Bab 3

1063 Words
Setiap derap langkah yang menuruni tangga. Jantung Cantika berpacu, meraung protes terhadap nyeri yang masih mencengkeram bagian intimnya. Sentuhan kasar itu masih terasa, membakar pipinya dengan sisa perih yang tak terhapuskan. Napasnya tercekat. Dengan langkah tertatih, ia meletakkan masakan yang telah susah payah disiapkannya di meja. Aroma menggoda dari tumisan bawang dan rempah-rempah seharusnya membangkitkan selera, namun yang ada hanyalah getir di hatinya. “Selamat pagi, Mas,” sapa Cantika lirih, suaranya nyaris tak terdengar saat Orion mendudukkan diri di kursi. Orion membisu. Sorot matanya yang tajam menghunus Cantika, dingin dan tanpa ekspresi. Cantika menelan ludah, mencoba mengusir rasa takut yang mencengkeramnya. Sesaat kemudian, anggota keluarga Orion berdatangan, memenuhi ruang makan dengan aura permusuhan yang kental. Tatapan mereka menusuk, menghakimi setiap gerak-geriknya. “Hanya ini yang bisa kau sajikan?” Suara Nyonya Elena mengiris udara, setajam belati. Kursi ditarik dengan kasar, menciptakan gesekan yang memekakkan telinga. Ia melotot pada hidang di meja. Cantika mengangguk ragu, menundukkan kepala dalam-dalam. “Ini saja yang ada di kulkas, Ma. Bi Iyem juga hanya mengeluarkan bahan-bahan ini.” “Astaga! Jangan hanya mengandalkan Bi Iyem! Kau seharusnya pergi ke pasar, mencari bahan makanan yang layak! Bukan menyajikan sisa-sisa. Apa kau tidak punya inisiatif?!” Nyonya Elena mencibir, tatapannya merendahkan. “Tapi, Bi Iyem bil—” "Sudahlah! Jangan membantah! Bahkan makan dengan tenang pun sulit rasanya!" Orion membentak, meletakkan sendok dengan kasar hingga menimbulkan bunyi dentingan yang memekakkan telinga. Semua orang terdiam. Cantika menarik kursi terdekat dengan tangan gemetar. Baru saja ia hendak duduk, suara Nyonya Elena menghentikannya, tajam bagai cambuk. “Mau apa kau?” “Mau ikut makan, Ma. Aku juga harus berangkat kerja,” jawab Cantika lirih, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya. “Tidak sudi kami!” sahut Intan, adik ipar Orion, dengan nada menghina. “Tempatmu itu di dapur, bukan di sini. Kami semua tidak ingin makan semeja denganmu!” Cantika tertegun. Ia menoleh pada Orion, matanya memohon pertolongan. Namun, Orion hanya menatapnya dengan tatapan kosong, tanpa ekspresi. Tak ada setitik pun pembelaan untuknya. “Kenapa menatap Kak Orion?” cibir Intan, seringai sinis menghiasi wajahnya. “Cepat sana, makan saja di dapur!” “Tapi—” Brak! Orion menggebrak meja dengan keras, membuat semua orang tersentak dan membeku di tempatnya. Cantika memejamkan mata, air mata menggenang di pelupuknya. Ia menatap Orion dengan harapan yang tersisa, berharap pria itu akan melindunginya. Namun, yang keluar dari mulut Orion justru bagai pisau yang menghunus jantungnya. “Tunggu apa lagi? Cepat pergi!” Hati Cantika hancur berkeping-keping. Bukan kata-kata itu yang ingin ia dengar. Bukan penolakan itu yang ia harapkan. Ia merasa seperti terhempas ke dalam jurang yang gelap dan tak berujung. Sontak Cantika membeku di tempatnya. Kakinya terasa terpaku di lantai. Ia tak tahu harus berbuat apa, selain menatap nanar pada pria yang dulu ia cintai. Amarah Orion semakin membara melihat Cantika yang hanya diam terpaku. Ia meraih gelas di depannya, tangannya mengepal erat. Matanya memancarkan kilatan amarah yang mengerikan. “Kau tuli ya?!” bentak Orion, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. “Cepat pergi dari sini! Sebelum aku melempar gelas ini ke wajahmu!” Cantika tersentak. Ia melihat tatapan penuh kebencian di mata Orion, dan tahu bahwa pria itu tidak main-main dengan ancamannya. Tanpa menunggu sedetik pun, ia berbalik dan berlari meninggalkan ruang makan. Langkah kakinya gemetar saat menuju dapur. Air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia merasa seperti seorang pesakitan yang diusir dari rumahnya sendiri. Di dapur yang sunyi, Cantika bersandar pada dinding, tubuhnya merosot ke lantai. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua sakit dan kepedihan yang selama ini ia pendam. Dengan sisa tenaga yang ada, Cantika bangkit dan berjalan menuju meja. Perutnya keroncongan, memaksanya untuk mencari makanan. Namun, saat tangannya hendak meraih panci berisi sisa lauk di atas kompor, suara Orion menggelegar dari ambang pintu, memecah keheningan. Nyonya Elena yang masih di ruang makan mendengarnya gegas mengatakan, “Kenapa dia masih bekerja?! Aku sudah bilang kemarin, dia harus berhenti agar nama keluarga tidak dicemooh hanya karena wanita sialan itu!” Orion mendegus, suaranya penuh kesabaran yang habis. “Hanya untuk beberapa hari ini, Ma! Biarkan dia melakukan apapun, setelahnya biar aku yang mengurus!” Tanpa menunggu jawaban Nyonya Elena, ia melangkah ke dapur. Cantika terkesiap nafsu makannya langsung menguap, tergantikan rasa takut. Ia bergegas menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, berusaha menghilangkan jejak air mata dan sembab. “Sebentar, Mas!” teriaknya dari dalam, suaranya bergetar. “Cepat! Atau kutinggal!” balas Orion dengan nada tak sabar. Cantika meraih tas dokternya, memeriksa isinya dengan tergesa-gesa. Stetoskop, tensimeter, resep, semua harus lengkap. Ia tidak ingin membuat kesalahan sekecil apa pun yang bisa memancing amarah Orion. Dengan langkah tergesa, ia berlari keluar rumah dan langsung masuk ke dalam mobil. Di perjalanan, Cantika mengeluarkan peralatan make-upnya dari dalam tas. Ia ingin menutupi wajahnya yang pucat dan sembab, menyamarkan jejak air mata yang masih tersisa. Namun, belum sempat ia memoleskan bedak, Orion sudah membentaknya, membuat jantungnya berdegup kencang. “Mau apa kau?!” “Aku mau make-up, Mas. Nanti aku pucat," jawab Cantika lirih, berusaha membela diri. Ia menundukkan kepala, tidak berani menatap mata Orion yang penuh amarah. “Kau mau menarik perhatian siapa, hah?! Kau pikir dengan make-up tebal kau akan terlihat cantik? Jangan bermimpi!” bentak Orion, mencengkeram pergelangan tangan Cantika dengan kasar, membuat tas make-up yang dipegangnya terjatuh. Cantika meringis kesakitan. “Tidak, Mas. Aku hanya ingin terlihat rapi. Aku tidak akan pernah menggoda pria lain. Aku hanya mencintai Mas Orion.” “Bagus! Ingat itu! Kau hanya milikku!” Orion semakin mengeratkan cengkeramannya, lalu melepaskannya dengan kasar. “Sekarang, simpan make-up itu! Aku tidak suka kau memakai make-up, apalagi hanya untuk dipandang oleh orang lain.” Cantika menuruti perintah Orion tanpa membantah. Ia menyimpan make-up-nya dan menundukkan kepala. “Mas cemburu?” ujar Cantika pelan, seulas senyuman hampir mengembang namun ia menahannya. Sepanjang perjalanan, Cantika hanya bisa diam. Ia sangat mencintai Orion sepenuh hatinya, meskipun pria itu sering menyakitinya. Sesampainya di rumah sakit, Cantika berusaha tersenyum dan bersikap profesional. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Namun, hatinya tetap terasa gusar. Ia berjalan menuju ruangannya dengan langkah gontai, berharap tidak ada yang menyadari keadaannya. Ia berusaha memasang wajah ceria, meskipun hatinya remuk redam. “Pagi, Cantika,” panggil salah seorang rekan kerjanya. Sontak Cantika menoleh, menatap dokter yang dihadapannya seraya memaksakan senyum manis. “Pagi, Dok,” jawabnya, berusaha menyembunyikan kegugupan. “Lho, Cantika, kenapa wajahmu merah sekali?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD