Bab 13

1061 Words
Meja makan di tepi pantai dipenuhi lilin-lilin yang menyala lembut dan beberapa bunga segar yang harum, membuat Cantika terkejut dan menatap Orion cukup lama. Di sebelahnya, Orion nampak santai tapi juga agak canggung. Dia berjalan lebih dulu tanpa menggandeng tangannya. Sontak Cantika langsung mengikuti langkahnya, semilir angin pantai yang sejuk menyentuh wajahnya dan pemandangan laut yang luas, biru, dan tak bertepi membuat matanya terpukau. “Kau mengajakku kemari?” tanyanya dengan suara lembut dan tak menyangka. Baru kali ini Orion membawanya ke tempat seperti ini. Orion menoleh, tatapannya masih tajam tapi ada sesuatunya yang berbeda. “Yah, kau tidak suka?” “Suka, Mas!” jawab Cantika dengan cepat, seulas senyum muncul di bibirnya. Sontak Orion langsung memalingkan muka ke arah laut, seolah tidak mau melihat senyum itu. Kemudian ia duduk di kursi yang sudah disiapkan, dan Cantika duduk di depannya dengan hati yang berdebar. Mereka saling menatap cukup lama, keheningan terasa tebal di antara keduanya hanya ada suara deburan ombak yang terdengar jelas. Cantika mengedarkan pandangannya. Pantai ini benar-benar sepi, hanya mereka berdua dan ombak yang terus bergulir. “Inikan pantai, tapi kenapa rasanya begitu sepi ya, Mas?” tanya dia akhirnya, rasa penasarannya menguat. Orion terdiam sejenak, lalu meraih segelas alkohol yang sudah disiapkan, meneguknya sampai habis dalam satu tegukan. Tatapannya kemudian beralih ke Cantika yang masih menunggu jawaban. “Kau suka, tidak?!” ujarnya dengan nada yang sedikit kesal. Cantika mengangguk cepat. “Suka, Mas. Tapi … kamu mengajakku kemari karena apa? Dan kenapa kamu terlihat—-” “Ini milikku!” potongnya langsung, lalu menuangkan alkohol ke gelas baru untuk Cantika. Kadarnya jelas tinggi, bau semerbak langsung tercium. Dia menatapnya dengan pandangan yang mengkode untuk meminumnya. Cantika merasa enggan, dia tahu alkohol itu kuat tapi tak berani menolak. Dia takut suasana yang baru saja jadi romantis ini tiba-tiba hancur karena pertengkaran lagi. Ia memperhatikan gelas alkohol di depannya, lalu menatap Orion yang pandangnya tak bisa dilawan. Perlahan, mengambil gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, mendekatkannya ke bibir, dan meneguknya sambil memejamkan mata. Rasa pahit menyebar cepat di tenggorokan, aneh dan menyakitkan. Dia menelan dengan susah payah, tenggorokannya terasa terbakar, lalu menaruh gelas kembali ke meja dengan suara lembut. Tubuhnya mulai terasa hangat, dan kepalanya mulai sedikit pusing karena kadar alkohol yang tinggi. “Rasanya … aneh, Mas,” bisiknya, kepalanya mulai sedikit pusing karena kadar yang tinggi. Orion hanya menatapnya, lalu tersenyum sejenak dengan nada yang kejam. “Ini semua sebagai hadiah,” cetusnya. “Karena hari ini kau tidak membuat ulah. Dan mulai besok … aku akan mengawasi pergerakanmu. Dilarang keluar rumah atas perintahku!” Kata-katanya membuat Cantika terdiam. Senyumnya hilang, digantikan oleh kecewa yang menyakitkan. Kepalanya semakin pusing, tapi ia mencoba untuk tetap tenang. “Terima kasih, Mas,” ujar Cantika dengan suara lembut. “Tapi, aku harus mengurus surat pengunduran diri di kantor. Besok jadwalnya.” Orion langsung mengangkat alisnya, tatapannya jadi lebih tajam. “Nanti! Jangan membantah aku, Cantika. Kau hanya perlu mengikuti apa yang kubilang!” Cantika hanya mengangguk perlahan, tidak berani berkata apa-apa lagi. Sontak Orion berdiri, mendekati Cantika dengan langkah yang lambat, lalu menggenggam dagunya dengan lembut. “Aku melakukan ini demi kebaikanmu!” Kepalanya semakin pusing, Cantika hanya bisa menatapnya dengan mata yang memanas. Ia merasakan kehangatan dari sentuhannya, sesuatu yang jarang dia dapatkan. “Mas, kepalaku pusing,” keluhnya, suaranya lemah dan gemetar. Orion mendekatkan wajahnya, napasnya hangat menempel di bibir Cantika. “Nikmati saja, Cantika. Untuk pemula, awalnya memang terasa pusing, nanti lama-kelamaan semuanya akan baik-baik saja.” Tanpa menunggu jawaban, dia mencium bibirnya dengan sentuhan yang lembut, sangat berbeda dari kejamnya biasanya. Cantika merasa tertekan, tubuhnya lemas karena alkohol dan sentuhan itu. Dia memeluk leher Orion dengan kuat, menariknya lebih dekat. Suara deburan ombak dan cahaya bulan membuat suasana semakin intim. Orion membimbingnya berdiri, lalu melangkah perlahan ke arah pasir yang lembut. Ia menjatuhkan dirinya dan Cantika di atas pasir yang hangat, badannya menutupi tubuhnya. Tangannya perlahan meluncur ke punggung Cantika, meremasnya lembut sambil ciumannya semakin dalam. “Kau benar-benar candu, Cantika,” bisik Orion. Cantika tak menjawab. Ia tak bisa mendengar apapun, hanya bisa mengikuti aliran perasaannya. Orion melanjutkan ciumannya ke leher Cantika, sentuhannya perlahan meluncur ke bukit kembarnya, menyentuhnya yang masih tertutup baju. Dia menggenggamnya dengan lembut tapi tegas. “Kau nyaman?” bisiknya, meskipun pandangannya sudah penuh d******i. Cantika hanya bisa mengangguk membuat Orion perlahan membuka bajunya secara perlahan, mengungkapkan bukit kembar yang kencang karena angin pantai. Dia mencium salah satunya, jari-jari menyentuh n****e yang sensitif, membuat Cantika bergetar dan memeluknya lebih kuat. “Eungh! Mas …,” bisiknya, suara terpotong oleh desahan. Orion membimbingnya memutar badan, membuat dia berlutut di pasir sambil pundaknya menempel di d**a dia. Dia merasakan senjata Orion yang kencang menempel di punggungnya, membuat suasana semakin tegang. Tangannya perlahan meluncur ke bawah, menyentuh bagian lubang labirin yang sudah siap karena hasrat. Tanpa mengatakan apapun, Orion perlahan memasukkan senjatanya ke dalam lubang labirin, membuat Cantika mendesah keras. Gerakannya perlahan tapi dalam, menguasai setiap langkahnya. “Ahh! Mas.” Suara deburan ombak menyertai desahan mereka, cahaya matahari terbenam menyinari badan mereka yang saling berpadu. Orion masih memegang bukit kembar Cantika dengan lembut, sementara gerakannya semakin cepat. Cantika mengikuti aliran perasaannya — semua sedih dan marah hilang, digantikan oleh kehangatan dan hasrat yang mereka bagikan di atas pasir pantai itu. Orion mempercepat gerakannya, senjatanya masuk keluar dengan tekanan yang makin besar. Dia menggenggam pinggang Cantika dengan kuat, membuat setiap gerakan terasa lebih dalam. “Ah … Mas … lebih cepat lagi,” desah Cantika dengan suara terisak-isak, tubuhnya bergetar hebat. Orion mendengarkan itu, lalu menekannya lebih erat, tangannya yang satu masih memegang bukit kembarnya sambil jari-jari menyentuh n****e yang semakin kencang. “Kamu suka kan?” ujarnya, dan Cantika hanya bisa mengangguk sambil mereluaskan desahan yang makin keras. Dia merasakan gelombang kesenangan yang semakin mendekat, membuat dia menggenggam pasir di sekitarnya dengan kuat. Orion melengkungkan badan, mencium leher Cantika dengan gesekan yang kasar. Namun, tiba-tiba bunyi telepon berdering dari celana Orion yang tergeletak di dekat sana. Orion gegas melepaskan Cantika dengan perlahan, berdiri dan mengambil teleponnya dengan wajah yang langsung berubah. Nama Dante tertera di layar ponselnya membuat keningnya mengkerut. Sedangkan, Cantika terengah-engah di sana. Gegas Orion menggeser ikon hijau seraya mengatakannya dengan suara datar,“Apa?” Suara orang di sana terdengar kecil, tapi Cantika bisa menangkap nama yang dia ucapkan. “Tuan, saya sudah menemukan titik terangnya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD