Bab 7

1065 Words
“Kau telat!” desis Orion dengan nada dingin yang menusuk tulang. Cantika, yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah, sontak terkejut oleh suara pria itu. Orion kini tengah duduk di sofa dengan tangan menyilang di d**a, tatapannya begitu tajam dan penuh amarah hingga membuat bulu kuduk Cantika meremang. Namun, alih-alih merasa takut, Cantika malah melempar senyuman yang dipaksakan. Ia dengan cepat menutup pintu rumah seraya berkata dengan nada lembut, “Tadi masih banyak pasien yang membutuhkan bantuanku, Mas. Jadi, aku tidak bisa pulang lebih awal.” “Apakah kau tuli atau pura-pura bodoh?!” bentak Orion dengan suara yang menggelegar. Cantika bergeming, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menatap wajah suaminya itu lekat-lekat. “Maksud, Mas?” tanyanya dengan suara lirih. “Aku sudah bilang padamu untuk pulang sekarang! Apa kau tidak mengerti bahasa manusia?! Katanya kau mencintaiku, lalu mengapa kau tidak bisa menuruti perkataanku, hah?!” Namun, alih-alih takut, ia melempar senyuman dipaksakan. “Tadi masih banyak pasien yang membutuhkan bantuanku, Mas. Aku tidak bisa pulang lebih awal.” “Oh! Jadi, begitu?” kekeh Orion sinis seraya bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah mendekati Cantika yang hanya diam terpaku di tempatnya. Dengan gerakan cepat dan kasar, Orion menarik rambut wanita itu dengan keras, membuat Cantika menjerit kesakitan. “Mas! S-sakit,” rintih Cantika dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. Akar rambutnya terasa seperti ingin lepas dari kulit kepalanya. Napas Orion memburu, matanya memancarkan amarah yang membara, sama seperti ketika dia menemukan pengkhianat di organisasinya. Ia melepaskan jambakannya, lalu menyeret tubuh Cantika yang lemah masuk ke kamar tidur. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tangan Orion kembali bergerak, menyeret tubuh Cantika yang lemah dan ketakutan untuk masuk ke dalam kamar tidur mereka. Sesampainya di sana, Orion dengan brutal menghempaskan tubuh Cantika ke dinding, membuat wanita yang ringkih itu terbentur dengan keras. “Aw!” ujarnya lirih seraya memegangi bahunya yang terasa nyeri. “Kau berani pulang larut malam?! Kau tidak mendengarkan ucapanku dan kini membuat mama malu di depan teman-temannya?! Kau benar-benar wanita tidak tahu diri!” tutur Orion dengan nada penuh amarah seraya melepaskan ikat pinggangnya dengan cepat. Gesper ikat pinggang itu berbunyi nyaring, menandakan dimulainya malam yang penuh dengan siksaan dan penderitaan bagi Cantika. Cantika terhenyak. Tubuhnya gemetar hebat, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Air mata mengalir deras di pipinya, ia menatap Orion dengan tatapan memohon. “Maafkan aku, Mas. Aku salah ... aku janji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Cantika dengan suara lirih yang bergetar. Ia memohon ampun, berharap Orion akan mengasihani dirinya. Namun, bukannya merasa iba, Orion malah semakin mendekat dengan tatapan yang semakin gelap. Ia mengayunkan ikat pinggangnya tinggi-tinggi, bersiap untuk menghantamkan benda itu ke tubuh Cantika. Sabuk itu melayang di udara, menciptakan suara mendesis yang mengerikan. “Mas! Ampun, Mas!” Cantika menjerit kesakitan, tubuhnya bergetar hebat menerima setiap pukulan yang dilayangkan Orion. “Dasar wanita tidak tahu diri! Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di rumah sakit itu, hah?! Kau menggoda pria lain di belakangku, kan?!” bentak Orion dengan nada kasar, setiap kata yang diucapkannya terasa seperti cambukan tambahan yang menyayat hati Cantika. Ikat pinggang itu terus melayang, menghantam punggung, lengan, dan kaki Cantika tanpa ampun. Setiap pukulan meninggalkan bekas merah yang membara di kulitnya yang putih. Cantika hanya bisa merintih dan menangis, memohon agar Orion berhenti menyiksanya. Setelah beberapa saat, Orion berhenti mencambuki Cantika. Napasnya memburu, wajahnya memerah karena amarah yang meluap-luap. Tubuh Cantika tergeletak lemas di lantai, penuh dengan lebam dan luka memar. “Mulai besok, berhenti dari pekerjaanmu!” perintah Orion dengan nada dingin dan tanpa kompromi. “Fokus untuk mengurusku, melayaniku, dan membuatku bahagia. Itu adalah tugasmu sebagai seorang istri!” Cantika menggeleng lemah, air mata terus mengalir di pipinya. “Tidak bisa, Mas. Pekerjaan itu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup. Aku janji tidak akan ....” Belum selesai Cantika mengucapkan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, membuatnya terhuyung ke samping. Plak! Pipinya terasa kembali memanas, luka memar akibat tamparan sebelumnya masih terasa nyeri. Air matanya semakin deras mengalir, membasahi wajahnya yang penuh dengan luka. “Jangan memprotes, Cantika!” bentak Orion dengan nada yang membentak. “Bisakah kau menjadi gadis yang penurut dan tidak membantah perkataanku?! Aku di sini masih bisa memberimu makan, uang, dan semua keperluanmu! Asalkan kamu menuruti semua perkataanku!” Cantika terisak keras, hatinya hancur berkeping-keping mendengar kata-kata kasar Orion. Namun, bukannya merasa iba, Orion malah semakin membentaknya. “Jangan menangis! Aku tidak suka dengan wanita yang lemah dan cengeng seperti dirimu! Ini semua juga demi membuatmu bahagia, agar mama tidak menyiksamu lagi! Apa kau tidak mengerti?!” bentak Orion dengan nada yang meninggi. Bahagia? Cantika hampir tertawa mendengarnya. Ia menatap wajah Orion lekat, wajah itu, wajah yang selalu ia cintai membuat dirinya tak pernah bisa membenci barang sedetik-pun. Namun, berhenti dari pekerjaan bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk diterima olehnya. Cantika sudah bersusah payah untuk lulus dari kampus kedokteran dengan predikat terbaik dan berhasil mendapatkan pekerjaan di rumah sakit ternama. Menjadi seorang dokter umum yang bisa membantu banyak orang adalah cita-citanya sejak kecil. Tapi, di sisi lain, ia juga tidak mau mengecewakan pria yang dicintainya itu. Dengan sekuat tenaga dan air mata yang terus mengalir deras, Cantika mengangguk ragu. “Bagus! Harusnya kau menuruti perkataanku. Jika kau berani melanggarnya lagi, kau akan tahu akibatnya,” ancam Orion. Kali ini suaranya terdengar melemah. Ia berjongkok, menyamakan tingginya dengan Cantika yang masih tergeletak lemas di lantai. Ditatapnya lekat-lekat wajah wanita itu yang terlihat begitu ringkih dan rapuh. Dengan gerakan perlahan, ia menggendong Cantika dan membawanya ke ranjang kasur. Dengan lembut, Orion membaringkan Cantika di atas ranjang. Ia menatap wajah wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Cantika dengan penuh kelembutan. “Aku tidak bermaksud menyakitimu,” bisik Orion. Kemudian, ciuman itu turun ke pipi Cantika, lalu ke hidungnya, dan akhirnya berhenti di bibirnya. Orion mencium bibir Cantika tanpa ada rasa kelembutan, membuat Cantika tetap diam. Ia hanya membiarkan pria itu melakukan apa pun yang ia inginkan. Tangannya mulai bergerak perlahan, menyusuri lekuk tubuh Cantika dari bahu hingga pinggang, seolah mencari celah untuk membuka pakaian wanita itu. Namun, ponsel Orion berdering nyaring hingga membuatnya menghentikan aktivitasnya dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Tanpa mengucapkan apapun, ia bangkit dari ranjang dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Cantika yang terbaring diam dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD