26. Invidentia ☕

3047 Words
-Green eyed- ~♥Happy-Reading♥~ . . . Berita Acara Peristiwa Ledakan di Laboratorium Kimia Farmasi Hari/Tanggal Senin, tanggal X bulan Y tahun Z Waktu Pukul 14.00 WITA Kronologi Ledakan terjadi sekitar pukul 2 siang, setengah jam setelah praktikum dimulai ketika praktikan sedang menyiapkan alat dan bahan. Sebelum ledakan, terjadi dua kali pemadaman listrik. Pemadaman pertama diakibatkan oleh pemutusan tegangan dari penyalur daya listrik pusat karena adanya perbaikan sistem. Sedangkan pemadaman kedua disebabkan oleh kelebihan beban pada generator set, sumber cadangan listrik fakultas. Ledakan bersumber dari lemari asam sebagai tempat pencampuran bahan kimia beberapa saat setelah pemadaman kedua terjadi. Gas dan tekanan tinggi yang terbentuk memicu letupan beruntun pada bahan-bahan kimia reaktif lain sehingga menimbulkan kerusakan masif. Dugaan sementara, ledakan disebabkan oleh reaksi antara asam nitrat dan etanol pekat karena ketidaktelitian dan kelalaian praktikan. Akibat ledakan ini, satu praktikan yang berada di sumber ledakan mengalami luka serius di area wajah dan tubuh bagian atas, sedangkan beberapa yang lain mengalami luka ringan akibat lontaran kaca dan percikan bahan kimia. Para korban yang mengalami luka ringan ditangani di poliklinik kampus sedang satu orang yang mengalami luka berat dilarikan ke rumah sakit untuk diberi tindakan medis lebih lanjut. Korban Profil para korban terlampir. Biaya perawatan sepenuhnya ditanggung pihak jurusan farmasi. Kerugian Kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah. Daftar alat dan bahan yang perlu diperbaharui terlampir. Arya mendesah berat lalu menengadah, ada berbagai spekulasi dalam pikirannya sekarang. Tangannya bergerak menekan tombol pada keypad ponselnya, menunggu panggilannya terhubung. "Selamat siang, Afri. Sedang sibuk?" "Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" "Santai saja. Aku hanya ingin memastikan sesuatu dari laporan yang kau kumpulkan pagi tadi." Jeda beberapa saat sebelum Afri menjawab, "Silakan." "Tentang reaksi antara ...," Arya melirik sekilas berkas berita acara yang diletakannya di atas meja, "asam nitrat dan etanol pekat itu. Kalian sudah melakukan analisis kualitatif?" Afri yang menangkap keraguan dari kalimat Arya menarik napas. "Baru dugaan sementara. Beberapa cairan pelarut dan larutan peraksi memang tampak sama secara fisik, namun dari kesemua bahan yang digunakan dalam praktikum kemarin, hanya dua senyawa tersebut yang berpotensi menyebabkan ledakan bila saling kontak." Arya mendesis, beginilah resiko berhadapan dengan bahan-bahan kimia. Mendadak ia teringat Rama. "Kami juga menemukan sisa cairan asam nitrat dalam tabung reaksi pecah yang tercecer," sambung Afri. "Bukankah bahan-bahan itu tampak mirip secara kasat mata? Bagaimana kalian bisa langsung memastikannya tanpa melalui prosedur analisis?" "Tahap paling awal dan paling sederhana dari pengujian terhadap suatu bahan adalah uji organoleptik, antara lain pengetesan terhadap warna, tekstur, bau, dan rasa. Dalam hal ini adalah pengujian terhadap bau. Asam nitrat memiliki aroma khas yang mudah diidentifikasi." Afri menerangkan dengan sabar. "Reaksi antara asam nitrat dan etanol itu bisa kau jelaskan?" Afri mengulum bibirnya. "Bila kuceritakan tentang gelombang kejut yang mempropagasi media di sekitarnya akibat dekomposisi bahan bakar, apa kau bisa paham?" "Itu tampak seperti dongeng dalam bahasa Rusia di telingaku." Di seberang Afri terkekeh. "Sekarang kau mulai banyak kosa-kata, ya. Sepertinya tertular dari Rama." Arya termangu, meresapi kata-katanya barusan lalu membenarkan Afri. Arya baru sadar kalau ternyata banyak bacot itu bisa menular. "Orang bijak mengatakan, bila kau tak mampu menjelaskan sesuatu secara sederhana, maka hakikatnya kau belum benar-benar paham." Arya berdeham, tak ingin kehilangan wibawa. "Jelaskan secara sederhana." "Itu sudah yang paling sederhana." "Yang sederhana selalu bisa dipahami semua orang." Lagi, Arya merutuki dirinya. Ia merasa benar-benar menyerupai Rama yang pandai berkilah sekarang. Afri tertawa kecil. "Akan kujelaskan secara langsung sehabis urusanku di jurusan. Bila kau berkenan, selepas waktu ashar nanti." Arya memberi persetujuan kemudian mengakhiri teleponnya. Ia mengatur sejenak tempo pernapasannya yang agak tersengal lalu mengeluarkan dokumen dari Notix yang berisi foto TKP sesaat setelah ledakan terjadi. Bukan meragukan Afri yang sudah dikenalnya sejak bangku strata satu, Arya hanya berusaha bersikap objektif dan selektif. Oleh karena itu, selain dari pihak jurusan farmasi, Arya tetap meminta bantuan Notix untuk bisa melihat masalah tersebut dari sudut pandang yang lain. Arya memutar kursinya menghadap jendela, berusaha mendapatkan penerangan yang memadai. Saat netranya terpusat pada lanskap laboratorium yang diambil dari sisi pintu masuk, pandangannya mendadak buram diikuti dengan kelopak matanya yang menutup dengan paksa. Ada sepasang tangan yang mendesaknya dari belakang. Arya tidak bisa menghindarkan pikirannya dari berbagai praduga negatif. Bagaimanapun juga, statusnya sebagai pemimpin yang masih muda--bahkan paling muda di antara seluruh pemuka kampus yang lain--tidak bisa disepelekan. Arya baru akan mengambil tindakan defensif begitu sebuah tawa renyah yang sangat familiar merebak di telinganya. "Pilih harta atau Rama?!" Rama menggertak dari belakang. "Rama! Jangan sembarangan! Ugh! Hei, pelan-pelan! Mataku sakit!" Arya berusaha menggapai Rama di belakangnya. "Jawab dulu! Pilih harta atau Rama?!" "Rama!" jawab Arya setengah mendengus. Perlahan tekanan tangan Rama di matanya melonggar. Arya mengerjap beberapa kali, penglihatannya masih buram saat Rama melongokkan kepalanya dan tersenyum lebar. "Pilih Rama, kan? Iya, kan?" "Iya!" Arya yang masih mengusap mata mencebik. "Kalau begitu serahkan takhta dan rumahmu padaku, Kak!" "Enak saja!" "Tadi katanya pilih aku! Dasar PHP!" Arya baru akan memberi Rama serentetan kata-kata mutiara saat adiknya itu menggeser kursinya dan memutarnya sebanyak 3 kali putaran. Selama beberapa detik, yang bisa ditangkap kedua lensa Arya hanya panorama ruang kerjanya, juga wajah tergelak Rama yang berputar-putar. Arya menandaskan kaki di lantai, menghalau energi kinetik kursinya yang mulai kehilangan percepatan sentripetal hingga berhenti di satu titik. Tepat menghadap Rama. Rama langsung mengambil tempat di pangkuan Arya yang masih separuh limbung. Arya segera menarik telinga Rama dengan gemas, namun adiknya itu malah semakin merapatkan sandaran ke tubuhnya. "Rama, berdiri! Kamu sudah bukan anak kecil, berat tahu!" Rama melirik Arya kesal. "Waktu kecil dulu kamu marah-marah tiap aku dekati!" "Aku begitu ...?" "Iya, lah! Kalau aku mendekat, kamu akan mengamuk seperti Kingkong. Ah, bukan! Itu terlalu bagus." Rama berkutat dengan pikirannya sendiri. "Kamu akan memberontak seperti Godzilla," tukasnya. Arya tersenyum getir. "Aku sekejam Kingkong, ya?" "Godzilla." Rama meluruskan. Arya menepuk pundak Rama. "Aku seperti Godzilla?" "Dulu." Rama memejam. "Kamu bahkan pernah merobek buku cerita dan posterku. Untung masih bisa disambung dengan selotip." "Kamu sambung lagi?" "Tentu! Itu hadiah dari ibu, tahu!" "Maaf, Rama ...." Arya menunduk lesu. Rama mengerutkan hidung mendengarnya. "Kamu ini sedikit-sedikit minta maaf, Kak. Santai saja. Itu kan sudah lewat." "Jadi kamu memaafkan aku, kan?" "Iya, Goddy." Rama menyengir saat Arya mendelik padanya. "Iya, Kak Arya yang tampan tapi masih lebih tampan aku," ralatnya cepat. Arya mengetuk kepala Rama. "Sana, berdiri! Kakiku keram, nih!" "Biar saja, keram tidak bikin mati, kok." Rama mengabaikan Arya kemudian menarik dokumen di atas meja. "Ini laporan kejadian kemarin?" Arya membalas dengan anggukan. "Harusnya ini ditulis tangan dan kamu pantul habis-habisan, Kak! Biar pak Afri tahu bagaimana susahnya berulang kali revisi untuk dapat ACC." Rama menarik pulpen di kantong jas Arya. "Aku pantul, boleh ya?" "Pantul saja." Dengan senang hati Rama kemudian menghiasi berita acara tersebut dengan tulisan tangannya. "Ini marginnya salah! Harus 4-4-3-3. Jarak spasi antara judul dengan sub judul juga salah. Harus dilengkapi dengan daftar pustaka, urutan penulisnya harus alfabetis, semua literatur dicetak dan dilampirkan." Arya menggeleng pasrah melihat kelakuan Rama. "Makan apa sih kamu sampai bisa secongor ini." Rama berbalik. "Ah, iya! Aku memang belum makan siang. Pesankan aku makanan, Kak." Oke, Arya menyerah. Prinsip diam itu emas memang sangat pas diterapkan bila beradu dengan Rama. "Lho, Ya'juj dan Ma'juj kw super ini masuk di daftar korban?" Rama mengetuk-ngetuk sebaris nama di halaman lampiran. "Ya'juj dan Ma'juj?" Arya menyingkap tangan Rama yang menghalangi pandangannya. "Rafa dan Rafi?!" "Jangan emosi dulu, mereka sendiri yang memperkenalkan julukan itu. Katanya mama mereka sering bilang begitu kalau lagi marah. Karena aku baik, jadi kutambahkan 'kw super' saja." Arya merasa kepalanya semakin pening. "Rafa dan Rafi memang luka di bagian kaki." "Alasan! Itu pasti cuma modus supaya dapat surat keterangan istirahat. Luka mereka tidak parah, kok! Mereka masih bisa kayang keliling kelas waktu tahu pak Afri tidak masuk tadi. Yang kemarin menggotong Cindy ke poliklinik itu termasuk mereka berdua. Rean bilang lengannya sakit, Edward juga sok-sok menenangkan Cassy, padahal aku tahu mereka tidak mau." "Kamu sendiri?" "Aku? Jangan bercanda." Rama berbisik. "Aku takut, Kak! Asal kamu tahu, keadaan Cindy kemarin itu horor sekali." "Karena itu kamu menyelinap tidur ke kamarku tadi malam?" Rama tanpa ragu mengiyakan. "Kenapa kamu penakut sekali, hah?" Arya memeluk bahu Rama dengan sebelah lengannya. "Karena hantu itu tidak bisa dipukul." "Bisa, pukul mereka dengan bismillah." Rama menatap Arya beberapa lama kemudian tergelak. "HAHAHA kata-kata itu sangat tidak Kak Aryable sekali! "Rama tertawa hingga tubuhnya berguncang, menambah beban di kaki Arya yang sudah dilanda kebas. Arya menunggu tawa Rama mereda kemudian mendorong pelan tubuh adiknya. "Turunlah, Rama. Kakiku pegal." Rama kemudian berdiri, meregangkan tubuhnya dan mengeluarkan sesuatu dari saku ranselnya yang diletakan di sofa. "Pakai ini, Kak." Rama menyodorkan kaleng aerosol analgesik-anti nyeri. "Apa ini?" "Pain-killer. Bagus untuk pegal dan keram." "Kamu bawa-bawa seperti ini seperti atlet nasional saja." "Itu untuk Rean. Buat jaga-jaga kalau ototnya nyeri saat latihan Taekwondo. Ninja juga manusia." Arya tersenyum kecil, Rama-nya masih penuh kasih seperti dulu. "Memang Rean seorang ninja?" "Sepertinya sih, begitu. Mungkin saudaranya ninja Hatori dari Gozaru." Rama lalu duduk bersedekap. "Makananku kapan datang?" "Hah? Makanan?" "Tadi kamu sudah janji akan memesankan aku makanan!" "Kapan aku janji!" Rama merebahkan dirinya di sofa dengan kaki menendang-nendang di udara. "Kakak kamu pelit sekali! Aku kelaparan, nih! "Baiklah, aku pesankan dulu. Jangan banyak tingkah!" "Delapan porsi." "Sekali kupesankan satu mobil katering." Rama memasang senyum khasnya, "Terima kasih, Kak." "Serius kamu minta depalan porsi?!" "Iya. Aku, Chelia, Cassy, Erva, Naya, Rean dan Edward." "Satunya lagi?" "Untuk kamu, Kak. Kamu juga belum makan siang, kan." Arya mengusap wajah kemudian mencari kontak jasa delivery makanan yang biasa dipesan tim konsumsi staf akademik fakultas. "Kamu ingin makan apa, Rama?" Tidak ada jawaban. "Rama?" Masih belum ada jawaban. Arya lekas berbalik, mendapati Rama yang sudah tidur pulas di sofa. Dengkuran halusnya terdengar nyenyak sekali. Arya sampai tidak tega mengusiknya. "Banyak bicara sih, makanya kehabisan tenaga begini." Arya mengambil selimut dari lemari dan menyelimuti Rama. "Kubangunkan saat makanannya datang saja. Masih lama juga, bisa unjuk rasa lagi dia." Arya kemudian sibuk memilih menu. Setelah memesan delapan porsi ia kembali duduk di sisi Rama, mengelus rambut adiknya tersebut dengan penuh rasa sayang. Semerepotkan apapun itu, sebisa mungkin Arya akan memenuhi segala permintaan Rama. Sebab Arya tahu, kedudukan dan seluruh hartanya sekalipun belum cukup untuk menebus segala kesalahannya di masa lalu pada adiknya tersebut. ⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️ Erva sangat mengerti akan hakikat dirinya yang tidak banyak tahu. Tapi satu hal yang paling membuatnya gagal paham adalah kegemaran teman-temannya untuk berkunjung ke kamar kos miliknya. Cassy memiliki rumah mewah glamor khas orang-orang berkasta tinggi. Rumah Chelia yang modern dan futuristik membuat siapapun terkesima dengan kecanggihan teknologinya. Rama jangan ditanya lagi, Erva bahkan takut akan tersesat di rumah Rama saking luasnya. Dan meski tidak pernah berkunjung secara langsung di kediaman Naya, Rean, dan Edward, ia cukup yakin rumah milik mereka jauh lebih baik ketimbang sebuah kamar kecil di tingkat dua pondok semi permanen yang usang dan kumuh--kosan yang dihuninya sejak tahun pertama sebagai mahasiswa. Kosan Erva bisa dibilang sangat sederhana. Lantai papan yang akan berderak tiap kali kaki mengambil langkah, dinding rapuh yang sebagian sisinya dihiasi garis retak-retak berpola, serta perabotan seadanya--beberapa bahkan sisa peninggalan dari pemilik lama yang murah hari. Siapapun yang berada di posisi Erva pasti akan sangat tidak percaya diri mengundang orang untuk berkunjung, apalagi yang segolong teman-temannya. Namun pada kenyataannya, keenam dari mereka justru terlihat menikmati kesederhaan itu. Bahkan lebih dari Erva sang pemilik kamar. Karena laboratorium kimia masih dalam tahap perbaikan, praktikum mereka hari ini terpaksa ditunda. Kosan Erva yang paling dekat dengan kampus pun menjadi spot pilihan untuk mengerjakan tugas dan belajar bersama. Erva pun tidak bisa menolak, apalagi hanya dengan alasan malu. Teman-temannya tidak akan menerima itu. "Siang, Bu!" Rama menyapa ibu kos Erva. Meski kosan Erva dikhususkan untuk putri, Rama, Rean, dan Edward sudah sangat dikenali suami-istri pemilik kos tersebut, terlebih Edward yang selama ini bertugas mengantar-jemput Erva. Selama tidak mengganggu penghuni yang lain, ketiganya dibebaskan masuk. "Siang, Nak Rama! Wah, teman-teman Erva datang lagi, ya." Edward ikut menyapa ibu kos Erva yang tampak antusias. Cassy yang melihat itu menekuk wajah. Ibu kos Erva pernah menyangka Edward adalah pacar Erva. Meski Cassy tahu persis itu tidak benar, ia tidak bisa menampik rasa tidak nyaman dalam hatinya. Rama yang mengerti situasi segera mendahului Edward dan mendorong sedikit tubuhnya hingga menabrak Cassy di belakang. "Aduh!" Cassy mengelus hidungnya yang membentur punggung Edward. "Eh, sorry Cassy. Kamu nggak apa-apa?" Edward menunduk, menatap Cassy dengan penuh rasa bersalah. Cassy refleks memundurkan tubuhnya dan menggeleng kuat. "Ng-nggak apa-apa, Eddy!" "Tapi itu merah!" "Me-merah?!" Cassy memegangi hidungnya, pipinya ikut bersemu dan terasa hangat. Kalau terlalu dekat dengan Edward seperti ini, bisa-bisa seluruh wajahnya jadi merah juga. "Iya! Merah banget, tuh! Di atas nanti kita kompres, ya." Cassy hanya mengangguk patuh. Perasannya bergejolak membayangkan Edward mengompres hidungnya nanti. Ah, tidak bisa! Tidak bisa! Aku minta bantuan Chelly saja! pekiknya dalam hati. Rama hanya senyum-senyum sendiri melihat keduanya. Ia bergegas mengikuti Erva yang mengambil haluan menuju tangga di bagian kanan luar. Tiba di depan tangga yang dimaksud, Rama berhenti sebentar. Seberapa sering pun ia berkunjung, tetap saja dirinya terpekur tiap kali akan melangkahkan kaki di atas sana. Pasalnya tangga dari balok kayu itu dibangun seakan menyalahi aturan konstruksi. Pertama, anak tangganya terbuat dari kayu jati berumur senja yang akan berderit ragu manakala dipijaki, seolah tak mampu lagi menopang beban dari orang-orang yang bertolak di atasnya. Kedua, undakan tersebut dibuat dengan satu sisi bertumpu pada dinding dan sisi lain dibiarkan terbuka tanpa railing untuk pengaman dan pegangan. Terakhir, bila pada umumnya tangga dibuat dengan kemiringan sekitar 20 sampai 45 derajat, maka bidang miring yang satu ini memiliki nilai gradien menghampiri derajat 60, alias curam. Sungguh menguras adrenalin. Erva yang sudah terbiasa terkekeh geli melihat gelagat teman-temannya dan lekas menapaki tiap undakan tangga dengan lincah. Rean menjadi orang pertama yang mengikuti jejaknya. Bahkan seorang yang memiliki daya tahan fisik kuat seperti Rean harus menitih dengan sangat hati-hati. Rean baru berbalik, ingin menjangkau Chelia, namun Rama sudah lebih dulu mengambil tindakan. "Hati-hati, Sweetheart!" Rama sigap memegangi bahu Chelia dari belakang dan menuntunnya menaiki tiap balok. Chelia mengangguk kecil dan tersenyum. Rean yang terlanjur merentangkan tangannya hanya bisa menggenggam udara kosong. Dengan kecut ia menarik kembali ulurannya dan mempercepat langkah, tidak peduli lagi akan hakikat tangga ekstrim yang dipijakinya. "Rean, kenapa belum masuk?" tegur Chelia saat mendapati Rean masih bersandar di depan pintu kamar Erva dengan melipat tangan di d**a. "Menunggu kalian. Erva sendirian di dalam, mana mungkin aku masuk duluan." Rama dan Chelia melenggut maklum. "Kupikir kamu merindukan aku, Brother. Kita kan, sudah tiga hari nggak menginap sama-sama." Rama merangkul Rean dan Chelia lalu mengiring keduanya memasuki kamar Erva. Rean menurut saja. Diam-diam ia melirik Rama yang terus bercanda dengan Chelia. Tarikan napasnya terasa berat. Berkali-kali Rean merutuki dirinya yang kaku dan tidak bisa bersikap hangat seperti Rama. Edward yang baru masuk bersama Cassy dan Naya mengambil tempat di sebelah Rean dan menepuk pundaknya. "Rama memang bersikap manis seperti itu pada kita semua. Bukan hanya Chelly, pada Cassy, Erva, dan Naya juga," hibur Edward. "Lalu?" Rean bersandar dengan cuek, namun perasaannya sedikit lebih lega. Edward tersenyum kecil dan ikut bersandar. Dipandanginya Rean dan Rama bergantian. Edward tahu Rean sudah lama menyukai Chelia. Meski belum memastikan perasaan Rama, setidaknya kata-katanya barusan cukup untuk mendamaikan suasana untuk saat ini. Tak lama berlalu, seseorang menyapa dari luar. Chelia yang membantu Erva mengangkat jemuran menyambut seorang pengantar makanan dari sebuah toko kue brand terkenal. Sama seperti brand kue yang diberi Arya kemarin sebagai pencuci mulut untuk makan siang traktirannya. "Benar ini kamar atas nama Ervana Arystia?" "Benar, Pak. Erva ada di dalam." Chelia meletakkan kembali tumpukan pakaian yang dibawanya. "Ini ada paket untuk nona Erva." "Kenapa, Chelly?" Naya muncul dari balik pintu. "Ada paket untuk Erva." "Paket apa?" Cassy langsung menyeruak, diikuti Erva di belakangnya. Pria pengantar paket tersebut mengerjap beberapa kali. Matanya yang semula berminar melihat Chelia kini membuka maksimal, tidak menyangka akan bertemu gadis-gadis cantik di siang bolong begini. "Ini ada kiriman kue, Nona. Ah, saya foto dulu ya, sebagai bukti penyerahan barang." Rama yang menyaksikan itu langsung bangkit dan merebut ponsel milik sang pengantar paket lalu ber-selfie ria bersama Rean dan Edward. "Ini, Pak! Sudah cukup kan, bukti penyerahan barangnya." Pria petugas delivery itu hanya mendengus kesal lalu berbalik setelah mengucapkan permisi dengan setengah tidak tulus. "Kalian jangan mau difoto sembarangan!" tegur Edward pada Cassy, Chelia, Naya, dan Erva. "Apa, sih! Cuma foto pembuktian juga!" Naya merengut. "Yuk, buka paketnya!" Mengabaikan ketiganya, mereka lantas masuk dan membuka paket misterius tersebut dengan semangat. "Wah, ini kue cokelat! Kelihatannya enak!" Chelia berseru. Rama, Rean dan Edward di ambang pintu saling berpandangan kemudian segera bergabung. "Jangan dimakan dulu! Nanti ada sianidanya!" Cegah Rama. "Mana mungkin, Rama!" Chelia yang sangat menggemari cokelat tidak terima. "Mungkin saja, Chelly. Jangan bandel, oke? Biar Edward coba dulu, kalau dalam 24 jam Edward masih hidup normal, baru kalian boleh makan." Edward mengetuk kepala Rama, "Kamu menjadikanku kelinci percobaan?!" "Eddy, kamu itu manusia, bukan kelinci." Rama menyengir lalu menyerahkan kotak kue pada Edward sebelum diraih Chelia. "Ayolah Rama, kue itu enak sekali! Aku mohon ...," pinta Chelia memelas. "Dibilang tidak boleh, ya tidak boleh, Sweetheart. Nanti aku pesankan, deh!" Rama bersikukuh. Rean membenarkan. "Betul! Kalau perlu nanti aku analisis di laboratorium dulu!" Naya mengurut dahi, frustrasi dengan sikap over-protektif Edward, Rama, dan Rean. Ia kemudian mencari nama dan alamat pengirim di balik bungkusan. "Eddy! Kembalikan kuenya!" Cassy berdiri mengejar Edward yang kabur membawa kotak kue mereka. "Erva jaga pintu!" Edward yang berlari ke arah pintu segera berbelok. "Rean, tahan Erva!" Aksi saling kejar-mengejar dan oper-mengoper kue pun terjadi antara Cassy, Chelia, dan Erva melawan Edward, Rama dan Rean. "Berhenti!" Semua kompak menahan gerakan dan menoleh, menghadap pada Naya yang tiba-tiba berteriak. "Makan saja! Kue itu aman!" "Bagaimana kamu tahu?" selidik Rean dan dijawab Naya dengan menyodorkan secarik memo. Serempak mereka semua merutuki diri. Karena terlalu terbawa dalam dramatisnya suasana, mereka sampai lupa untuk mencari tahu siapa pengirim kue tersebut. "Gio?!" pekik Cassy. "Hah? Si batu Giok?!" Chelia ikut melihat memo di tangan Rean. Ekor matanya beralih pada Naya. Meski tidak menunjukkan perubahan ekspresi yang signifikan, Chelia cukup jeli melihat kekecewaan di sana. Jepitan rambut pemberian Gio yang selalu dikenakan Naya sejak diberikan Gio hari itu pun sudah tak terlihat lagi di sela-sela rambutnya. Chelia mendesah panjang. Perihal cinta dan rasa memang tidak ada yang mengerti. Dan sepertinya, itulah tantangan bagi mereka di hari-hari yang akan menjelang. ☕☕☕ TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD