-a colour without light-
♥Happy-Reading♥
.
.
.
Kata farmasi diturunkan dari bahasa Yunani kuno Pharmacon yang berarti racun, yang kemudian mengalami perubahan arti menjadi obat atau bahan obat.
Rama sedari dulu dibuat bingung dengan penggalan alinea pertama dari bab awal buku Pengantar Ilmu Farmasi tersebut, sebab dua sifat yang mewakili satu definisi di dalamnya saling berkontradiksi dan memiliki makna berlawanan.
Rama tidak mengerti apa yang terjadi di masa-masa sebelum masehi itu hingga kata racun, sebagai representatif dari segala objek yang dapat menimbulkan penyakit dan kematian bisa mengalami pergeseran makna menjadi obat--sebutan untuk zat yang dapat menyembuhkan dan memberi kesempatan hidup. Dengan izin Tuhan, tentunya.
Apa mungkin tim penyusun Kamus Besar Bahasa Yunani saat itu kehabisan ide?
Di antara pilihan ya dan tidak, Rama memilih jawaban bisa jadi. Tidak ada sesuatu yang benar-benar mutlak di dunia ini, bukan? Berhubung tidak ada pula orang yang bisa memprediksi pemikiran orang-orang di masa silam tersebut, Rama tetap bertahan pada hipotesis sesatnya sampai beberapa menit yang lalu saat Chelia menjelaskan bagaimana struktur suatu obat dapat mengalami transformasi secara kimiawi yang berdampak pada perubahan sifat dan fungsinya.
Rama tidak paham dengan yang namanya reaksi penguraian dan penataan ulang senyawa organik. Satu-satunya hikmah yang dapat ia petik dari mata kuliah Kimia Organik di semester keduanya sebagai mahasiswa farmasi adalah bagaimana cara menggambar segi enam--yang kemudian disebut cincin benzena--dengan baik dan benar.
Rama seringkali merutuk, mengapa ilustrasi struktur senyawa itu harus dibuat dengan bangun datar berjumlah sisi enam? Kenapa bukan bentuk lingkaran saja agar lebih mudah digambar tanpa repot menggunakan penggaris--yang akan raib entah kemana setiap kali dipinjam teman? Orang-orang jenius memang memiliki pemikiran yang rumit!
"Rean tidak angkat."
Rama berpaling pada Chelia yang kembali menekan quick-dial button di layar ponselnya untuk menelepon Rean.
Sedikit menjanggal sebenarnya, sebab Rean baru saja mengirim beberapa jurnal resmi di grup chat yang berisi penjelasan tentang dekomposisi obat hipnotik menjadi senyawa beracun bila telah melewati masa daluarsa.
Fakta yang harusnya tidak mengejutkan, bila saja obat yang dibahas di dalamnya bukan golongan obat yang diminum pacar Dandy sampai OD. Obat yang menghilang misterius dari laboratorium farmakologi tempo hari.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Rama dan Chelia akhirnya memilih mendatangi Rean yang sedang mengawas praktikum di gedung seberang.
Rama berulang kali menegur Chelia untuk berhati-hati saat melewati pelataran berlapis beton yang licin sehabis diguyur hujan. Rama mengutuk segenap tim konstruksi yang merenovasi fakultas mereka menjadi bangunan yang tidak ramah lingkungan. Selain meninggalkan genangan air yang memperkecil gaya gesekan dan berpotensi membuat pejalan kaki tergelincir, padatan perpaduan semen, kerikil, dan pasir tersebut menutupi seluruh permukaan tanah, tidak menyisihkan sedikit pun celah bagi tumbuhan tingkat rendah sejenis lumut untuk menumpang hidup di sana. Manusia memang terlalu tamak, padahal bumi dihamparkan bukan untuk spesies Homo sapiens semata.
Rama berhasil menarik lengan Chelia tepat sebelum Chelia terpeleset saat sepatunya menyelip.
"Aku bilang juga apa!" Rama mendelik dan dibalas Chelia dengan ringisan kecil.
"Kamu nggap apa-apa, kan? Nggak keseleo? Salah urat? Nyeri sendi?"
Chelia menggeleng dengan senyum kecil. "Nggak apa-apa, Rama. Maaf."
Rama mendengus. "Kamu jangan bandel dong, Sweetheart. Jangan main lari-lari kayak tadi, ini bukan film India, mengerti? Kalau kamu jatuh terus kepalamu terbentur bagaimana? Transplantasi otak belum bisa dilakukan, masalahnya. Kalau otakmu cedera, aku bisa apa coba?"
Chelia menahan tawanya melihat Rama menggerundel tidak jelas. Baginya, Rama adalah perwujudan lain dari Riva yang tingkat kekhawatirannya selalu di luar batas.
"Kalaupun bisa, memang kamu mau mendonorkan otak untukku?"
"Of course! All of me is yours, Sweetheart. Ya, itu kalau kamu setuju, sih. Otakku ini memorinya memang nggak unlimited seperti punya kamu, tapi dijamin nggak bakalan crash, hang, dan bebas virus."
Chelia terperangah beberapa saat kemudian terkekeh. Rama mungkin tidak serius, namun perasaannya tetap saja tersentuh. "Terima kasih, Rama," lirihnya hampir tidak kedengaran.
Rama tertawa tanpa suara. "Kembali kasih, Chelly," balasnya dengan intonasi yang sengaja dibesarkan. Rama kemudian memegangi kedua bahu Chelia dari belakang dan berjalan beriringan layaknya anak-anak yang sedang bermain permainan kereta api.
Rama serius paranoid dengan permukaan beton tersebut. Ia pernah jatuh dan terbentur sewaktu berpose untuk postingan instagramnya di sana. Saat itu pergelangan tangannya terkilir, namun untuk mencegah rasa malu berkepanjangan, Rama bersegera mengubah posisi jatuhnya yang amat sangat tidak keren menjadi gerakan break-dance yang menawan.
Alhasil, cedera tangannya semakin parah. Beruntung yang luka adalah tangan kanan, karena dengan demikian, Rama memiliki alasan kuat untuk tidak menulis laporan dan menuai simpati dari teman-temannya.
Rean yang notabenenya seorang ambidextrous bahkan rela menuliskan tugas untuknya. Rean termasuk satu di antara seratus orang yang memiliki kemampuan mengunakan kedua tangannya dengan efisien. Rean bisa menulis dengan tangan kanan maupun tangan kiri, menggunakan kedua tangannya untuk menulis bersamaan, pun bisa menulis dan menggambar dalam satu waktu dengan sebelah tangannya masing-masing.
Sesampainya di depan gedung yang dituju, kerumunan orang yang berteriak histeris menyita perhatian Rama dan Chelia. Mata Rama menelusuri bagian atas gedung yang menjadi titik pusat pandangan orang-orang dan terbeliak seketika begitu melihat Rean dan Dandy bergelantungan di atas sana.
"REAN!!!"
Rama bisa mendengar teriakan Chelia saat Dandy menarik Rean hingga keduanya terlempar di awang-awang kemudian meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.
Rama menyaksikan semuanya dalam gerakan lambat, seolah Tuhan telah mereset tombol playback speed dunia ini menjadi slow motion mode.
Sebelum Rean dan Dandy benar-benar ambruk di tanah, Rama sigap menutup mata Chelia, menyembunyikannya di balik kedua lengannya yang saling menyatu. Chelia tidak boleh menyaksikan pemandangan horor yang akan membekas selamanya dalam ingatannya itu.
Di saat yang sama, Rama menemukan jawaban dari doa yang dipanjatkannya tiap malam sebelum tidur agar Tuhan senantiasa menjaga orang-orang yang disayanginya, sebab dalam hitungan milisekon setelahnya, sebuah keajaiban benar-benar terjadi.
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
9,807 meter per sekon kuadrat, percepatan gravitasi bumi.
Meski kerap menggunakannya dalam perhitungan matematis, Rean tidak pernah menyangka suatu saat besaran vektor tersebut akan benar-benar berpengaruh pada keberlangsungan hidupnya--tepatnya terhadap keutuhan struktur anatomi dan morfologi tubuhnya.
Untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya pula, Rean menyesali adanya energi yang disebut sebagai gaya tarik bumi yang menambah akselerasi tubuhnya untuk terjun bebas dari ketinggian kurang lebih dua puluh lima meter di atas permukaan tanah. Bukan tanah secara harfiah, sebab bidang datar di bawah sana adalah lapisan beton masif maha kuat yang layak mendapat nominasi sebagai tempat pendaratan paling buruk di alam semesta. Gesekan dengan udara pun tidak memberinya perlambatan yang berarti. Rean kini menemukan jawaban mengapa variable tersebut sering diabaikan dalam perhitungan.
Rean berusaha menjangkau apa saja yang bisa dijadikannya sebagai pegangan, namun yang berhasil digenggamnya hanyalah udara kosong. Rean mulai kehilangan harapan. Meski kelenjar adrenal dan seluruh neuron di sistem saraf pusatnya telah bekerja sedemikian keras untuk terus menyuplai adrenalin yang membuat segenap sel-sel dalam tubuhnya siaga mempertahankan diri, Rean tetap tidak bisa menemukan peluang untuk membumi dengan selamat tanpa harus mengganti filum menjadi makhluk invertebrata.
Magnitudo yang tercipta terlalu besar, sulit menemukan posisi pendaratan yang menguntungkan. Mendarat dengan pose telentang dapat mencerai-beraikan setiap ruas tulang belakang, berikut menghancurkan tulang tengkorak yang melindungi otak. Dua elemen fundamental sistem regulasi manusia. Dengan pose telungkup pun sama saja, sebab rusuk yang patah berpotensi menusuk jantung dan paru-paru. Belum lagi sentakan yang bisa mengakibatkan pecahnya organ-organ yang lain.
Andai saja ada sedikit tumpuan yang bisa dijadikan manuver, Rean sudah akan membenturkan badannya ke samping pada tembok ataupun jendela untuk mematahkan daya jatuhnya dan meminimalisir momentum yang ditimbulkan.
Sensasi menggelitik menjalar di perut Rean, rasanya seperti diterjunkan dari wahana ekstrem taman hiburan, namun tanpa kesiapan dan pengaman. Rean menghembuskan napas panjang sembari melemaskan badan agar ototnya tidak kaku dan sendi-sendinya tidak terkunci. Ya, setidaknya intensitas nyeri yang dirasakannya nanti bisa sedikit berkurang dan kesemua bagian tubuhnya masih lengkap meski sudah tak bernyawa. Rean akan merasa sangat berhutang budi bila harus merepotkan orang lain untuk mengumpulkan bagian-bagian tubuhnya yang berhamburan.
Ah, andai ini di dunia sihir dan ada sosok seperti Albus Dumbledoor yang sigap mengeluarkan mantra sejenis aresto momentum untuk memperlambat kelajuannya seperti saat Harry Potter terjatuh dari sapunya sewaktu pertandingan Quidditch, Rean tidak akan sepesimis ini. Oh, bukan. Jika saja ini benar-benar dunia di mana kekuatan magis berlaku, Rean sudah lebih dulu akan memberi mantra pada jas labnya untuk melayang dan membuatnya memiliki kemampuan untuk mengudara. Sayangnya ini dunia nyata, sekumpulan kata tidak mungkin menciptakan keajaiban.
Rean melingkarkan kedua tangannya yang telah terlepas dari Dandy sampai ke belakang kepala dan bersiap-siap merasakan nyeri hebat yang akan terjadi sebentar lagi.
Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima?
Rean membuka mata dan masih berusaha mencerna situasi begitu tubuhnya tertahan di udara. Tidak ada yang betul-betul memberinya mantra sihir, kan?
Rean memutar kepalanya, mendapati jas laboratoriumnya tersangkut pada kusen jendela lantai tiga yang terbuka, sedikit menggores punggungnya sebenarnya, tapi pusat nyeri di otaknya telah dinonaktifkan untuk menghadapi dentuman besar yang hampir saja terjadi.
Sebelum sobekan di bagian tengah jas laboratoriumnya meluas dan membuatnya kembali terjun bebas, Rean menggunakan tangan kirinya untuk meraih besi pengaman balkon di sampingnya dengan sedikit mengayunkan badan. Untuk kesekian kalinya, Rean bersyukur diberi kemampuan menggunakan kedua tangannya dengan optimal. Meski menggunakan tangan kiri, pegangannya cukup kuat.
Suara gemeretak merebak saat Dandy mendarat dengan tidak selamat di bawah sana. Rean menutup matanya erat-erat, tidak ingin menyaksikan pemandangan tragis itu. Namun, baru beberapa detik peluh sudah membanjiri pelipisnya, bergantungan di ketinggian ternyata menguras cukup banyak energi. Rean merasakan pegangannya mengendor bersamaan dengan sebuah tangan yang menariknya ke atas. Dalam sekejap tubuhnya ambruk ke sisi dalam balkon.
"Brother!"
Rean mendengar seruan Rama yang langsung merangkulnya. Rean memejam erat, perasaannya masih bergejolak.
"Bro, kamu ... oke?"
Rean mengangguk dan menoleh pada Rama yang pucat, tapi tentu tidak lebih pucat dari wajahnya.
"Ya ...." Rean berujar dengan suara serak dan balas merangkul Rama. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Aku juga berhutang banyak padamu, Brother. Dan lagi masih ada banyak hal yang harus kuakui, kamu tidak boleh pergi begitu saja, aku tidak mau digentayangi."
"Apa itu?"
Rama menyengir. "Kemarin sikat gigiku hilang."
"Lalu?"
"Aku pakai punyamu."
"Oke. Ada lagi?"
"Tadi pagi karena buru-buru, aku tidak sempat cari boxer lagi. Jadi aku pakai apa yang ada saja."
"Dan itu punyaku?"
Rama mengangguk. "Yes, yang warna kuning gambar pisang dan Minions itu."
"Itu boxer Edward."
"Tapi aku pernah lihat kamu pakai itu." Rama memicingkan matanya. "Kalian tidak sengaja kembaran tanpa mengajak aku, kan? Atau beli satu gratis satu, ya?"
"Tidak. Itu memang punya Edward."
"Terus kenapa kamu pakai?"
"Karena waktu itu aku buru-buru dan tidak sempat cari boxer lagi."
"Dih, nggak kreatif banget! Itu kan alasanku!"
Rean terkekeh pelan. "Rama ...," panggilnya.
"Apa?"
"Panjang umur dan sehat-sehatlah selalu."
Rama tertawa. "Aku nggak ulang tahun, Brother."
Rean hanya mengulas senyum tipis, masih dengan merangkul Rama. Chelia, Naya, dan Edward datang tak berselang lama. Chelia sudah berurai air mata sedang Naya dan Edward menatapnya khawatir.
Rean dan Rama membentangkan tangan untuk menyambut ketiganya. Mereka saling mendekap erat. Tanpa sadar Rean meneteskan air mata, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada dirinya. Ternyata, diberi sahabat-sahabat seperti mereka adalah keajaiban tiada tara.
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
Riva turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Halaman poliklinik penuh dengan tim jurnalistik dan wartawan. Riva yang sedang dalam perjalan tadi mendapat kabar dari Vian bahwa seorang teman angkatan Chelia sedang sekarat karena melakukan tindakan bunuh diri dengan melompat dari gedung, dan Rean yang berusaha menyelamatkannya nyaris menjadi korban juga.
Riva sempat berpapasan dengan ambulance kampus yang mengantarkan korban ke rumah sakit untuk diberi perawatan intensif. Beruntung Vian dan rekan-rekannya masih berjaga di poliklinik sehingga bisa memberi pertolongan pertama.
Riva masuk melalui pintu samping sesuai instruksi Vian, sebab menembus kerumunan massa yang haus informasi itu rasanya tidak mungkin. Begitu tiba di ruang perawatan, Riva menemukan Rean yang berbaring miring di atas tempat tidur pasien, kabarnya ada luka terbuka di punggungnya yang cukup dalam akibat tergesek di daun jendela dan harus dijahit. Chelia, Cassy, Erva, Naya dan Edward berjaga di sekelilingnya.
Riva merengkuh Chelia yang menghambur ke arahnya. Dari kelopak matanya yang bengkak dan memerah, Riva tahu adiknya itu sudah menangis habis-habisan. Di saat yang sama, Riva merasa beban beberapa puluh kilo menubruk punggungnya.
"Kak Riva, tolong ...!"
Riva berbalik pada Rama menggelayut di punggungnya dan mendapati Vian berjalan mendekat. Riva menatap Vian dan Rama bergantian. "Kalian ada masalah apa?"
"Dia takut disuntik," jawab Vian setengah tertawa.
"Sumpah! Aku fobia jarum suntik, Kak!"
Vian berusaha menarik Rama yang bersembunyi di balik Chelia dan Riva bergantian.
"Kamu harus disuntik, lenganmu juga tergores besi berkarat, bahaya!"
Rama berpindah posisi, melesat ke kolong tempat tidur.
"Ayolah, Rama! Ini tidak sakit, cuma seperti digigit semut!"
"Itu kalimat ter-hoax yang aku dengar sejak SD!"
Vian terkikik. "Kamu mau terkena tetanus, hah?"
"Tetanus? Yang nama planet itu, yah?"
"Itu Uranus!" sergah Edward.
"Salah!"
"Apa, dong? Saturnus?" Tebak Cassy. Ia baru tiba beberapa saat yang lalu bersama Erva. Cassy batal ikut acara makan malam keluarganya dengan menumbalkan Falak yang akan jadi sasaran amukan ayahnya nanti. Adapun rapat internal Erva bersama ibu kost-nya dipending untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.
"Bukan!"
"Matahari?" Kali ini Erva yang memberi suara.
"Matahari itu bintang, bukan planet, Va."
"Lho, kok bisa? Matahari yah matahari, bintang yah bintang! Gambarnya saja beda."
"Duh, bagaimana menjelaskannya yah!" Edward menggaruk kepalamya yang tidak gatal.
Rama tertawa lebar. "Ayo, tebak lagi! Belum ada yang benar, nih!"
Vian yang mulai terhanyut dalam obrolan tidak berfaedah itu mencoba menerka. "Merkurius?"
"Bukan!"
"Venus?"
"Bukan!"
Riva berdecak melihat kekacauan tersebut. "Neptunus!" serunya.
Rama keluar dari kolong tempat tidur dan bertepuk tangan meriah. "Seratus untuk Kak Riva! Sebagai penghargaan, aku ikhlas diangkat sebagai adik ipar."
Riva terkekeh dengan mengacak rambut Rama. "Tidak sebelum kamu mau disuntik."
Rama terlonjak lagi. Beruntung pintu terbuka dan segenap perhatian teralihkan. Arya muncul dalam setelan kemeja bercorak Ramai dengan napas tersengal.
"Maaf terlambat, rapatnya baru selesai. Bagaimana keadaan anak itu?"
"Duduklah dulu." Vian menarik kursi untuk Arya.
"Jujur, sangat buruk. Tapi ayahku akan menugaskan tim medis profesional untuk menanganinya." Vian menjelaskan.
Arya mengangguk kecil, ayah Vian adalah seorang direktur rumah sakit bertaraf Internasional. "Rean baik-baik saja?"
"Ya, sekarang dia sedang tidur. Biarkan dia istirahat dulu."
Arya beralih pada Riva. "Riva, jadi apa hal penting yang ingin kau bicarakan?"
Riva menepuk jidat, bagaimana mungkin ia lupa tujuan utamanya. Riva memang berniat berkumpul bersama mereka--Chelia dan kawan-kawannya, juga dengan Arya dan Vian untuk membahas sesuatu.
Riva menarik napas dalam-dalam. "Aku menemukan pelaku yang mengambil obat kedaluarsa itu dari laboratorium."
Semua mata terbelalak bersamaan.
"Aku menganalisa rekamanan CCTV sewaktu membantumu menangkap pelaku pencurian di fakultasmu dan mencocokkannya dengan database mahasiswa yang kau kirimkan tadi." Riva mengarah pada Arya.
"Lalu, pelakunya?"
Riva mengeluarkan tablet pc-nya, membuka jaringan database mahasiswa kemudian memilih salah satu profil. "Pelakunya adalah anak ini."
"Ya, Tuhan!" Edward terkejut sampai hampir terjungkal dari kursi.
"Apa-apaan ini?!"
"Tidak mungkin!"
Riva menautkan kening, tidak mengerti dengan reaksi yang diterimanya.
"Kenapa?"
Arya merebut tablet milik Riva.
"Asal kau tahu saja, anak ini adalah anak yang melakukan percobaan bunuh diri tadi!"
☕☕☕
TBC