Bab 23

1082 Words
“Bukankah kau mengatakan, bekerja di perusahaan saya, Keenan?” tanya Orion dengan nada yang tajam dan menusuk. Keenan hanya tersenyum tipis. Ia mengangguk kepala tanpa ragu sedikit pun, lalu dengan santai duduk di kursi sebelah Tuan Pranama. Wajahnya begitu tenang, berbeda jauh dengan Orion yang sudah menggepalkan tangan begitu erat sampai jari-jarinya memerah. Sontak Dante yang berdiri di sebelahnya terkejut, mata membesar memandang Keenan. Dia mulai meneliti wajah pria itu, ada sesuatu yang tidak asing, seolah pernah melihatnya di mana pun. Tapi seiring waktu, kebingungan semakin menyergap hatinya. Bagaimana bisa orang yang baru saja dia cari informasi tentangnya, tiba-tiba ada di sini sebagai bagian dari tim klien pertambangan? “Benar, Tuan,” ucap Keenan dengan suara yang tenang dan lembut. Dia menatap Orion langsung, mata tidak bergerak. “Saya memang bekerja di perusahaan Anda, tapi hanya untuk kunjungan khusus, untuk membantu menyelesaikan urusan kontrak pertambangan ini bersama Tuan Pranama. Seperti yang sudah disepakati sebelumnya.” Orion mengangkat alisnya, tatapannya semakin tajam. “Disepakati? Saya tidak ingat ada kesepakatan semacam itu!” Tuan Pranama tersenyum, menepuk bahu Keenan dengan ramah. “Saya yang menyuruhnya, Tuan. Apakah Anda lupa? Seminggu lalu, kita bicara lewat telepon. Anda bilang mau kirim orang terpercaya untuk berkoordinasi langsung dengan tim saya. Saya hanya minta agar orang itu adalah Keenan, karena dia mengerti betul tentang teknis produksi batubara. Dia yang akan membantu kita hitung volume dan jadwal pengiriman yang pas.” Orion membeku lagi. Seminggu lalu? Dia memang pernah bicara dengan Tuan Pranama, tapi tidak pernah menyebut nama Keenan. Bahkan, dia baru tahu tentang Keenan beberapa hari yang lalu. “Baik!” Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Orion. Dia memilih mengiyakan, tapi tidak karena percaya, hanya karena tidak ingin merusak kontrak pertambangan di depan Tuan Pranama. Ia melirik Keenan sejenak, mata menyipit dengan nada yang jahat, lalu kembali menatap Tuan Pranama dengan senyum palsu yang tipis. “Saya harap, itu memang benar adanya, Tuan. Karena Anda tahu sendiri, apa konsekuensi terbesar dari membohongi saya!” katanya dengan nada yang pelan tapi menusuk. Tuan Pranama hanya tersenyum lebar, wajahnya tetap rileks. “Saya tidak akan mengecewakan, apalagi berbohong dengan Anda, Tuan. Anda tahu kan, saya sudah berbisnis bertahun-tahun, kepercayaan itu harta paling berharga.” Dia menoleh ke Keenan, yang juga tersenyum tipis. “Benar, Tuan Orion,” tambah Keenan dengan suara yang tenang. “Saya juga tidak akan berbohong. Semua yang kita lakukan hari ini, hanya untuk membuat kontrak pertambangan ini berjalan mulus. Seperti yang sudah disepakati. Dan saya juga tak akan mengkhianati kakak ipar sendiri.” Orion mengangguk perlahan, tapi matanya tidak berubah masih penuh dengan curiga dan kemarahan. Dia melihat kedua pria itu yang sedang tersenyum, dan rasanya seolah ada jaring yang sedang dibuat untuknya. Lalu, mereka mulai meeting sesungguhnya. Semua berjalan mulus secara terlihat, tapi Orion selalu menyelinapkan pandangan ke arah Keenan, mencoba membaca apa yang ada di benak pria muda itu. Setelah sekitar satu jam, meeting selesai. Tuan Pranama berdiri, menggenggam tangan Orion lagi. “Terima kasih, Pak Orion. Saya yakin kontrak ini akan menguntungkan kita berdua. Tim saya akan kirim dokumen resmi minggu depan.” “Baik, tuan Pranama. Tunggu kabar saja,” jawab Orion dengan senyum palsu. Keenan juga berdiri, menyapa dengan anggukan kepala. “Sampai bertemu lagi, Tuan Orion.” Keduanya kemudian keluar ruang VVIP, meninggalkan Orion dan Dante sendirian. Orion mengangguk kepala perlahan, menyaksikan mereka pergi, sampai pintu tertutup rapat. Segera, wajahnya berubah, semua senyum palsu hilang, digantikan oleh kemarahan dan curiga yang terbuka. Ia menoleh ke Dante dengan tatapan yang menyiksa. “Dante, mulai sekarang selidiki semuanya tentang Keenan. Cari tahu siapa dia sebenarnya, apa tujuan dia ada di sini, dan apa hubungan dia dengan Tuan Pranama. Dan yang paling penting … ikuti dia setiap hari. Jangan biarkan dia menyadari bahwa dia sedang diawasi. Saya harus tahu apa yang dia rencanakan.” Dante mengangguk cepat, keringat lagi menetes. “Baik, Tuan. Akan saya lakukan secepatnya.” Orion memandang pintu yang sudah tertutup, jari-jarinya kembali menggepal erat. Lantas ia segera melangkah pergi. *** Sunyi. Hanya suara dengkuran lemah dari ranjang yang terdengar. Mata Orion menyipit, matanya memerah padam karena kemarahan yang membakar. Ia melangkah dengan langkah keras, lantai bergoyang sedikit. Tangan kanannya menggepal dengan erat, sampai urat di pergelangan terlihat menonjol. Dia cepat mengendurkan dasi. Tak cukup sampai situ, tangannya langsung membuka jas hitamnya dan melemparnya sembarangan. Lalu, dengan gerakan kasar, ia melompat naik ke atas ranjang, badannya menekan permukaan kasur hingga Cantika terbangun terkejut. Cantika masih bingung, mata belum sempat terbuka sempurna namun tangan besar Orion langsung menyergap lehernya dengan kekuatan yang luar biasa. Kencang. Sangat kencang. Cantika terbelak, lidahnya mulai terjepit, matanya membesar dengan ketakutan. Dia meronta-ronta, kaki dan tangan memukul badannya Orion, tapi tidak ada gunanya. “M-mas …,” suaranya tertahan di tenggorokan, hancur menjadi bisikan yang tercekik. Orion malah semakin memperkuat genggamannya. Gigi-giginya bergelemetuk keras, bunyinya terdengar jelas di ruang yang sunyi. “Cepat katakan … siapa sebenarnya adikmu itu?! Mengapa dia bekerja dengan klien perusahaanku yang sekaligus pesaing perusahan aku?!” Cantika menggenggam jari-jarinya Orion dengan kekuatan terakhirnya, mata penuh air mata, berharap dia dilepaskan. Tapi Orion seolah buta dan tuli, tidak melihat kesakitan di wajahnya, tidak mendengar teriakan hatinya. Seolah-olah, jika Cantika kehilangan napas di situ juga, dia akan hanya membiarkannya mati. “Jawab, sialan! Jangan hanya meronta dan tahan! Apa kau sengaja menyuruhnya memata-matai aku, hah?!” teriaknya lagi, napasnya tersengat-sengat menabrak wajah Cantika. Makin kencang genggamannya, sampai leher Cantika mulai memerah. Cantika mulai melihat bintang-bintang di depan mata. Napasnya semakin pendek, tubuhnya mulai lemah. Dia coba membuka mulut untuk menjawab, tapi tidak ada suara yang keluar hanya udara tipis yang tercekik. Orion melihat wajahnya yang mulai pucat, tapi amarahnya tidak mereda. Sebaliknya, dia mendekatkan wajahnya, matanya menyala dengan kebencian. “Kalau kau tidak mau jawab …,” katanya dengan nada yang pelan tapi mengerikan, “Aku akan membuatmu menyadari, apa akibat dari membohongi aku.” Dia merenggangkan sedikit genggaman di lehernya, hanya sedikit, cukup untuk Cantika menarik napas tipis yang menyakitkan. Keringat dari dahi Orion menetes ke pipinya, bau beringasnya menyengat hidung. Tanpa secercah kata, dia merobek bajunya dan terlempar dengan kasar ke dinding. Orion menekan tubuhnya dengan erat sampai Cantika terengah-engah, tangan besarnya kembali membungkus lehernya dengan kencang dan menyakitkan. Tubuhnya yang panas dan berkeringat menempel pada kulit Cantika yang dingin dan menggigil. Dia memutar wajah Cantika dengan kasar, menekan bibirnya dengan kekerasan yang menyakitkan. Sementara itu, tangannya yang lain merambat ke bawah dengan cepat. Tanpa peringatan, tangannya itu mencapai lubang labirinnya dan memasukkan dengan kasar. “Arggh!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD