Bab 5

1079 Words
Mata Orion mendadak menyipit tajam, sorotnya bagai belati yang siap menghunus. Rahangnya mengeras, giginya bergemeletuk hebat menahan amarah yang menggelegak di ujung tenggorokannya. Dante yang menyaksikan perubahan mengerikan itu, langsung menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menghilang di balik bayang-bayang ketakutan. “Kenapa kau masih berdiri di sini seperti patung?!” tanya Orion dengan suara mendesis, napasnya memburu seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya. Sontak, Dante mengangkat wajahnya. Tubuhnya menegang. Aura Orion benar-benar membiusnya, membuatnya tak mampu bergerak, bahkan untuk sekadar melangkah pergi pun terasa seperti beban yang tak tertahankan. “Maafkan saya, Tuan—” “Cari! Bukan malah diam di tempat seperti orang bodoh! Apa perlu aku mengulang perintahku?!” potong Orion dengan nada suara yang tenang. Dante mengangguk ragu, namun kali ini ia tak berani membantah. Tubuhnya langsung memproses perintah itu dan berlari secepat mungkin keluar dari ruangan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi kepada Orion. “Sialan!!” pekik Orion, amarahnya akhirnya meledak. Ia hanya bisa menatap punggung pria muda itu yang berlari menjauh dengan kecepatan penuh, seolah tak memberikan celah sedikit pun untuk dirinya menendang wajahnya hingga hancur berkeping-keping. Untuk meredakan amarahnya yang membara, Orion meraih gelas kopi yang sempat ia cengkeram erat tadi. Lalu, tanpa berpikir panjang, ia melemparkannya sekuat tenaga ke arah lantai. Dalam hitungan detik, gelas itu melayang di udara dan membentur lantai dengan suara yang memekakkan telinga, memecah kesunyian ruang kerja itu menjadi serpihan-serpihan kebencian. “Aku akan memberikan hukuman yang setimpal untuk pengkhianat itu,” desis Orion, suaranya penuh dengan janji akan pembalasan yang mengerikan. “Dia akan menyesali perbuatannya seumur hidup.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Orion menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia berjalan menuju kursinya dan duduk dengan kasar, tatapannya kembali terpaku pada layar komputer di hadapannya. Di sana, Cantika masih terlihat setia melayani pasien-pasiennya dengan senyum yang menawan. Namun, pemandangan itu justru semakin membuatnya kesal. Orion memiringkan kepalanya sedikit, menatap layar itu tanpa kedip. Cantika tersenyum lembut pada pasien anak-anak—senyum yang dulu selalu ia abaikan. Kini, tanpa alasan jelas, senyum itu justru menusuk egonya. Dalam. “Apa yang kau senyum-senyumkan, hah?” gumam Orion pelan tapi penuh racun. “Kau terlalu menikmati waktumu di luar rumah.” Urat di pelipis Orion menonjol. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Tatapannya tidak lagi sekadar marah. Ada api kepemilikan yang berputar di sana dan juga rasa kesal yang tak bisa ia jelaskan. Seketika, pintu ruangannya terdorong terbuka dengan kasar, mengagetkannya dari lamunan buruknya. Dante muncul kembali dengan wajah pucat pasi dan napas yang terengah-engah. Orion tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya mengangkat dagunya sedikit, memberikan isyarat tanpa kata untuk segera menyampaikan kabar yang dibawanya. “Sudah dapat?” tanyanya datar. Dante menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering dan tercekat. “T-tuan ... dia ada di parkiran bawah. Kami sudah mengamankan mobilnya dan membawanya ke tempat yang aman.” Orion berdiri dari kursinya. Gerakannya perlahan, elegan, namun setiap langkahnya memancarkan aura ancaman yang begitu kuat hingga membuat bulu kuduk meremang. “Bawa dia ke basement rumah. Pastikan dia masih bernapas saat tiba di sana.” Dante hampir tersedak mendengar perintah itu. “Masih ... b-bernapas? T-tentu, Tuan. Akan kami pastikan dia tetap hidup.” Orion mendekat, berhenti tepat di depan Dante. Mata hitamnya menatap lurus ke dalam mata Dante tanpa berkedip, seolah mencoba menembus jiwanya. “Kalau dia mati sebelum aku tiba di sana, kau yang akan menggantikannya menjadi mainan baruku. Kau mengerti?” Nada suaranya tenang, namun ancaman yang terkandung di dalamnya begitu menusuk tulang hingga membuat Dante kaku seperti patung. Ia tahu betul bahwa Orion tidak pernah main-main dengan kata-katanya. “Saya mengerti, Tuan! Saya tidak akan mengecewakan Anda!” Orion menyentuh bahu Dante dengan ringan, namun sentuhan itu cukup untuk membuat pria itu hampir jatuh saking tegangnya. Ia merasa seperti sedang disentuh oleh kematian itu sendiri. “Bagus,” ujarnya dengan kekehan kecil yang terdengar mengerikan di telinga Dante. Kemudian, Orion berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Dante yang masih membeku di tempatnya. Jas hitamnya berkibar mengikuti langkah panjangnya yang penuh wibawa dan kegelapan. Lantas, dengan langkah mantap dan penuh perhitungan, kakinya melangkah menuju lift yang berada tak jauh dari sana. Pintu lift terbuka dengan otomatis, menelan tubuhnya ke dalam ruang sempit yang dingin dan sunyi. Lift itu turun perlahan menuju lantai paling bawah. Orion berdiri membelakangi pintu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Pintu lift terbuka dengan suara berdecit yang memecah kesunyian. Dua orang anak buahnya sudah menunggu di luar, memegangi seorang pria yang mulutnya disumpal kain kotor dan kedua tangannya terikat ketat di belakang punggungnya. Wajah pengkhianat itu lebam dan memar, darah segar mengalir dari pelipisnya, membasahi sebagian wajahnya yang ketakutan. Orion mengamati pria itu dengan tatapan jijik. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan atau belas kasihan di matanya. “Jangan sentuh aku ... Tuan. Saya bisa jelaskan semuanya,” ujar pria itu. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kedua anak buah Orion, namun usahanya sia-sia. Orion tersenyum tipis, senyum dingin yang membuat kedua anak buahnya menunduk spontan, tak berani menatap mata sang majikan yang penuh dengan kemarahan dan kebencian. “Jelaskan semuanya padaku di rumah.” Ia berjalan melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun. “Aku tidak ingin Cantika mendengar teriakanmu yang memilukan.” Kedua anak buahnya menelan ludah dengan susah payah, membayangkan siksaan mengerikan yang akan menimpa pengkhianat itu di tangan Orion. “Tentu, Tuan. Kami mengerti.” Sesampainya di mobil, Orion membuka ponselnya dengan gerakan kasar. Ia kembali membuka CCTV Cantika yang bekerja di rumah sakit. “Terlalu bahagia di luar sana, ya?” gumamnya pelan, namun suaranya penuh dengan ancaman yang tersembunyi. “Aku tidak menyuruhmu menjadi seorang dokter hanya untuk membuatku tampak seperti badut yang bodoh.” Ia mengetik sebuah pesan singkat untuk Cantika dengan jari-jari yang gemetar karena amarah. 'Pulang. Sekarang.' Namun, setelah menatap layar ponselnya selama beberapa detik, ia menghapus pesan itu dan mematikan ponselnya dengan kasar. Tidak. Bukan sekarang waktu yang tepat untuk mengganggu Cantika. Ia masih memiliki urusan lain yang lebih penting untuk diselesaikan sebelum menghancurkan rutinitas istrinya sepenuhnya. Mobil mewah itu melaju meninggalkan gedung parkiran, membelah jalanan kota yang ramai dengan kecepatan tinggi. Orion bersandar ke jok mobil, memejamkan matanya sejenak dengan bibirnya melengkung sinis. “Pengkhianat … Cantika, kalian pikir aku akan membiarkan hari ini berjalan mulus?” Ia membuka mata, tatapannya gelap seperti malam tanpa bintang, penuh dengan janji pembalasan yang mengerikan. “Akan ada yang berlutut malam ini. Dan mereka akan menangis memohon ampun yang tidak akan pernah ku berikan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD