Bab 10

1068 Words
Hanya isak tangisan yang memantul di ruangan sunyi itu, membuat Cantika semakin menangis kencang sampai d**a terasa sesak. Pikirannya hancur berantakan, rasa sakit, kecewa, dan sesak napas saling bersilang tak bisa dia kendalikan. Dia gegas mencari kotak P3K. Tubuhnya juga kena cipratan air panas yang menyengat. Tapi semua orang hanya sibuk menyudutkannya saja. Mereka jelas melihat apa yang sebenarnya terjadi, bukan? Kenapa malah menutup mata semuanya? Perlahan dia membersihkan luka, meski rintihan kecil tak pernah berhenti keluar dari bibirnya. “Mas Orion sayang banget sama Kak Alesha dan keluarganya, sampe akupun dia sakiti,” ujarnya, lalu terkekeh kecil dengan nada yang menyakitkan. Tiba-tiba, suara deretan pintu terbuka memecah keheningan dan tangisnya. Cantika mendongak, matanya langsung bertemu dengan Orion yang berdiam di ambang pintu. Lama mereka saling tatap. Ia dengan matanya yang memerah dengan wajah yang tak terbacakan maknanya. Akhirnya Orion mendekat, lalu merebut kapas yang ada di tangannya Cantika dengan cepat. “Mas!” teriak Cantika dengan nada cibir dan marah. “Diam!” Hanya itu yang keluar dari bibirnya, tapi tangannya yang terasa dingin, perlahan menyentuh luka bakar di lengan dan goresan tipis di pipinya. Jari-jari Orion yang dingin menyentuh luka di pipinya, dan Cantika meresahkan. Marahnya masih ada, tapi ada rasa aneh yang muncul bukan ketakutan, melainkan harapan yang dia coba sembunyikan. “Kenapa kamu datang kemari? Bukankah, kau lebih perhatian dengan Kak Alesha, daripada aku?” tanyanya dengan suara pelan. Orion tidak menjawab. Matanya melirik luka bakar di lengan dia yang masih merah menyengat, lalu dia menarik tangannya dengan lembut tapi tegas, membawanya ke arah ranjang. Cantika ingin melarikan diri, tapi tubuhnya seolah tak bisa bergerak. “Duduk,” katanya dengan nada yang tegas. Ia mengangkat dagu Cantika, membuatnya melihat ke arahnya. “Jangan diulangi lagi kesalahan ini!” Cantika terdiam. Ia ingin membela dirinya lagi namun semua itu pasti akan sia-sia, karena Orion tak akan mempercayainya. Pria itu memang seperti itu. Lantas Cantika hanya mengangguk lemah sebagai jawabannya. Ia tak akan memperpanjang masalah ini. “Ada hukuman yang kau harus bayar!” cetus Orion begitu saja. Orion langsung bangkit seraya melempar kotak itu ke lantai hingga isinya berantakan. Ia mencengkeram tangan istrinya kuat. Sedangkan, Cantika merasakan tubuhnya lemas ketika Orion menariknya keluar dari ranjang. “Mau bawa aku kemana, Mas?” tanyanya dengan suara gemetar, campur marah dan takut. Orion tidak menjawab, hanya menarik tangannya dengan kuat menuju meja di sudut ruangan. Dia mendorongnya dengan lembut tapi tegas sampai pundak Cantika menempel di permukaan meja yang dingin. “Di sini,” kata Orion dengan nada yang datar tapi penuh d******i. “Jangan, Mas! Jangan lakukan itu!” teriaknya, mencoba melawan tapi tubuhnya seolah tak berdaya. Namun, Orion sudah lebih dulu mengukungnya. “Kau kejam¤ Dia hanya menghela napas pendek, tangannya meluncur ke pinggang Cantika sambil badannya menekan dari belakang. “Kamu sudah tahu aku begitu sejak awal,” kata Orion, suara rendah bergema di telinga dia. “Tapi kamu tetep ada di sini, bukan?” Permukaan meja yang dingin menyentuh kulitnya, bertentangan dengan panas yang meluap di tubuh. Orion menguasai setiap gerakan, tangannya dengan tegas menggenggam pinggangnya, lalu tiba-tiba menyobek baju Cantika dari belakang hingga kain itu robek dan terlepas dari badannya. “Mas!” teriaknya dengan suara gemetar, tapi dia tidak bisa melarikan diri. Tangannya yang kasar menyentuh bukit kembarnya dengan tekanan yang cukup, membuat dia meresahkan. Ia menggenggamnya erat, sedangkan jari-jari lainnya menyentuh n****e yang sudah kencang karena dingin dan kegelisahan. “Kamu tahu kan siapa yang memegang kendali?” ujarnya dengan nada yang mengancam, napasnya hangat menempel di leher Cantika. Perlahan, tangannya meluncur ke bawah, menyentuh bagian paling sensitifnya yang sudah basah karena perasaan yang bercampur aduk. “Jangan bergerak,” peringatnya. Orion memutar badannya dengan cepat sehingga Cantika menghadapnya, pundaknya masih menempel di meja yang dingin. Tangannya yang satu menggenggam bukit kembarnya dengan tekanan yang makin kuat, jari-jari menyentuh nipplenya secara perlahan, membuat Cantika terengah-engah dan mata memejam. Tangannya yang lain melanjutkan ke lubang labirin, jari-jari menyentuh permukaannya dulu sebelum merayap masuk perlahan. Orion mendekatkan wajahnya, mencium bibirnya dengan gesekan yang kasar dan penuh hasrat. “Kamu cuma milikku,” ujarnya di antara ciuman, gerakan jari-jari di dalam lubang labirin makin cepat, membuat Cantika menangis pelan. Orion menekan tubuhnya lebih erat ke meja, satu kaki dia letakkan di bawah punggung Cantika untuk membuat posisi lebih nyaman. Tangannya masih memegang bukit kembarnya dengan kuat, sementara gerakan jari-jari di bawah makin intens, membuat Cantika merasakan panas yang meluap dan tubuhnya lemas. Dia bisa merasakan senjata Orion yang kencang bergesakan di perutnya. “Mas, jangan disini,” bisik Cantika dengan suara lemah, tapi matanya yang memejam dan tubuh yang melengkung menyatakan yang sebaliknya. Orion hanya tersenyum sejenak, lalu membuka celananya dengan cepat. Dia memegang pinggang Cantika dengan kuat, mengangkat badannya sedikit dari meja, sebelum akhirnya memasukkan senjatanya ke dalam lubang labirin yang sudah siap. Cantika mendesah keras, campur rasa sakit dan kesenangan yang meluap. “Ahhh … mas!” suaranya terpotong-potong, tubuhnya bergetar karena setiap gerakan Orion yang kuat dan mendominasi. Cantika menggenggam tepi meja dengan erat, kuku menyentuh permukaan yang dingin, sementara desahan terus keluar dari bibirnya. “Ini hukuman untukmu!” ujar Orion dengan suara rendah dan penuh hasrat, gerakannya makin cepat dan kuat. Dia memegang bukit kembarnya lagi, menyentuh nipplenya dengan tekanan yang membuat Cantika meresahkan dan desahannya makin keras. “Kamu suka, kan?” Ia terus-menerus memajukan senjatanya hingga mentok di titik terdalam, membuat Cantika yang merasakan itu mendesah kuat. “Mas, aku—” “Jangan terburu-buru,” potongnya dengan suara rendah, gerakannya malah menjadi melambat tapi lebih dalam. Orion kembali memegang bukit kembarnya dengan satu tangan, jari-jari menyentuh nipplenya secara bergantian. “Mas, aku tidak tahan lagi,” bisik Cantika dengan suara gemetar, tubuhnya mulai bergetar lebih kencang. Orion hanya menghela napas pendek, gerakannya tetap terkontrol. Ia melengkungkan badan, mencium leher Cantika dengan gesekan yang kasar, sambil jari-jari tangan satunya merayap kembali ke lubang labirin, menggosok bagian yang paling sensitif. “Aku bilang jangan terburu-buru,” ujarnya, tapi gerakan jari-jari dan tubuhnya malah membuat Cantika semakin tertekan. Desahannya yang keras dan terisak-isak, tubuhnya bergetar hebat, kepalanya menunduk ke meja. “Ahhh? mas itu …!” suaranya terpotong oleh gelombang kesenangan yang tak tertahankan. Orion masih menguasai gerakannya, tidak terganggu sama sekali. Dia melihat Cantika yang meleleh di tangannya, lalu tersenyum lagi dengan nada yang kejam. “Sekarang giliran aku,” katanya, gerakannya makin cepat dan kuat lagi, membuat Cantika yang baru saja pulih terengah-engah lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD