TKS - 19

1055 Words
"Pandora?" Dari dalam dia bisa mendengar suara Ellie gemetar bercampur cemas. Pandora harus bicara pada wanita itu untuk tidak membocorkan informasi apa pun tentang pesta pada pamannya. Laito akan semakin sedih. Pandora hanya perlu bertemu, berbicara dan menganggap semua ini hanya mimpi buruk. "Izinkan aku melihatmu sebentar." "Aku baik-baik saja, Ellie. Aku sedang berganti baju." "Aku akan membantu." Pandora berdusta. Kalau Ellie memaksa masuk dengan kunci lain, ia akan tertangkap basah. Tidak ada air mata, tetapi rasa sakit di wajahnya cukup menggambarkan perasaan yang sebenarnya. "Pandora? Buka pintunya sebentar." Lama dirinya merenung. Mungkin sedikit jawaban jujur bisa membuat wanita baik itu pergi barang sebentar. "Tinggalkan aku sendiri. Aku janji akan menemuimu setelah ini." Tidak ada jawaban. Ellie menurunkan tangannya dari pintu dengan bias sedih. "Aku tidak akan memaksa. Kabari aku kalau kau butuh sesuatu." Tidak ada ketukan lagi setelahnya. Ellie benar-benar membiarkannya sendiri. Bersama kekacauan yang membuat harga dirinya terjun bebas. Pandora hanya ingin tenggelam. Bentakan gadis kasar itu membuatnya menyesali kalimatnya sendiri. Lima belas menit berselang, sebuah ketukan mampir. "Ellie, aku ingin sendiri." "Buka pintunya." Itu bukan Ellie. Pandora mendapati dirinya bangun dalam kondisi tegang. Matanya berulang kali melirik pintu. Memastikan dirinya tidak mendengar suara yang salah. "Kau dengar aku? Buka pintunya. Untuk apa sembunyi di gudang?" Apa Ellie yang membawa suaminya datang? "Tinggalkan aku." Ada jeda sebentar. Sebelum suara berat itu menembus dinginnya lantai gudang yang lusuh. "Buka pintunya atau kudobrak sekarang." Pandora hanya tidak punya pilihan. "Kau mau apa?" tanyanya lirih. Masih belum memberi akses yang lebih lebar. Membuka sedikit agar matanya bisa melihat wajah itu semakin jelas. "Keluar dari sana." "Aku tidak mau." "Kau bisa bersembunyi di tempat lain. Kenapa harus gudang?" "Ini hanya tempatku." Alaric seolah kehabisan kesabaran. Dia mendorong pintu dengan sebelah tangannya cukup keras. Membuat Pandora tersentak, terhuyung mundur dan tidak bisa pergi lagi. "Jangan lihat aku." Terlambat. "Jangan buat ini semakin sulit." Alaric menatapnya tanpa emosi. Sejenak membuatnya gelisah. Pandora menunduk menatap bekas sampanye yang membasahi bagian bawah gaunnya, menemukan sang suami menghela napas tajam. "Nina." "Ya, Yang Mulia?" Nina berlari dengan cemas. "Temui Ellie sekarang. Bawakan sesuatu untuk Duchess secepatnya. Kami akan menunggu di kamar." "Aku tidak akan pergi," kata Pandora pelan. "Tidak sampai pestanya selesai." Alaric menarik tangannya. Membawanya ke luar seakan menyeret kedua kakinya untuk berjalan. "Tidak akan ada pesta. Kau tidak akan kembali ke sana." "Kenapa kau terlihat kesal sekarang? Sebelumnya kau tampak biasa-biasa saja." "Kau tidak memberiku kesempatan," ucapnya dingin. Yang membuat Pandora mencelus, mendengus karena kalimat pria itu. "Yang Mulia?" "Keluargamu berutang maaf padaku." Alaric memberi ultimatum pada Lena yang berdiri bersama ibunya. Pergi dari pesta untuk mencari udara segar. "Lepas." Pandora mencicit pelan dan mungkin pria itu tidak mendengar. "Aku bisa jalan sendiri." "Kau akan kembali ke gudang seperti anak tikus." "Aku bukan tikus." "Apa sebutannya selain kecil, pengerat, dan berwarna hitam serta lincah? Ya, itu kau." "Aku tidak kecil! Dan aku bukan hewan pengerat! Tidak semua tikus berwarna hitam asal kau tahu." Alaric membawanya ke sebuah kamar. Pandora terkesiap menemukan kamar tempat pangeran bungsu tinggal sebelum pindah ke Cornelia. "Tunggu sampai Ellie tiba." "Kau sebaiknya pergi." "Aku tetap di sini." Pandora tidak lagi ingin membantah. *** "Apa kau tetap keras kepala dan tidak mau pergi?" Ellie menautkan alis. Sementara Pandora terang-terangan menolak kehadiran suaminya. Ia paham, tahu bahwa pernikahan ini terpaksa. Namun, keberanian Pandora pada pangeran yang terkenal keras kepala dan dingin itu cukup nekat. "Aku butuh privasi," imbuh Pandora sinis. Ellie melirik dalam cemas. Sementara Alaric menatap istrinya dalam bungkam. Seolah ingin membantah dan kedua kaki kokohnya tetap bergeming. "Jangan bilang pada Paman Laito soal ini," kata Pandora, mulai lelah karena pria satu itu susah diatur. "Kalau dia bertanya, bilang semua berjalan lancar." "Oke." Ellie juga tidak mau membuat pria tua itu cemas. "Apa kau baru saja mengumpat padaku?" "Dia bicara bahasa latin," sela Ellie cepat. Membantu Pandora untuk melepas baju dan gadis itu menolak. "Itu bukan umpatan, itu pujian." Alaric mendengus keras. Cemoohan nampak dari matanya yang berkilat. "Aku tidak pernah melihat seseorang memuji dengan tatapan sesinis itu." "Apa kau ingin melihatku tampil tanpa busana?" Sebuah seringai yang tak lazim muncul. "Apa itu terjemahannya?" Kepala Alaric meneleng. "Kupikir itu bukan hal yang bagus. Tetapi anjing tidak pernah menolak tulang." "Kau bisa berbalik selagi aku berganti baju." "Aku akan tunggu di luar. Berjaga-jaga kalau kau melarikan diri ke gudang," sahut Alaric cepat. Bergerak luwes ke arah pintu dan menutupnya. Memberi ruang untuk Pandora dan Ellie di dalam. "Kalian sering bertengkar?" "Kami romantis." Ellie tersenyum masam. "Keluarga Lena memang tidak tahu diri. Putri pertama mereka sempat tersangkut masalah obat terlarang, tetapi berhasil selamat berkat bantuan pamannya yang seorang Viscount." "Hidup ini mudah," Pandora berputar saat memakai kemeja baru. "Asalkan kita punya uang dan jabatan." "Aku terkejut kalau raja yang menjadi perisaimu. Dia membela adik iparnya di depan banyak orang." "Aku merasa sungkan," ucapnya merana. Setelah memasang celana jins dan melempar sepatu heels itu sembarangan. Pandora hanya butuh sepatu sandal sekarang. "Aku sudah selesai. Terima kasih untuk cokelatnya." "Sebagai penawar terbaik," kata Ellie sembari tersenyum. "Aku harus pergi. Sekarang melihatmu membuat perasaanku lebih baik. Laito tidak akan tahu tentang penghinaan malam ini." Pandora menggeleng. "Jangan biarkan dia tahu." Ellie melambai kecil saat membawa nampan dan baju kotor milik Pandora pergi. Membungkuk pada Alaric dan Nina, lalu menjauh dari area kamar. Kemudian melihat Ilama yang sibuk berbincang dengan beberapa pelayan. Khas Ilama yang sering mengeluh. Itu bukan teguran, melainkan ancaman. "Apa kita menginap?" Alaric mengangkat alis. "Kau mau menginap?" "Aku pikir Cornelia bisa menjadi pelarian sementara yang tepat. Istana terasa semakin mengerikan sekarang," tukasnya lirih. Berbaring di atas ranjang dan memeluk bantal. "Kenapa kau tidak kembali ke pesta?" "Tidak seru. Aku tidak punya topik lain yang mesti kubahas. Mereka menggunjingmu di sana." Pandora menarik napas, berbalik terlentang untuk menatap langit-langit kamar yang temaram. "Kata-kataku berlebihan tadi. Proletar sepertiku tidak pantas menghina golongan borjuis seperti kalian." "Kau menggunakan istilah kuno." Rasanya melegakan setelah berganti pakaian dan bersembunyi. "Kau benar. Itu terdengar lebih enak diucapkan. Aku menyesal karena emosi tadi." Alaric membalas dengan bungkam. Pria itu tidak bergeming dari tempatnya. Ia hanya melonggarkan ikatan dasi dan melepas kancing kemeja. "Bukan masalah. Kalau kau merasa sudah lakukan hal yang benar, kau tidak perlu merasa bersalah." Pandora memberi pria itu senyum. Dan Alaric merespon dengan wajah melengos ke samping. "Kau tidak perlu tersenyum padaku. Aku tidak berbuat apa-apa untukmu." Yang tergantikan dengan tawa setelahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD