–Blood relationship–
~♥Happy-Reading♥~
.
.
.
Hampir dua minggu sejak peristiwa percobaan bunuh diri yang dilakukan Dandy dan suasana di fakultas kembali seperti sedia kala. Terkecuali Dandy yang belum bisa melanjutkan kuliahnya. Dandy saat ini kabarnya tengah menjalani terapi rawat jalan. Chelia dan kawan-kawan beberapa kali mencoba menjenguk, namun keluarga Dandy terkesan tertutup dan mereka cukup tahu diri untuk tidak mengusik kehidupan pribadi orang lain.
Yang membuat Chelia bersyukur adalah kejadian kemarin itu tidak memakan korban jiwa. Dandy masih diberi kesempatan melanjutkan hidup dan terhindari dari dosa besar yang bisa membuatnya kekal abadi di neraka. Chelia berharap, meski tidak dalam waktu dekat, Dandy bisa mengungkap kebenaran dan bertanggungjawab.
Rean pun sudah pulih, bahkan hari ini mengambil izin untuk menghadiri technical meeting turnamen bela diri tingkat nasional. Mengingat kejadian saat membantu Rean mengganti perban di hari itu membuat pipi Chelia kembali memanas. Beruntung Rean yang tidak banyak bicara tidak pernah mengungkit kejadian tersebut sehingga ia tidak harus terus-terusan salah tingkah.
Chelia memandangi semak belukar yang sesekali menampakkan nisan-nisan artistik di kejauhan dari balik jendela mobil Rama. Sudah menjadi kebiasaan bagi teman-temannya sedari dulu untuk saling mengantar-jemput. Edward berangkat dan pulang kampus bersama Erva. Rean bertugas menjemput Chelia di pagi hari, sedang Rama yang mengantarnya pulang.
Di pagi hari yang ramai kendaraan, agar terhindar dari kemacetan, rute tercepat yang bisa dilalui dari rumah Chelia adalah kawasan Perkuburan Cina yang sepi dan Rama tidak ingin melintas di sana tanpa jimat kuning penangkal Vampire. Namun berhubung Rean sedang absen, kali ini Rama harus melawan rasa takutnya.
Chelia menoleh pada Rama yang menekan tombol switch pada car stereo dan mengganti lagu Girls Like You--Maroon menjadi lantunan ayat suci saat memasuki kawasan perkuburan Tionghoa. Chelia tahu Rama sangat gentar melewati jalur alternatif tersebut, namun tetap saja berkeras menjemputnya. Padahal ada Riva yang pagi itu siap mengantar.
Rama berkutat dengan pikirannya sendiri. "Kira-kira makhluk astral di sini mengerti bahasa arab, nggak ya? Mana aku nggak dapat jimat orang Cina lagi!"
"Kenapa, Rama?" Chelia bertanya pada Rama yang menghentakkan kepala.
"Nggak apa-apa, Sweetheart," jawab Rama berusaha tersenyum.
"Besok-besok kalau Rean tidak sempat, aku diantar Kak Riva saja. Nggak apa-apa kok."
Rama menggeleng kuat. "Kak Riva itu sibuk, kasihan kalau kerjaannya terganggu."
"Kalau begitu aku naik angkutan umum saja, pesan taksi online juga bisa."
"Tidak boleh. Tidak bisa. No way, Sweetheart. Selama masih ada aku, Edward, dan Rean, kamu tidak boleh bepergian diantar orang yang tidak dikenal. Bahaya! Nanti kamu diculik terus dijual ke pasar pelelangan organ tubuh!"
Chelia bergidik sendiri mendengarnya.
"Aku nggak bermaksud buat kamu takut, tapi di dunia ini nggak banyak orang yang bisa dipercaya." Rama berujar serius, matanya kemudian membulat melihat Chelia mengangkat sebuah sepatu di bawah kakinya.
"Ini ... punya siapa?" Chelia menilik sepatu sepatu yang familiar di ingatannya.
"Ah, itu ... sepatu yang aku pakai kemarin. Waktu main futsal aku ganti, ternyata ketinggalan di sini."
Chelia hanya mengangguk, ternyata dugaannya salah. Chelia hendak meletakkan kembali sepatu tersebut, namun begitu mendapati sebuah goresan di bagian bagian vamp-nya, intuisinya berkata lain.
Chelia diam-diam melirik Rama yang sesekali mengikuti ayat-ayat suci yang terus berkumandang.
Ini kan sepatu milik Kak Arya?!
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
Asistensi. Persiapan pra-praktikum yang sedikit mengesalkan bagi Naya. Bukannya ingin berlagak dan sok tahu sampai tidak membutuhkan arahan dari asisten, Naya hanya merasa kesal dengan satu pertemuan yang seharusnya menjadi opsional bagi praktikan namun malah dipatenkan menjadi kehadiran wajib dan tercatat sebagai asistensi. Sistem "kandang paksa" seperti inilah yang mematikan inisiatif mahasiswa.
Naya membuka lampiran Farmakope di bagian larutan pereaksi dengan gemas. Hari itu kelompoknya mendapat tugas untuk menyiapkan pereaksi. Sesuatu yang sangat merepotkan berhubung Rean Dan Chelia tidak tergabung dengannya dalam satu kelompok, sementara dua orang anggotanya--si kembar Rafa dan Rafi tidak hadir lantaran sedang sakit berjamaah dengan alasan yang membuat ubun-ubun Naya terasa mendidih. Kontak batin karena pernah satu rahim bersama, katanya.
Tiap kelompok di praktikum Analisis Farmasi itu terdiri atas lima orang, sedang anggota lain--harapan terakhir Naya--adalah Ramayana Krissandy dan Ervana Arystia. Dua makhluk hidup penganut paham parasistisme yang tidak bisa diajak bekerja sama maupun sama-sama bekerja.
"Rama! Kamu bisa serius sedikit nggak, sih!" gertak Naya pada Rama yang sibuk bermain game online.
"Banyak juga bisa, Nay. Ini lagi serius, kok!" Rama menyahut tanpa melepaskan tatapan dari layar HPnya.
"Tolong yah, Rama! Jangan memancing!"
"Aku lagi main game Naya, nggak memancing. Memancing itu di laut, bukan di laboratorium. Kalau mau memancing ke laut saja."
Naya hampir saja mencekik Rama yang menyengir kuda ke arahnya, "Kamu main pake wifi fakultas lagi, kan? Dasar pencuri fasilitas kampus!"
"Ini bukan men-cu-ri Naya Cutie, ini namanya me-man-fa-at-kan, cukup jelas bedanya dan kamu cukup pintar untuk tidak mengerti."
Naya merengut. "Jangan panggil aku cutie!"
"Kenapa, terharu?"
"Sorry, ya! Jangan ge-er kamu!"
"Oke, dimaafkan."
"Apa?!"
"Kamu kan, minta maaf. Aku maafkan dengan besar hati."
Naya tidak tahan lagi dan membanting Farmakopenya di atas meja laboratorium yang berlapis tegel putih hingga menimbulkan bunyi berdebam.
"Buset! Santai dong, Nay! Aku kan nggak korupsi aset negara. Dekan fakultas ini saja main game online pake wifi!"
"Kamu jangan fitnah ya, Pak Arya mana ada waktu buat main game!" sergah Naya tidak terima.
"Kalau nggak percaya cek saja sendiri! Btw, dia itu hode."
"Hode?"
Rama berdecak. "Itu loh yang menyamar pake karakter cewek biar sering dikasi gift, leveling gampang, terus apa-apanya dibantu, phatetic!"
Naya mendengus. Ia menyesal sudah sedikit penasaran dengan informasi yang sangat tidak penting untuk diketahui tersebut. "Konyol sekali!"
"Iya, si kunyuk itu memang konyol banget."
"Kamu bilang dekan kita kunyuk?!"
"Aku? kamu yang barusan bilang tuh!" Rama mengeleng. "Dasar mahasiswi durjana!"
Naya baru saja akan memukul Rama begitu terdengar bunyi pecahan kaca beruntun dari dalam ruang alat. Gerakan keduanya terhenti, baik Naya yang melayangkan tangan di udara maupun Rama yang refleks melindungi kepalanya mematung mempertahankan posisi. Pupil mata mereka melebar maksimal.
"Erva!"
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
Rean menghampiri Rama yang sedang menunggu di depan ruang koordinator asisten, mungkin tidak tepat disebut menunggu sebab Rama terlalu girang bermain di kursi putar sampai tidak menyadari kehadirannya.
"Childiss!" teguran Rean membuat Rama menegakkan badan dan memutar haluan menghadapnya.
"Bukan Childiss, Bro. Ini namanya berjiwa muda." Rama menyunggingkan cengiran khasnya.
"Terserah." Rean menyerahkan secarik kertas berisi bon alat. "Totalnya 335 ribu."
Rama menghentakkan kaki di lantai, menahan gaya lembam hingga kursinya berhenti berputar. "Nggak bisa dinego apa? Belanja online saja bisa nego!"
Rean memijat dahi di antara kedua alisnya yang saling bertaut. "Berhenti bercanda Rama, kamu pikir ini perusahaan ritel? Sesuai kebijakan praktikum, karena ini human error, kalian harus menyetor uang ganti alat."
"Erva error kali, jangan bawa-bawa nama besar umat manusia deh. Ini bayarnya cash?"
"Menurutmu di dalam ada mesin gesek?"
Rama bersungut pada Rean dulu sebelum masuk menemui penanggungjawab laboratorium. Berselang beberapa menit, ia keluar dengan mimik muka yang terlalu santai untuk seorang mahasiswa yang baru saja mengeluarkan uang ratusan ribu.
Rean hanya bisa menghela napas. Rama sudah sering kali melakukan kompensasi untuk kesalahan teman-temannya, terutama karena kelalaian Erva yang hobi merusak barang. Selama Rama tidak keberatan dan uang yang digunakannya bukan hasil mengepet, mencuri, atau hasil judi, Rean pikir itu tidak jadi masalah.
"Well done! Ah, andai semua bisa diselesaikan dengan uang." Rama menghempaskan tubuhnya di atas kursi putar dan kembali melecutkan gaya rotasi.
Rean menaikkan kedua alisnya, menatap Rama yang berputar kegirangan.
Mengerti tatapan Rean, Rama segera memberi klarifikasi. "Jangan berpikir negatif dulu. Maksudku andai laporan dan tugas-tugas sialan itu bisa selesai dengan dibayar."
"Terus kamu mau bayar?"
Rama tertawa rendah. "Aku bukan mahasiswa idealis, Brother. Apa yang kita peroleh dari begadang semalam menulis laporan dan tugas pendahuluan? Ilmu? Bullshit! yang ada cuma capek, akhirnya kita mengantuk pas kuliah. Sudah melek setengah mati, materi nggak ada yang masuk di kepala pula! Daripada rugi dua kali mending aku tidur di kelas."
Rean tidak membantah, apa yang dikatakan Rama memang benar adanya. Sejujurnya ia pun merasakan hal yang sama.
"Huh! Apa sih yang dilakukan si dekan gila kerja itu sampai tidak memperhatikan kehidupan mahasiswanya!" Rama menyandarkan punggungnya di bantalan kursi dengan malas.
"Mahasiswa dan adiknya."
Rama memejamkan mata sambil tertawa hambar. "Sepertinya dia lebih menganggapku sebagai mahasiswanya."
Rean menarik napas panjang, karena suatu masalah internal yang tidak ingin diceritakan Rama, hubungan dua kakak-beradik tersebut menjadi renggang seperti sekarang, bahkan saling tidak mengakui di depan umum.
"Jadi sampai kapan akan kamu sembunyikan terus?"
"Sampai ...," Rama menjeda lalu tersenyum simpul, "sampai dia yang mengaku duluan."
☕☕☕
TBC