“Hai, Sayang,” sapa Orion dengan senyum lebar yang tidak mencapai matanya.
Sontak, langkah Cantika terhenti. Jantungnya mencelos, seolah jatuh dari ketinggian saat melihat kemeja Orion dipenuhi bercak merah kehitaman. Di belakangnya, anak buah Orion berdiri dengan wajah tanpa ekspresi, tatapan mereka dingin dan mengintimidasi.
Perlahan, mata Cantika menyapu seluruh sudut ruangan, hingga pandangannya terpaku pada sosok pria yang tergeletak mengenaskan di lantai.
Wajahnya hancur tak berbentuk, darah mengalir deras dari luka-lukanya, membentuk genangan merah pekat di sekelilingnya. Yang lebih mengerikan, tangan pria itu putus, tergeletak beberapa meter dari tubuhnya. Pemandangan itu membuat napas Cantika tercekat, dadanya sesak seolah ada batu besar yang menghimpitnya.
“Cepat bawakan kursi untuk istriku!" perintah Orion dengan nada memerintah, namun senyumnya tetap terpampang di wajahnya. “Jangan biarkan istriku yang cantik ini berdiri dan kelelahan.”
Dengan sigap, beberapa anak buah Orion berlari berhamburan mengambil kursi yang berada di ujung ruangan. Sementara itu, Orion meraih tangan Cantika, menggenggamnya erat.
Cantika merasakan darah segar milik pria yang mati mengenaskan itu menempel di tangannya, membuatnya mual dan ingin muntah.
“Mas, a-aku mau kembali saja,” ujar Cantika dengan gugup, berusaha menarik tangannya dari genggaman Orion.
Orion menoleh, tatapannya langsung berubah tajam seperti silet yang siap mengiris. “Kenapa? Kau takut aku akan menyiksamu di sini?”
“Bukan begitu, Mas. Aku hanya ingin kembali dan menyiapkan makan malam untukmu, itu saja,” jawab Cantika dengan cepat. Ia tahu Orion memang kejam, tapi baru kali ini ia melihat pria itu melakukan kekejaman seperti ini.
“Tidak perlu repot-repot, sayangku. Kita akan makan malam di luar saja,” jawab Orion seraya menerima kursi yang diberikan oleh salah satu anak buahnya. Lalu, mendorong tubuh Cantika untuk duduk di kursi itu. “Sekarang, karena kamu sudah datang kemari, mari kita nikmati pertunjukan yang sangat spesial ini.”
“Tapi, Mas, aku—”
“Aku tidak menerima penolakan, Sayang,” potong Orion dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Cantika meremang. “Jadi, duduklah di sini dan saksikan dengan baik apa yang akan aku lakukan.”
Cantika terdiam, tak berani membantah. Ia tahu, membantah Orion hanya akan memperburuk keadaan.
Dengan perasaan campur aduk antara takut, gelisah, ngeri, dan jijik, ia duduk di kursi itu, memaksakan dirinya untuk tidak memalingkan muka dari pemandangan mengerikan di depannya.
“Cepat seret pengkhianat itu kemari!” perintah Orion dengan suara lantang yang tak terbantahkan.
Derap langkah kaki menggema di ruangan, memecah keheningan yang mencekam. Disusul kemudian oleh teriakan histeris yang menggema, membuat bulu kuduk Cantika meremang.
Seorang pria diseret masuk dengan kasar, tubuhnya terikat tali tambang yang melilit erat dengan matanya tertutup kain hitam.
“Sialan!! Lepaskan aku, b******k!”
“k*****t! Kalian semua adalah iblis!”.
Bruuk!
Tubuhnya dihempaskan ke lantai dengan kasar, menimbulkan suara berdebam yang membuat Cantika tersentak. Lantai dingin itu menyambutnya dengan keras, membuatnya meringis kesakitan.
Cantika yang menyaksikan kejadian itu dari dekat merasakan jantungnya berdebar tak karuan, apalagi saat Orion mendekatinya dengan senyum mengerikan.
Dengan gerakan perlahan namun pasti, Orion membuka kain yang menutupi mata pria itu.
“Hai,” sapa Orion dengan nada lembut namun terdengar begitu mematikan, membuat pria itu menegang. “Sepertinya kita bertemu lagi, bukan?”
“Kau k*****t!” ujar pria itu dengan nada penuh amarah dan kebencian. Ia meludahkan Orion tepat di wajahnya.
Orion mengusap ludah dari wajahnya dengan gerakan santai, seolah tidak terjadi apa-apa. “Kau selalu saja kasar, ya? Padahal aku sudah menyiapkan kejutan istimewa untukmu.”
Tanpa menunggu jawaban, Orion memberi isyarat dengan lambaian tangan. Dalam sekejap, anak buahnya bergerak cepat, memegangi pria itu dengan kuat.
“Kau tahu apa yang paling kubenci?” bisik Orion tepat di telinga pria itu. “Pengkhianat. Dan kau, kau adalah pengkhianat yang menjijikkan. Berani-beraninya kau menusukku dari belakang.”
Orion mengeluarkan sebuah pisau dari balik jasnya. Cahaya lampu menimpa bilah tajam itu, memantulkan aura mematikan yang membuat bulu kuduk Cantika meremang. Ia tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya, dan rasa mual langsung menyerbu perutnya.
Orion mulai menyayat kulit pria itu dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan. Sayatan pertama menimbulkan jeritan kesakitan yang memekakkan telinga, suaranya pecah dan serak.
“Aaaarrrrggghhhh! Sialan! Sakit! Ampun!” Pria itu meronta-ronta. Namun, cengkeraman anak buah Orion terlalu kuat, ia tak bisa melepaskan diri.
Orion terus menyayat, setiap sayatan meninggalkan luka menganga yang mengeluarkan darah segar. Darah itu memuncrat ke mana-mana, membasahi lantai, dinding, dan bahkan mengenai wajah Orion.
Cantika terhenyak, tubuhnya gemetar hebat. Ia tak sanggup lagi melihat pemandangan mengerikan itu. Ia memejamkan matanya erat-erat, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir.
“Jangan coba-coba menutup matamu, Cantika!” bentak Orion dengan suara menggelegar, membuyarkan harapan Cantika. “Apalagi memalingkan wajah! Kau harus melihat ini! Kau harus menyaksikan sendiri bagaimana aku menghukum para pengkhianat! Ini adalah pelajaran yang berharga untukmu!”
Cantika tersentak, membuka matanya dengan paksa. Air mata sudah mengalir deras di pipinya, membasahi dagunya. Ia menangis dalam diam.
Sedangkan, Orion semakin menggila. Ia menusuk, menyayat, mengiris, dan mencabik tubuh pria itu tanpa ampun. Jeritan kesakitan pria itu semakin melemah seiring dengan semakin banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya. Hingga akhirnya, jeritan itu menghilang, digantikan oleh suara erangan lirih.
Pria itu sudah tak bernyawa, tubuhnya terkulai lemas di tangan para algojo. Namun, Orion tak berhenti. Ia terus menusuk dan mengiris tubuh pria itu.
Tiba-tiba, Orion berhenti. Ia berdiri tegak, mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Ia menatap mayat pria itu dengan tatapan puas. Lalu, ia tertawa terbahak-bahak, tawanya menggema di seluruh ruang. Cantika semakin ketakutan, tubuhnya bergetar tak terkendali.
“Hahahaha! Akhirnya selesai juga! Kau tahu, Cantika? Aku merasa sangat bahagia saat melakukan ini!”
Orion menoleh ke arah Cantika, senyum mengerikan mengembang di wajahnya yang berlumuran darah. “Bagaimana? Kau suka pertunjukannya? Menghibur, bukan?”
Cantika membeku di kursinya, tubuhnya terasa kaku dan dingin. Ia tidak bisa berkata apa-apa, lidahnya kelu, hanya air mata yang merembas. Pemandangan mengerikan di depannya masih terbayang jelas di benaknya, membuatnya mual dan ingin muntah.
Orion terdiam, memperhatikan Cantika dengan seksama. Tiba-tiba, ekspresi wajahnya berubah. Ia tampak terkejut, seolah baru menyadari sesuatu yang penting.
Dengan gerakan cepat, Orion mendekati Cantika dan berjongkok di depannya. Ia meraih wajah Cantika dengan kedua tangannya, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Cantika, kenapa kau menangis?” tanya Orion dengan nada datar. “Kau sedih karena pengkhianat itu mati? Kau menyayanginya?”
Cantika menggelengkan kepalanya dengan lemah. Namun, Orion menggenggam wajahnya semakin erat, memaksa Cantika untuk menatapnya.
“Oh, ayolah, Cantika,” ujar Orion dengan nada membujuk. “Jangan bodoh. Dia itu pengkhianat. Dia pantas mati. Aku melakukan ini semua juga untukmu. Agar kau tahu, kalau kau berani melakukan sesuatu yang membuatku marah … maka kau akan menjadi yang selanjutnya.”