“Ahh!”
Desahan itu lolos begitu saja saat Orion menghantam titik terdalamnya dengan brutal. Cantika mencengkeram seprai, kuku-kukunya menancap dalam. Nyeri mendominasi, mengalahkan desir yang seharusnya ada.
Orion terus menghunjamnya, matanya terpejam, rahangnya mengeras. Ia mencari titik kepuasan untuknya sendiri, tenggelam dalam egoisnya yang membara. Cantika kewalahan, napasnya tersengal-sengal.
“Hmpph! Orion, pelan-pelan,” ujar Cantika akhirnya, suaranya tercekat. Peluh keringat mulai membasahi pelipisnya, rambutnya lepek menempel di dahi.
Perlahan, tangan Cantika bergerak ingin menyentuh bahu Orion, mencari pegangan. Namun, tepat saat jemarinya hampir menyentuh kulit Orion, lelaki itu sudah lebih dulu menepisnya dengan kasar.
“Jangan menyentuhku!” cetus Orion, matanya terbuka, menatap Cantika dengan tatapan jijik. Ia mencabut paksa miliknya dari dalam sana.
“Tapi, kenapa?” Cantika bertanya, suaranya bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Plak!
Sebuah tamparan melesat di pipi Cantika, meninggalkan jejak kemerahan yang membara di sana. Ia menatap Orion dengan mata yang telah berkaca-kaca.
Namun, tangan Orion malah mencengkeram pipinya begitu kuat, membuat Cantika meringis kesakitan. Manik mata mereka bertemu, dan Cantika melihat kilatan amarah yang membara di sana.
“Kau ingin lebih dari ini, huh?” desis Orion, napasnya panas menerpa wajah Cantika. “Kau pikir aku menikahi mu untuk bersenang-senang denganmu?”
Tanpa menunggu jawaban, Orion membungkam bibir Cantika dengan kasar. Ciuman itu bukan ciuman, melainkan serangan. Ia menggigit, melumat, dan menghisap bibir Cantika tanpa ampun.
Cantika meronta, mencoba melepaskan diri, tapi Orion semakin mempererat cengkeramannya.
Tangan Orion yang bebas bergerak turun, meremas kuat-kuat salah satu buah d**a Cantika. Cantika tersentak, mencoba mendorong Orion menjauh, tapi tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan pria itu.
Orion menyeringai puas melihat reaksi Cantika. Tangan yang lain menyelinap di antara paha Cantika, mencari titik sensitifnya. Sentuhan itu membuat Cantika menggeliat, bukan karena nikmat, melainkan karena jijik.
“Argh!” Cantika berteriak dalam ciuman itu, air matanya semakin deras mengalir.
Dalam sekejap, Orion melepaskan ciumannya dan dengan kasar mengangkat tubuh Cantika, memposisikannya hingga menghadapnya. Tanpa persiapan, tanpa kelembutan, ia menghantamkan dirinya ke dalam Cantika.
Cantika menjerit, rasa sakit yang luar biasa menusuknya. Ia mencengkeram bahu Orion, mencoba mendorongnya menjauh, tapi percuma. Orion terus bergerak, memaksanya untuk menerima setiap tusukan yang menyakitkan.
Setiap kali Orion menghantamnya, tubuh Cantika bergetar hebat. Mata itu kosong, tanpa emosi, seolah Cantika hanyalah sebuah benda mati, bukan seorang wanita dengan hati dan jiwa.
“Diam!” bentak Orion kasar, menghentakkan pinggulnya sekali lagi dengan brutal.
Cantika menggigit bibirnya sekuat tenaga untuk menahan jeritan yang ingin lolos. Rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mencoba menunduk, menyembunyikan wajahnya yang penuh air mata, namun Orion mencengkeram dagunya dengan kasar, memaksanya untuk mendongak.
“Lihat aku!” perintah Orion dengan nada dingin yang menusuk.
Dengan susah payah, Cantika membuka matanya yang sudah kabur oleh air mata. Ia menatap Orion, mencoba mencari setitik kehangatan atau penyesalan di matanya, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan.
“Bagus,” gumam Orion sebelum menghantamnya lagi lebih keras. “Ingat tempatmu! Kau sudah menjadi seorang istri yang terikat padaku, seorang wanita yang harus melayani keinginkanku setiap saat, Cantika.”
“A-aku,” Cantika terisak, tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Kata-kata itu tercekat di tenggorokannya, tertahan oleh rasa sakit dan kehinaan yang mendalam.
“Kau cuma apa?” tanya Orion dengan nada mengejek yang membuat hatinya semakin hancur. “Istri bodoh yang mencintaiku pada pandangan pertama? Barang yang kupakai saat aku menginginkannya? Apakah itu yang kau pikirkan tentang dirimu sendiri, Cantika?”
Napas panas Orion menerpa wajah Cantika saat ia merendahkan dirinya dengan kata-kata yang tajam dan menusuk. “Itulah dirimu, Cantika. Kau tidak lebih dari itu.”
Tanpa ampun, Orion mendorong wajah Cantika ke kasur dengan kasar, membuat tulang punggungnya terasa seperti akan patah. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, namun ia tidak berteriak. Ia hanya bisa merintih pelan, mencoba menahan air mata yang terus mengalir.
“Akh!” jerit Cantika putus asa, namun Orion tidak peduli.
Ia terus bergerak dengan kasar, memaksanya untuk merasakan setiap tusukan yang menyakitkan. Bahkan saat tubuh Cantika sudah lunglai dan genggamannya melemah, Orion tidak berhenti. Ia terus memaksanya untuk merasakan sesuatu yang hampa, sesuatu yang tidak memberinya kebahagiaan atau kepuasan.
Setelah beberapa hentakan yang terasa seperti siksaan tanpa akhir, Orion akhirnya berhenti. Napasnya berat, namun bukan karena kelelahan atau hasrat, melainkan karena kepuasan yang egois. Ia menarik miliknya keluar dari tubuh Cantika tanpa mempedulikan wanita itu yang terbaring gemetar tak berdaya di bawahnya.
Tanpa menatap Cantika, Orion bangkit dari tempat tidur dan mengenakan celananya dengan gerakan malas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Cantika terbaring di sana, mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Pinggulnya terasa sakit, perih, dan panas. Air mata terus mengalir membasahi bantal yang sudah basah kuyup.
“Maaf…” bisiknya lirih, tanpa sadar. Seolah itu adalah satu-satunya kata yang bisa dia ucapkan, dia benar-benar percaya bahwa sentuhannya tadi yang membuat Orion marah begitu parah.
Orion berhenti mengenakan celana dan menoleh ke arahnya, tatapannya datar seolah dia hanyalah tumpukan kain di kasar. “Maaf? Kau minta maaf untuk apa, Cantika?”
“Karena… karena aku mau menyentuhmu tadi,” jawabnya pelan, kepala tetap menunduk. “Aku tidak sengaja membuatmu marah.”
Orion mendekat sedikit, cukup untuk membuat Cantika gemetar ketakutan. “Hanya itu? Kau tidak minta maaf karena tidak bisa memuaskanku? Atau karena kau pikir, kau sudah menyesal menikahi denganku?”
Mendengar kata-kata itu, Cantika membeku. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tercekat di tenggorokan. Ia merasa seperti ada pisau tajam yang menusuk jantungnya, membuatnya tidak bisa bernapas atau bergerak.
“Orion, aku tidak pernah menyesal menikahimu. Sejak pertama kali bertemu, aku mencintaimu dan menerima semua kekejaman dan kekurangan mu, aku yakin suatu saat nanti kamu akan berubah,” bisik Cantika.
Alih-alih menjawab, Orion meraih dagu Cantika dengan kasar dan mencengkeramnya lebih keras dari sebelumnya, hingga rahangnya terasa seperti akan retak. Ia menatap Cantika dengan tatapan dingin.
“Gadis pintar! Kalau begitu, mulai sekarang turutilah perkataanku!” cetus Orion.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Orion melepaskan dagu Cantika dengan kasar dan berjalan menuju pintu.
“Jangan lupa sarapan jam tujuh besok pagi dan ikuti semua perkataan mereka,” katanya datar. “Dan satu lagi, jangan pernah menyentuhku tanpa izin ku. Kau hanyalah milikku untuk kugunakan, bukan untuk kau sentuh sesuka hatimu. Juga, jangan mengeluh atau menangis keras. Aku tidak suka rumah yang berisik, dan aku tidak suka yang membuatku merasa terganggu.”
Dia mendekat sedikit lagi, matanya memancarkan kilatan obsesi yang mengerikan. “Kalau berani melanggar, kau akan tahu apa artinya menyesal. Aku akan pastikan kau tidak pernah melakukannya lagi.”