-Something in The Past-
~♥Happy-Reading♥~
.
.
.
Rama mendapati dirinya terbangun di ruang tengah sebuah rumah megah yang sangat kental di ingatannya. Rama tahu dirinya tengah bermimpi, sebab demi langit dan bumi, ia telah bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di tempat laksana neraka jahim tersebut.
Terdengar kegaduhan dari balkon lantai dua. Seorang pria berumur awal 40-an dengan muka masam menuruni tangga, garis-garis ketampanan masih terlukis jelas di wajahnya. Bila saja tidak ada insiden "itu", Rama tentu akan yakin dari mana kerupawanan wajahnya diturunkan. Di samping pria itu seorang anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun dengan paras menggemaskan berjalan tertatih, menyelaraskan langkah lebar sang pria yang menyeretnya secara paksa.
Duh, aku memang sudah tampan sedari orok!
Rama membantin dengan bangga menyadari anak kecil mungil tersebut adalah manifestasi dirinya di masa lalu. Namun, saat mata mereka bertemu mendadak perasaan sesak memenuhi hatinya. Seolah tersedot dalam sorot mata yang penuh kerikuhan dan kepayahan itu.
"Jangan!" Rama berlari, berusaha menahan sang pria yang dengan murka mengacungkan cemeti pada si Rama kecil. Sayang serat kuat nan elastis tersebut telah lebih dulu mencemuk, menciptakan baret kemerahan di kulitnya yang bersih terawat akibat lisis pembuluh darah kapiler di dalam sana.
Rama mengerang, seolah ikut merasakan perihnya cambukan kuat tersebut. Rama kecil pun tersedu, cairan merah pekat berbau khas besi mengalir deras begitu logam pengait di sisi cemeti turut menghantam dahinya. Lagi-lagi Rama ikut merasakan nyeri. Sungguh, pria terkutuk yang tidak akan sudi ia temui sampai mati itu berhasil membangkitkan emosinya, bahkan dalam mimpi.
"RAMA!"
Rama berbalik. Seorang wanita cantik berambut hitam legam menghambur ke arah mereka dengan penuh kekhawatiran. Rama tertegun, menilik sosok yang amat dirindukannya itu dengan saksama. Kali ini, Rama dengan bangga memaklumatkan kepada dunia bahwa parasnya yang menawan diwariskan dari wanita yang dipanggilnya ibu tersebut.
"Apa yang kamu lakukan pada anak kita?!" Wanita itu mendekap Rama kecil sambil menatap tajam pada sang pria.
"Anak kita?! Bahkan setelah semua bukti itu kau masih berani menyebutnya anak kita?!"
Wanita cantik tersebut bergeming. Matanya berkaca, memandang sang pria dengan sendu.
"Minggir! Dia bukan anakku! Akan kuhabisi anak pembawa sial ini!" Sang pria kembali mengacungkan cemeti. Wanita di hadapannya sigap melindungi Rama kecil yang gemetaran, mengorbankan punggungnya sebagai sasaran tali pecut tersebut.
Pria tersebut terperangah, badannya membungkuk ingin meraih wanitanya yang berlutut sambil meringis tertahan, namun sang wanita lebih dulu berbalik dengan berurai air mata.
"Dia anakku! Aku melahirkannya dengan darah dan nyawa, jangan coba-coba menyakitinya!"
Rama merasakan jutaan jarum menusuk jantungnya serempak mendengar pembelaan dari sang ibu. Haru dan pilu berbaur memenuhi hatinya. Rama tidak menyesal telah menuruti segala perkataan ibunya selama dua belas tahun mereka bersama dahulu.
Sang pria bungkam, melemparkan tali cambuknya ke sembarang arah yang kemudian membentur vas bunga hingga keramik antik tersebut terurai menjadi serpihan porselen abstrak di lantai.
"Kau istriku, selamanya. Aku bisa memaafkan segala kesalahanmu di masa lalu. Tapi anak itu, singkirkan dia dari hadapanku." Pria tersebut berbalik. "Jika tidak, aku yang akan melenyapkannya dengan caraku sendiri," sambungnya kemudian berlalu.
"Ibu ... Rama takut ...." Rama kecil berujar lirih.
Sang ibu mendekap erat putranya. "Jangan takut, Sayang. Ada ibu di sini. Besok kita ke rumah kakeksampai ayah tenang."
"Maafkan Rama karena sudah lahir, Bu. Maafkan Rama sudah buat ibu sedih dan susah." Rama kecil terisak sambil menghapus jejak air mata di wajah ibunya.
"Jangan berkata begitu, Sayang. Rama tidak salah, ibu senang sekali punya anak yang tampan, baik, dan pintar seperti Rama."
"Ibu tidak menganggap Rama pembawa sial?"
"Tentu tidak, Sayang. Rama artinya pembawa kebahagiaan. Suatu saat nanti, Rama yang akan membawa kebahagiaan pada keluarga ini."
Rama kecil terdiam beberapa saat. "Tapi ayah bilang Rama bukan anak ayah. Kakak juga bilang Rama bukan adik kakak lagi. Kenapa bisa begitu, Bu? Kalau Rama bukan anak ayah, bukan adiknya kakak juga, jadi Rama ini siapa?"
Ibu Rama mengggigit bibir, menahan air matanya agar tidak jatuh lagi kemudian mengelus puncak kepala anak bungsunya. "Rama sayang, dengar ibu baik-baik. Rama adalah anak ibu dan akan terus menjadi anak ibu, sampai kapanpun itu."
Rama kecil mengangguk lalu memeluk erat ibunya yang langsung dibalas dengan rengkuhan tak kalah erat oleh sang ibu.
Adapun Rama yang masih menjadi penonton dalam mimpinya sesekali mengusap air mata. Rama melihat ibunya mengobati luka-lukanya, menghiburnya, dan menemaminya sampai terlelap.
"Ibu ...." panggil Rama sayup-sayup.
Seolah mendengar panggilan tersebut, ibunya menoleh. Pandangan mereka menyatu. Rama menatap nanar mata teduh nan menenangkan yang sudah lama tidak dilihatnya itu.
Sang ibu merentangkan kedua tangannya, menyambut Rama. "Kamu sudah besar, Sayang."
"Ibu! Aku rindu! Aku rindu sekali, Bu!"
"Ibu lebih rindu, Sayang." Ibu Rama mengurai pelukannya, menangkup kedua pipi Rama dan menatapnya dalam-dalam. "Rama, anak ibu tersayang. Boleh ibu minta satu hal?"
Rama mengangguk lambat. "Tentu, Bu! Apapun akan Rama berikan untuk Ibu."
Sang ibu tersenyum, membelai rambut Rama yang kini lebih tinggi darinya penuh kasih. "Berjanjilah pada ibu untuk selalu hidup bahagia. Dengan begitu, ibu akan merasa lebih tenang di sini."
Rama tersedu. Tidak kuasa menahan air mata, ia pun menangis sejadi-jadinya dalam dekapan sang ibu.
"Aku berjanji, Bu. Aku berjanji akan selalu hidup bahagia untukmu."
⚛️⚛️⚛️️⚛️⚛️
Bahasa Latin--bahasa "mati" nan mematikan. Disebut bahasa "mati" karena tidak lagi diterapkan dalam percakapan sehari-hari. Disebut pula mematikan sebab artikulasinya yang kadang terlampau rumit untuk dirapalkan--setidaknya untuk sebagian besar mahasiswa farmasi.
"Solana ... solanum ... arght!" Cassy merengut kesal pada list nama ilmiah di buku catatannya. Terdampar di jurusan farmasi adalah wujud dari siksa dunia bagi Cassy. Bila saja bukan karena permintaan terakhir mendiang kakeknya, Cassy sudah akan angkat kaki sedari dulu.
"Solanum tuber ... tuber ...."
"Tuberkulosis!" Erva melemparkan bantuan yang membuat ekspresi Cassy berubah seperti orang yang baru saja mendapat zonk setelah menolak seratus juta.
Rama tergelak, mengalihkan perhatian dari game Iruna Online yang dimainkannya sedari tadi. Rama sama sekali tidak tertarik menghapal nama latin tumbuhan yang menjadi bahan kuis untuk kelas Fitokimia besok. Baginya, mengeja rangkaian konsonan dan vokal yang disusun secara tidak manusiawi itu sama saja dengan mendzolimi diri sendiri, perbuatan yang tidak dibenarkan dalam agama dan kemanusiaan.
Ditambah, fonem berbelit tersebut juga bisa mengganggu fungsi korespondensi lidah--yang untungnya meski secara teknis merupakan otot, tidak pernah mengalami keseleo secara harfiah. Pertolongan pertama macam apa yang bisa diberikan untuk lidah yang terserang pegal linu? Diolesi counterpain krim atau ditempeli patch koyo cabe? Mengerikan!
Lagipula, ini Indonesia. Bukan Olympus ataupun Atlantis. Untuk apa repot-repot mengadopsi aksen dari negara yang identik dengan mitologinya itu bila kita punya lebih dari enam ratus bahasa daerah warisan leluhur ditambah satu bahasa nasional pemersatu bangsa? Orang tidak nasionalis mana lagi yang dengan mudahnya termakan propaganda literal dunia barat tersebut?
Rama tersadar dari serangkaian pembenaran yang telah disusunnya sedemikian rupa saat Edward, Rean, dan Chelia masuk ke ruangan dan ikut bergabung. Mereka bertiga tampak muram, terutama Chelia.
Sejak masalah "sepatu" kemarin Chelia memang terlihat tidak tenang. Rama tahu Chelia sebenarnya mengetahui sesuatu dan menunggunya bertanya, namun gadis itu memilih bungkam. Berhubung Rama terlalu tahu diri, Rama pikir itu karena Chelia menjaga perasaaannya.
"Kalian kenapa?" tanya Naya pada Edward yang mengatur napasnya. Rean pun mengambil posisi bersandar di kursi dengan kepala mendongak dan mata terpejam.
"Kamu nggak berniat mengkudeta posisiku sebagai ciptaan terkeren di bumi ini, kan?" Rama menyenggol lengan Rean antipati. Bagi Rama, pose Rean itu sangat instagramable, si selebgram itu pun bertekad akan meniru pose tersebut untuk postingannya di masa yang akan datang.
Rean membuka sebelah matanya. "Kudeta?"
"Itu, gayamu!"
Rean menghembuskan napas di udara, yang juga terlihat keren di mata Rama. "Sorry Rama, aku nggak paham dan tidak berniat berdebat."
"Kamu kenapa, Brother? Nggak biasanya kamu yang fit a long day jadi lemah, letih, lesu, dan lunglai begini!"
"Rama! Jangan kumat dulu! Rean itu capek habis angkat aquades 30 liter ke lab kimia!" tegur Edward.
"Gila! 30 liter ke lantai empat? Yang benar saja?!"
"Ya. That damn kak Aldo yang minta, kalau nggak laporan kita nggak mau di-acc!"
"Kita?"
"Aku, Rean, dan Chelia." Edward melirik Rean dan Chelia bergantian.
Baik Rama, Cassy, Erva, maupun Naya terperangah dan menatap Chelia bersamaan. "Chelly juga?!"
"Maaf ...," desah Chelia. "Sebenarnya itu hukuman untukku, tapi Rean dan Edward yang menggantikan."
"Tidak usah tidak enakan begitu, itu memang bukan kerjaan perempuan." Rean menepuk punggung Chelia dan mendelik pada Edward.
"Ah, aku nggak bermaksud menyinggung kamu, Chelly. Sumpah!" Edward menyatukan kedua sisi tangannya.
"Tunggu! Ini ada apa, sih?!" sela Cassy.
"Kak Aldo mau ajak Chelly ke bazar nanti malam--"
"Nggak bisa!"
"Dengar dulu!" Edward berdecak pada Rama yang langsung menggebrak meja. "Chelly menolak, makanya Kak Aldo marah dan menghukumnya untuk bawa tiga jirigen aquadest 30 liter itu ke laboratorium. Aku bantu bawa satu, Rean dua."
"Enak banget main asal suruh! Bahan dan alat itu kan tanggungjawab laboran sama asisten!" Cassy merutuk.
Rama berusaha menahan emosi, ini bukan kali pertama ia mendapati ketidakprofesionalan asisten dalam praktikum. Ronaldo Setya atau Aldo itu adalah senior satu tingkat di atas mereka yang pernah menyatakan persaannya pada Chelia namun bertepuk sebelah tangan. Menurut gosip yang tersebar, Aldo sengaja mendaftar sebagai asisten untuk melampiaskan dendam atas perasannya yang tak terbalaskan.
"Aku kan bisa bantu, kalian kenapa nggak bilang!"
"Kamu yang jarang olahraga mau angkat berat? Yang pegal siapa, yang repot siapa. Bisa-bisa aku sama Edward nggak tidur lagi karena kamu merepek terus."
"Aku bisa sewa kuli!"
"Ribet lagi urusannya!"
Rama meringis. "Bikin emosi saja tuh Ronaldowati. Kenapa nggak langsung kamu hajar saja sih?!"
"Lusa dia sidang hasil."
"Mau dia gelar sidang BPUPKI yang ke-3 juga bodoh amat!"
Rean memejam erat. Kalau menuruti keinginan, sudah akan ia habisi senior yang dibencinya itu. Rean sudah lama menyimpan rasa pada Chelia, namun tidak pandai menunjukkan secara terang-terangan. Tapi bagaimanapun juga, yang memulai kekerasan fisik duluan selalu dianggap bersalah. Padahal serangan emosional terkadang jauh lebih menyakitkan.
Deringan dari ponsel Rean menjeda perbincangan mereka.
"Dari Rumy." Rean menunjukkan profil Rumy--ketua angkatan mereka yang tertera di layar panggilannya.
"Dih, foto profilnya nggak banget!" komentar Cassy.
"Mirip kakeknya Maruko-chan nggak sih?" timpal Rama.
Rean memberi death glare pada Cassy dan Rama. Duo kritikus itu kontan mendesis dan membuat peace sign dengan ibu jari dan telunjuk.
"Aku angkat dulu." Rean menggeser ikon answer call kemudian bertukar salam dan bertutur panjang lebar, meski yang lain hanya mendengar gumamam tidak jelas.
"Kenapa, Rean?" tegur Chelia begitu Rean memutuskan sambungan teleponnya dengan air muka tegang.
"Kak Aldo, laptopnya meledak."
"Hah?! Kok bisa?!" seru kesemuanya hampir bersamaan.
"Sepertinya overheat. Kemungkinan besar karena konslet dalam sirkuit baterainya. Sewaktu mengumpulkan laporan tadi, aku perhatikan laptopnya memang terus tersambung dengan stop kontak."
"Huh, rasakan itu!" Cassy mengepalkan tangannya dengan gemas.
"Tapi tidak ada yang luka, kan?" tanya Chelia khawatir.
Rean menahan napas sembari mengangguk. "Tidak ada. Kelasnya dalam keadaan kosong saat itu. Tapi ...."
"Tapi?"
"Semua revisi skripsi serta data penelitiannya ada di dalam sana, belum sempat di-backup."
☕☕☕
TBC