Bab 4

1080 Words
“Can …!” Tubuh Cantika langsung menegang. Suara itu ramah, lembut seharusnya membuat hatinya tenang. Tapi tidak hari ini. Hari ini, setiap suara terdengar seperti ancaman. Ia memaksa bibirnya tersenyum. Senyum yang manis, cerah, sempurna dan palsu. “Aku tidak apa-apa kok,” balasnya cepat, sebelum dokter Leon sempat mendekat lebih jauh. “Pagi tadi … eh, kucing peliharaan Mas Orion nyakar aku. Anak itu lagi manja.” Dokter Leon tidak langsung percaya. Pandangannya naik-turun, mengamati wajah Cantika yang sembab. Ada garis merah samar di pipinya, seperti bekas tamparan, tapi tersamar make-up yang terlihat tipis, tak seperti biasanya. “Kucing, ya?” Leon mengulang pertanyaan itu dengan nada ragu, seolah mencoba mencerna kebohongan yang baru saja ia dengar. Cantika tertawa kecil, namun suaranya terdengar terlalu cerah, terlalu dibuat-buat untuk pagi yang berat dan penuh tekanan ini. “Iya, Dok! Namanya Snow. Mas Orion suka banget sama dia. Tadi dia tiba-tiba lompat ke aku. Jadi, aku kaget dan ngebuat pipiku jadi merah kayak gini.” Tangan Cantika meremas gagang tasnya begitu kuat sampai buku jarinya mengeras. Ia takut Leon bisa mendengar detak jantungnya yang tak beraturan. Leon menatapnya lebih lama dari yang ia harapkan. Mata lelaki itu lembut namun menusuk, seolah mampu membaca kebohongan yang ingin ia kubur dalam-dalam. “Kamu yakin baik-baik saja?” tanya Leon dengan nada pelan, namun penuh perhatian. Semenjak Cantika menikah dengan Orion, Leon sering melihat goresan-goresan luka di tubuh wanita itu, luka-luka yang selalu ditutupi dengan berbagai alasan. Tenggorokan Cantika tercekat. Ia bingung haru bagaimana menanggapinya. Salah satu pasien lewat sambil memanggil nama Leon. Kesempatan itu digunakan Cantika untuk mengangguk cepat. “Tentu. Aku harus ke ruang konsultasi. Ada pasien jam delapan.” Tanpa menunggu jawabanya, Cantika langsung melangkah pergi, sedikit terlalu cepat, sedikit terlalu kaku. Ia harus terlihat normal. Ia harus terlihat kuat. Ia harus terlihat tidak mencurigakan oleh siapapun. Tapi saat pintu ruang kerjanya menutup, lututnya melemas. Nafasnya pecah. Tangannya kembali menyentuh pipinya yang masih perih. “Jangan sampai ada yang tahu,” gumam Cantika. “Mas Orion tidak suka namanya menjadi bahan gosip.” Ia menutup mata, menegakkan punggung, memaksa dirinya bangkit. Detik berikutnya, ekspresi dokter Cantika kembali dipasang: ramah, lembut, profesional. Hanya saja pancaran matanya tetap retak. Lantas ia melangkah keluar untuk menemui pasien-pasien yang sudah menunggu kehadirannya. Namun, tepat pada saat membuka pintu perutnya keroncongan. Ia memegangnya, tadi pagi dirinya tak diberi kesempataan untuk makan. “Dok, pasien sudah menunggu,” tegur salah seorang perawat yang biasanya selalu ada di ruangan. Cantika mengangguk. “Iya sudah, suruh masuk.” Di sisi lain, Orion duduk di kursi kebesarannya, matanya terpaku pada layar komputer. Di sana, Cantika tampak bekerja tanpa lelah, melayani satu demi satu pasien yang datang untuk berkonsultasi. Namun, perhatiannya tiba-tiba tersentak pada saat seorang pasien pria memasuki ruangan, memecah fokusnya seperti kaca yang terhempas batu. Cantika memeriksa seorang pasien pria. Tangannya dengan cekatan menekan lembut perut pasien, mencari tahu sumber keluhan. Orion, yang menyaksikan dari layar komputer, mengepalkan tangannya. Setiap sentuhan Cantikaterasa seperti duri yang menusuk hatinya. Rahangnya mengeras, amarah mulai menguasai dirinya. “Berani-beraninya!” gumam Orion sebal. Dengan gerakan kasar, Orion meraih ponselnya dan menekan nomor Cantika. Nada dering terdengar di seberang sana, memecah keheningan ruang kerja Cantika. “Sebentar, ya, Pak. Saya menerima telepon dulu,” ujar Cantika pada pasiennya, berusaha tetap profesional. Ia mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama penelepon. “Ya, halo, Mas?” “Cepat pulang.” Suara Orion terdengar dingin dan menusuk dari seberang sana. “Aku tidak suka kau menyentuh pria lain.” Cantika terdiam. Jantungnya berdegup kencang dengan alis yang mengkerut kebingungan. Pertanyaan demi pertanyaan berada di benaknya. Darimana pria itu? Apakah selama ini Orion selalu mengawasi pergerakannya? “Mas tahu darimana?” tanya Cantika. “Tidak perlu tahu! Saya bilang, pulang ya pulang! Jangan banyak bicara.” “Tapi, Mas, aku masih ada pasien disini. Aku tidak bisa pulang, di luar juga banyak pasien yang mangantri, Mas. Mas butuh—-” “Aku tidak peduli,” potong Orion tanpa ampun. “Pulang sekarang, atau kau tahu akibatnya.” Panggilan terputus sepihak, meninggalkan Cantika terpaku di tempatnya. Ia menatap layar ponsel yang kini gelap. Namun, alih-alih kebingungan, senyum tipis yang nyaris tak terlihat perlahan mengembang di bibirnya. “Mas Orion, apakah dia takut aku diambil orang?” gumamnya. Kata-kata itu bagaikan mantra yang mampu menghapus segala lara. Rasa nyeri yang masih membekas di pipinya, sisa tamparan yang membungkamnya, dan perih di antara kedua pahanya. Kini telah hilang begitu saja. Perutnya kini dipenuhi oleh kupu-kupu yang beterbangan riang. Ia tahu, mungkin ini hanya ilusi, mungkin ia hanya sedang mencoba membenarkan tindakan Orion. Namun, untuk sesaat, ia ingin percaya. Tanpa ragu sedikit pun, Cantika meletakkan ponselnya di meja dan kembali fokus pada pekerjaannya yang tertunda. Ia akan menyelesaikan semua tugasnya secepat mungkin dan segera pulang, ingin segera bertemu dengan pria itu. Sejak panggilan telepon itu, Cantika bekerja dengan semangat yang membara. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Ia jadi membayangkan wajah Orion yang cemburu, hatinya menghangat. “Ah, ternyata dia sangat peduli padaku,” batinnya geli. Di sisi lain kota, Orion duduk di ruang kerjanya, rahangnya mengeras. Ia terus memantau layar komputernya, menyaksikan Cantika tertawa dan berinteraksi dengan pasien-pasiennya. Amarahnya mendidih. “Berani sekali dia mengabaikan perintahku!” Ia meremas gelas di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. “Dia harus tahu siapa yang memegang kendali!” Tepat pada saat itu, pintu ruang kerjanya terbuka dengan kasar, membentur dinding dengan suara yang memekakkan telinga. Perhatian Orion yang tadinya terpaku pada layar komputer, kini lenyap begitu saja. Ia menoleh, menatap tajam sosok pria yang baru saja memasuki ruangannya tanpa permisi. Napas pria itu tersenggal-senggal, seolah baru saja berlari maraton atau tengah dikejar oleh anjing pemburu yang ganas. Ia menatap Orion dengan lekat, sorot matanya bercampur antara ketakutan dan urgensi. “Apakah kau tidak diajarkan sopan santun?” cetus Orion, suaranya dingin dan menusuk. Ia bangkit dari tempat duduknya dengan gerakan perlahan namun mengancam. Langkahnya mantap saat mendekati pria itu, menatap wajahnya dengan intens, seolah mencoba membaca pikiran di balik ekspresi paniknya. Pria muda itu menunduk dalam, tak berani menatap mata Orion yang penuh dengan amarah. “Maafkan saya, Tuan,” ujarnya dengan suara bergetar, seraya membungkuk hormat. “Saya terburu-buru kemari karena membawa kabar buruk yang sangat penting.” Orion mendengus, seringai sinis terukir di bibirnya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, mencoba menyembunyikan emosi yang bergejolak di dalam dirinya. “Katakan saja, Dante. Jangan bertele-tele.” “Kita memiliki pengkhianat, Tuan. Seseorang membocorkan informasi penting kepada saingan kita.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD