15. Diagonally☕

2008 Words
-Dangerous Slope- ♥Happy Reading♥ . . . Personal Chat AryatamaKrishna~ Kamu di mana? RamayanaKrissandy~ Dengan siapa AryatamaKrishna~ Aku tanya kamu di mana RamayanaKrissandy~ Sambung dulu, kek! Nggak seru AryatamaKrishna~ Where.are.you.now? RamayanaKrissandy Atlantis, under the sea~ under the sea~ AryatamaKrishna~ Rama, serius! Koordinatmu di mana? RamayanaKrissandy~ 60°LU-11°LS 95°BT- 141°BT AryatamaKrishna~ Aku tahu kamu di Indonesia! RamayanaKrissandy~ Sudah tahu, bertanya lagi AryatamaKrishna~ Maksudku posisimu RamayanaKrissandy~ Di samping Rean AryatamaKrishna~ Lupakan saja! AryatamaKrishna~ Kamu ada waktu sebentar malam? AryatamaKrishna~ Rama? AryatamaKrishna~ Hei AryatamaKrishna~ Kamu ketiduran? AryatamaKrishna~ OK ⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️ Arya memijat bagian belakang bola matanya yang berkedut sembari menyampirkan punggungnya pada sandaran kursi. Dekan muda tersebut menengadah, menggerakkan sendi di antara tulang atlas dan tulang aksisnya secara kontinu, merelaksasikan otot-otot lehernya yang sedari tadi tertekuk. Sebagai seorang pemimpin junior, Arya selalu menemui kesukaran dalam mengambil sikap dan keputusan. Arya punya segudang ide-ide baru yang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman, namun keharusannya untuk menghormati para pemuka kampus yang sebagian besar sudah memasuki usia senja membuat konsep dan gagasannya sulit terealisasikan. Belum lagi tugas keseharian dan jadwal pertemuannya yang padat. Arya menghela napas frustrasi. Sekilas sudut matanya mengerling ke tumpukan laporan administrasi di atas meja berikut sederetan email dari LP2M di laptopnya yang belum terjamah. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Saraf okulomotornya mulai kehilangan kemampuan untuk menyanggah kedua kelopak matanya agar tetap membuka, sementara ada banyak hal yang belum terselesaikan. Manajemen waktunya hari ini benar-benar kacau. Arya membatalkan pertemuannya dengan salah salah-satu pemilik perusahaan perangkat analisis untuk keperluan laboratorium fakultasnya karena ingin meluangkan waktu untuk makan malam dengan seseorang. Sayang orang yang dimaksud tidak kunjung memberi kabar. Arya meraih ponselnya. Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian di laboratorium Fitokimia yang membuatnya secara tidak sadar mengakui status Rama di depan umum, dan sesuai saran Vian, Arya berniat memperbaiki kembali hubungannya dengan adiknya tersebut. Apa aku terlalu terburu-buru? Arya berjalan menuju balkon, udara dingin bertekanan rendah dari luar menyeruak masuk tanpa permisi, mengisi setiap celah kosong di kamarnya. Arya memandangi ribuan bintang di langit. Angannya jauh berkelana menembus gugusan bintang-bintang yang dulu sering disaksikannya bersama sang ibu. Arya tersenyum begitu teringat betapa piawai ibunya menceritakan berbagai mitologi dari konstelasi yang yang menggantung di angkasa itu. Tentang pertarungan Orion dan Scorpios, kisah si kembar Castor dan Pollux yang membentuk konfigurasi rasi bintang Gemini, juga legenda rasi bintang lainnya. Arya memejam erat, mengenang masa lampau. Ingatannya jatuh pada masa-masa di dua belas tahun silam saat dirinya tak lebih dari seorang remaja labil. Saat itu ia tidak bisa menerima keputusan ibunya yang lebih memilih meninggalkan rumah dan merawat Rama. Apalagi untuk menerima kenyataan ketika kedua orang tuanya memutuskan hubungan. Arya pun bersikap dingin dan seringkali mengabaikan panggilan dari sang Ibu, bahkan tak jarang berlaku kasar bila ibunya membawa Rama saat mereka bertemu. Padahal ia tahu, Rama kecil yang menatapnya penuh pengharapan hanya butuh pelukan hangat, yang