Duchess of Cornelia kembali mencari perhatian?
Pandora terdiam. Matanya terpaku pada headline judul sebuah koran harian yang biasa para pelayan serta staf baca. Portal digital memang sangat digemari beberapa tahun belakangan ini. Tapi beberapa orang lebih senang membaca fisik alih-alih memandang layar ponsel atau tablet berlama-lama.
Nina menatap dengan cemas. Meski dirinya tidak bisa berbuat banyak. Suasana pagi ini cukup cerah. Demam tidak lagi mengusik hari Sang Duchess sekarang. Namun dengan adanya berita ini, muram pada wajah itu kembali.
"Aku bahkan tidak sanggup membaca keseluruhannya," gumam Pandora pedih. "Apa koran ini sampai di kota? Bagaimana kalau pamanku tahu? Ellie?"
Pandora menyadari suaranya terlalu pelan dan bergetar. Begitu pula dengan genggamannya pada sisi koran. Tak ayal cemas yang merayapi Nina semakin parah. Matanya terus memandangi Pandora yang berulang kali menarik napas, membuangnya kasar. Hanya untuk mengusir rasa asing yang hinggap di hatinya pergi.
Seseorang dengan kasar menarik koran itu dari tangannya. Alaric mengernyit menatapnya. Suasana hati pria itu juga buruk. Dan Pandora meringis mengingat kejadian memalukan semalam.
"Kenapa kau membiarkannya?" omelnya pada Nina. Pandora bangun, hendak merebut koran itu dan Alaric mengangkat tangannya. "Jangan coba-coba."
"Aku belum membaca semuanya."
"Lupakan saja." Alaric masih belum mau memandanginya. Pandora merasa pipinya panas karena kesal sekaligus malu. Membayangkan yang terjadi di antara dirinya dan pangeran semalam merupakan hal yang tidak pantas.
"Kau ingin tahu apa isinya?" tanya Alaric dingin. "Seratus persen bicara tentangmu, tentang golonganmu, kasta, dan melabelimu pencari perhatian."
"Pencari perhatian?"
"Karena kau pingsan." Alaric mendesis jengkel. "Wartawan itu tidak bisa menyaring berita dengan benar. Mengapa mereka menganggap kerajaan sebagai musuh?"
"Santapan yang bagus untuk mengeruk keuntungan."
"Mereka melihat kami sebagai ladang," kata Alaric ketus. Melempar koran itu ke bawah kaki Nina. "Bakar semua koran pagi ini."
"Baik, Yang Mulia."
"Kenapa kau marah pada Nina?" Pandora mendesak saat Nina berjalan pergi dengan koran di tangan. Alaric baru saja bersikap kasar pada pengawalnya. "Dia tidak salah. Aku melihat koran itu di meja."
"Dia tidak salah, tetapi ceroboh. Aku tidak melihat perbedaan."
"Ya Tuhan, kau tidak bisa begitu padanya. Kasihan dia. Nina terlihat takut tadi."
Alaric berbalik untuk menatapnya. Dan Pandora merasakan dorongan harus melarikan diri. Di kepalanya yang normal, reka ulang adegan semalam terlampau jelas. "Kau beruntung karena aku tidak memecat pengawalmu."
"Kau baru memperkerjakannya. Tidak etis jika langsung memecat."
"Kau ingin sarapan?"
"Ya, aku lapar. Ayo, kita perlu turun untuk makan." Pandora hampir lupa diri kalau ini soal makanan. "Apa jadwal hari ini?"
"Tidak ada."
"Tidak ada? Apa kau serius?"
"Kau mendengarku," ujar suaminya datar. "Dokter menyarankan agar kau istirahat. Kondisimu belum seratus persen pulih."
"Aku merasa sudah siap seribu persen."
Alaric tidak lagi berkomentar. Menuruni tangga agak menyulitkan. Sementara Pandora masih setia mengekor di belakangnya. Berpikir tentang ciuman semalam. Bagaimana bisa gadis polos minim pengalaman dan naif sepertinya bisa leluasa berciuman? Apa ini karena pengaruh internet yang luar biasa parah?
Atau pikirannya terlalu banyak berfantasi tentang novel romansa menggelikan?
"Aw!"
Terdengar suara mengaduh dan itu berasal dari dirinya. Pandora mundur untuk mengusap dahinya. Tiba-tiba merasa panik dan cemas saat sang suami berbalik, memandangnya penuh tanya. "Kau mendengarku?"
"Dengar," sebaiknya dia jujur. "Maaf. Kau bicara apa?"
Alaric kembali memasang raut datar legenda yang terkenal di banyak kalangan.
"Lupakan saja. Lain kali perhatikan langkahmu saat berjalan."
***
"Dia gagal? Dan sekarang tertangkap?"
Ellie memberi senyum pengertian saat dirinya meminta beberapa pelayan untuk membantu koki berbenah di dapur. Sementara dirinya akan memastikan semua hidangan makan siang pasangan raja dan ratu telah siap. Terutama saat ada tamu yang berkenan berkunjung.
"Berita itu ditarik dari peredaran. Yang memerintahkannya adalah sang duke sendiri."
Samar-samar terdengar raungan sinis. "Ah, mengejutkan. Aku benar-benar tidak percaya ini terjadi."
Ellie menarik napas. Mengembuskannya pelan saat matanya menangkap bayangan Ilama bersama seorang gadis. Yang ia kenal sebagai salah satu staf ahli. Yang mengurus pakaian serta aksesoris ratu di istana. Paling utama, mereka ada di lingkaran yang sama.
"Aku tidak mendapatkan kabar lagi tentang apa pun. Kami kehilangan kontak."
"Madam Ellie," seseorang menyapanya dengan senyum. "Koki memintaku untuk mencari Anda. Bertanya kemana keju-keju berada."
"Oh, ya ampun." Ellie bernapas pendek. "Aku hampir lupa. Izinkan aku mengurus sisanya sebentar. Dan kau, Nirvana. Tunggu di sini."
"Ada yang bisa kubantu?"
"Tentu." Bibir Ellie mengulas senyum manis. "Kau bisa diandalkan, seperti biasa. Tolong, jangan pergi kemana pun. Apa pun yang kau dengar, siapa pun yang kau lihat di lorong ini, kabari aku. Berpura-puralah sibuk. Kau bisa mengatasi ini."
"Omong-kosong ini. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Biar kita mencari cara lain."
Ellie terburu-buru pergi saat gadis manis bertubuh pendek dan sekal itu memasang akting yang mumpuni. Ellie sangat baik padanya. Berulang kali melindunginya dari bentakan staf senior dan Madam Ilama. Nirvana hanya berutang budi. Dia tidak pernah menolak saat Ellie meminta bantuan. Semua tergolong mudah.
"Apa yang harus kulakukan?"
Salah satu pintu terdorong lebar. Nirvana berjengit dari tempatnya dan terkejut menemukan Ilama berdiri angkuh di depannya. "Sedang apa kau?"
"Aku menjatuhkan sesuatu," kata gadis itu takut. "Kepala koki sangat marah. Dia memintaku kembali untuk mencari."
"Gadis ceroboh," hardik wanita itu kasar. Memandang Nirvana dengan sorot merendahkan sebelum berjalan pergi.
Kepalanya menunduk, membungkuk mengiringi kepergian tangan kanan nomor satu ratu. Tidak ada satupun yang berani menentang keputusan Ilama. Dia seolah-olah berkuasa karena posisinya cukup kuat.
"Kau butuh bantuan?"
Nirvana tersentak saat melihat Nakia, perempuan manis yang menyapanya dengan kedua mata menyipit. Selintas, rasa cemas bernaung di atas kepala. Melirik pintu yang terbuka dan Nakia mengikutinya, menjulurkan kepala untuk melihat dan kembali tersenyum.
"Tidak ada siapa-siapa. Kau kenapa?" Dan menutup pintu itu kembali.
"Aku menjatuhkan barang."
Nakia menghela napas prihatin. "Semua orang memiliki nasib buruknya sendiri. Kau perlu bantuan?"
"Tidak, terima kasih." Gadis itu memberi senyum. "Aku akan menemukannya sebentar lagi dan kembali ke dapur."
"Oke. Semoga para senior tidak memarahimu."
Nakia berjalan pergi. Benar-benar meninggalkan gadis itu sendiri. Sampai Nirvana meneleng, mengamati sekitarnya dan melarikan diri secepat mungkin. Bertemu Ellie di persimpangan koridor menuju taman.
"Madam Ellie."
"Ya Tuhan, aku percaya sekaligus cemas padamu." Ellie meremas lengan Nirvana lembut. "Kau menemukan sesuatu?"
"Iya!" Gadis itu menjawab riang. "Madam Ilama dan Kael. Kemudian ada Nona Nakia."
"Nakia?" Ellie mendapati tenggorokannya sakit secara tiba-tiba. "Nakia di dalam?"
"Dia muncul setelah Madam Ilama pergi dan menutup pintu," tukas Nirvana jujur. "Apa sesuatu yang salah baru saja terjadi, Madam?"
"Semoga Tuhan melindungimu dan Pandora." Ellie memeluknya sebentar dan Nirvana memberi cengiran lebar. "Kau anak yang baik. Ayo, ke dapur. Koki kesayangan mencarimu."
***
"Pelakunya sudah tertangkap?"
Pandora berdiri dari kursinya dengan cemas. Dia hampir saja memekik karena terkejut sekaligus beruntung. Suaminya pulang lebih awal. Alaric tiba-tiba pergi dalam urusan lain.
"Sudah."
"Dia mau bicara?"
"Tidak."
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
Alaric mengernyit. Alisnya yang rapi saling menekuk satu sama lain. "Kau sedang apa di sini?"
"Menunggumu," balas gadis itu polos. "Aku perlu jawaban. Sekadar ingin tahu apa alasan laki-laki itu membawa telur dan melemparnya."
"Kau tidak perlu memikirkannya. Itu akan menjadi urusanku."
"Mana bisa begitu?" Pandora mengejar langkah suaminya yang terburu-buru pergi ke ruang kerja. "Aku juga perlu tahu apa alasannya. Walau hanya sedikit. Dia benar-benar hendak menyerangmu?"
"Motifnya masih diragukan. Karena pelaku belum mau bersuara," kata Alaric dingin. "Kemungkinan menyerangku atau melemparkannya dengan sengaja padamu."
"Tapi telur itu sengaja diarahkan padamu."
Ekspresi Alaric berubah keras. "Karena dia menyadari kau mungkin menangkap basah dirinya dan akan mengorbankan diri untukku."
"Bisa saja," sahutnya pelan. Menyadari arah sasaran berubah karena pelaku terburu tertangkap matanya. "Apa kau tahu asal-usulnya?"
"Kau sudah minum obat?"
"Aku sedang bertanya padamu," ujarnya agak kesal. "Jangan mengalihkan percakapan."
"Aku juga sedang bertanya padamu," suaminya yang keras kepala tidak mau mengalah. Tidak semudah itu. "Jawab saja."
"Sudah. Lalu, bagaimana?"
"Belum terlihat jelas. Dia suka berpindah-pindah. Saksi mata menuturkan dia sebelumnya ada di Damais."
"Damais?"
"Kau sebaiknya istirahat. Aku yang akan mengurus ini. Kupastikan dia bicara. Dan kalaupun ada seseorang yang membayarnya, kita akan tahu."
"Kau mau memberitahuku?"
"Untuk apa?"
"Aku bisa berjaga-jaga," tukasnya pelan. "Kita tidak tahu seandainya pamanku juga terlibat dalam perencanaan ini. Dia bisa saja dilukai, bukan?"
Alaric memandang istrinya dalam diam. Kegelisahan itu melumuri wajahnya yang cantik. "Kau tidak perlu cemas. Itu tidak akan terjadi."
"Aku bisa saja berpikir seperti itu, tapi tidak bisa mengenyahkannya. Semua terasa sulit. Kalau mereka ingin melukaiku, sebaiknya hanya aku. Tidak pada keluargaku."
"Kau ini bicara apa?" Suaminya berkata dengan nada jengkel. "Tidak ada siapa pun yang pantas dilukai. Tidak dengan kekerasan sekalipun."
Barangkali yang Alaric ucapkan benar. Namun tetap saja, rasanya berjalan cukup sulit. Pandora mendapat banyak kebencian setelah dirinya menjabat sebagai Duchess dan istri Alaric. Dalam kurang dari hitungan hari, hidupnya berubah pesat.
