafsu suamimu! Dan pembantu untuk kita. Oh sungguh, Orion cerdik juga … membawa wanita untuk bisa mendapati semuanya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD