TKS - 17

1516 Words
Pagi yang cerah dan seperti biasa, Pandora melihat para pelayan bersama staf sibuk mengatur meja untuk mereka sarapan. Rasanya sedikit aneh karena menemukan banyak makanan tersaji di atas meja hanya untuk dua orang. Tidak peduli makanan itu habis atau tidak. "Hai, selamat pagi." "Selamat pagi, Yang Mulia." Sudah ada Alaric di sana. Duduk dan membaca koran. Pandora tersenyum pada pelayan yang sibuk mondar-mandir mengisi ruang di meja. Sementara dirinya menarik kursi untuk duduk sendiri. "Aku merasa seperti ada anggota keluarga kerajaan lain yang hadir di acara makan-makan. Mejanya terlalu besar dan panjang." "Semua bentuk meja makan kerajaan didesain seperti ini." Alaric membalas tanpa mengalihkan pandangannya dari koran. "Kita punya jadwal hari ini." "Hm, ya." "Setelah melewati semua urusan, kau bebas." "Bebas?" "Selama tidak berkeliaran di luar istana," kata sang suami datar. "Sara bercerita kau punya ketertarikan pada kebun buah. Rupanya ada yang membuatmu tertarik selain buku-buku tua?" "Perpustakaan di sini tidak selengkap di istana. Kalau aku menyisirnya satu-persatu, aku bisa saja membawa mereka ke kamar dan membedahnya. Kebanyakan berisi sama." Pandora berharap dirinya bisa menahan diri untuk tidak bersuara selagi makan. Terutama karena Alaric menganut adab untuk tidak berisik di meja makan. Sarapan berjalan santai, tidak ada gangguan dan mereka menyantap makanan dalam diam. Ia berhasil melewati rintangan dan pergi tidur. Sesuai yang mereka bicarakan, gelato di sini luar biasa. Pandora tidak akan lupa atau mungkin tidak mau melupakan rasa terbaik yang pernah dia coba. Sementara Alaric memerhatikan penampilan istrinya tanpa suara. Dalam diam, menilai pakaian hangat yang digunakan Pandora dengan tatapan tak terbaca. Pandora mengepang rambutnya. Memakai sepatu yang sedikit longgar dengan hak mungil di ujungnya. Memudahkannya untuk berjalan dan tidak menciptakan kekacauan baru dengan alasan tersandung. Penampilannya terkesan sederhana, dan mampu menyesuaikan dengan aturan istana yang tampil berkelas. "Aku mendengar kau mengambil kelas akselerasi." "Ya, saat aku duduk di bangku menengah pertama. Kemudian mendapatkannya kembali di bangku menengah atas. Aku lulus lebih cepat." "Dengan beasiswa?" Pandora mengangguk. "Dengan beasiswa. Aku tidak terlalu banyak aktif di kegiatan kampus." "Kesulitan bersosialisasi?" Pandora hanya merasa tebakan suaminya dirasa tepat. Dirinya hanya tidak mau mendapat pandangan penuh mencibir terang-terangan sekali lagi. Meski dirinya bersekolah di tempat yang cukup jauh. Mungkin karena penampilannya dan kadang-kadang dirinya merasa malu serta kurang percaya diri yang membuat segalanya bertambah parah. "Aku tidak terlalu pandai beradaptasi. Kurasa orang-orang yang melihatku akan berasumsi demikian," ujarnya ketika limusin berhenti dan Pandora menumpangi bagian belakang bersama Alaric. "Aku ingin berkuliah untuk masa depanku. Dengan menempuh pendidikan yang mumpuni, kupikir aku bisa merubah hidup keluargaku." "Laito bekerja keras sejak muda. Dia yang mengambil tugas mengasuhmu setelah kakaknya meninggal." Pandora menunduk. Tidak bisa membayangkan kesedihan yang berkali-kali lipat pasca kematian orang-orang yang ia cintai. Orangtuanya, lalu pada ayah baptisnya. Alaric berdeham. Menyadari perubahan itu berputar seperti gasing dengan cepat. Matanya melirik sang istri yang tiba-tiba membisu. Mulai tidak menyukai nuansa berat yang terjadi. "Dia menyayangimu." "Aku tahu. Aku juga menyayanginya. Dia dan Ellie pahlawanku." "Aku tahu kapan tepatnya Ellie bercerai," ucap Alaric tiba-tiba. "Dia janda tanpa anak. Saat itu meminta cuti untuk mengurus pernikahannya yang kacau. Ketika raja masih hidup." Pandora terperangah. "Ah, kupikir tidak ada satupun yang tahu kapan dia bercerai." "Aku tahu, tapi tidak terlalu peduli. Ayo, kita sudah sampai." *** Pabrik pengolah tebu ini sudah berdiri lebih dari lima puluh tahun. Dengan para pekerja didominasi perempuan, tempat ini cukup luas dengan kebun tebu yang ada di belakang pabrik. Dengan aturan yang ketat, pengolahan limbah juga menjadi perhatian si pemilik dengan mengedepankan konsep ramah lingkungan. "Selamat datang. Selamat atas pernikahan kalian. Aku berharap generasi baru akan lahir untuk memimpin Cornelia suatu hari nanti." Si pemilik menyapa mereka dengan ramah. Pandora menjabat tangan pria paruh baya itu dengan senyum. Mengucapkan terima kasih dalam bisikan, mengikuti mereka untuk masuk dan berkeliling. "Ini bisnis keluarga yang sudah berkembang sangat pesat. Kami membuka dua cabang. Dan yang terbesar tetap ada di Cornelia. Kedua anakku memegang cabang yang lain. Dibantu kerabat kami." "Tempat ini bersih," kata Pandora memuji. "Kau memerhatikan kesejahteraan pekerja juga? Termasuk mengikuti program asuransi kesehatan untuk melindungi para pekerjamu?" "Kami memberikannya. Itu sebagai tunjangan untuk pekerja tetap. Ada uang pensiun yang bisa mereka ambil, berasal dari dua puluh persen gaji yang mereka dapatkan. Kami memotongnya untuk kesejahteraan mereka." Pandora tersenyum. "Bukan masalah. Asal kau menyalurkannya dengan tepat. Kuyakin mereka juga tidak akan keberatan." Alaric berdeham. Sejak tadi hanya berperan sebagai pendengar. Pemilik terasa nyaman bercerita pada Pandora, yang dengan wawasannya bisa mengimbangi percakapan dengan sangat baik. "Sudah cukup lama. Aku terakhir berkunjung sekitar tahun lalu. Renovasinya sudah selesai?" "Tentu saja." "Renovasi?" "Ah, Duchess tidak tahu. Pabrik ini sempat terkena musibah akibat konslet listrik di tengah malam. Bagian belakang hangus dan rusak parah. Dua alat berat pencacah batang tebu ikut terbakar." "Tengah malam? Tidak ada korban jiwa?" "Kami beruntung. Karena tidak ada korban jiwa atas insiden tersebut. Setelahnya, kami melakukan renovasi dan meliburkan sebagian para pekerja sampai mesin baru datang." Pasangan suami istri itu diperkenankan berkeliling. Nina berjaga dengan ketat. Mengawasi setiap gerak-gerik Pandora bersamaan orang di sekitarnya dengan waspada. "Halo, bagaimana kabar kalian?" "Kami baik, Yang Mulia." Pandora mengulurkan tangan, dan salah satu pekerja tampak kebingungan. "Yang Mulia, Anda tidak memakai sarung tangan." "Tidak apa." Si pekerja membuka kedua sarung tangannya dan menjabat tangan Pandora dengan ramah. "Aku mengawasi bagian mesin penggiling ini. Cukup bahaya karena tidak sembarangan orang bisa memegang mesin sensitif ini dengan baik." "Aku datang karena penasaran dengan mesin besar ini," kata Pandora mendongak, mendengarkan deru suara mesin yang cukup lembut. "Berapa jam biasanya kalian bekerja?" "Delapan jam setiap hari. Kami bergantian. Biasanya pekerja malam hanya perlu mengecek mesin-mesin besar jika belum dimatikan." "Apa dia hanya menyapa orang-orang dengan jabatan tinggi saja? Aku tidak sangka kalau gosip itu benar, dia Duchess yang sombong." Nina mengangkat alis ketika mendengar bisik riuh itu bergema dari belakang punggungnya. Kedua alisnya naik, dan para pekerja berhenti bergosip tentang Pandora. Yang tiba-tiba menatap mereka, tatapannya terlihat bingung. "Aku harus menyapa yang lain," ucapnya dengan senyum getir. "Permisi." Pandora bergeser ke tempat para pekerja yang sebelumnya bergunjing tentangnya. Mengulurkan tangan dan hanya mendapat bungkukan sopan. Ketika gadis itu tersenyum, satu-persatu dari mereka membubarkan diri demi alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Pandora merasa canggung dan kikuk. Menarik napas panjang saat Nina menghelanya untuk pergi. Melintasi lorong yang cukup panjang, menatap para pekerja yang sibuk memilah batang tebu berkualitas dan yang tidak. "Aku tidak apa, Nina." Saat Alaric menunggunya, Pandora hanya perlu memasang raut baik-baik saja agar tidak memancing reaksi dari sekitar. *** Alaric mengamati sang istri yang duduk menyudut di ujung limusin. Bersandar pada jendela, dan seringkali mengambil napas berat. Raut murungnya sejak tadi membuat Alaric mengernyit. Apa ada masalah? "Oh, apa itu tempat penjual gelato?" Pandora bertanya tanpa menoleh ke arah suaminya. Saat limusin membawa mereka untuk pulang, mereka melewati kedai gelato yang baru saja berbenah untuk buka. Ada plang besar di sana, beberapa orang menunggu dengan tidak sabar sembari para pekerja membereskan kursi. "Ya. Kau ingin mampir?" Istrinya memberi reaksi terkejut sebelum akhirnya meneleng. Alaric menghela napas lega, tidak tahu ajakannya yang tiba-tiba membuat mereka sama-sama terkejut. "Tidak boleh terlalu banyak memakan es krim," katanya datar. Kembali melamun memandang jalan yang bergerak di antara mereka. "Pamanku sering menegur karena aku bisa saja terserang radang tenggorokan." "Aku belum pernah mendengar saran semacam itu. Kualitas gelatonya tidak seburuk yang kau kira." Alaric menyahut agak dalam. Yang membuat keduanya kembali membisu. Nina berdiri setelah membukakan pintu. Pandora mengangguk setelah memijak tanah dengan kedua kakinya. "Kalau kita ada di istana, kau tidak perlu melakukan hal ini, Nina. Tidak ada yang melihat." "Yang Mulia." "Aku hanya tidak ingin orang-orang berpikir buruk lagi." Pandora membalas lirih, berjalan masuk saat limusin yang kosong siap pergi. Alaric lagi-lagi hanya bisa mengamati. Bayangan Pandora yang perlahan semakin menjauh membuatnya penasaran. Suasana hati istrinya berbeda sebelum mereka berangkat dan setelah mereka kembali dari pabrik tebu. "Apa yang terjadi?" "Hm?" "Kau kenapa?" "Tidak ada. Aku akan mengecek kebun." "Aku harus memberitahumu ini," ucap Alaric sebelum Pandora kembali menjauh dan tiba-tiba menghilang di istananya sendiri. "Laura dan Dimitri mengundang kita untuk pesta. Ini pesta setelah penobatan. Mungkin sedikit ramai. Atau terlalu ramai. Aku tidak tahu. Kita harus hadir." "Harus," ulang Pandora dengan masam. "Oke, jam berapa kita akan pergi?" "Sekitar pukul empat sore. Kalau kau ingin datang lebih sore, bukan masalah. Acara dimulai pukul tujuh." "Kenapa harus malam?" "Mereka ada acara sampai sore. Pesta biasanya diadakan di malam hari." Pandora mengangguk. Tidak ada alasan untuk membantah. Saat dirinya menunduk untuk mengamati gaun, meresapi warna itu dalam-dalam. "Apa kau punya rekomendasi tentang warna?" Alaric tidak bisa menahan diri untuk tidak mengernyit. "Apa?" "Aku pernah membaca satu buku yang memberi arti kalau warna pakaian berimbas pada suasana hati dan sifat seseorang. Apa menurutmu, ini pantas?" "Kau bebas memilih pakaian yang kau suka, bukan?" "Ya, tapi segalanya berjalan kurang baik," Pandora kehilangan suaranya. "Aku merasa sesuatu yang salah terjadi. Atau aku harus kembali ke pakaian lamaku?" "Tidak." Suaminya menolak keras. "Kau cocok menggunakan pakaian yang baru. Itu sesuai denganmu. Abaikan saja tanggapan orang-orang." "Mungkin seharusnya aku mulai menyortir pakaian ini dari sekarang." "Mereka bicara buruk tentang pakaianmu?" tanya Alaric penasaran. Pandora menghela napas berat. "Biasa, manusia dan mulutnya adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD