Laura menghargai tempat yang lebih privasi saat dirinya hanya bisa berduaan dengan sang suami. Pesta belum sepenuhnya bubar, dan dia menarik lengan raja untuk menyingkir dari kerumunan sebentar.
"Apa?"
"Kau membela adik iparmu?"
"Apa yang menjadi masalah?" tanya Dimitri penasaran. "Pandora baru saja dicela. Semua orang mencemoohnya. Kita tidak bisa membiarkannya terus begini."
Laura mendesah. "Gadis itu baru saja menghina keluarga bangsawan. Kau tidak lihat bagaimana dia menghardik Lena dan keluarganya? Itu cukup berpengaruh."
"Laura, dia mencela karena terluka. Dia tidak sadar apa yang dia lakukan." Dimitri memaksa dengan pendapatnya. Berkomentar sesuai opini. "Kau seharusnya tidak perlu merasa kesal."
"Kau membelanya lagi?" Istrinya terperangah tidak percaya. "Kalau kau ingin membelanya, tidak di depan keluarga yang lain. Itu bisa mencoreng nama baikmu sendiri."
"Pandora juga bagian dari kita. Dia istri Alaric sekarang," tukas Dimitri dingin. "Apa kita harus bertengkar di pesta kita sendiri?"
Laura menarik napas, memejamkam mata dengan kerumitan yang mencengkeram kepalanya. "Tidak, maksudku kita tidak perlu bertengkar. Aku hanya bertanya padamu."
"Nah, dan sekarang kau sudah mendapatkan jawabannya."
Laura membuka mata. Terasa asing berbincang bersama suaminya sekarang. "Belum. Aku belum mendapatkannya. Lagi pula, penghinaan itu masih wajar."
"Tidak menjadi wajar saat kekerasan ada di dalamnya." Dimitri mendesah berat. "Kenapa kau terlihat menyesal karena aku membela adik iparku sendiri? Pandora memegang kunci penting sebuah rahasia. Kalau kau belum lupa, mari kuingatkan," tegasnya.
"Kita tidak sama sekali menolerir kekerasan di dalam istana. Aku banyak melewatkan hal sekecil itu. Terutama karena Pandora memegang kunci. Dia bisa saja bicara kebenaran dan menghancurkan kita. Itu yang lebih mengerikan di masa depan."
Laura menghela napas. Mata mereka saling terkunci satu sama lain dan dia menemukan ketegasan di sana. Tidak ada bantahan karena prinsip suaminya sukar untuk ditembus. "Yah, baiklah. Aku minta maaf. Sedikit syok membuat kepalaku sakit. Ke mana Pandora sekarang?"
"Aku tidak tahu," suaminya membalas pelan. "Ayo, kita harus kembali. Pandora menjadi urusan Alaric sekarang. Kita tidak perlu ikut campur."
"Mencoba menghibur?" Laura tanpa sadar mendengus. "Alaric? Alaric mencoba melakukannya?"
"Kau terlihat terkejut."
Tawanya seketika lenyap. Matanya berkilat misterius dan Laura berdeham. "Kau belum lupa, aku dan Alaric ada di kampus yang sama dulu. Kami seumuran. Ah, dan tentu saja aku mengenalnya. Dia tidak pernah peduli pada orang-orang."
"Itu hanya anggapanmu," kata Dimitri datar. Melengos pergi membiarkan istrinya sendiri selagi bergabung ke pesta. Beberapa orang berbisik tentang mereka karena penasaran. Raja dan ratu tidak ada di tempatnya kurang lebih lima menit. Saat mereka muncul, atmosfir terasa berbeda.
"Apa mereka bertengkar? Seorang raja tidak seharusnya membela rakyat jelata di depan keluarganya yang lain. Bukankah, itu tradisi yang memalukan? Kasihan sekali ratu."
Laura hanya berdeham. Melintasi beberapa orang dan bergerak mengambil minuman. Membawakan dua gelas anggur dingin. Satu untuknya dan satu untuk suaminya. Mengesampingkan pandangan orang yang berpikir buruk soal mereka untuk sementara.
***
"Anda baik-baik saja?"
Nina menghampiri dengan cemas saat melihat Pandora terhuyung keluar dari kamarnya. Gadis itu terlihat kacau. Meski tampilan pucatnya bisa dikelabui dengan riasan, tetap saja semua terlihat berbeda.
"Oh, ya Tuhan. Ada apa, Nina?" Sara bertanya saat melihat Sara mencoba memapah Pandora.
"Kepalaku sedikit sakit. Aku akan minum obat pereda nyeri setelah sarapan." Pandora memberi senyum kedua perempuan itu dengan ramah. "Jangan cemaskan aku. Ini hal yang biasa. Aku pernah terserang tipes saat masih berkuliah dan terjebak di dalam kelas. Ini belum seberapa."
"Tetap saja mengkhawatirkan," kata Sara cemas. "Kembalikan Duchess ke kamar. Biar aku yang membawakan sarapan itu nanti."
"Aku akan sarapan di ruang makan. Terima kasih untuk tawarannya, Sara." Pandora melepas pegangan tangan Nina dan mencoba berjalan dengan kedua kakinya sendiri. "Ini bukan apa-apa."
"Yang Mulia."
Tipikal yang benar-benar keras kepala. Pandora berjalan turun dengan perlahan bersama Nina yang belum lepas mengawasi. Sampai dirinya di depan pintu utama, meluruskan punggung dan bersikap seolah tidak sedang menahan sakit apa pun. Mendengar Alaric berbincang dengan seseorang melalui tablet di atas meja.
"Semoga harimu menyenangkan."
"Kau juga."
"Aku mendengar suara pria," tukas Pandora. Melirik Nina yang mematung. "Kau menghubungi seseorang?"
"Kerabat lama. Dia tidak mau menjadi bagian dari keluarga dan memutuskan untuk menjadi pebisnis sendiri. Kediamannya sekarang ada di Nepal."
"Cukup jauh dari sini."
"Ya, memang. Tetapi rumahnya indah. Dia menghubungi hanya untuk bertanya kabar."
"Kalian dekat?"
"Dia banyak mengurusku semasa kuliah dulu. Raja percaya padanya." Alaric memotong kentang rebus dan melirik istrinya. "Kita punya jadwal untuk membuka pameran seni pagi ini."
"Oke."
Alaric menarik napas tajam. Melirik Nina tanpa suara dan wanita itu memasang raut sedatar tembok di dalam ruangan.
"Apa yang terjadi?"
"Hm? Tidak ada. Kalau kau mengacu pada kejadian semalam, itu bencana." Pandora membalas dengan dengusan. Menyantap sarapannya dengan hati-hati. Sakit di kepalanya hanya membuat segalanya bertambah rumit. Ia menyesal karena memiliki malam yang buruk dan pagi yang tidak terlalu bagus.
"Kita bisa melupakannya. Aku bisa memastikan kejadian yang sama tidak akan terulang."
"Kau apa?" Pandora terperangah karena kata-kata suaminya. "Apa yang ingin kau lakukan?" Tidak bisa menahan dengusan mencibir.
"Kejadian yang menimpamu seperti semalam tidak akan terulang. Kali ini, aku akan membelamu."
Pandora ingin terbahak sekarang. "Apa aku perlu tersanjung?"
"Kau terkesan dengan pembelaan Dimitri semalam."
"Ah, raja." Ekspresinya berubah lembut. "Dia baik sekali. Aku belum sempat memulihkan diri dan mendapat keberanian untuk mencela gadis arogan itu berkat dirinya. Aku akan berterima kasih nanti."
"Kau tidak perlu melakukannya," ucap Alaric santai. Memotong stik dari piring dan menyantapnya. Benar-benar baru bersuara setelah menelannya. "Aku sudah menyampaikan ucapan itu padanya saat kita pergi."
"Benarkah?"
"Kau tampak terkejut."
"Aku bisa menyimpan itu untuk diriku sendiri." Pandora tidak bisa menahan rasa terkejutnya. "Kau membuatnya terdengar tidak menyenangkan sama sekali. Dasar menyebalkan."
Alaric berdeham. Meraih gelas berisi air minum sembari menatap istrinya yang cemberut. Menyantap sarapan dengan kejengkelan luar biasa melumuri wajah manisnya. Pandora sedikit pucat, dan Alaric tidak menganggap hal itu terlalu serius. Istrinya ingin tampil senatural mungkin tanpa melibatkan banyak tambahan pewarna alis.
***
"Apa penata riasmu tidak datang lagi?"
Alaric berbisik saat mereka turun dari limusin. Pandora nyaris tertidur selama perjalanan karena merasakan sakit di kepalanya tidak lagi tertahankan meski dia telah meminum obat sekalipun.
"Aku tidak peduli dengan penata rias," menarik kalimatnya kembali saat mata sang suami melebar. "Oh, ya ampun. Aku baru saja mengumpat."
"Diam, jangan ulangi."
Pandora hanya tidak percaya kalau Alaric tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Selain memintanya untuk diam dan bersama-sama menaiki anak tangga untuk masuk ke bangunan museum teranyar.
"Aku tidak perlu penata rias untuk acara biasa," kata Pandora saat mereka masuk. "Kalaupun pesta, aku mungkin bisa mengatasinya sendiri."
Alaric memberikan reaksi berupa cibiran.
"Selamat datang, Duke dan Duchess dari Cornelia." Salah seorang pria muda dengan janggut dan rambut keemasan muncul. Senyumnya melebar ramah. Membungkuk pada mereka sebelum menjabat tangan. "Senang melihat kalian hadir di sini."
"Aku turut senang dengan proyek bagus ini."
"Terima kasih. Kami akan berusaha keras untuk menjaganya tetap ada sampai kiamat tiba." Mereka bercanda dan Pandora tersenyum.
"Anda terlihat luar biasa dengan gaun ini, Duchess. Senang bisa melihat Anda secara langsung."
"Terima kasih untuk pujiannya," Pandora merespon dengan sopan. Berharap tidak ada satupun yang melihat merah pada pipinya. Bukan karena pewarna pipi, tapi karena rona.
"Napoleon?"
"Yap. Benar sekali."
Alaric menyipit melihat lukisan pria dengan seragam tentara yang gagah sedang menunggangi kuda. "Karakter yang cukup disegani di cerita sejarah kuno. Sampai sekarang namanya tetap hidup."
"Anda tahu banyak, rupanya."
Alaric hanya memberi senyum tipis. "Aku belajar sesekali. Napoleon dikenal semua orang. Omong-omong, kita punya ahli sejarah di sini."
Semua orang menaruh minat pada Pandora yang merapat pada suaminya. Merasa segan karena tiba-tiba dipandang penuh harap. Mata mereka berbinar, dan secara perlahan mulai menjelaskan beberapa hal yang ia tahu.
"Aku melupakan kalau Duchess seorang sejarawan dulu."
"Tidak juga. Aku hanya belajar yang sekiranya aku inginkan," katanya ramah. "Kebetulan mempelajari kebudayaan adalah salah satu bakat."
"Aku harap Anda punya waktu luang untuk mengecek museum ini secara berkala, Yang Mulia."
"Dengan senang hati." Pandora membalas senyum mereka dan mulai berkeliling. Merasakan pijakan kakinya mulai berbayang saat tiba saatnya untuk membuka museum secara publik.
Teman-teman media datang untuk mengambil gambar. Ini kedua kalinya pasangan pengantin baru unjuk di depan publik bersama. Mereka cukup antusias. Karena kabarnya, pernikahan yang retak serta paksaan tidak terendus kebenarannya.
Pandora perlu memasang senyum sebaik mungkin. Selagi staf membawakan sebuah gunting untuknya dan Alaric, ketua museum memberi arahan dan sambutannya secara singkat untuk memulai ritual awal.
Kilat kamera samar-samar menarik perhatiannya. Pandora yakin sakit pada kepalanya yang membuat pandangannya mengabur. Terutama saat menangkap bayangan samar dari laki-laki berperawakan pendek memakai jaket kulit hitam dan topi lusuh menembus kerumunan wartawan, perasaannya mulai tidak enak.
"Satu, dua, tiga."
Tali secara resmi terputus. Riuh tepuk tangan menghiasi teras sampai Pandora benar-benar melihat sosok asing itu mengambil tempat, mengeluarkan sesuatu dari kantung jaket dan bersiap melemparkannya ke arah Alaric.
Sebentar. Alaric?
Dua lemparan telur busuk itu membuat semua orang terkejut. Pekikan histeris muncul dari teman wartawan yang panik. Nina segera membentuk barikade pelindung setelah insiden itu membuat semua orang panik.
"Yang Mulia?"
Sebelum Pandora benar-benar jatuh karena merasakan sakit yang terlalu keras berdentam dari belakang kepalanya, seseorang lebih dulu menarik tubuhnya agar tidak terguling ke aspal. Menariknya untuk mundur dan membawanya untuk menjauh.
***
"Cari sampai ketemu. Bawa dia padaku dalam keadaan hidup. Kalian mengerti?"
Sara membungkuk dengan cemas. Saat Nina memeriksa alat di telinganya, mendengar instruksi dari kepala keamaan yang berjaga di sekitar istana dan tetap bertugas menjaga Pandora yang tidak sadarkan diri setelah dua telur busuk itu menghantam belakang kepalanya.
Pandora melindungi suaminya dari serangan tiba-tiba itu secara spontan. Menjadikan tubuhnya sendiri perisai sebelum kegaduhan melanda.
"Tarik semua berita yang ada di media. Aku yang akan mengabari istana utama." Alaric meminta Nina untuk bergegas dan wanita itu pergi tanpa sepatah katapun.
"Demamnya tiga puluh tujuh. Apa kita perlu memanggilkan dokter sekali lagi?" tanya Sara cemas. Menarik termometer dan mengompres Pandora dengan cara tradisional. "Yang Mulia?"
"Itu sudah lebih baik dari tiga puluh sembilan," ucap Alaric getir. "Biar aku yang mengurusnya, Sara. Kau bisa pergi. Minta agar dokter berjaga-jaga di sekitar kamar Duchess nanti."
"Baik."
Alaric melirik jam pada nakas yang menunjukkan angka delapan malam. Pandora tertidur cukup lama. Sakit pada kepala yang diderita istrinya menambah jam tidur itu diperlama. Dokter telah memeriksanya. Begitu pula Sara dan pelayan lain membantu membereskan kekacauan. Sementara Alaric begitu marah serta gelisah.
Sara memilih untuk mengompres dahi Pandora sesuai bekal ilmunya sendiri. Dan Alaric turut melakukannya. Memastikan demam istrinya turun lebih cepat dan pagi berubah dalam keadaan baik.
Rasa asing menyelinap dalam dirinya. Sembari menatap datar sang istri yang terbaring, Alaric terlalu terkejut mendapat serangan sampai Pandora yang sadar mencoba melindunginya. Menjadikan dirinya sendiri perisai dan tidak sadarkan diri karena hantaman telur itu terlalu keras.
Kepalanya ikut sakit. Memikirkan kondisi Pandora dan bagaimana paniknya situasi. Semua berubah kacau. Tim keamanan segera mengambil alih untuk menekan laju pemberitaan.
Jam dua belas malam. Dan Pandora terbangun dengan rintihan. Rasa dingin yang menyelimuti dahi membuatnya membuka mata. Samar-samar yang tampak hanya lampu kamar dan tarikan napas pendek seorang pria.
Suaminya duduk dengan bertopang dagu. Kedua matanya terpejam. Lelah membayangi wajah itu teramat jelas. Yang membuat Pandora meringis, menyadari kebodohan lain yang baru saja ia lakukan untuk membuat suaminya malu.
Mau sampai kapan?
Pandora berjengit saat mencoba memindahkan handuk kecil untuk mengompres dahinya pada bak mungil di atas meja. Sebelum tersentak, menahan napas melihat kelopak mata terbuka dan sorot dingin itu terpaku ke arahnya.
Alaric menarik napas tajam. Memicing untuk mengamati Pandora yang bangun, mencoba duduk dengan bantuan bantal. "Kau mau apa?"
"Duduk. Kepalaku terasa dingin sekarang."
"Kau perlu istirahat sekarang," katanya tidak suka. "Berbaringlah. Cobalah tidur."
"Kau tidak apa?"
"Apa?"
"Wajahmu." Pandora tercekat. Memegang bagian kepalanya sendiri dan meringis. "Apa ada darah?"
"Tidak ada. Hanya memar. Hati-hati, kau tidak boleh menyentuh memar itu sembarangan." Alaric menegur dengan lembut. Tatapan matanya terlihat cemas. Dari remangnya kamar, Pandora bisa merasakan kegelisahan itu merasuki diri suaminya. "Kau demam setelah insiden pelemparan telur itu. Dokter menduga kau sudah sakit malam sebelumnya. Tapi kau memaksakan diri."
"Itu bukan sakit yang berlebihan," balas Pandora lirih. "Aku masih bisa berjalan. Hanya saja lemparan telurnya sangat keras. Kepalaku berdentam."
Pandora menghela napas. Menunduk menatap selimut yang membungkus sampai sebatas pinggang. "Tapi kau tidak terluka. Aku rasa pelaku itu mencoba mengarahkannya padamu. Secara refleks aku hanya mencoba melindungimu. Wajah itu bernilai mahal," tambahnya dengan senyum tipis.
Alaric menatapnya dalam bungkam.
"Aku tidak mencoba membuatmu terkesan," tukas Pandora menyerah. Tidak sanggup menatap mata itu berlama-lama.
"Kau secara tidak langsung membuatku terkesan." Alaric menimpali tanpa emosi apa pun. "Itu hanya telur. Bayangkan benda berat lain atau benda yang tidak ingin kubahas. Kita tidak tahu bagaimana nasibmu kemudian."
Pandora menarik napas dengan getir. Merasakan kedua matanya berkaca-kaca dan rapuh. Sesaat tangannya gemetar, tremor itu muncul tanpa bisa dihindari. "Aku tahu hidup di lingkaran istana sangat berat. Tapi aku tidak pernah menyangka akan seberat ini."
Ia mencoba untuk tidak menetap memandang mata suaminya. Alaric seperti sedang menggeledah kepala dan mengorek isi dalamnya. "Itu tidak hanya berlaku padaku, tapi padamu. Laki-laki asing tadi mencoba menyerangmu, bukan aku. Apa percobaan itu tidak hanya sekali?"
Alaric tidak mau mengingatnya. Namun karena Pandora membahas topik yang tidak ingin dia gali, mau tak mau kenangan itu timbul dengan sendirinya. Membasahi kepala Alaric dengan deretan kejadian kelam.
"Kau tidak perlu menjawabnya," kata Pandora memaklumi. Memberi suaminya seulas senyum. "Aku akan kembali tidur. Kau bisa kembali ke kamarmu sekarang. Aku sudah merasa lebih baik. Nina ada dua puluh empat jam untukku. Itu melegakan karena ada yang menjagaku."
"Aku akan menjagamu."
Sekujur tubuhnya mendadak membeku. Pandora mengerjap penuh cemas, sebelum memberi dengusan singkat dan bersiap untuk berbaring agar tidak melukai belakang kepalanya yang masih sedikit nyeri.
"Pandora?"
"Ya?"
Dorongan primitif yang berkonotasi kepemilikan merasuki Alaric sampai ke dalam. Menyadari istrinya terlalu lemah dan tidak berdaya, sama sekali tidak menyurutkan apa pun yang terlanjur menyusup masuk.
Dengan penampilan Pandora yang berubah. Citra gadis itu turut berbeda. Di mata Alaric, Pandora tidak lagi kurator buku yang mondar-mandir di area perpustakaan seperti penunggu kastil yang konon dikabarkan seram dan suka tertawa. Pandora hanya tidak suka menjadi pusat perhatian. Tidak terlalu suka mencolok dibanding orang lain. Dan pernikahan jelas merusak prinsip itu.
Sementara Pandora menunggu dengan antisipasi, Alaric menunduk untuk menyerukan wajahnya. Menyentuhkan bibirnya di atas bibir istrinya yang agak pucat. Kemudian tidak bisa menahan desakan lebih lama lagi untuk melumat, membenamkan bibirnya semakin dalam.
Dan merasakan Pandora gemetar, akan tetapi tidak mendorongnya menjauh.