-Hanging the fire-
♥Happy-Reading♥
.
.
.
Piloerection, reaksi fisiologis tubuh yang disebabkan oleh pelepasan hormon adrenalin saat manusia berada di bawah tekanan akibat rasa takut, terancam, maupun kedinginan. Fenomena ini ditandai dengan terjadinya kontraksi pada otot yang menopang folikel kulit sehingga menyebabkan rambut-rambut tertarik dan menegak, atau dalam percakapan sehari-hari disebut dengan istilah merinding.
Edward berulang kali mengusap lengannya saat bulu kuduk di sana meremang begitu menyaksikan video berdurasi sepuluh menit yang berisi ulasan Riva tentang rekaman CCTV di fakultas mereka. Hari di mana Riva membantu Arya menganalisis kasus pencurian itu bertepatan dengan hari di mana ia dan kawan-kawannya menyiapkan bahan di laboraforium Farmakologi.
Riva menggunakan teknologi mutakhir tingkat tinggi dengan analisis metadata dan metode Evidence Enchancement digital forensik untuk meningkatkan kualitas file video dari rekaman CCTV. Satu hal lagi yang menambah kekaguman Edward pada Riva adalah fakta bahwa mahaguru mereka itu bukan hanya seorang master teknologi di anak perusaan kelas dunia, melainkan juga seorang Examiner, ahli digital forensik swasta yang bersama rekan-rekannya telah membantu penyelidikan terhadap beberapa kasus kriminal.
Riva terlebih dahulu memetakan ruang bangunan. Setelah itu ia melakukan pemeriksaan pada rekaman CCTV di depan laboratorium farmakologi dan menemukan seseorang yang masuk ke dalam laboratorium tersebut sekitar pukul 4 sore. Hanya berselang lima menit sebelum orang yang dimaksud keluar dengan terburu-buru
Dengan melakukan sharpening dan teknik zoom per satuan pixel, Riva mendapatkan bukti kotak obat yang disembunyikan pelaku di balik saku jas laboratoriumnya. Meski tulisan di kemasannya tidak kentara, Riva sangat yakin itu adalah obat kedaluwarsa yang hilang, seperti yang dilihat Chelia.
Tidak sampai di situ, Riva selanjutnya menggunakan efek histogram pada gambar dari frame video yang berhasil menampakkan wajah pelaku, termasuk pada pantulan bayangannya di kaca. Riva pun berhasil membuat pola wajah tiruan, dan setelah mencocokkan keypoint pada geometrik fokal tersebut dengan database mahasiswa dari Arya, Riva menemukan Dandy Pratama sebagai pelakunya.
Yang menjadi masalah sekarang adalah Dandy mengalami cedera saraf tulang belakang dan ephidural hematoma yang kemungkinan besar akan membuatnya lumpuh. Meski hasil analisis Riva terbilang akurat, keterangan dari Dandy tetap dibutuhkan.
Tidak ada bukti nyata yang menunjukkan bahwa kemasan obat yang dibawa Dandy keluar dari laboratorium sama dengan obat yang diminum pacarnya sampai OD selain ingatan Chelia. Keterangan Rean bahwa Dandy telah mengetahui semuanya pun tidak bisa memberikan kesaksian yang kuat . Apalagi kondisi psikologis korban memang sangat mendukung tindakan bunuh dirinya. Tidak ditemukan pula motif bagi Dandy untuk menghabisi nyawa pacarnya itu.
Keadaan ekonomi keluarga Dandy yang ternyata telah bangkrut dan dililit hutang--bahkan tidak mampu menebus biaya rumah sakit tanpa bantuan ayah Vian--pun membuat situasi semakin runyam, hingga mereka sepakat menutup kasus tersebut sementara sampai Dandy pulih.
Edward mendesis begitu menutup layar H-Pnya dan kembali fokus menulis laporan. Kelompok praktikumnya mendapat tugas membuat kosmetik suncream dan diharuskan menghitung nilai SPF alias Sun Protection Factors serta menentukan waktu kontak maksimum penggunaaannya di bawah terik matahari. Edward bisa saja meminta bantuan Rean, namun ia cukup tahu diri untuk tidak mengganggu waktu istirahat sahabatnya itu. Apalagi keadaannya belum pulih total.
"Jangan bernapas kayak orang susah begitu, Eddy. Tarik napas yang panjang saja. Oksigen di bumi masih gratis, kok!" Rama melirik Edward yang sesekali mendengus pendek.
Edward hanya mencebik, malas menanggapi. Edward sering kali dibuat tidak mengerti dengan kelakuan Rama. Rama bisa menjadi seseorang yang penuh sopan santun di suatu waktu, kemudian menjadi orang yang paling tidak tahu tata krama di waktu yang lain.
Seperti saat diundang makan malam di mansion mewah milik keluarga Cassy. Rama mendadak berubah menjadi sosok elegan layaknya para bangsawan Eropa, bahkan tidak pernah menyentuhkan sikunya ke meja saat makan. Namun sekarang, bila saja Rama bukan pemilik rumah, Edward sudah akan menyeretnya keluar dan membiarkannya ketakukan sendirian di teras.
Rama melemparkan kacang polong yang diborongnya dari nenek penjual jajanan di kampus kemudian berusaha menangkapnya dengan mulut terbuka. Bukan masalah sebenarnya bila Rama berhasil melakukannya dan tidak membiarkan polongan bulat tersebut berceceran di lantai.
"Aduuuh!"
Edward menoleh pada Rama yang mengaduh sambil menggapai-gapai ke arahnya. Sebutir kacang nyasar masuk ke dalam rongga hidungnya.
"Buang napasmu keras-keras!"
Rama segera menutup sebelah lubang hidungnya kemudian menghembuskan napasnya kuat-kuat hingga biji kecil yang tersangkut tersebut melesat keluar.
"Duh, upilku bakalan berasa kacang polong nih!" Rama mengorek-ngorek hidungnya dengan sangat tidak beradab. Edward menghela napas lega lalu segera melemparkan kotak tisu sebelum Rama mengelap bekas korekannya di bawah meja.
"Astaga!"
Edward merutuk. "Kenapa lagi?!"
"Aku lupa minum obat yang diberi kak Vian! Padahal Chelly sudah ingatkan tadi!" Rama menepuk jidatnya.
"Terus kenapa kamu nggak minum?"
"Tadi itu aku lagi di jalan, ribet kalau mau minum obat lagi."
"Makanya belajar minum tablet! Kan praktis, tinggal telan saja."
"Buset, tinggal telan kerongkongamu! Kalau aku keselak terus obatnya salah masuk ke paru-paru bagaimana, coba?!"
"Itu kalau kamu minum obat sambil nge-rap!"
Edward mengamati Rama yang meminum obatnya dengan ekspresi kecut, padahal analgesik yang diberikan Vian atas permohonannya adalah sediaan sirup rasa stroberi. Saat berusaha fokus pada perhitungannya kembali, cowok blasteran berkulit pucat tersebut harus dikejutkan lagi dengan tingkah Rama yang tiba-tiba melakukan gerakan salto dan berguling-guling di karpet.
"Apa-apaan sih! Bikin kaget orang saja kamu!" Edward mengelus d**a.
Rama menunjuk kotak obatnya. "Dikemasan ini tertulis 'kocok dahulu', tapi aku lupa."
"Terus kamu salto-salto tidak jelas begitu biar obatnya bisa tercampur homogen?"
Rama mengangguk penuh keyakinan, membuat Edward mengerang frustrasi.
"Makan kayak tadi ribet, mending dimakan langsung, ya!" Rama kembali pada kacang polongnya yang berhamburan di lantai.
"Jelas iya! Banyak gaya sih, kamu!" cerca Edward yang kemudian melotot saat Rama mengumpulkan kembali kesemua polongan yang tercecer di atas kertas laporannya. "Kamu nggak berniat makan itu lagi, kan?"
"Kenapa?"
"Kenapa?! Itu penuh kuman, Rama!"
"Belum juga lima menit!"
"Kamu pikir bakteri butuh waktu lima menit dulu untuk mengkontaminasi?!"
Rama mendecakkan lidah. "Eddy, jangan hidup ribet begitu, bisa? Kamu pikir apa gunanya sistem imun tubuh kita diciptakan? Makan saja! Biarkan limfosit T, limfosit B dan sel natural killer menjalankan perannya."
"Aku baru tahu kamu tahu banyak soal sistem imun."
Rama tersenyum pongah. "Oh, jelas! Materi imunologi itu materi favorit kedua bagiku setelah materi reproduksi."
"Kenapa nggak sekalian ambil jurusan reproduksi kamu!"
Rama tertawa. "Jatah nepotisme untukku cuma di jurusan farmasi yang terkutuk ini, masalahnya."
Edward menarik kedua alisnya membentuk simpul. Rama memang sering membanggakan proses masuknya melalui jalur yang disebutnya VIP line alias nepotisme, namun sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa "orang dalam" yang mengurusnya. Karena farmasi adalah salah-satu jurusan dengan peminat terbanyak, Edward yakin orang yang mengurus Rama tersebut pasti punya peranan besar.
"Ngomong-ngomong, orang yang mengurusmu masuk itu, siapa?"
Rama yang baru ingin memasukkan kacang polong di dalam mulutnya menoleh tepat saat Edward menahan tangannya.
"Gila! Yang tadi masuk ke hidung kamu yang mana?!"
"Mana aku tahu!" Rama terdiam beberapa saat lalu ikut membeliak . "Untung kamu ingatkan, Bruder! Aku nyaris makan kacang polong rasa upil!"
"Dasar jorok! Buang sana!"
Rama segera membungkus polongan hijau tersebut. "Tadi kamu tanya pengurusku siapa?"
Edward mengangguk dengan menatap Rama penuh rasa ingin tahu.
"Siapa, ya? Si dekan workaholic itu, mungkin?"
"That charismatic, Pak Arya? Bullshit!"
"Ya sudah, kalau nggak percaya!" Rama bangkit menuju tong sampah dan membungkuk meminta maaf pada kacang polong yang terpaksa harus dibuangnya.
"Dasar konyol! Pak Arya, katanya?" Edward mendengus, "Dia pasti ingin membohongiku lagi!"
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
Rean bangkit dari posisi tidur miring dengan sebelah mata berkedip menahan nyeri. Luka jahitan yang membujur di punggungnya terasa sangat perih, tetapi ia enggan meringis di depan Chelia. Bukan karena menjaga image, saat Rama ataupun Edward membantunya mengganti perban, ia tidak segan untuk mengaduh kesakitan. Rean hanya tidak ingin membuat Chelia khawatir dan menangis lagi karenanya. Rean paham betul betapa mudah Chelia kepikiran sesuatu karena ingatan superiornya.
"Rean, bagaimana? Nyerinya belum hilang?" Chelia membantu Rean untuk duduk di pinggiran tempat tidur.
Rean berusaha menengakkan punggung. Mata Chelia yang berkaca membuat ia sebisa mungkin menarik sudut bibirnya yang pucat agar tidak kentara sedang menahan sakit. "Sudah lebih mendingan dibanding kemarin, Chelly."
"Benarkah?"
"Ya. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir begitu."
Chelia mengembuskan napas lega lalu meraih beberapa blister obat di nakas. Hari ini libur akhir pekan dan ia menunggui Rean seorang diri saja. Edward sudah sibuk di HMJ sejak pagi, Naya tetap dengan urusannya sebagai panitia Dies Natalis, Cassy ada janji dengan ibunya, sementara Erva masih dijemput Rama. Sebelumnya Erva yang sudah membersihkan kamar memberi kabar untuk menggunakan bentor sebagai armada untuk ke rumah Rama, tetapi Rama maupun Rean tidak memberi izin.
"Sudah waktunya minum obat, Rean." Chelia menyodorkan segelas air juga beberapa tablet analgesik dan antibiotik. Sejujurnya, tinggal berdua dengan Rean membuatnya sedikit gugup. Chelia bukannya takut Rean macam-macam padanya. Rean bukan tipikal laki-laki yang seperti itu, hanya saja ia merasa sungkan berada di kamar Rean dan berduaan tanpa teman-temannya yang lain. Lagipula setelah Riva--kakak semata wayangnya, Rean, Rama, serta Edward adalah laki-laki yang sangat Chelia percaya.
Rean menurut saja dan meminum obatnya dengan tenang. Berbeda dengan Rama yang harus banyak drama dulu. Chelia merasa lucu mengingat negosiasi Rama dan Vian saat dokter penanggungjawab poliklinik itu memberikan obat berbentuk tablet. Rama meminta untuk diresepkan tablet kunyah. Namun, berhubung obat anti-nyeri yang diberikan Vian tidak diformulasikan dalam bentuk tablet kunyah karena sifat asli senyawanya yang pahit, Rama akhirnya memilih sediaan sirup meski harus meminum dua sendok sekaligus agar dosisnya tercapai. Itupun harus yang rasa stroberi. Rama bilang tidak suka rasa jeruk. Masa jeruk minum jeruk, katanya.
"Kenapa, Rean?" tanya Chelia saat Rean menggerakkan bahunya dan terlihat kurang nyaman.
"Perbanku terlepas. Sepertinya harus diganti."
"Ah, iya! Harusnya dari tadi!" Chelia bersegera membuka laci nakas dan mengambil plester steril. "Perbanmu harus diganti sebelum infeksi."
Rean mengangguk dan mengusap tengkuknya. "Tolong ya, Chelly."
Chelia mengangguk yakin, tetapi sedetik kemudian wajahnya langsung memerah begitu menyadari luka Rean berada di bagian punggung. Terlebih saat Rean mulai menarik ujung baju kaos yang dipakainya. Chelia sudah akan memalingkan muka bila saja Rean tidak mendesis karena bajunya yang tersangkut.
"Si-sini kubantu." Chelia mengangkat perlahan baju Rean hingga berhasil melewati punggungnya.
"Maaf ya, merepotkan."
"Ti–tidak! Tidak apa-apa!" Chelia mengalihkan pandangannya dari Rean yang sekarang bertelanjang d**a dengan rambut acak-acakan. Tubuh Rean atletis khas seorang profesional bela diri. Pundaknya lebar, otot-otot lengannya pun terbentuk tetapi tidak terlalu kekar, proporsinya terlihat begitu seimbang. Chelia menunduk, tidak berani melihat lebih jauh dari itu. Ia mungkin sudah terbiasa melihat Riva dalam penampilan yang sama. Namun, tentu saja pada Rean hal tersebut berbeda. Untuk itu ia memilih menyibukkan diri dengan mengutak-atik kotak obat.
"Perbannya kubuka, ya," izin Chelia pada Rean yang mengambil posisi membelakanginya. Dengan perlahan ia membuka perban yang menutupi luka di punggung Rean. Tangannya sampai gemetar antara hati-hati, gugup, dan malu. Setelah membungkus perban bekas tersebut menggunakan plastik, Chelia mulai membersihkan area di sekitar jahitan dengan antiseptik lalu membalutnya kembali dengan absorbent pad.
"Terima kasih, Chelly." Tanpa aba-aba Rean berbalik, menampakkan bagian perutnya yang terbentuk sempurna. Chelia yang membersihkan tangannya menoleh dan terkesiap. Botol berisi cairan antiseptik yang digunakannya bergetar. Isinya tumpah tepat di atas celana Rean.
"Ah! Ma–maaf, Rean!" Chelia menutup matanya dengan kedua tangan. "A–aku ambilkan handuk dulu!" serunya lalu berlari keluar kamar dengan wajah merah padam. Sebentar kemudian ia muncul dan menyerahkan handuk serta sebuah boxer dari jemuran. Sebelah tangannya dibawa ke depan untuk menutupi mata.
"I–ini, Rean! Maaf ya, tapi ganti sendiri!" Chelia membungkuk pada Rean dengan mata tertutup lalu kembali keluar kamar, kali ini dengan menutup pintu.
Rean terdiam di tempat sambil memandangi boxer berwarna kuning dengan motif minion dan pisang yang diberi Chelia. Boxer milik Edward itu baru kemarin dicuci Rama.
"Dasar Chelly, menggemaskan sekali!" Bahu Rean berguncang menahan geli. "Mana mungkin juga aku minta digantikan."
☕☕☕
TBC
.
.
.
Prescriptio Notes
Analgesik : Kelompok obat pereda nyeri. Terdiri dari golongan steroid, non-steroid, dan narkotika (dengan resep dokter)