25. Reflexionem☕

2256 Words
-Looking Glass- ~♥Happy Reading♥~ . . . Manusia memang diciptakan ekivalen secara anatomi, morfologi, dan fisiologi antara satu dan lainnya. Namun begitu, selera visual, musik, aroma, cita rasa dan retensi terhadap suhu serta rasa sakit berbeda-beda tiap individu. Menegaskan bahwa kendali untuk membentuk persepsi dan membuat keputusan tidak hanya atas kuasa pusat kesadaran yang berlindung di balik lapisan pejal tulang tengkorak, tetapi turut melibatkan peranan organ semu yang keberadaannya dimutlakkan, yakni hati. Cassy membasuh wajahnya dengan air keran, meyesapi tiap bulir air yang meresap masuk melalui pori-pori kulitnya sambil merenung. Ada perasaan sesak begitu kelopak matanya membuka, menangkap bias cahaya dari pantulan bayangan dirinya di cermin. Cassy sadar selama ini persepsi "cantik" di matanya keliru. Impresinya hanya bergantung pada hal-hal tampak semata, tanpa tahu ada sesuatu yang jauh lebih indah yang hanya dapat dilihat menggunakan mata hati. Cassy mengerjap beberapa kali begitu teringat ibunya. Cassy belum sanggup meminta pengampunan darinya dengan benar. Setiap kali ingin memulai, lidahnya mendadak kelu, rasanya tidak ada padanan kata yang pantas untuk mengutarakan betapa besar rasa sesal dalam hatinya. Pada akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah memeluk wanita yang dipanggilnya mama itu sambil terus menangis. Saat pintu bilik terbuka, Cassy refleks menoleh. Tiga orang junior yang sedang membersihkan alat melangkah keluar dengan tatapan tak lepas darinya. "Itu kak Cassy kan, yang operasi plastik seperti ibunya itu." "Iya, pantas bisa cantik begitu!" "Jangan-jangan mereka operasi plastik satu keluarga!" Cassy menarik napas dalam-dalam. Meski yang dibahas Notix dan ramai diperbincangkan oleh seluruh civitas akademik fakultas adalah kasus penggelapan dana yang dilakukan ayah Cindy, gosip tentangnya tetap berkembang pesat juga rupanya. Sekarang tanpa embel-embel kata "mungkin" dan "katanya", orang-orang langsung menjatuhkan vonis telah melakukan operasi plastik pada dirinya. Jika ingin memenuhi tuntutan emosi, sudah pasti Cassy akan melabrak dua junior tersebut. Namun ia teringat nasehat Chelia. Memperkeruh suasana bukan hal yang tepat untuk dilakukan di situasi kritis seperti ini. Salah-salah posisinya akan makin terpojok. Cassy berusaha menelan kembali air matanya, menepuk kedua pipinya kemudian mengangguk memberi semangat pada dirinya sendiri di cermin. Saat perasaannya mulai stabil kembali, bayangan Cindy sekoyong-koyong hadir di benaknya. Cassy mengepalkan tangan kuat-kuat. Perkara pelik ini disebabkan karena ulah biang gosip itu. Bahkan foto lawas ibunya sebelum melakukan operasi plastik yang disebarkannya sudah tersiar keluar grup angkatan. Setiap kali melihat Cindy, darah Cassy spontan mendidih. Hal itu pula yang menyebabkannya tidak betah di laboratorium tadi, apalagi Cindy masih cari perhatian tanpa terlihat malu kedok keluarganya terbongkar. Cassy benar-benar berharap Cindy mendapat balasan yang setimpal. Bahkan sejak kemarin ia berandai-andai wajah Cindy yang sangat disombongkannya itu jadi buruk rupa. BRAKKK! Sesorang membanting pintu. Cassy terlonjak ketika sesosok perempuan dengan penampilan berantakan masuk tergopoh-gopoh dan menggeser posisinya di depan wastafel hingga terdorong ke belakang dan menubruk dinding. Kerutan di dahinya makin bertambah saat perempuan tersebut panik dan membabi-buta membasuh wajahnya dengan air keran sambil mengerang kesakitan. Erva yang baru keluar dari toilet tak kalah terkejut. Pandangannya jatuh pada name tag milik perempuan tersebut yang tergeletak di dekat kakinya. Erva merunduk. Matanya membuka maksimal saat membaca nama yang tertera di sana. Cindya Varischa. "Astaga, Cindy?!" Cassy menoleh pada Erva setengah tak percaya. Benarkah perempuan dengan rambut kusut dan pakaian setengah terbakar ini Cindy? Ada apa? Apa yang telah terjadi? Dengan gemetar Cassy menarik kakinya untuk maju mengambil langkah. "Cindy ...?" panggilnya. Perempuan yang menggelugut sambil menunduk tersebut mengangkat kepala. Pantulan wajahnya di cermin membuat Cassy dan Erva spontan menjerit. Kulit wajahnya terkelupas, beberapa bagian bahkan tampak memerah dan terbakar. Ditambah lagi sebelah kelopak matanya yang robek setengah mengatup. Bila bukan karena kalung yang dikenakannya, Cassy tidak akan mungkin mengenali sosok itu sebagai Cindy sang ratu sosialita. Cindy berbalik menatap Cassy. Seram, satu kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana parasnya sekarang. Cassy mengunci rapat matanya saat Cindy mendekat, membelai wajahnya dengan kulit telapak tangan yang ikut melepuh. "Tidak mungkin!" Cindy menatap wajah Cassy dan bayangannya di cermin bergantian. "Ini bukan aku! Aku cantik! Aku jauh lebih cantik!" Cassy terduduk di atas lantai toilet yang dingin. Hatinya bergemuruh saat melihat Cindy yang berteriak histeris sambil memukul kaca cermin hingga retak dan melukai tangannya sendiri. Edward, Rama, dan Rean disusul Chelia, Naya, Gio, juga si kembar Rafa-Rafi datang tak lama setelahnya. Rean dibantu Rafa dan Rafi menghentikan Cindy yang semakin menggila. Rama, Edward, dan Gio mengawal yang lainnya dari kerumunan orang-orang yang penasaran dengan keributan yang terjadi. Sekilas Cassy berbalik, memandang iba pada Cindy yang meronta lalu jatuh pingsan antara syok dan kehabisan tenaga. Tuhan .... apa mungkin ini karena doanya? ⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️ Nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Arya mendesah berat saat untuk kesekian kalinya panggilannya diputuskan oleh suara mononton operator telepon. Perasaan cemas menguasai dirinya begitu keluar dari laboratorium kimia. Beberapa saat yang lalu terjadi ledakan di sana, tepat saat jam praktikum Rama. Dikabarkan satu orang mahasiswi mengalami luka parah di bagian wajah, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka minor akibat pecahan kaca dan percikan cairan asam-basa. Namun masalahnya tidak terletak pada tingkat cederanya. Bagaimanapun, Arya tidak ingin Rama mengalami luka. Tidak ringan, terlebih lagi berat. Arya menuruni tangga dengan gelisah sambil sesekali meringis. Teringat keadaan laboratorium yang kacau menambah kekhawatirannya. Arya pun mencegat setiap orang yang berpapasan dengannya hanya untuk menanyakan di mana keberadaan adiknya itu. "Berhenti!" teriak Arya pada beberapa praktikan yang lewat. Kelompok mahasiswa tahun pertama tersebut sontak dibuat keder mendapat seruan dari sang dekan. "Kalian lihat Rama? Rama adikku!" "Err ... kak Rama, Pak?" "Iya! Iya! Di mana?!" Serempak para praktikan tersebut meneguk ludah. "Tadi ada di poliklinik, Pak," cicit salah seorang di antara mereka. Tanpa menunggu lagi Arya berlekas memutar haluan menuju poliklinik. Berbagai spekulasi bermunculan di benaknya. Arya bukannya tidak mengkhawatirkan mahasiswanya yang lain, hanya saja adik semata wayangnya itu terlalu banyak tingkah sehingga peluangnya untuk terkena marabahaya lebih besar. "Rama!" Arya bersorak pada Rama yang duduk di bangku ruang tunggu. Mengabaikan tatapan terkejut dari orang-orang di sana, Arya menghampiri Rama dan memeriksa keadaan adiknya itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka? Ada yang sakit?" Rama yang menyadari kecemasan Arya tersenyum jahil kemudian memegangi dadanya dan merintih kesakitan. "Aduh ...!" "Kenapa? A-apa yang sakit?" Arya tercekat kemudian langsung memberi tatapan tajam pada Vian yang sibuk berbincang dengan Afri selaku dosen penanggungjawab praktikum. Bagaimana mungkin dokter itu membiarkan Rama-nya kesakitan. Vian dengan tenang menghampiri keduanya. "Apa yang sakit Rama?" tanyanya pada Rama yang menyembunyikan tawa dengan menunduk. "Jantungku." "Jantungmu?!" suara Arya menggema di sepanjang lorong. "Iya, jantungku kaget waktu ledakan tadi. Seperti aku butuh istirahat seminggu." Rama terkikik, tidak mampu menahan geli melihat ekspresi kakaknya yang sudah hampir menangis. Arya menghembuskan napas panjang kemudian mengetuk kepala Rama. "Anak nakal ini! Jangan bercanda, aku benar-benar khawatir! Ini kenapa?" tunjuknya pada punggung tangan Rama yang berbalut kain plester. "Kena pecahan kaca." "Sakit?" "Pakai bertanya segala!" "Tidak kamu beri obat, Vian? Analgesik? Antibiotik?" Arya beralih pada Vian. Vian tertawa. "Itu cuma tergores, Arya. Mereka ini pelajar farmasi, kau pikir mereka bisa menerima kalau aku meresepkan antibiotik sembarangan? Salah-salah resepku dijadikan objek penelitian klinis mereka nanti." "Tapi sakit katanya, bagaimana kalau terinfeksi? Ah, sudahlah!" Arya mendengus sebentar. "Kalian semua baik-baik saja?" tanyanya pada Rean, Edward, Chelia, Naya, Cassy dan Erva dengan tatapan bertumpu pada Chelia. Riva tentu tidak akan tinggal diam bila adik kesayangannya itu kenapa-kenapa. Dan bagi Arya, tidak ada yang lebih mengerikan dibanding kecaman ahli IT kelas dunia itu. Mendapat pengiyaaan dari keenamnya membuat Arya mengurut d**a. Ia mengeluarkan ponsel dan membuka profil mahasiswa. Cindya Varischa. Anak pejabat pemerintahan. Arya mengeluh dalam hati. Kasus ini bisa jadi lebih rumit dari perkiraannya. "Bagaimana keadaan anak yang terkena ledakan itu?" tanyanya pada Vian. "Separuh wajahnya mengalami luka bakar derajat tiga." Vian menjeda sebentar. "Setidaknya butuh pembedahan." "Pembedahan?" Vian melenggut pada Cassy yang tampak tercekat. "Operasi plastik." Chelia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya tertuju pada Cassy yang tidak kalah terkejut. "Lebih parah lagi sebelah matanya terbakar cairan korosif. Kemungkinan akan mengalami kebutaan permanen." Vian menghadap Arya yang baru membuka mulut. "Kami tidak bisa berbuat banyak, mata adalah organ sensitif. Setelah diberi pertolongan pertama anak itu kami rujuk ke rumah sakit ayahku." Detik-detik berikutnya kesenyapan menyelimuti. Baik Arya dan Vian, maupun Chelia dan kawan-kawannya tenggelam dalam lamunan masing-masing. Rama merapatkan kedua sisi bibirnya, enggan bersuara lagi. Ia masih sangat kesal dengan Cindy yang sudah menyebarkan berita miring tentang keluarga Cassy dan membuat Chelia terluka. Bila bukan statusnya sebagai perempuan, Rama tidak akan berpikir dua kali untuk menghajar perempuan tukang gosip itu sampai masuk UGD seperti yang pernah dilakukannya pada senior yang menghina Erva. Sejujurnya Cindy tergolong salah-satu mahasiswi berparas cantik di jurusan farmasi. Rama mengakui itu, namun definisi "cantik" dalam persepsinya terlalu agung untuk dijabarkan hanya dengan kulit putih, wajah jelita, dan tubuh yang indah. Bagi Rama, yang cantik belum tentu menarik, dan yang menarik belum tentu menyenangkan hati. Apalagi untuk perempuan yang hobi bergunjing untuk kesalahan dan kekurangan orang lain. Sedikit pun Rama tidak terpikat. Arya berdeham keras, memecah keheningan. "Bagaimana semua ini bisa terjadi, Afri? Apa praktikum itu tidak dijalankan sesuai prosedur?" Afri yang semula diam kini angkat bicara. "Praktikum itu sudah dijalankan sesuai prosedur. Alat, bahan, dan cara kerja sudahku periksa baik-baik. Aku juga hadir saat proses asistensi." Rama dan yang lain membenarkan pernyataan Afri yang kali ini tidak menggunakan aksen formal lagi pada Arya. "Karena ledakan berasal dari lemari asam, kemungkinan besar itu disebabkan oleh reaksi kimia." "Apa ada hubungannya dengan pemadaman listrik tadi?" "Kami belum memeriksa sejauh itu, tapi berdasarkan keterangan dari petugas listrik yang mengobservasi tadi, tidak ada kerusakan perangkat dalam lemari asam dan instrumen lain yang bisa memicu terjadinya arus pendek listrik." Vian menepuk pundak Afri. "Kecelakaan kerja memang tidak terduga. Jangan tegang begitu." "Tetap saja itu tanggungjawabku." "Tanggungjawab jurusan farmasi," tegas Arya. Afri tersenyum samar. "Masalahnya praktikan itu anak pejabat, sudah tentu orang tuanya akan memperkaran kejadian ini." "Bapak tenang saja, kalau orang tua Cindy yang cerewet tanpa koma itu mengambil jalur hukum, nanti kita yang membela. Bule-bule begini, ayah Edward itu seorang pengacara yang berbakti pada tanah air Indonesia." Rama menyenggol Edward yang melotot padanya. Arya membekap mulut Rama dengan telapak tangannya agar adiknya itu berhenti mengoceh. "Jangan khawatir, sebisa mungkin pihak fakultas memihak pada jurusan farmasi. Kirimkan laporan kejadian sementara padaku besok. Rincian lengkap dan proposal pengadaan alat paling lambat kuterima tiga hari setelahnya." "Besok?!" Afri melongo menatap Arya yang mengangguk mantap. "Cie ... Bapak kerja laporan juga. Senasib dong sama kita." Afri hanya tertawa hambar menanggapi candaan Rama. Kabar bahagia lagi untuk Rama dan kawan-kawannya sebab kuis mendadak yang direncanakannya esok hari terpaksa harus ditunda, bahkan mungkin ditiadakan sebab dua pekan kedepan MID semester sudah di mulai. "Dadah ... Pak, semangat kerja laporannya!" Rama berseru pada Afri yang pamit lebih dulu untuk menemui ketua jurusan. Arya mendudukkan dirinya di kursi tunggu dengan sebelah tangan memijat dahi. Meski berlagak tenang di depan Afri, pikirannya juga tak kalah kacau. "Ada apa?" tanya Vian menangkap sinyal-sinyal stress dari gestur Arya. "Kerusakan laboratorium itu cukup parah. Butuh dana besar untuk melakukan perbaikan." "Ya, sudah. Tinggal siapkan dananya, kan. Begitu saja repot." Arya meringis. "Uang itu bukan daun yang tinggal dipetik, Rama!" "Memang. Uang itu kan dari serat kapas." "Terserah." Arya bangkit. "Kamu menginap di rumahku, kan? Kamu sudah janji akan menginap tiga hari." "Aku antar Chelly pulang dulu." "Chelly bisa pulang denganku." Rean meraih ransel Chelia yang segera direbut Rama kembali. "Jangan melanggar hak otonomi, Brother. Yang bertugas mengantar Chelly pulang itu aku." "Itu bukan masalah. Jalannya juga searah, kan?" tandas Arya mengingat kompleks perumahannya sejalan dengan rumah Riva. "Aku mau balik ke rumah dulu. Aku nggak ada pakaian ganti lagi, kecuali kalau kamu dengan suka hati meminjamkan koleksi boxer Calvin Klein milikmu itu. Lumayan lah bisa samaan dengan David Beckham." Arya mendelik. "Kamu tidak membongkar lemari pakaianku, kan?!" "Tidak, aku cuma lihat yang tergantung di kamar mandi, kok." Rama berpikir sejenak. "Di jemuran belakang juga ada banyak, tapi beberapa sudah bulukan, sih." Wajah Arya merah padam, terlebih saat menyadari kawan-kawan Rama membuang muka dengan bahu bergetar menahan tawa. Adiknya itu selalu saja berhasil membuatnya kehilangan wibawa. "Ah, aku duluan, ya! Falak sudah di depan." Cassy berdiri dan membungkuk meminta permisi, sebelum tawahnya pecah dan membuat pimpinan fakultasnya itu merasa ternistakan. "Permisi,  Pak Arya. Permisi, Dokter Vian." "Aku juga, sudah hampir magrib." tukas Naya. Rean mengangguk. "Aku juga ada latihan." "Ayo, Sweetheart. Nanti macet dan kita harus lewat kuburan Cina lagi." Rama memberi isyarat gerakan kepala pada Chelia. Edward dan Erva ikut berdiri. Mereka kemudian menyalami Arya dan Vian bergantian. Vian mengamati wajah Chelia kemudian mengusap kepalanya. "Buang jauh-jauh ingatan yang tidak baik, Chelly. Pikirkan hal-hal yang menyenangkan saja." Chelia tersenyum kecut lalu mengangguk. Sejujurnya hatinya masih tidak bisa tenang. Bayangan wajah Cindy yang hancur terus muncul di benaknya. Rama yang menyadari itu turut merasa bersalah. Harusnya ia mencegah Chelia menyaksikan pemandangan horor di laboratorium tadi. Sayang rasa penasarannya akan sosok yang merangkak meminta tolong---yang ternyata Cindy--tersebut mengalihkan fokusnya. "Duh, Kak Vian! Tidak usah main elus-elus begitu dong, Chelly kan bukan kucing!" Rama mencebik kemudian menarik Chelia dan ganti menjabat tangan Vian. Arya yang menunggu giliran merengut begitu Rama mengabaikan tangannya yang terulur. "Rama!" tegurnya. Rama berbalik. "Oh iya, lupa hehe ...," katanya lalu meraih tangan Arya. "Kak ...." "Apa?" "Aku mau jus buah naga, ya?" Rama menatap Arya dengan kitty-eyes. "Jangan sembarangan!" "Pokoknya aku mau jus buah naga. Kalau nggak ada aku nggak mau menginap!" kecamnya kemudian berlalu. Arya hanya menggeleng menghadapi tindak-tanduk adiknya yang betul-betul sulit dipahami itu. "Vian, di mana aku bisa mendapatkan jus buah naga?" "Di Kafetaria mungkin ada," Vian mengamati arlojinya, "tapi sepertinya sudah tutup." Arya membuang napas beberapa kali. Tujuan selanjutnya setelah lepas landas dari poliklinik tersebut adalah Plaza Buah. ☕☕☕ TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD