"Bagaimana menurutmu?"
Nina mengangkat alis. Bingung karena Pandora tiba-tiba mengajaknya masuk. Ia hanya takut mendapat gunjingan karena berani masuk ke kamar Duchess sembarangan. "Semua pakaian Anda luar biasa, Yang Mulia. Itu tidak perlu dibuang."
"Nina, aku tidak membuangnya. Aku akan mencuci dan melipatnya. Pakaian itu harus disimpan. Mereka semua bukan milikku," kata Pandora berat. "Aku merasa terlalu berlebihan. Saat aku pergi, orang-orang akan menatap pakaianku."
"Abaikan saja mereka."
"Seandainya aku bisa," sahut Pandora miris. "Kalau aku memakai pakaian lamaku, mungkin sudah terbiasa. Aku sudah memakai pakaian baru. Penampilanku turut berubah. Dan mereka masih saja tampak tidak puas."
"Pakaian lama?" Nina bertanya bingung.
"Aku tampil seperti nenek sihir dan tua," aku Pandora dengan senyum. "Dulu aku bekerja sebagai kurator buku di istana."
Nina tampak terkejut.
"Kenapa dengan wajahmu, Nina?" Pandora menahan senyum. "Aku serius. Aku tinggal bersama pamanku di desa kecil. Tidak terlalu jauh dari istana. Kau benar, aku bukan dari golongan atas. Yang mereka semua katakan benar."
"Bukan alasan bagi mereka untuk menghakimi tanpa mengenal Anda secara langsung," timpal Nina pahit. "Kita tidak bisa mengubah pandangan orang lain."
"Kau benar." Pandora tiba-tiba menoleh ke arah Nina, keningnya berkerut seakan sedang berpikir. "Nina, bisa aku pinjam ponselmu sebentar?"
"Yang Mulia?"
"Aku hanya perlu menghubungi seseorang. Aku bersumpah ini bukan percobaan untuk melarikan diri," ujarnya dengan senyum. "Hanya lima menit."
Nina memberikannya tanpa berpikir. "Aku akan berjaga di sekitar pintu."
"Terima kasih banyak."
Pandora mengeluarkan ponselnya sendiri. Mengetik nomor Ellie dan panggilan tersambung dalam dering ketiga. Sampai suara serak Ellie menyapa. "Halo?"
"Pandora? Sayang, ini kau?"
"Ellie," panggilnya dengan haru. "Apa kabar? Maafkan aku karena baru bisa memberimu kabar. Bagaimana paman?"
"Laito baik-baik saja. Dia merindukanmu. Bertanya kapan bisa ke Cornelia untuk menemuimu. Kau sendiri? Apa kau makan dengan baik? Bagaimana tidurmu?"
Pandora mengangguk, berharap Ellie mengerti kegelisahannya. "Aku baik di sini, Ellie. Aku merindukanmu dan paman."
"Besok akan ada pesta. Kau datang, kan?"
"Tentu saja. Aku akan datang. Kita bisa bertemu." Pandora menyadari kegembiraan dalam suaranya. "Sampaikan salamku pada paman. Kalau ada waktu, biar aku yang menemuinya."
Ellie mengangguk dan Pandora bisa mendengar sedikit isakan dari balik telepon.
"Jaga dirimu sampai pesta tiba. Aku menyayangimu."
"Aku juga."
Pandora menutup sambungan telepon dan memberikan ponsel itu pada Nina. "Kau bisa menghapusnya, Nina. Terima kasih banyak."
"Aku akan menyimpan nomor ini untuk Anda."
"Kau baik sekali," ucapnya setelah mengusap sudut matanya. "Aku akan berbenah sekali lagi sebelum pergi tidur. Terima kasih telah menemaniku."
"Bukan masalah. Panggil saja jika Anda butuh bantuan."
"Tidak, kau juga perlu istirahat." Pandora melihat Nina yan berjalan pergi dari pintu kamarnya. Kemudian menyusun semua pakaian dan menatanya. Menyingkirkan pakaian yang sekiranya terlalu mencolok dan membuat prasangka pada orang lain lagi.
"Dia sudah tidur?"
"Yang Mulia," sapa Nina sopan. "Belum. Duchess sedang berbenah."
"Bersih-bersih?"
"Menyortir beberapa pakaian, Yang Mulia."
Alaric mendengus tidak percaya. "Dia benar-benar melakukannya?"
Nina menipiskan bibir. Menatap Alaric cukup lama sebelum mengangguk. "Ya. Berpikir untuk mencuci dan menyimpannya di lemari."
"Dia juga berpikir akan mencucinya? Gadis itu sudah tidak waras." Alaric sudah puas mencela sebelum masuk ke kamar dan membiarkan Nina sendiri.
***
Suara ketukan mampir. Pandora menghela napas saat kehadiran Nina membuatnya semakin cemas. Kepala wanita itu menyembul dari pintu sebelum membungkuk. "Selamat sore. Yang Mulia sudah menunggu di lantai bawah."
"Oke," balas Pandora singkat. Menilai penampilannya sendiri dengan senyum tipis sebelum meraih tas mungil. Menyingkirkan anak rambutnya dari dahi. Seharusnya dia memberi apresiasi pada dirinya sendiri karena berhasil mencatok rambut dengan sempurna.
Nina memberi ruang saat dirinya keluar. Menuruni tangga dengan d**a berdebar. Menurunkan sedikit bagian bawah gaunnya dan tersenyum saat melihat Sara melintas.
"Semoga pesta nanti berjalan sempurna, Yang Mulia."
"Terima kasih." Pandora juga berharap hal yang sama.
Nina membawanya sampai ke teras utama. Limusin telah siap. Ketika kepalanya mendongak, sosok Alaric telah ada dan siap sembari menunggunya. Suaminya memakai setelan hitam yang tampak mahal. Mengingatkan Pandora akan beberapa kali pertemuan mereka dengan Alaric yang tampil formal.
Saat mata mereka bertemu, Pandora tidak akan berharap adanya pujian atau tatapan kagum dari sorot gelap nan tajam itu. Suaminya hanya terpesona pada Laura, kakak iparnya. Bukan pada perempuan lain. Pandora tidak akan mengeluh. Ia berdandan untuk dirinya sendiri serta tidak mempermalukan keluarga kerajaan. Reputasinya kini telah berubah setelah menjadi seorang Duchess.
Sementara Alaric bergelut dengan jalan pikirannya sendiri. Melihat bagaimana Pandora merias diri untuk pesta sebaik mungkin, tanpa disadarinya mungkin sedikit merubah persepsi tentang gadis itu. Istrinya berjuang mengatasi kegelisahan dengan berubah menjadi lebih baik. Memposisikan dirinya sebagai istri seorang Duke dan tidak membuatnya malu.
Stigma buruk tentang Pandora masih beredar luas. Alaric bukannya tidak tahu, tapi ia mencoba mengabaikan. Karena kabar buruk itu akan meredup seiring bertambahnya waktu. Satu tahun, dan tidak akan kabar apa-apa lagi tentang Pandora.
Ia merasa terbius. Terpesona dengan rambut yang tergerai dan berkibar karena tiupan angin lembut di depan kastil. Saat Pandora sampai di mobil, tangannya berusaha untuk membantu agar sang istri naik, tetapi Pandora menatapnya tanpa takut sedikitpun. "Aku bisa sendiri," ucapnya keras kepala. Dan membuat Alaric harus menurunkan tangannya dengan raut masam.
Nina pergi ke mobil lain. Saat Alaric tahu kalau dia telah memperkerjakan seseorang yang berguna, Pandora tidak perlu tahu siapa asisten sekaligus tangan kanannya.
"Kita akan pulang atau menginap?"
"Tergantung kondisi. Kau sendiri?"
"Aku tidak tahu," timpal Pandora acuh. "Itu semua tergantung padamu."
Tidak ada percakapan lagi setelahnya. Karena mereka melakukan perjalanan kurang lebih tiga puluh menit untuk sampai ke tempat tujuan. Selintas, tidak ada yang mencolok dari bagian depan. Juga tidak ada dekorasi pesta pada umunya. Akan tetapi saat Pandora berjalan masuk, dia melihat dekorasi itu ada. Dengan pelayan yang menjelma menjadi staf ahli untuk mengantar makanan dan minuman di bahu mereka.
"Alaric?"
Suara raja menyapa dalam. Pandora membungkuk dan Dimitri dengan ramah menjabat tangannya. "Pandora, apa kabar?"
"Kalian baru berpisah dua hari," ucap Alaric muram. "Kau sendiri. Di mana Laura?"
Pandora mengangkat alis dengan mata yang melirik. Sesaat mengamati Dimitri yang tidak menyadari arti kalimat tanya tersebut.
"Berdandan. Kau tahu, perempuan terlalu lama merias diri. Aku akan pergi untuk memeriksa tetua."
Alaric mengernyit, berbalik menatap istrinya dengan pandangan penuh tanya. "Apa kau memanggil penata rias?"
"Tidak. Tetapi Nina melakukannya," balas Pandora datar. "Dan dia tidak datang."
"Tidak datang?"
Sang istri mengangkat bahu. "Alasan kutu air. Aku berdandan sendiri. Seadanya."
Alaric mengernyit dalam. Seingatnya penata rias di Cornelia selalu sedia setiap saat kapanpun mereka membutuhkan. Mengapa Pandora pengecualian?
***
Ada penyanyi opera yang terkenal yang turut memeriahkan pesta. Pandora bisa menilai suaranya terdengar mirip seperti Celine Dion dengan pitch yang serupa Mariah Carey. Penyanyi yang tidak lagi muda itu berdandan cukup modis. Gaun merah menyala miliknya seakan membakar setiap tamu yang hadir untuk terus memandangnya.
Pandora meneguk sampanye dingin dalam diam. Saat Alaric terus bicara dengan salah seorang tetua dari bangsawan lain yang menyapa mereka.
"Aku menyadari kisah Cinderella benar adanya. Foto-foto masa lalumu tersebar di internet. Istriku tidak bisa berhenti tertawa karena melihat gambar jelek itu."
Alaric menautkan alis. "Gambar apa?"
"Gambar Duchess, Yang Mulia." Si pria tua dengan kumis putih tertawa. Seolah mencela Pandora adalah hal yang lucu. "Dia bukan berasal dari golongan yang setara dengan kita. Tapi kupikir penampilannya di masa lalu sedikit modis seperti putriku. Tapi benar-benar menyedihkan. Kau bagian dari kaum proletar yang mana, Nak?"
Tangannya membeku. Sekujur tubuhnya tegang tiba-tiba. Pandora perlu mundur sebelum keluarga itu menyerangnya lebih dalam lagi. "Aku bukan dari golongan yang seperti itu."
"Tidak peduli asalnya dari mana, itu hanya masa lalu, Tuan Noir."
"Tapi tetap saja sangat lucu. Kau berpenampilan seperti Voldemort." Lalu ada gelak tawa lain yang membuat Pandora semakin merundung.
"Aku akan mengambil sampanye lain," pamitnya lirih. Mengangguk pada para tamu dan bergeser untuk mencari minuman dingin, terburu-buru meneguknya. Menghilangkan rasa malu yang terlanjur membakar dadanya secara kasar.
"Oh, well. Ada kasta paling rendah yang terjebak di pesta kerajaan. Halo, Duchess. Selamat malam. Menikmati pestanya?"
Pandora berpaling. Menemukan gadis berperawakan agak mungil dengan rambut merah menyala terkepang rapi. Alisnya yang tajam menekuk, memandang Pandora sinis. "Halo, selamat malam."
Si gadis memberi ekspresi jijik saat Pandora mengulurkan tangan dengan ramah, bermaksud berjabat tangan setelah menyebutkan nama. "Maafkan aku, Yang Mulia. Tapi tanganku tidak terbiasa bersentuhan dengan warga jelata sebelumnya. Aku juga tidak memakai sarung tangan sekarang."
"Oh, tidak apa." Pandora menarik kembali tangannya, tersenyum canggung dan berpura-pura memilih minuman untuk meredakan rasa malunya.
"Semua orang bertaruh untuk kehidupan rumah tangga Pangeran Alaric kurang dari satu tahun. Mungkin hitungan bulan ke depan, kalian akan berpisah. Pangeran Alaric tidak akan betah terus berlama-lama dengan perempuan yang tidak sepadan."
Barangkali Pandora mendengarkan, ia hanya sibuk memilih minuman mana yang perlu untuk membasahi tenggorokannya sekarang.
"Lagi pula, tidak ada salahnya seorang pangeran menikah berulang kali. Dia pangeran, seharusnya memilih kandidat istri yang tepat. Bukan berasal dari sampah jalanan dan memungutnya. Berlian terlahir dari rahim berlian, bukan dari tanah berlumpur."
Pandora benar-benar tidak mendengarkan sampai dia mendengar satu desisan mampir. "Oh, maafkan aku. Aku tidak terlalu mendengarnya. Apa yang kau bicarakan?"
Ekspresi gadis itu berubah merah. Lebih tepatnya karena marah dan kesal. Mata cokelatnya berapi-api. Seolah berkilat dan siap meledak sebentar lagi. "Apa pantas kau bersikap seperti itu pada manusia yang derajatnya lebih tinggi darimu?"
"Aku benar-benar tidak mendengarmu. Sampanye di sini cukup enak. Aku bingung memilih minuman mana yang cocok," kata Pandora tanpa rasa bersalah. Mengabaikan rasa panik saat gadis di depannya seakan siap menerkam hidup-hidup.
"Kau cukup berani ternyata. Apa sebutannya? b******n? Aku yakin kau menikahi pangeran hanya untuk mengeruk hartanya."
Pandora ingin membalas karena skandal dan dia tidak mungkin membongkar rahasia itu selagi dirinya sudah bersumpah. "Begitukah?"
Gadis yang tidak perlu memperkenalkan nama itu meradang sekarang. Pandora bisa melihat leher yang penuh bedak sekarang memerah sempurna. Sebentar lagi akan memuntahkan lahar.
Dan benar saja. Keributan kembali terjadi. Saat dirinya tanpa sengaja menarik taplak meja dan membuat semuanya berhamburan di atas karpet. Menimbulkan bunyi pecahan yang nyaring. Pandora lagi-lagi merebut perhatian dengan aksi memalukannya.
"Lena!"
Semua orang terdiam. Tercengang karena melihat betapa kacaunya Pandora sekarang. Beberapa gelas sampanye tumpah dan mengotori gaunnya. Yang membuat sebagian dari mereka berusaha keras menahan tawa. Memandangnya penuh cela terang-terangan.
"Oh, astaga. Yang Mulia, aku sedikit mabuk sampai tidak sengaja mendorongmu." Gadis itu berpura-pura simpati, menatap Pandora penuh kemenangan tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun.
"Lena! Kau tidak apa, Sayang?"
Pandora kembali membeku. Memerhatikan sekitarnya dengan kedua mata yang perlahan panas. Rasa sakitnya terlanjur mengakar. Membuatnya bernapas cepat, ingin meluapkan segalanya.
Dan ia tidak bisa.
Semua orang berhenti mencela saat Dimitri mendekat. Memandang Pandora cemas dan membantunya berdiri. Membiarkan gadis itu bangun dengan kedua kakinya. "Kau bisa pergi untuk mencari gaun lain."
Pandora hanya diam. Memaksakan diri untuk menatap betapa kacau dirinya sekarang.
"Aku sedikit mabuk, Yang Mulia." Lena membela diri, berkilah di depan Dimitri. "Aku minta maaf dengan sepenuh hati."
Ellie gemetar di tempatnya berdiri sekarang. Memandang Pandora dengan kedua mata yang nyaris berlinang. Tidak, dia tidak boleh menangis di sini.
"Aku tidak tahu apa kesalahan yang Duchess lakukan sampai kau berbuat sejauh itu untuk membuatnya malu," tegur raja dingin. Yang membuat Lena dan ibunya membeku. "Kau tidak hanya membuatnya malu, tapi membuat kami sebagai keluarga ikut malu. Tidak bisakah kau menghormati keputusan Alaric dan kerajaan karena menikahi gadis dari golongan biasa?"
Laura tercengang mendengar penuturan sang suami. Ia tidak bisa berbuat banyak untuk menolong Pandora karena Dimitri lebih dulu melesat. Sementara semua orang menonton dengan penasaran sekaligus menghakimi.
"Kau sebaiknya kembali ke asrama untuk belajar tata krama sekali lagi," ucap Pandora sinis. Memandang Lena dengan kemarahan yang kental. Gadis ingusan itu berani membuatnya malu di depan umum. "Jika aku menjadi gurumu di asrama, aku akan sangat malu. Dulu aku bukan tandinganmu, dan sekarang aku berbeda. Berhentilah menghakimi hanya karena mereka tidak setara. Kasta kami mungkin tidak sama, tapi isi otak kami dan kau berbeda. Keluarga bangsawan tidak akan bisa hidup mewah tanpa keringat dari rakyat."
"Berani sekali kau bicara begitu padaku!"
Pandora menarik napas. Mendengar keluarga gadis itu terang-terangan mencemooh dirinya. Serta tatapan dari keluarga bangsawan lain yang tidak pernah ada di kubunya. Pandora dan golongannya seperti kutu pada rambut, hama pada sawah yang harus dibasmi.
"Maafkan aku, Yang Mulia."
Menyesali perbuatannya pada Dimitri. Membungkuk agak lama dan berjalan pergi. Menyeret kedua kakinya yang agak terasa nyeri. Kemudian melihat Alaric yang memandangnya tanpa arti.
Karena melihat pria itu, Pandora merasa dorongan ingin menangis terlampau keras.
"Tolong, jangan lihat aku," pintanya pada sang suami dan berlari pergi. Meninggalkan pesta untuk kedua kalinya setelah membuat kekacauan dan mempermalukan diri.
Berharap Alaric tidak mendengar perubahan pada suaranya yang bergetar.