“Sialan!”
Suaranya memecah keheningan ruangan, disertai degupan jantung yang kencang di dadanya. Rahangnya mengeras sampai gigi-giginya bersentuhan erat.
Di depannya, para anak buahnya menundukkan kepala seolah ingin menyembunyikan wajah mereka. Bahu-bahunya membungkuk, pandangan mata tak berani menyentuh manik matanya yang menyala dengan kemarahan.
“Bisnis pertambangan ini seharusnya berjalan mulus! Semua proyek, baik kecil maupun besar sudah ada di genggaman kita. Jembatan akses sudah selesai, alat berat sudah terpasang, pekerja sudah siap! Jadi, jangan sampai ada sedikit pun kesalahan, bukan cuma masalah perizinan atau kerusakan alat, tapi juga keselamatan yang bisa membuat semua itu hancur!” pekik Orion, suaranya bergema di ruang kantor yang lebar, membuat dinding seolah bergetar.
Ia melangkah cepat ke meja, jari-jarinya menunjuk keras ke layar komputer yang menampilkan data sensor tambang. “Lihat ini! Tekanan di sumur tambang turun lebih cepat dari perkiraan. Kalau tidak diperbaiki hari ini, kita harus menghentikan operasi selama seminggu … rugi miliaran!”
Para anak buahnya hanya mengangguk pelan, tak berani mengeluarkan suara. Satu-satunya bunyi yang terdengar hanyalah bunyi kipas AC yang berputar dan detak jantung mereka yang kencang.
“Semua pergi! Perbaiki ini sebelum matahari terbenam—kalau tidak, jangan muncul lagi di depanku!” teriak Orion dengan nada yang dingin dan tegas.
Segera, para stafnya bergegas keluar ruangan, kaki mereka tergesa-gesa seolah takut tertinggal. Hanya tersisa iia sendirian, wajah masih datar tapi matanya penuh dengan kesombongan dan kemarahan.
Ia mengangkat bahu dengan cuek, jari-jarinya menggosok meja kayu dengan lambat. Baru saja dia mau duduk, pintu kantor sedikit terbuka dan Dante mendekat dengan langkah yang hampir tidak terdengar.
“Maaf, Tuan,” ucap Dante pelan, kepala masih sedikit tertekuk. “Maaf mengganggu, tapi pertemuan dengan klien perusahaan logistik akan dimulai dalam sejam. Mereka mau bahas perjanjian pengiriman batubara ke pelabuhan … volume, jadwal, biaya ongkos angkut.”
Orion mengangkat kepala, matanya menatap Dante dengan tatapan yang menyiksa. “Baik. Siapkan semua dokumen dan data produksi. Jangan sampai ada kesalahan, kontrak ini tak kalah penting, dan saya tidak suka orang yang merusak kesempatanku.”
Dante mengangguk dan mau mundur, tapi suara Orion menyela lagi dengan nada yang lebih kejam: “Dan Dante … buat laporan update masalah tekanan sumur, tapi buat seolah itu sudah selesai. Jangan biar klien tahu kita ada celah. Kalau mereka tahu, bukan cuma kamu yang keluar, semua staf di lapangan juga akan kehabisan kerja.”
Dante mengangguk cepat, tanpa berani menatap lagi, lalu menutup pintu perlahan. Ruangan kembali sunyi. Orion duduk dengan posisi tegak, wajahnya tetap datar.
Perlahan, jari-jarinya meraih ponsel yang pipih di meja samping, jari telunjuknya cepat mencari nomor yang dicarinya. Ketika menemukan nama Cantika, Orion menekan tombol panggilan dengan gegas, tanpa ragu sedikit pun.
Dering terdengar, satu demi satu, sampai suara sambutan otomatis muncul. Ia mendesah kesal.
“Sialan! Dimana dia?” ucapnya dengan nada dingin, seperti sedang memarahi barang mati.
Tanpa menutup panggilan, tangannya beralih ke laptop di depan. Gerakannya cepat dan presisi, mengklik ikon cctv rumah yang langsung menampilkan layar belah ketupat seisi ruangan.
Ia teliti setiap sudut dengan tatapan tajam, dari ruang tamu, dapur, sampai ke kamar tidur. Akhirnya, matanya berhenti di kamera kamar, memperhatikan sosok wanita yang ringkih di ranjang. Bahunya naik turun perlahan, seolah tidur nyenyak.
“Gadis pintar,” ucapnya.
Satu jam kemudian, Orion dan Dante sudah duduk di restauran ternama, di salah satu ruang VVIP yang sunyi dan eksklusif.
Kedua orang itu terdiam dengan tenang, bukan karena tenang hati, tapi karena tekanan yang dipancarkan Orion membuat Dante tak berani membuka mulut sembarangan sambil menunggu kedatangan klien penting.
Tiba-tiba, Orion membuka mulut dengan nada yang datar. “Apa kau sudah dapat informasi bocah itu?”
Dante segera mengangkat kepala, matanya tidak berani menyentuh tatapan Orion. Ia menggelengkan kepala pelan, suaraannya terengah-engah.
“Belum ada informasi penting, Tuan. Yang saya temukan cuma satu hal. Keenan dan Nona Cantika memang bersaudara kandung.”
Orion langsung menatapnya tajam, matanya menyipit seolah ingin membakar Dante.
“Hanya itu!” suaranya meledak, membuat gelas di meja sedikit bergoyang. “Saya membayarmu dua kali lipat untuk menemukan informasi secepatnya, bukan hanya mengetahui bahwa mereka bersaudara! Itu sangat tidak penting!”
“Maaf, Tuan …” Dante mengundurkan badan, suara semakin pelan. “Hanya ada nama keluarga, sekolah, dan universitasnya. Yang lainnya, saya merasa semuanya terlihat bersih. Seolah-olah …” dia terdiam sejenak, pikirannya menerka-nerka, “atau mungkin dia sudah menghapus semua jejak?”
Kata itu membuat hati Orion menjadi kesel, marah, dan sedikit kaget bercampur jadi satu. Ia menggigit bibir dalam sampai terasa sakit, rahangnya kembali mengeras. Lama kemudian, ia menghela napas panjang yang berat.
“Baik,” ucapnya dengan nada yang lebih dingin dari sebelumnya. “Lupakan bocah itu dulu. Bagaimana perkembangan bisnis kita yang lain? Apakah sudah ada organ yang siap dikirim ke Amerika?”
Dante mengangguk cepat, tanganinya sedikit gemetar. “Sudah, Tuan. Semua sudah dikemas rapi. Dan nanti malam, barang kita—baik organ maupun barang narkotika akan diproduksi melewati pelabuhan dermaga. Kami sudah menyuap para polisi dan petugasnya, jadi saya pastikan tempat itu sudah aman.”
“Ingat, Dante—pukul sembilan malam, pastikan semua berjalan dengan lancar! Saya tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi—ketika pengiriman terjebak karena petugas yang lupa disuapi. Kalau ada kesalahan satu lagi, kamu tahu apa yang akan saya lakukan.”
Dante hanya mengangguk cepat, keringat mulai menetes di alisnya. Ia segera mengeluarkan ponselnya, jari-jarinya gemetar saat mengetik pesan ke anak buahnya:
“Pastikan semua siap pukul sembilan. Tuan Orion marah besar kalau ada salah.”
Usai mengirim, dia menyembunyikan ponsel dengan cepat, tak berani melihat wajah Orion lagi.
Hanya sesaat kemudian, pintu ruang VVIP dibuka perlahan. Seorang pria berusia sekitar lima puluhan tahun masuk, mengenakan jas coklat tua yang mewah, dasi polos, dan rambut putih di bagian depan yang disusun rapi. Ia tersenyum lebar. Langkahnya mantap saat mendekati meja.
“Tuan Orion, maaf saya terlambat,” ucap pria itu seraya menarik kursi dan duduk dengan santai. “Sudah dengar kan, proyekmu ada potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pasar Eropa?”
Orion segera melenyapkan tatapan kemarahannya. Dia menggenggam tangan Tuan Pranama. “Tentu, Tuan Pranama. Tambang kita sudah menghasilkan lebih dari tiga ratus ton batubara per hari, alat beratnya baru, jembatan akses sudah kuat, pekerja juga terlatih. Kontrak ini pasti akan menguntungkan kita berdua.”
Tiba-tiba, pintu lagi terbuka. Seorang pria muda mengenakan jas hitam rapi masuk dengan senyum tipis. Dia melangkah masuk membuat Tuan Pranama melihatnya dan tersenyum.
“Ini assisten saya. Keenan.”