-Notification-
~♥Happy-Reading♥~
.
.
.
Cassy sibuk menilik cowok di hadapannya yang sedang bertukar data dengan Edward. Bukan cowok ganteng serupa idol Korea. Hanya seonggok manusia berwajah asimetris yang urakan. Namanya Imam, super senior mereka yang tak kunjung lulus dan masih bergentayangan di kampus sehingga dijuluki Imam Mahdi, Mahasiswa Abadi.
Sejujurnya Cassy tidak benar-benar berniat menemani Edward untuk bertemu dengan senior yang kemeja, rambut, dan wajahnya sama-sama kusut itu. Bila bukan karena canggung akibat keberadaan Arya selaku dekan fakultas di tengah-tengah mereka, Cassy masih betah duduk manja di atas sofa empuk poliklinik. Arya tidak sehangat Riva, pun tidak seramah Vian. Ditambah lagi kebiasaannya mengusut nilai IPK yang bagi Cassy hanya Tuhan dan ibunya yang boleh tahu.
"Kamu kirim video yang tadi?" Selidik Cassy begitu senior bernama Imam itu pamit dan menghilang di balik ruang senat.
Edward mengangguk, video berkapasitas puluhan megabyte itu berisi rekaman kejadiaan di laboratorium tadi yang diambilnya secara sembunyi-sembunyi, sebagai barang bukti jikalau Aldo mengelak dan membela diri.
"Kalian tahu Notix, kan?"
Cassy mengangguk. Seluruh manusia bahkan arwah penunggu di jurusan farmasi sekalipun tahu dengan akun berita popular dengan ribuan followers yang seceriwis Lambe Turah tersebut. Laman media yang yang belakangan ini terus menjadikan Dandy dan ajang percobaan bunuh dirinya sebagai topik utama. Orang-orang menyebutnya akun hantu, sebab meski telah ada sejak jaman f*******: di angkatan terdahulu, sosok yang berada di baliknya belum diketahui sampai sekarang.
"Notix?" ulang Erva.
Cassy berpaling pada Erva sambil mendengus. "Kamu nggak pernah buka i********:?"
Erva menggeleng. "Akunku tidak bisa terbuka. Passport-nya salah terus"
"Password, Va." Edward membenarkan.
"Iya, maksudku itu. Passport."
"Mein Gott! Kata sandi saja deh, biar nggak ribet."
"Sandi siapa, Eddy?" tanya Erva tanpa dosa.
"Sandiaga Uno!"
"Aduh, Erva! Bisa nggak kamu nggak loading dulu!" Cassy menarik pipi Erva dengan gemas.
"Tapi kok password-mu bisa salah? Lain kali jangan buat password yang susah-susah."
"Nggak susah kok, Eddy. Passport-nya kuganti sesuai tanggal di hari itu."
"Terus, itu hari apa?"
"Hari senin."
"Maksudku tanggalnya, Erva ...!" Cassy gregetan sendiri.
"Itu ... aku lupa."
Cassy menepuk jidatnya. "Pokoknya kamu harus harus aktif di i********: lagi biar nggak kudet!"
Erva melenggut patuh.
"Sudah, sudah! Nanti kita buatkan Erva akun baru." Edward menyela. Ia kemudian celingak-celinguk, memastikan tidak ada orang lain di online area itu yang memperhatikan mereka lalu mencondongkan badannya merapat ke meja yang dengan refleks diikuti Cassy dan Erva.
"Kak Imam itu salah satu admin Notix!" bisik Edward.
Cassy terperangah, sebelum suara ultrasoniknya membuat semua orang di sana tuna rungu, Edward membekapnya segera.
"Ini rahasia, hanya kita-kita yang boleh tahu.
"Tapi itu kan akun hantu, Eddy!" seru Cassy setelah Edward melepaskan tangannya.
"Maka dialah hantunya!"
" Ha-hantu?!" Erva memekik, membuat beberapa pasang mata yang terfokus pada lcd laptop dan layar smartphone mereka beralih pada ketiganya.
Edward merutuk dalam hati, menyadari bagaimana sulitnya mengontrol dua manusia dari kaum hawa itu.
Cassy segera menarik Erva untuk kembali duduk. "Aduh, Va! jangan mulai dulu deh, ini serius."
"Serius?"
"Iya! Kamu dengar dan diam saja dulu, oke?" Cassy kembali pada Edward dan menyipitkan matanya. "Kamu kok bisa dekat begitu sama kak Imam?"
"Dulu dia tentor di tempat lesku pas SMA."
Cassy mengangguk-angguk. "Tapi Notix itu sudah ada dari angkatan super senior, kan?"
Edward membenarkan. "Iya. Notix itu semacam perkumpulan rahasia. Mereka punya banyak informan di tiap angkatan. Di angkatan kita itu ada Gio. makanya kami selalu ingatkan kalian untuk jaga jarak dengannya."
Cassy mematut. Pantas saja Edward, Rean, dan Rama sering over-protektif bila ada masalah yang berkaitan dengan Gio.
"Tunggu, aku nggak mengerti. Gio masuk perkumpulan itu?"
Edward menempelkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Erva untuk memelankan suaranya. "Iya, Va. Kamu harus hati-hati padanya, oke?"
Erva membalas dengan anggukan kaku.
"Kamu yakin dia orang yang bisa dipercaya?" Cassy menyikut Edward begitu senior bernama Iman tersebut kembali melintas sembari memamerkan barisan gigi depannya yang agak menguning.
"Yakin. Kak Imam itu tidak seceroboh penampilannya. Kalian tidak berpikir dia akan berlama-lama di kampus tanpa urusan, kan? Notix itu bukan sembarang akun. Btw, ceritanya disambung nanti saja." Edward yang ekor matanya menangkap Gio berjalan mendekat segera bangkit kemudian mengajak Cassy dan Erva beranjak dari sana.
Erva berjalan paling belakang, mengabaikan Cassy dan Edward yang sibuk berkasak-kusuk sambil memantau profil Notix di i********:. Wajahnya pucat, hatinya dipenuhi tanda tanya besar.
Jadi Gio itu anggota perkumpulan hantu?
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
Gio tersenyum puas melihat catatan yang terketik rapi di worksheet laptopnya. Tersisa satu data lagi, arsipnya sebagai informan Notix lengkap dan siap dikirim ke admin utama. Gio berpikir sejenak, ia butuh paling tidak foto keadaan Rama sekarang. Gio sempat berinisiatif mengikuti Rama yang dibawa ke poliklinik untuk mencari informasi dan mengambil beberapa foto secara sembunyi-sembunyi, namun keberadaan Arya di sana membuatnya mengurungkan niat. Bertandang ke rumah Rama tiba-tiba juga akan menimbulkan kecurigaan.
Gio sudah berusaha menggali informasi dari Naya sehabis rapat panitia tadi, namun nihil. Naya tidak ingin berbicara di luar urusan olimpiade. Gio jadi bingung sendiri dengan sikap antipati Naya padanya.
Lho, ini rekaman dari mana? Gio bertanya dalam hati begitu melihat laporan yang dikirim Imam di room-chat. Sepengetahuan Gio, tidak ada yang sempat merekam kejadian di laboratorium tadi lantaran suasana terlalu tegang, sementara ponsel dan kameranya kehabisan baterai.
Gio tak mau kalah, sebagai informan untuk angkatan aktif, ia merasa ternistakan. Apalagi ini masalah di angkatannya. Gio meraih HP dan membuka list kontak sambil menimbang-nimbang. Dari enam orang sahabat dekat Rama, sasaran paling tepat untuk mengorek informasi adalah Erva.
Gio tidak dapat menahan tawa begitu teringat kekacauan yang dibuat Erva di kelas prof. Attar. Tentu, gadis polos seperti Erva tidak akan curiga dengan modus yang akan dilancarkannya.
Tanpa menunggu lagi jemari Gio mulai menari di atas papan ketik di layar ponselnya. Hatinya luar biasa girang begitu pesannya langsung terbaca. Gio mengetuk-ngetuk meja tidak sabaran, menantikan jawaban dari Erva yang sementara mengetik. Namun balasan yang diperolehnya kemudian justru membuat sudut bibirnya tertarik ke bawah disertai beberapa lipatan di dahi.
GiordanoOktavianus~
Sore menjelang malam, Va ☺
Lagi di rumah, Rama ya? Rama bagaimana? Sorry tadi aku ada rapat, kelompokku juga sibuk kejar asisten jadi nggak sempat ke Poliklinik Kita khawatir banget nih, kirim foto keadaan di sana, dong
ErvanaArystia~
Mengirim foto
Gio mengusap mata berulang kali, memastikan indra penglihatannya itu masih berfungsi dan tidak salah lihat.
"Cewek ini benar-benar nggak waras, ya?! Kok malah kirim ayat kursi, sih! Siapa yang kerasukan?"
☕☕☕
TBC