Bab 9

1095 Words
“Kau benar-benar menikahi wanita ini, Orion?” Alesha melenyapkan tangannya dari lengan sang adik dengan gerakan yang sengaja terasa lembut. Matanya menyapu Cantika dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah memilah barang bekas yang tak berharga. Kemudian ia mendecih, “Padahal kau bisa dapat yang jauh lebih baik darinya. Lihat, wanita ini lebih cocok jadi pembantu yang mengangkut ember, bukan pendamping hidupmu.” Nyonya Elena mengangguk, napasnya terengah-engah seolah kesal. “Mama juga berpikir begitu. Tapi adikmu ini keras kepala banget, hanya karena perintah Kakek, dia setuju saja.” Alesha melangkah maju, langkahnya ringan. Cantika menundukkan kepalanya, mulutnya terkatup rapat tak berdaya. Tangan Alesha mulai memainkan ujung rambut Cantika dengan sentuhan yang lembut. “Selamat sudah jadi istri adikku,” bisiknya, napasnya menyengat di telinga Cantika. “Tapi ingat, kau disini bukanlah apa-apa. Hanya sekedar boneka yang dipaksakan.” Cantika mendongak, matanya beradu dengan tatapan Alesha yang sudut bibirnya meremahkan. Ia berusaha mencari bantuan pada Orion, tapi pria itu tetap membisu, wajahnya kaku seperti batu. Tanpa melihatnya, Orion melangkah melewati Cantika, seolah dia hanyalah debu yang terbawa angin. “Sudahlah!” Alesha bersuara angkuh, suaranya memecah keheningan. “Karena aku sudah disini, cepat sajikan ayam kecap untukku!” Nyonya Elena menggandeng tangannya dengan lembut, membawanya menuju ruang makan yang terasa seperti panggung sandiwara. Mereka melewatinya begitu saja, tanpa rasa iba sedikit pun. Di dalam d**a Cantika, api amarah bergabung dengan air mata yang menahan, membuat hatinya terasa seperti akan meledak. Ia berbalik ingin kabur ke kamar, mencari pelarian dari kenyataan yang pahit ini namun suara Orion membekukan langkahnya. “Mau kemana kamu? Bukankah kakakku sudah minta ayam kecap? Sekalian, buatkan aku teh jahe juga.” “Aku juga mau tehnya,” timpal Alesha, duduk di kursi sebelah Orion. “Ada Mbok Iyem,” ucap Cantika, suaranya sempit seperti tercekik. “Kalian bisa minta pada dia. Aku capek, mau istirahat.” Tiba-tiba Intan keluar dari balik pintu, wajahnya penuh kegembiraan melihat kesulitan Cantika. “Oh astaga, capek? Kamu ngapain aja sampai capek? Duduk-duduk doang kan?” Orion bangkit dari kursinya dengan gerakan kasar. Ia menghampiri Cantika dengan langkah lebar, napasnya menderu keras. Di depan matanya, tubuh Orion tampak seperti raksasa. Ia menatap Cantika dengan mata yang menyala-nyala. Detik berikutnya, tangannya menyambar cepat, mencengkeram pipi Cantika dengan kekuatan yang membuat dia terkejut terengah-engah. “Aku tidak suka wanita yang membantah!” “Mas! Aku ini istrimu, tapi kenapa kau malah membela kakakmu terus-menerus?” rintih Cantika, air mata akhirnya menetes. Dalam sekejap, Orion melepaskan tangannya, tapi kata-katanya yang keluar lebih menyakitkan dari cengkeraman itu. “Karena kakakku jauh lebih berharga daripada kamu!” Nyonya Elina menimpali, “Tentu saja Alesha ini segalanya untuk kami! Jauh dibandingkan kamu yang hanya orang asing.” Cantika terhuyung, setiap kata menghujam bagai panah beracun. Tatapannya nanar mencari pembelaan dari Orion, namun hanya menemukan dingin dan ketidakpedulian. Air mata kembali membasahi pipi yang memerah bekas cengkeraman. Ia merasa seperti sampah, terbuang di rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung. Dengan langkah gontai, Cantika menuruti perintah Orion. Di dapur, ia mulai membuatkan ayam kecap juga menyeduh teh jahe untuk kedua orang itu. “Sabar, Cantika,” ucapnya, berusaha menguatkan diri. “Mas Orion pasti berubah, ini hanya sementara saja.” Dengan tangan gemetar, Cantika akhirnya berhasil menyiapkan ayam kecap juga teh jahe. Aroma hangatnya sedikit menenangkan pikirannya yang kacau. Ia berjalan perlahan menuju ruang makan. Saat Cantika hendak menaruh nampan berisi teh di atas meja, Alesha tiba-tiba bergerak. Dengan sengaja, ia menyenggol lengan Cantika, menyebabkan sebagian teh tumpah mengenai Cantika dan dirinya sendiri, meski tak terlalu banyak. “Aaaaa! Panas!” teriak Alesha histeris, memegangi lengannya yang terkena cipratan teh. “Kau bodoh atau bagaimana, sih? Kenapa hal seperti saja, kau begitu ceroboh.” Melihat Alesha kesakitan, Orion yang sudah dipenuhi amarah langsung kehilangan kendali. Ia menggebrak meja dengan keras, membuat semua orang terkejut. “Dasar wanita tidak berguna!” bentak Orion dengan mata merah menyala. Ia mendorong tubuh Cantika dengan kasar hingga tersungkur ke lantai. “Kamu sengaja melakukan ini, kan?!” Cantika menggeleng lemah, air matanya bercampur dengan teh yang membasahi bajunya. “Bukan, Mas ... bukan aku. Kak Alesha yang sengaja melakukannya,” lirihnya, suaranya bergetar ketakutan. “Bohong!” teriak Alesha. “Lihat, lenganku luka! Dia mau menyakiti aku karena kau cemburu, kan? Orion lebih memilih aku dibandingkan kamu!” Nyonya Elena berdiri, mata memarah. “Memang dasar wanita tidak tahu diuntung! Kau malah menyakitinya!” “Sungguh, aku tidak melakukan itu!” “Diam!” bentak Orion lagi, membungkam semua penjelasan Cantika. “Tutup mulutmu itu! Saya tidak sudi mendengar kalimatmu!” “Mas, sungguh, bukan aku!” seru Cantika, air matanya semakin deras mengalir. Ia berusaha meraih tangan Orion, namun pria itu menepisnya dengan kasar. “Jangan sentuh saya! Saya tidak sudi di sentuh oleh wanita yang menyakiti kakakku sendiri!” bentak Orion, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. “Aku tidak menyakitinya, Mas. Bagaimana bisa kau katakan begitu dihadapanku? Aku ini istrimu, bukan?” Cantika menangis terisak-isak, tubuhnya gemetar kencang. Orion menghela napas dengan keras, wajahnya memerah karena amarah. Dia menundukkan kepala, tatapannya tajam menyaksikan Cantika yang terkulai. “Sejak tadi kau terus mengatakan istriku, istriku!” cibir Orion. “Dengarkan aku, aku tidak pernah mengakui kamu sebagai istri!” Kata-kata itu diucapkan dengan nada yang penuh penghinaan, setiap suku kata menekan hati Cantika. Ia berdiri tegak, mengangkat dagunya dengan bangga yang palsu. “Apa yang kamu pikirkan? Bahwa aku menikahi kamu karena cinta? Kau terlalu bodoh, Cantika.” “Aku tidak bodoh, Mas! Aku tahu, kau mencintaiku, bukan? Aku tahu kamu sedang denial dengan perasaanmu sendiri, kan? Kakekmu dulu sering bilang, kalau sebenarnya kamu mencintaiku. Kamu—” Cantika tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya terasa tercekat. “Jangan sebut namanya, sialan!” Orion meraih gelas yang ada di atas meja dan melemparkannya ke arah Cantika. Cantika terkejut dan reflek menghindar, namun nahas, serpihan kaca dari gelas yang pecah mengenai wajahnya, menggores pipinya hingga berdarah. Alesha tersenyum lebar sampai mata mirip celah, dalam hati dia bersorak, “Bagus! Itu yang harusnya, ia dapatkan karena sudah berani masuk ke keluarga ini! Akhirnya dia mendapatkan apa yang harusnya dia dapatkan dari awal! Kehadiran dia, kapan saja bisa menggeser tahtaku untuk memanfaatkan uang Orion.” Nyonya Elena mengangguk puas, dagunya terangkat tinggi dengan bangga. Sedangkan Intan tersenyum kemenangan. Cantika meringis kesakitan, memegangi pipinya yang terluka. Darah segar mengalir di antara jari-jarinya. Ia menatap Orion dengan tatapan terluka dan tak percaya. “Aku bilang diam! Iya, diam!” bentak Orion lagi, tak peduli dengan luka yang baru saja ia sebabkan pada istrinya. “Kenapa kau tidak mengerti bahasa manusia, Cantika?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD