“Tolong lepaskan saya! Saya mohon, Tuan!” teriak pria itu dengan suara serak dan putus asa.
Pria yang mungkin berusia sekitar 50 tahun itu menatap Orion dengan tatapan nanar, memohon belas kasihan. Ia berdiri di hadapannya, memancarkan aura intimidasi yang begitu kuat hingga membuat pria yang diikat oleh tali dan darah yang mengalir deras di pelipisnya itu gemetar ketakutan.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia bergerak perlahan, berusaha keras menyentuh ujung sepatu Orion. Ia memohon belas kasihan pada pria yang berdiri di hadapannya itu, berharap Orion akan mengampuni dosanya. Namun, usahanya sia-sia belaka. Orion tetap tak bergeming di tempatnya, tatapannya dingin dan tanpa ampun.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Orion mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan menendang wajah pria tua itu dengan keras, membuatnya terjatuh ke lantai. Tak sampai di situ, Orion bergerak cepat, menginjak jemari tangan pria itu dengan kuat, menghancurkannya di bawah sepatu mahalnya.
“Siapa yang telah menyuruhmu melakukan ini?! Katakan padaku sekarang!” tanya Orion, injakannya semakin kuat hingga membuat pria itu menjerit kesakitan.
Pria itu merintih kesakitan, air mata mengalir deras di pipinya yang lebam. “Tuan, lepaskan saya! Ini sangat sakit, saya mohon ampun!”
Seulas senyuman sinis langsung tergambar di bibir Orion. Ia semakin menginjak jemari pria itu dengan keras, menikmati setiap rintihan kesakitan yang keluar dari mulutnya.
“Ayo merintihlah lebih keras lagi! Aku suka mendengarmu merintih dan memohon! Itu adalah musik yang paling indah di telingaku!” pekiknya dengan tawa yang menggema di seluruh ruangan basement yang gelap dan sunyi.
“Kau gila! Kau benar-benar gila!” teriak pria itu dengan nada histeris.
“Ya, aku memang gila! Tapi, pengkhianat seperti kamu tidak pantas untuk hidup di dunia ini! Kamu adalah sampah yang harus dimusnahkan!” pekik Orion dengan mata yang berkilat-kilat penuh kegilaan.
Tangannya bergerak cepat, mengambil belati tajam yang sudah ia siapkan di saku celananya. Ia tertawa terbahak-bahak melihat pria itu yang semakin ketakutan, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetar hebat. Di matanya, pria itu terlihat begitu lucu dan menyedihkan.
“Aku beri kau kesempatan terakhir untuk berbicara. Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?! Kau ingin mengatakannya atau tidak?!” tanya Orion kembali dengan nada mengancam, belati itu sudah berada di tangannya dan siap untuk digunakan kapan saja.
Orion tiba-tiba berhenti menginjak jemari pria itu. Ia mengangkat kakinya, membiarkan tangan pria itu tergeletak di lantai dengan kondisi yang mengenaskan. Jemarinya memar, membengkak, dan mungkin patah.
Pria itu merintih kesakitan, air mata terus mengalir di pipinya. Dengan gerakan yang tiba-tiba, Orion berjongkok dan menarik tubuh pria itu hingga terduduk bersandar di dinding.
Orion menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Di matanya, ada campuran antara amarah, jijik, dan rasa ingin tahu.
“Kau mau mengatakannya atau tidak?” tanya Orion dengan nada suara yang tenang, namun menusuk. “Siapa yang menyuruhmu mengkhianatiku? Siapa dalang di balik semua ini?”
Orion mengarahkan pandangannya pada belati yang berada di tangannya. Ia memainkannya dengan gerakan yang anggun namun mematikan, membuat kilatan cahaya terpantul dari bilah tajamnya.
Pria yang melihat itu langsung bergetar ketakutan, tubuhnya menegang dan tanpa sadar ia mengompol di celana.
“Aku akan memberitahumu segalanya, Tuan! Aku akan menceritakan semuanya! Tapi tolong, lepaskan aku dari sini! Aku mohon!”
Orion tertawa terbahak-bahak mendengar permohonan pria itu. Tawanya menggema di seluruh ruangan. “Oh, astaga! Kau sampai terkencing-kencing seperti ini? Itu pasti sangat menakutkan, bukan?”
Pria itu mengangguk tanpa ragu, air mata terus mengalir di pipinya. Ia benar-benar ketakutan dan putus asa.
“Baiklah, baiklah. Mungkin aku akan mengampunimu,” ucap Orion dengan nada yang dibuat-buat.
Mendengar ucapan Orion, pria pengkhianat itu merasa sangat lega. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya yang masih gemetar ketakutan. Perlahan, dengan suara yang bergetar, ia mulai menceritakan semuanya.
“Aku ... aku disuruh oleh seseorang. Ia membayarku dengan fantastis,” ucapnya terbata-bata.
“Siapa? Kau jangan bertele-tele!” tanya Orion dengan nada dingin.
“Nona merah. Ia menjanjikan sejumlah uang yang besar jika aku berhasil membocorkan informasi rahasia perusahaanmu.”
Saat Orion mendengar nama itu, tawanya semakin keras. Dengan gerakan cepat, ia menggoreskan belati tajam itu di tangan pria itu, menciptakan luka yang menganga dan mengeluarkan darah segar. Pria itu menjerit kesakitan, suaranya memilukan.
“Bodoh!” desis Orion dengan nada mencemooh. “Jadi, kau sudah menjual dirimu pada mereka? Kau pikir uang itu akan bisa menyelamatkanmu dari murkaku?”
Sambil berbicara, tangannya terus menyeset luka di tangan pria itu dengan belati tajamnya. Pria itu kembali menjerit kesakitan, air matanya semakin deras mengalir di pipinya.
“Tanganmu ini perlu diberi pelajaran,” gumam Orion dengan nada sadis. “Kau telah menggunakan tangan ini untuk mengkhianatiku. Kau harus merasakan akibatnya.”
Tiba-tiba, dengan gerakan yang cepat dan brutal, Orion mengayunkan belatinya dengan keras, memotong urat nadi di tangan pria itu. Darah menyembur keluar seperti air mancur, memuncrat ke wajah Orion dan membasahi pakaiannya.
Pria itu menjerit histeris, tubuhnya kejang-kejang sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
“Sial! Dia mati!” cetus Orion dengan nada santai, seolah kematian pria itu hanyalah sebuah kecelakaan kecil yang tidak perlu dirisaukan.
Mendengar ucapan itu, beberapa anak buahnya melotot tajam, terkejut dengan sikap dingin dan tidak berperasaan dari sang majikan. Namun, hanya sepersekian detik sebelum akhirnya mereka memilih untuk menundukkan kepala dalam-dalam.
“Kalian bersihkan tubuh ini dan jangan sampai ada barang miliknya yang tertinggal! Dan selidiki, siapa nona merah yang ia sebutkan!”
Orion lantas bangkit dari posisinya, bersiap untuk membersihkan diri sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah. Namun, tepat pada saat ia ingin menyentuh lap yang sudah disiapkan oleh anak buahnya, sebuah panggilan telepon masuk dari Nyonya Elena, ibunya, menyita perhatiannya.
“Tuan, Nyonya Elena menelepon,” ujar salah satu anak buahnya seraya memberikan ponsel milik Orion itu kepadanya.
Orion mendengus kesal. Ia mengambil ponsel itu dan menggeser tanda jawab dengan cepat.
“Orion! Istrimu itu benar-benar membuat Mama malu! Kau juga sama, memalukannya!” pekik Nyonya Elena dari seberang sana dengan nada suara yang tinggi dan penuh amarah.
“Sekarang, membuat teman-teman sosialisasi Mama bilang kalau kamu itu tidak memberikannya nafkah yang cukup! Dimana aku harus meletakkan wajahku saat ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, hah?! Aku tidak mau tahu, mulai besok, kamu suruh dia untuk berhenti bekerja saja! Mama tidak mau lagi melihatnya berkeliaran di rumah sakit itu!”
Wajah Orion yang masih bersimbah darah segar itu, justru mengembang menjadi sebuah senyuman tipis yang mengerikan saat mendengar omelan ibunya. “Tenanglah, Ma! Aku akan memberikannya pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan!”