dulu dapat dengan mudah ia dapatkan darinya. Sungguh, Arya merasa menjadi kakak paling jahat sedunia. Arya menyeka setetes air di sudut matanya. Penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah tidak berada di samping sang ibu saat wanita yang paling disayanginya itu berjuang melawan penyakit sirosis hati hingga harus berpulang ke pangkuan Tuhan. Arya yang merasa  iri pada Rama kemudian melimpahkan beban perasaannya pada adiknya tersebut. Ini semua gara-gara kamu! Ibu tidak bisa hidup bahagia dan jadi sakit karena kamu! Kamu membunuh ibu! Arya menggeleng kuat, menyadari betapa kejam kata-katanya pada Rama yang masih kecil saat itu. Arya tahu, kesalahannya itu tidak terampuni. Bahkan setelah menjadi wali dan menggunakan jatah "kursi" yang dimiliki tiap pimpinan fakultas untuk membantu Rama mengikuti dunia perkuliahan, perasaan bersalahnya tak kunjung hilang. Mata Arya membulat begitu melihat status bar Rama yang sedang online. Arya menekan call-button dan berharap-harap cemas. Ada sepercik perasaan bahagia saat telinganya menangkap suara menggerutu dari seberang. "Kenapa? Ganggu orang malam-malam saja! Mau kirim santet online?" "Aku cuma mau memastikan keadaanmu." Rama tertawa ringan. "Mengkhawatirkanku, ya?" "Ya." Rama di balik telepon mengulum senyum. "Aku baik-baik saja. Pipiku bengkak tapi aku masih tampan. Jangan khawatir, oke?" "Oke. Terus kenapa chatku tidak kamu balas, bocah?" "Malas." "Rama!" "Apa? Jangan teriak-teriak, nanti gendang telingaku rusak! Nggak ada garansinya, tahu! Kalau pecah mau diganti dengan apa? Gendang bulo?" Arya diam-diam menahan tawa. "Besok habis praktikum ke kantorku sebentar. Kita makan malam sama-sama." "Berdua?" "Iya." "Nggak deh, nanti kita disangka LGBT." "Jangan mengada-ada!" "Bagaimana kalau diganti jadi makan siang saja?" "Kamu ada praktikum, bukan?" "Aku akan izin." "Memangnya bisa?" "Bisa kalau kamu mau memintakan izin untukku." "Jangan harap!" "Ya, sudah. Makan saja sendiri. Telingaku panas nih, aku tutup--" "Tunggu!" Arya menghela napas sesaat. "Oke, berikan nomor asistenmu, biar nanti aku yang hubungi. Istirahat siang besok ingat ke kantorku. Kita makan siang di luar." Arya mengurut dahinya begitu teleponnya dengan Rama terputus. Sekali-kali menggunakan kekuasaannya tidak masalah, kan? Lagipula, Arya tahu betapa melelahkannya kuliah di jurusan Farmasi. Nadella, sahabatnya dulu pun sering kali mengeluh. Andai saja ada "jatah" kursi untuk jurusan selain farmasi, Arya tidak akan tega menempatkan Rama di jurusan super sibuk tersebut. Arya melangkah masuk, merebahkan badannya di tempat tidur. Rama memberinya wejangan untuk tidak tidur larut agar tidak kekurangan darah. Bahkan adiknya itu menghadiahkannya senandung potongan lagu raja dandut yang melegenda. Begadang. Arya menarik salah-satu figura yang bertata rapi di nakas. Potret dan senyum manis ibunya terbingkai di sana. Arya langsung mendekapnya erat. Di usianya yang sekarang, Arya sudah cukup dewasa untuk mengesampingkan ego dan perasan pribadinya. Arya yakin, ada alasan kuat dibalik ketegasan ibunya untuk mempertahankan Rama dahulu. ⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️ Fokus Edward tidak lepas dari lapisan awan kelabu yang berarak, sesekali terselip kilatan cahaya dari geluduk yang menggetarkan alam di celahnya. Edward mendesah, pikirannya jauh melayang pada setumpuk cucian yang baru dijemurnya pagi tadi. "Nggak ada sinar matahari lagi," keluhnya. "Memang kenapa? Kamu bukan tumbuhan hijau yang butuh cahaya matahari buat fotosintesis, Brother. Pohon dan rumput saja nggak protes, tuh!" Rama berujar santai, mengabaikan tatapan kesal Edward, ia kembali meratapi buku tebal yang penuh narasi mengerikan di hadapannya. Rama mengacak rambutnya frustrasi. Bila ada orang yang kehadirannya bisa dihapuskan dari muka bumi, Rama akan memilih Fessenden bersaudara, penulis yang menjadi dalang dibalik terbitnya buku Kimia Organik yang membuat otaknya cedera. "Ini tugas atau kasih ibu, sih. Tak terhingga sepanjang masa rasanya." Rama mengerang, menyadari berjam-jam waktunya sudah terbuang sementara belum ada satu soal pun yang benar-benar dikerjakannya dengan tepat. "Bagaimana mau selesai kalau kamu kerjanya tidak niat begitu!" Edward berujar diplomatis. "Seriuslah sedikit. Kamu mau pak Arya malu kalau nilai semestermu b****k lagi?" Rama tidak mengindahkan Edward dan memilih menyandarkan kepalanya di meja. Sekilas ia melirik Chelia dan Rean yang saling mencocokkan jawaban. Perasaannya seringkali terusik melihat keharmonisan mereka berdua saat membahas perihal pelajaran. Sesuatu yang tidak mampu dilakukannya. "Chelly, periksa jawabanku, dong!" Rama mengamit lengan Chelia sambil menyerahkan lembar jawabannya. "Biar aku saja." Rean menarik kertas Rama. Rama hendak protes, namun Rean sudah lebih dulu menelisik lembar jawabannya dengan dahi tertekuk. "Kamu mau buat unsur baru?" Rean menatap Rama yang menyengir tanpa dosa. "Boleh juga, tuh!" "Serius, Rama! Ini kamu cuma tukar-tukar hurufnya saja!" Rean menunjuk-nunjuk beberapa lambang unsur imajiner yang dituliskan Rama. Unsur baru yang bahkan belum mendapat tempat pada tabel periodik.  "Kamu bilang reaksinya bolak-balik, ya aku bolak-balikkan saja semuanya!" Chelia menarik napas dalam-dalam. "Rama, kamu harus belajar. Sudah dekat MID semester." Rama beralih pada Chelia di sebelahnya. "Aku sudah berusaha Sweetheart, tapi materi ikatan kimia ini tidak ada yang bisa masuk di kepalaku. Kamu mau lihat aku depresi?" Chelia refleks menggeleng kuat. Rama bangkit dan merentangkan tangannya, menyambut terpaan angin yang sejuk. "Tidak bisakah kita hidup lebih tenang dengan tidak mengurusi masalah persenyawaan kimia di alam? Toh, kita juga masih bisa bernapas tanpa tahu kalau oksigen itu terdiri atas dua atom O yang dihubungkan dengan ikatan kovalen sigma dan pi." Rama mengambil napas sebentar. "Ikatan persaudaraanku saja sudah rumit, sekarang aku harus belajar ikatan molekul lagi? Cobaan macam apa ini!" "Cari pembenaran saja!" Naya bersungut. "Bukan pem-benar-an Cutie, ini ke-benar-an. Imbuhanmu salah. Kamu harus banyak-banyak belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar." Naya menatap Rama kesal. Ia menjangkau kotak pensil di dekatnya lalu melemparkan benda begitu saja. Rama mengelus d**a begitu berhasil menghindari kotak pensil yang melayang ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Sisi mengerikan dari Naya adalah kebiasaannya melontarkan barang saat emosi. Rama bersaksi, siapapun laki-laki yang akan menjadi pendamping hidup Naya nanti harus terbiasa menyaksikan piring terbang. Dengan niat baik, Rama akan menyarankan padanya untuk membeli piring plastik, atau makan dengan daun pisang saja. "Buset! Bercanda, Nay! Kamu kok selalu kaku kayak ikan kering kelamaan dijemur begitu, sih?" Rama mengusap pipi bengkaknya yang nyaris menjadi sasaran lemparan maut tersebut.  "Jangan kasar begitu, dong! Mau bebas tes masuk neraka kamu?" Cassy tidak memedulikan perdebatan antara Rama dan Naya yang selalu ditengahi Chelia dan Rean. Perhatiannya teralihkan pada Erva yang gelisah, air mukanya tampak tegang, alas sepatunya sedari tadi mengetuk-ngetuk lantai dengan konstan. "Kenapa, Va?" Cassy menekan tombol pause pada drama Korea yang disaksikannya diam-diam. "Ng-Nggak apa-apa, kok!" Erva tersenyum kecut. Menyembunyikan ponsel yang bergetar di balik saku roknya. Notifikasi beruntun di ponsel yang dalam mode silent  tersebut terus memacu frekuensi denyut jantungnya. GiordanoOktavianus~ Va, boleh bicara sebentar? GiodanoOktavianus~ 29 missed call GiordanoOktavianus~ Di depan perpustakaan ya, Va. Kutunggu :) Erva meneguk ludah. Apa jangan-jangan Gio ingin membalas dendam karena ayat kursi yang kukirimkan kemarin? ⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️ Salah satu tantangan terbesar bagi mahasiswa farmasi di kampus Naya adalah naik-turun tangga. Bagaimana tidak? Ruang kelas kuliahnya berada di lantai dasar gedung utama, sementara lima laboratorium untuk jurusannya terletak di lantai 4 dan 5 gedung yang berseberangan. Beruntung konstruksi tangga di fakultas mereka sudah dibuat sedemikian rupa mengikuti prinsip bidang miring. Undakan tersebut disusun meliuk-liuk dan melingkar untuk memperkecil hambatan dan usaha yang diperlukan. Sebab berdasarkan perkiraan Rama, bolak-balik naik-turun tangga biasa dengan kemiringan sekitar 40° akan setara dengan mendaki puncak gunung Rinjani. Naya menuruni anak tangga tersebut dengan terburu, menghindari Gio yang terus menyerangnya dengan sejuta pertanyaan. Tentang Erva. Naya tidak bisa menampik rasa cemburu dalam hatinya. Di antara empat orang sahabat perempuannya, Naya hanya merasa unggul atas Erva. Chelia titisan dewi Sarasvati jangan ditanya lagi. Cassy meski tidak unggul dalam pelajaran tetap selalu tampil percaya diri, terlebih lagi ia merupakan putri tunggal pejabat pemerintah yang diperlakukan bak tuan putri. Cuma Erva yang menurut Naya di bawah rata-rata. Sangat payah dalam pelajaran, kehidupannya pun sangat sederhana. Tapi bahkan Gio-cowok yang diam-diam ia sukai lebih tertarik pada Erva ketimbang dirinya? Hidup benar-benar tidak adil! "Naya!" Gio menahan lengan Naya yang langsung ditepis kasar. Gio menghentakkan kepala. "Kamu kenapa sih, Nay? Aku buat salah apa padamu? Dies natalis sebentar lagi tapi kamu malah tidak kooperatif begini." Naya mengabaikan Gio dan terus berjalan mengitari lekukan tangga menuju lantai dasar. Gio segera mempercepat langkah mendahului Naya dan mencegat jalannya. "Minggir! Nggak usah bawa-bawa Dies natalis segala! Kamu sadar dari tadi bicara tentang apa?" Gio berpikir sebentar. "Kamu tidak suka aku berbicara tentang Erva?" Naya memilih bungkam. "Sumpah, Nay! Aku tahu Erva itu sahabat kamu, tapi aku tidak berniat buruk. Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentangnya, apa itu salah? Kalau kamu tidak mau beri tahu, tidak masalah. Tapi tolong jangan marah." Naya menggigit bibir. Bila perasaan yang paling payah adalah merasa kehilangan untuk sesuatu yang belum pernah dimiliki, maka bagi Naya perasaannya lebih dari sekedar payah. Naya menunduk, mengercapkan matanya beberapa kali. Sedang Gio masih bergeming. Naya yang mengintip dari celah rambutnya mengerutkan dahi saat mata Gio tiba-tiba membulat. Belum sempat Naya berbalik menuntaskan rasa penasarannya, Gio sudah lebih dulu bertindak. "Awas!" Gio menarik Naya dan memutar tubuhnya merapat ke tembok sebelum sesosok tubuh yang jatuh berguling dari atas menubruk mereka. Naya menahan napas, menyaksikan bagaimana tubuh yang meluncur cepat itu membentur tiap undakan lantai tegel, menabrak dinding, dan mengikuti kelokan tangga hingga berhenti saat tembok ruang kelas meredam kinetikanya. Seketika Naya merasa sesak, seolah jantungnya berhenti memompa darah yang menyuplai oksigen ke paru-paru. Naya memutar kepalanya, menghadap pada Gio yang juga tercegang. Mengapa tiap kali ia bersama Gio, selalu saja ada kejadian tidak menyenangkan yang terjadi di depan matanya? ☕☕☕ TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD