Bab 8

1068 Words
Tubuhnya dipenuhi oleh lebam dan memar kebiruan. Setiap tarikan napasnya bagai mengoyak luka lama, menguarkan kepedihan yang menyesakkan. Di hadapan cermin, ia terduduk lunglai di pinggir ranjang, bayangan dirinya benar-benar mengerikan. Kenangan pahit berputar bagai pusaran di benaknya, air mata kembali tumpah tanpa bisa dicegah. Jemarinya perlahan menyentuh lebam di bahu, sentuhan yang terasa seperti luka menganga. “Aw …,” bisiknya tercekat. Hatinya remuk redam, namun sorot matanya masih memancarkan sebentuk cinta—cinta yang membutakan, cinta yang membuatnya rela terluka. “Aku pasti sudah membuatnya marah, hingga ia tega menyakitiku seperti ini.” Drrt! Drrt! Getar ponsel memecah sunyi, bagai serpihan kaca yang menusuk kesadarannya. Dengan gerakan perlahan, diraihnya benda pipih itu dari atas meja. Nama Dokter Leon tertera di layar, membuatnya menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab panggilan itu. “Halo, selamat pagi, Dok,” sapa Cantika, berusaha menyembunyikan gemetar dalam suaranya yang serak. “Kamu belum tiba di rumah sakit, Can? Pasien sudah mengantre, semua orang mencemaskanmu. Kamu baik-baik saja, kan?” Cantika kembali menghela napas, mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan semangatnya yang berserakan. “Maafkan aku, Dok. Semalam aku menggigil demam, tak sanggup ke rumah sakit. Mas Orion juga melarangku, dia ingin aku beristirahat di rumah.” “Kamu tidak bohong, kan, Can?” “Aku jujur, Dok. Besok aku akan ke rumah sakit untuk mengurus surat pengunduran diriku.” “Apa?!” Reaksi Dokter Leon begitu dramatis hingga Cantika tertawa hambar, getir. “Jangan bercanda, Cantika!” “Bagaimana bisa kamu menuturkan hal itu? Setelah semua pengorbananmu untuk menggapai rumah sakit ternama ini, kamu rela mengundurkan diri? Ini konyol, Cantika! Jangan bertindak bodoh!” “Aku serius, Dok.” “Pasti ini ulah Orion, kan? Pria egois itu! Seharusnya kamu mengindahkan nasihatku sejak awal dan tidak menikah dengannya. Sekarang, kamu harus merelakan semua impianmu begitu saja?” “Tak mengapa, Dok! Mas Orion melakukan ini demi kebahagiaanku.” “Dasar b***k cinta!” tukas Dokter Leon sebelum memutuskan panggilan secara sepihak. Cantika terdiam membisu, air mata kembali menggenangi pipinya, hatinya semakin teriris oleh kenyataan pahit yang harus ditanggungnya seorang diri. Napasnya kembali tercekat, kali ini lebih panjang dan dalam. Daripada terus terbenam dalam pikiran kelam yang hanya akan memicu amarah Orion, ia memaksakan diri bangkit, menyeret langkahnya menuju dapur. Tujuannya sederhana: menyeduh teh jahe kesukaan pria itu, berharap bisa meredakan suasana tegang di antara mereka. Begitu pintu terbuka, desir dingin menyergapnya. Langkahnya tertatih oleh luka yang masih menganga, belum sempat mengering. Keheningan mencekam menyambutnya, membuat kening Cantika berkerut dalam kebingungan. “Di mana mereka semua?” bisiknya lirih. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30, namun rumah itu terasa seperti kuburan. Cantika melangkah lebih jauh ke dalam dapur, aroma jahe yang samar menusuk hidungnya. Di sana, di sudut ruangan yang remang-remang, tampak Bi Iyem, pembantu rumah tangganya, sedang membersihkan dapur. “Bi?” panggil Cantika lirih, suaranya bergetar. “Mereka semua ke mana? Kenapa rumah ini sepi sekali?” Bi Iyem menoleh, sorot matanya dipenuhi iba menatap majikannya yang penuh luka. Hatinya terenyuh, nyeri yang menusuk hingga ia meletakkan lap di tangannya dan mendekat. “Semalam, Tuan Orion pergi dengan tergesa-gesa, Non. Tapi, bibi tidak tahu ke mana perginya. Kalau Nyonya dan Intan sedang pergi ke mall, Non,” ujarnya lirih. Senyum tipis mengembang di bibir Cantika, setidaknya ada sedikit kelegaan yang menghangatkan hatinya. Setidaknya, hari ini ia bisa bernapas sedikit lega. “Berarti, Mas Orion juga belum pulang dari semalam, ya, Bi?” tanyanya, mencoba menyembunyikan nada cemas dalam suaranya. Bi Iyem mengangguk pelan. “Non, sebaiknya obati dulu luka-lukanya. Biarkan saja Tuan Orion di luar dulu, biar non juga bisa bernapas.” “Aku tidak apa-apa, kok, Bi. Ini hanya luka kecil saja. Mas Orion tidak akan melakukan ini kalau aku sendiri tidak membuat kesalahan. Jadi, aman saja, Bi. Sekarang, kita mau masak apa, ya, Bi?” Bi Iyem menghela napas panjang, hatinya semakin pilu melihat sang nona yang dipenuhi luka dan lebam. Belum lagi, jika Nyonya dan adik ipar Tuan Orion datang, pasti Cantika akan semakin menderita. Sementara Cantika tampak biasa saja, seolah luka di tubuhnya tidak berarti apa-apa. Melihat hal itu, Bi Iyem semakin sedih. “Sudah, Non, duduk saja. Biar bibi yang menyiapkan segalanya. Mumpung Tuan Orion dan Nyonya tidak ada di rumah, biar bibi saja yang melakukan semuanya.” Senyum tulus mengembang di bibir Cantika, setidaknya di rumah ini ada Bi Iyem yang memiliki belas kasih tulus padanya. “Aku baik-baik saja, kok, Bi. Jangan memperlakukan aku seperti orang sakit, toh aku tidak sakit, Bi,” cetus Cantika, berusaha meyakinkan dirinya sendiri dan Bi Iyem. “Tapi, Non—” “Biarkan saja dia melakukan itu!” suara dingin memecah percakapan mereka. Sontak, Cantika dan Bi Iyem menoleh, mendapati Nyonya Elena berdiri di ambang pintu dengan raut wajah angkuh dan tatapan setajam belati. Entah sejak kapan wanita paruh baya itu tiba, kehadirannya langsung menebarkan aura intimidasi. Bi Iyem segera menundukkan kepala, sementara Cantika membeku di tempatnya. Tubuhnya menegang, namun ia tetap berusaha mempertahankan senyum tipis di bibirnya. “Kenapa kalian masih berdiam diri di sini?” ujar Nyonya Elena sinis. “Cepat masak! Hari ini menunya harus istimewa karena kita akan kedatangan tamu penting. Jangan sampai mengecewakan! Ini berlaku untukmu, Cantika.” “I-iya, Ma,” jawab Cantika gugup, berusaha menekan rasa takut yang mencengkeram hatinya. Tanpa menunggu lebih lama, mereka bergegas menuju dapur, berusaha mempersiapkan hidangan istimewa sesuai keinginan Nyonya Elena. Dengan cekatan, Cantika mulai memotong bawang, tomat, dan aneka rempah-rempah. Setiap gerakannya teliti dan penuh perhatian, membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa kagum. Seandainya saja Orion bisa melihatnya sebagai manusia, bukan sebagai objek pelampiasan amarah, mungkin ia sudah jatuh cinta pada Cantika. Namun sayang, kenyataan hidup Cantika justru berbanding terbalik. Ia terjebak dalam pernikahan yang penuh kekerasan dan ketidakadilan, di mana cinta dan kebahagiaan terasa begitu jauh dan mustahil untuk diraih. “Non, kalau tidak sanggup masak, bilang saya aja,” ujar Bi Iyem, menawarkan diri, membuat Cantika hanya megangguk sebagai jawaban. Aroma masakan yang menggugah selera akhirnya memenuhi seisi rumah. Saat hidangan terakhir tertata rapi di meja makan, tiba-tiba suara riuh terdengar dari ruang depan. Langkah kaki berderap mendekat, disusul suara hak sepatu yang beradu dengan lantai. Cantika menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Saat sosok itu muncul di ambang pintu, Cantika terpaku. Seorang wanita cantik, seksi, dengan gaun merah menyala yang memamerkan lekuk tubuhnya, menggandeng mesra lengan Orion. “Akhirnya, kamu datang juga sayang. Mama sudah lama menanti kepulangan kamu dari Canada, Alesha.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD