-Make Up-
~♥Happy-Reading♥~
.
.
.
Gen, unit pembawa informasi genetik dari induk kepada keturunannya untuk mempertahankan spesifitas susur galur keluarga. Merupakan deretan kode-kode DNA yang melalui serangkaian proses atomik diterjemahkan dan dieskpresikan dalam bentuk "sifat".
Arya adalah satu dari sebagian kecil siswa jurusan IPA yang memiliki hobi unik menafsirkan urutan-urutan basa nitrogen tersebut--sesuatu yang meresahkan hati bagi mayoritas siswa lainnya.
Bagi Arya, sains adalah hal yang luar biasa. Dengan bermodalkan sampel irisan kulit, helaian rambut, bahkan air liur sekalipun, personalitas dan riwayat biologis seseorang dapat terindentifikasi. Arya selalu dibuat takjub dengan bidang ilmu yang berhasil membuatnya paham akan hakikat dirinya sebagai turunan dari ayah dan ibunya tersebut, membuatnya tersadar bahwa sehebat apapun seseorang, tidak ada alasan untuk mendurhakai kedua orang tua, sebab unit kehidupan terkecil sekalipun dibentuk dari substansi genetika keduanya.
Satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Arya sama sekali adalah bahwasanya beberapa lembar hasil pengujian hereditas--materi yang digemarinya tersebut--suatu saat akan menjadi momok bagi keutuhan keluarganya.
Saat itu Arya yang baru pulang sehabis mengikuti bimbingan belajar wajib bagi siswa kelas dua belas
dibuat terkejut dengan ruang tengah rumahnya yang berantakan. Arya menyusuri tangga dengan panik sambil memanggil-manggil ibunya.
"Ibu!" Arya berseru, mendapati ibunya duduk di sofa sambil bersenandung kecil, meninabobokan Rama di pangkuannya. Ibunya tersenyum, membentangkan sebelah tangannya menyambut Arya, sedang tangan satunya tetap dipergunakan untuk membelai Rama yang mulai terlelap.
Arya berjalan mendekat dengan was-was. Perasaannya berkecamuk melihat goresan luka di badan Rama dengan perban berwarna senada pada bagian dahi. Rama yang begitu disayangi dan dilindunginya, adik kecil yang sering kali meminta diajarkan ini-itu dan merengek ditemani bermain, yang senyum dan tawanya selalu berhasil menghilangkan penat Arya sepulang sekolah.
"Hasil try-outnya sudah keluar, Sayang?"
Arya yang menerima rangkulan ibunya mengangguk. "90 untuk kimia dan matematika. 93 untuk fisika. 95 untuk biologi," jawabnya berusaha terlihat bangga seperti bisanya.
"Anak ibu memang pintar."
Arya menahan air mata begitu sang ibu mengusap lembut kepalanya. Menurut penelitian, kecerdasan seseorang diturunkan oleh gen ibu. Karena itu bagi Arya, semua prestasi yang diperolehnya sampai saat ini tidak akan tercapai bila bukan karena turunan dari sang ibu.
Arya menatap ibunya yang masih memasang senyum. Terima kasih telah melahirkanku sebagai anakmu, Ibu.
"Arya, besok ibu dan adikmu akan ke rumah kakek untuk sementara. Persiapkan dirimu untuk ujian dengan baik, Sayang. Tapi jangan memaksakan diri," Arya melihat mata ibunya berkaca, "dan ... tolong bantu ibu mengurus ayahmu selama ibu tidak ada."
Arya terhenyak beberapa saat. "Tunggu! Ibu ingin pergi?!"
Ini sungguh tidak lucu bagi Arya. Kakeknya berada di luar kota, dan dengan semua urusan pelik menjelang kelulusan, Arya tentu tidak punya pilihan selain berpisah dengan sang ibu.
"Hanya sementara, Arya. Sampai ayahmu tenang, kasihan adikmu."
"Tapi lusa ulang tahunku, Bu!"
"Ibu tahu, Sayang. Ibu sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk pesta nanti. Ibu juga sudah--"
"Aku tidak butuh pesta! Aku butuh ibu!" Arya tergemap, kali ini air matanya tidak terbendung lagi. "Bagaimana mungkin ibu ingin pergi di saat aku butuh dukungan?! Ibu lebih menyayangi Rama daripada aku?!"
Rama yang berada dalam pelukan sang ibu terbangun. Matanya yang sembab dan sayu seketika berbinar melihat Arya di hadapannya.
"Kakak! Kakak sudah pulang? Kakak capek? Kakak sudah makan?"
Seolah disayat sembilu, Arya diam tanpa kata. Ia memalingkan wajah, menghapus sisa air matanya. Rama kemudian turun dan menarik-narik lengan almamaternya. "Ibu belikan aku buku cerita baru, Kak! Ayo baca sama-sama! Hadiah posternya untuk kakak saja. Kakak jangan marah lagi, ya?"
Arya menatap Rama dengan pilu, rongga dadanya terasa sesak. Di satu sisi, ia benar-benar menyayangi Rama. Namun menyadari keluarga harmonisnya yang hancur karena status adiknya tersebut, sisi lain di hatinya turut menyesalkan kehadirannya. Ditambah dengan keberpihakan ibunya barusan.
"Kakak masih marah? Kalau begitu bukunya untuk kakak juga, tapi nanti Rama pinjam sebentar. Boleh ya, Kak?"
"Cerewet! Berhenti memanggilku kakak! Kamu bukan adikku!" Arya menggertak.
Rama yang terkejut langsung meringsut kembali ke pelukan ibunya, membenamkan wajahnya dalam-dalam sambil sesunggukan. "Huhuhu ...! Ibu, kakak marah lagi! Kakak sudah tidak sayang Rama juga!"
Sang ibu menenangkan Rama kemudian menahan Arya yang sudah siap mengambil langkah.
"Sayang, dengarkan ibu dulu. Ibu tahu bagaimana perasaamu saat ini. Ibu menyayangimu kamu dan Rama lebih dari diri ibu sendiri. Tapi Rama masih kecil, adikmu ini butuh ibu."
"Lalu ibu pikir aku tidak butuh ibu?! Ibu tega meninggalkan aku dan ayah demi anak haram ini?!"
"Adikmu bukan anak haram, Arya! Dia anak ibu juga!"
"Dari orang lain yang bukan ayah?!"
"Aryatama Krishna!"
"Cukup, Ibu! Kalau ibu ingin pergi, pergi saja! Tidak usah kembali lagi!" Arya melepas tangan ibunya, emosi telah berhasil membuatnya melawan kata hati untuk meminta sang ibu agar tetap tinggal dan tidak pergi.
Arya tidak tahu, perkataannya saat itu akan menjadi penyesalan terbesar baginya seumur hidup. Sebab setelah itu, ibunya benar-benar tidak pernah kembali lagi.
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛
Chelia menatap Arya tanpa berkedip, mengabaikan sensasi panas yang mulai merebak di permukaan kedua netranya yang gersang akibat penguapan berlebihan. Chelia tidak menyangka bahwa Arya benar merupakan kakak dari Rama. Dengan begitu, ada hubungan persahabatan sekaligus ikatan persaudaraan antara dirinya, Rama, dan Rean, dengan Riva, Arya, dan Vian. Suatu takdir yang sempurna.
Belakangan ini Chelia memang sudah menduga ada sesuatu yang ganjil antara Rama dan Arya. Chelia sudah beberapa kali mendapati Rama menjahili Arya, termasuk mengetuk pintu ruang kerjanya kemudian kabur begitu saja, meriasi pamflet wajah dekan tersebut dengan kumis dan brewok menggunakan spidol permanen, bahkan mengambil alih lahan parkirnya. Jelas tidak akan berani dilakukan oleh tipikal mahasiswa manapun, tanpa hubungan khusus. Ditambah dengan sepatu Arya yang ada di mobil Rama kemarin.
Chelia mengalihkan perhatiannya begitu Rama dan Vian muncul dari balik ruang pemeriksaan. Asistensi mereka dibubarkan, Arya yang untungnya dapat menguasai diri menyerahkan masalah tersebut pada komite disipliner dan akan membentuk tim ad hoc.
Setelah dimintai keterangan, Chelia dan Rean menunggui Rama di poliklinik. Edward, Cassy, dan Erva sedang menemui seseorang, sementara Naya ada agenda rapat pengurus.
"Pendarahannya sudah berhenti, lukanya tidak dalam. Sepertinya akan bengkak beberapa hari, cukup kompres dengan air dingin saja," jelas Vian tanpa diminta melihat gelagat kekhawatiran di wajah Arya.
"Bengkak?! Gila! Uuuh!" Rama yang baru saja ingin protes kontan memegangi pipinya sambil mengaduh kesakitan. Arya menghampirinya dengan gelisah, namun detik selanjutnya langsung mengomel.
"Anak ini! Jangan banyak bicara dulu!" Arya menepuk kepala Rama.
"Apaan sih, main pukul! Kalau otakku yang berharga ini mengalami gangguan bagaimana? Lukanya bisa tambah parah, tahu!" Rama bersungut masih dengan diakhiri ringisan tertahan yang membuat Arya tanpa sadar ikut meringis.
"Jangan mengada-ada, dasar degil!"
"Pak dekan yang terhormat, otak itu pusat koordinasi tubuh yang terhubung dengan semua organ. Masa yang begituan saja nggak tahu! Iya kan, Sweetheart?" Rama meminta pembenaran dari Chelia yang senyum-senyum sendiri melihat tingkah keduanya.
Arya menoleh sebentar ke arah Chelia dan Rean. "Sweetheart? Chelia?"
"Jelaslah! Masa Rean!"
Arya lekas menghadiahkan Rama sebuah tatapan dongkol. "Demi apa Riva mengizinkanmu berteman dengan anak bengal ini, Chelia," desahnya frustrasi.
"Nggak ada analgesiknya, Kak? kelihatannya sakit banget tuh!" tutur Rean pada Vian melihat Rama yang mulai berakting memelas pada Chelia.
Vian menunjuk resep di tangan Rama. "Ada, dengan anti-inflamasi juga. Minum sampai bengkak dan nyerinya hilang saja."
Rean dan Chelia spontan mengamati resep yang ditulis Vian. Cukup rapi untuk tulisan tangan seorang dokter yang biasanya memerlukan daya akomodasi maksimum pupil mata untuk paling tidak bisa menerka nama obat yang tertulis dalam lembar privasi pasien tersebut.
Rama buru-buru menyerahkan resepnya pada Arya. "Nih, tebus sana!"
"Kenapa aku?!"
Rama melemparkan pandangannya ke sembarang arah. "Yang tadi mengakui aku sebagai adiknya, siapa?" Rama berdeham. "Dimana-mana itu, kakak yang bertanggungjawab atas adiknya," sambung dengan suara rendah.
Arya menyatukan kedua sisi bibirnya mendengar jawaban Rama. Hatinya mendadak dipenuhi perasaan bersalah. Ingin rasanya ia memeluk adiknya itu, meminta maaf, kemudian berbaikan seperti dulu. Sayang ia masih terlalu kikuk untuk melakukan tindakan emosianal tersebut.
"Baiklah, kemarin resepnya!" Arya merebut resep di tangan Rama. "Merepotkan saja!"
Rama mencebik. "Jangan pelit, deh. Gaji dekan itu lumayan besar. Apalagi untuk orang jomblo yang nggak ada tanggungan."
Arya menarik napas, menahan hasratnya untuk menjitak kepala Rama hingga jejak-jejak urat nadi membekas di pelipisnya. Beruntung apa yang dikatakan adiknya itu adalah sebuah realita.
Rama beralih pada chelia dan Rean. "Obatnya aman, kan?"
Keduanya mengangguk. "Kecuali kalau kamu punya riwayat penyakit hati," jelas Rean dan dibenarkan Vian.
Rama memegangi dadanya. "Nggak, kok. Hatiku yang suci bersih ini baik-baik saja. Eh, berarti obat ini nggak cocok buat Naya, dong!"
"Memang Naya punya penyakit hati?" Chelia membulatkan matanya, Arya dan Vian pun serempak menoleh.
"Iya, emosian dan suka marah-marah."
"Kayak narsis dan bangga diri itu bukan penyakit hati saja!" Arya mencemooh.
"Siapapun yang punya wajah tampan pasti akan narsis, kan Rama?" Vian merangkul Rama yang mengerutkan hidung sambil menjulurkan lidahnya pada Arya.
"Oh, Kak Vian yang jujur dan baik hati!" Rama balas merangkul Vian, "Kenapa kak Vian dan orang satu itu nggak jadi putra yang tertukar saja, sih!" bisiknya dengan frekuensi yang masih mampu mengetuk gendang telinga Arya.
"Bilang apa kamu barusan?!"
Rama mengedikkan bahu. "Punya gangguan telinga, ya? Silakan, poli THT di sebelah sana." Rama berujarnya santai, menunjuk bagian kanan gedung.
Arya maju beberapa langkah, namun sebelum tangannya yang terulur meraih telinga Rama, adiknya itu tiba-tiba berteriak.
"Meteor!"
Seluruh penghuni ruangan di sana spontan melihat keluar jendela, mengikuti telunjuk Rama yang kemudian mengambil kesempatan untuk kabur.
Di depan pintu poliklinik, Rama memberi salam pada Vian lalu mengisyaratkan Rean dan Chelia untuk menyusulnya. Chelia dan Rean segera membungkuk, meminta maaf pada Arya dan Vian kemudian pamit mengikuti Rama.
Sebelum berlalu, Rama menyempatkan memberi lambaian kecil pada Arya dan sebuah finger heart dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Apa-apaan itu? Dia minta uang?"
Vian tertawa, Arya memang selalu kaku sedari dulu. Bahkan buku bacaan favoritnya sewaktu kecil adalah RPUL dan Atlas Buta. "Itu simbol hati. Makanya sekali-kali nonton drama."
"Hati?" Arya membuat simbol yang sama dengan jarinya. "Ada-ada saja!"
Vian makin tergelak. "Dasar tsundere."
Arya tidak menanggapi lagi dan sibuk menelaah resep di tangannya. "Dia benar tidak apa-apa, kan? Pasti sakit sekali." Arya meringis tertahan membayangkan kembali bagaimana asisten biadab itu memukul Rama. "b*****h licik itu harusnya aku DO saja! Kau tahu? Dia sudah lama mengganggu Chelia. Kalau Riva tahu, bisa hancur pusat informasi dan pangkalan data kampus ini acak-acak olehnya. Untung Chelia bisa diajak berkompromi."
"Jadi apa keputusanmu?"
"Kuserahkan sepenuhnya pada tim ad hoc. Aku hanya khawatir kalau-kalau asisten itu membalas dendam di luar kampus."
"Itu tidak akan terjadi. Tenang saja. Mereka bukan anak kecil lagi." Vian merangkul pundak Arya, mengiringinya berjalan sampai pintu keluar poliklinik. "Aku tahu kau begitu menyayangi adikmu itu. Ini waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan kalian."
Arya mendengus namun tetap balas menepuk pundak Vian. "Terima kasih, Pak Dokter."
Vian melengkungkan bibirnya membentuk sebuah kurva. "Sama-sama, Pak Dekan."
Mereka pun tertawa ringan bersama. Mengingat bagaimana perjuangan semasa sekolah dahulu, sulit rasanya percaya dengan titel yang mereka sandang sekarang. Arya menyatukan kepalan tangannya dengan Vian sebelum benar-benar melangkah menuju fakultas binaannya. Akan ada banyak pertanyaan yang menunggunya sehabis ini. Mulai detik itu pula, ia harus membiasakan diri sebagai seorang kakak lagi. Status yang dihapuskannya secara sepihak dua belas tahun yang lalu.
Dari kejauhan, kedua lensa Arya menangkap potret Rama yang dengan girang melangkah menuju parkiran sembari merangkul Rean dan Chelia.
Arya menghela napas dan tersenyum tulus. "Kau sudah besar, adik kecil."
☕☕☕ TBC