"Sepertinya memang aku harus pergi," ucapnya getir. Secara tiba-tiba memilih untuk bangun dan membiarkan ini menjadi urusan para pria. "Berhati-hatilah."
Pandora terdiam. Membeku karena mendapati salah satu tangannya tertahan tanpa suara. Ia menunduk, lekas menyingkirkan rasa asing yang mendadak menyelinap masuk, membuatnya terasa semakin rumit.
"Aku meminta salah seorang keamanan untuk berjaga di sekitar pamanmu," ucap Alaric lamat. Menyadari kalau Pandora tidak menatap ke arahnya, tetapi mendengarnya. "Kau tidak perlu cemas. Pikirkan dirimu sendiri mulai dari sekarang."
Kepala itu terangguk. "Aku akan duduk di taman untuk menghabiskan hari."
Alaric baru benar-benar melepas tangannya saat Pandora perlahan mundur, menarik sebelah tangannya untuk bebas dan berjalan pergi.
***
"Apa yang terjadi?"
Dimitri menengadah, menatap istrinya yang baru saja muncul setelah menghabiskan waktu untuk menjamu tamu. Laura memandangnya dengan cemas, menarik kursi untuk duduk di sebelahnya. "Duchess kembali mendapat sorotan. Kali ini benar-benar membuat kita prihatin."
Laura mengangkat alis. "Media? Atau Alaric yang memberitahumu?"
"Alaric. Dia menarik semua berita untuk tersebar. Belum sampai ke kota, baru di Cornelia. Kembali menjadi perbincangan."
"Ya Tuhan, apa yang terjadi? Mengapa semua menjadi seperti ini?"
Kepala Dimitri tertunduk. Menatap bayangan berkas yang membuatnya sakit kepala. "Pelaku menyerang Alaric, tetapi Pandora menolongnya. Dia menjadikan dirinya sendiri perisai agar Alaric tidak terkena lemparan telur busuk itu. Sempat tidak sadarkan diri semalaman."
"Kondisinya sudah membaik?"
"Aku baru saja menghubunginya. Alaric bilang sudah. Pagi ini mereka sarapan bersama. Pandora perlu istirahat karena dia denam semalaman." Dimitri membalas lirih.
Laura menarik napas, memandang raut suaminya yang muram. Lalu memeluk lengannya, menguatkan. Memberi afeksi lemah sebagai bentuk penghibur. "Apa kita harus pergi ke sana? Menjenguk? Memastikan apa yang terjadi?"
"Apa begitu menurutmu? Ide terbaik?" tanya suaminya.
"Ya, atau kita bisa meminta Pandora datang ke istana. Kita perlu bertanya sesuatu. Apa yang koran bicarakan?"
"Duchess kembali menarik perhatian. Membuat orang-orang penasaran sekaligus cemas." Dimitri membalas pahit. "Kebanyakan mencela karena Pandora pada dasarnya mencari ketenaran dengan menikahi Alaric."
Laura terdiam. Ia tidak bisa bicara banyak tentang hal ini. Suaminya juga tahu. Risiko Pandora terlampau besar seandainya dia hidup di lingkungan istana yang bukan dari kalangannya.
"Aku berniat mencari asal-usulnya."
"Maksudmu?"
"Pandora tampak tidak seperti kalangan bawah biasa," ujar Dimitri skeptis. "Matanya sangat hijau. Ini mengingatkanku akan kenangan pada sahabat ayah dulu."
"Mendiang Viscount yang telah lama meninggal?"
"Ya. Karena kanker pankreas. Kau masih ingat?"
"Tentu saja. Raja sangat berduka karena hal itu. Aku mendengar sahabatnya tidak punya anak."
Dimitri menarik napas, membuangnya perlahan. "Matanya sangat mirip. Tapi tidak hanya satu, dari sekian banyak mata serupa, Pandora sedikit mengingatkanku padanya. Apa Alaric menyadarinya?"
"Kita perlu bertanya?"
Senyum Dimitri terpatri. "Aku akan berdiskusi terlebih dulu. Kalau Pandora berniat membantu, ini semakin mudah. Tapi kurasa itu tidak diperlukan."
"Ini hanya akan membuatnya semakin sedih seandainya tahu kalau semua hanya palsu. Berdasarkan kemiripan tidak merubah situasi apa pun. Dia tetap dari golongan bawah."
Dimitri tidak akan bisa menampik hal tersebut. Pandora akan selamanya terbayang sebagai sosok yang penjilat. Dikarenakan dirinya tidak berasal dari kalangan yang sama dan asal-usulnya tidak disebarluaskan. Yang paling utama, tidak ada indikasi mengenai hubungan mereka sebelumnya. Informasi yang tidak transparan membuat publik banyak menaruh curiga. Sama halnya dengan keluarga bangsawan lain. Yang terang-terangan membenci Pandora dan menganggapnya musuh.
"Seharusnya mereka membenci Alaric, bukan Pandora. Yang bersikap buruk adikku, bukan istrinya."
"Apa kau baru saja menyalahkan dirimu sendiri?" tanya Laura lembut. "Tidak ada. Ini semua sudah sesuai dengan keputusan. Mereka hanya perlu menjalaninya. Saling bahu-membahu mengatasi situasi sulit ini. Hanya satu tahun, ingat?"
"Kau benar," senyumnya lekas mengembang. "Satu tahun dan semua akan kembali seperti biasa."
Pintu berderit. Laura mengangkat kepalanya dari bahu sang suami dan terkejut melihat putra kembarnya masuk dengan perisai dan topeng. "Lihat kekuatan superku!"
"Yang Mulia," dua staf berlarian sembari membungkuk merasa bersalah. "Maafkan kami. Si kembar tidak mau diam sejak tadi."
Laura tertawa. Mengamati tingkah lucu putranya dan menggeleng. "Tidak apa. Biarkan saja mereka bermain."
"Uh, Papa?"
"Apa ruangan ini cocok seperti taman bermainmu, Son?"
Keduanya menggeleng dengan cengiran polos. "Tidak, Papa. Maafkan kami." Kemudian berlari pergi.
***
"Madam Ilama."
Semua orang menekuk lutut saat melihat tangan kanan kepercayaan ratu mampir ke dapur. Para koki sedang istirahat di kamar mereka. Setelah melewati hari yang panjang, ini saatnya untuk melepas lelah.
"Kau sibuk, Ellie?"
Wanita itu menoleh. Memberi Ilama reaksi kecil berupa sebelah alis terangkat. "Apa yang kau butuhkan?"
Ilama mendekat dengan seulas senyum misterius. "Ratu memberi perintah padaku untuk bertemu denganmu di saat senggang."
Ellie mengernyit. "Aku cukup luang sekarang. Apa kita perlu duduk?"
"Ah, ya. Dan secangkir teh melati, mungkin?"
Ellie mengangguk. Sementara Ilama menarik kursi untuknya sendiri. Memerhatikan dapur dengan seksama, menghela napas berat dan gerakan jemarinya di atas meja terlihat tidak sabar.
"Kau perlu apa? Mengapa ratu memintanya secara diam-diam?"
"Kau pikir aku tahu?" tanya Ilama skeptis. "Aku ingin beristirahat dan ratu tiba-tiba berbincang."
"Apa itu?"
"Kau perlu pergi ke Cornelia."
"Oh? Untuk?" Ellie sedikit terkejut. "Bertemu Pandora?"
"Ya, tentu saja. Ratu tahu kau dan Pandora dekat. Berita tidak sedap baru saja menimpa Duchess kita di Cornelia. Kau paham itu, bukan?"
"Aku tidak tahu apa pun," sahut Ellie getir. "Apa yang terjadi?"
Ilama menarik napas berat. "Aku mendengarnya saat menguping percakapan raja sebelumnya. Pangeran Alaric mengabari bahwa seseorang baru saja menyerangnya. Beritanya belum sampai ke portal satu negara, tetapi berita itu kembali ditarik sebelum menciptakan konflik baru. Kondisi keponakanmu tidak aman."
"Apa hubungannya dengan Pandora?"
"Dia melindungi suaminya. Pandora yang terkena lemparan itu sampai tidak sadarkan diri," kata Ilama dingin. "Duchess tidak sadarkan diri semalaman serta demam."
Ellie membeku. "Kau serius?"
"Ratu juga bicara padaku. Semua kisah lengkapnya. Karena kau paling memungkinkan untuk ke sana, kau sebaiknya pergi besok. Waktumu hanya satu hari."
"Apa Pandora tahu aku akan mampir?"
Kepala Ilama menggeleng. "Tidak, tetapi ratu memastikan kalau Pangeran Alaric tahu. Kau akan aman di sana. Kau bisa pergi dengan kereta atau taksi."
"Ini hanya kunjungan biasa, bukan?"
Ilama mencibir pelan. "Apa yang kau harapkan dari pelayan seperti kita? Menumpangi limusin mewah dan pergi dengan supir? Itu tidak mungkin. Kau harus pergi sendiri."
"Aku akan pergi sendiri." Ellie menunduk, mengambil napas panjang. "Setelah menyiapkan sarapan, aku akan berangkat."
"Bagus. Sampaikan salam ratu pada Duchess di sana. Kabari aku kondisinya."
"Mengapa ratu lakukan ini?"
Sorot mata Ilama berubah lebih serius. Saat wanita itu menghela napas, memandang Ellie datar. "Ratu hanya ingin terlihat berguna untuk raja. Kau tidak tahu kecemasan yang membayangi ratu kita selama ini. Aku rasa, ada ide tersendiri. Aku tidak bisa berbuat banyak selain menurutinya. Maafkan aku, Ellie."
"Tidak apa. Aku akan mencoba mengerti."
Ilama bangun dari kursi. Menatap Ellie datar sekali lagi kemudian mengangguk untuk pergi. Benar-benar membiarkan Ellie merenung sendiri.
"Madam Ellie?"
"Nirvana? Astaga. Kau belum tidur?"
Gadis itu memberi senyum geli pada Ellie. "Belum. Aku mendapat jatah libur dua hari dari kepala koki. Ada apa Madam Ilama datang?"
"Untuk satu urusan." Ellie menjawab dengan senyum. "Kau akan pulang ke rumah besok?"
"Tidak ada siapa pun di rumah. Aku akan tidur di kamar saja."
Ellie kemudian merenung untuk berpikir hal lain. Sama sekali berseberangan dengan perintah Ilama sebelumnya.
***
Pandora menggeser lampu untuk menerangi sebuah peta yang ia curi dari meja kerja suaminya. Melihat peta Cornelia secara jelas berikut bersama kota dan desa yang tersebar.
Titik-titik merah di sana menandakan tempat penting. Sama halnya dengan titik hijau. Yang menjelaskan tanah lapang atau area perkebunan. Yang belum terjamah bangunan modern.
Pandora memandangi setiap detail dengan kagum. Ia perlu memahami letak Cornelia secara baik. Tempat-tempat strategis yang bermanfaat untuk orang sekitar. Mungkin dari warisan budaya yang dapat menjadi kunci sentral dalam pemasukan bulanan di desa.
Jam menunjuk angka sepuluh. Dan matanya belum sama sekali terpejam atau merasa berat. Pandora menghabiskan hari dengan membaca dan tidur. Rasanya cukup membosankan. Terlebih dia cukup paham letak bangunan istana dengan baik.
Nina tidak berjaga di depan pintu lagi. Seperti biasa, Pandora memintanya untuk beristirahat. Nina bisa saja terkena angin duduk semisal terlalu lama berdiri. Dia juga manusia, butuh tidur.
Suara pintu berderit membuatnya meringis. Pandora mengintip ke luar kamar dan tidak ada satupun yang terlihat. Kecuali bayangan suaminya yang letih baru saja muncul, menaiki tangga dengan olahraga tangan ringan.
Ia dengan hati-hati kembali mundur dan menutup pintu tanpa suara. Mundur tanpa menimbulkan suara dan kembali duduk di meja, membaca peta dalam diam.
Suara pintu berderit lekas membuatnya terkesiap. Hampir saja dia memaki.
"Kau belum tidur?"
"Ini baru jam sepuluh."
"Baru? Ini sudah larut."
"Kau sendiri?" tanya Pandora skeptis.
"Bisa tidak untuk sekali saja jangan membalik pertanyaan?" Alaric menimpali dingin, bersandar pada pintu dan tertarik dengan sesuatu di atas meja. "Kau mencuri peta dari ruang kerjaku?"
"Aku meminjam, bukan mencuri."
"Apa kau izin sebelumnya?"
"Tidak, tapi aku berniat meminjam. Akan kukembalikan besok pagi." Pandora berkata muram. Merasa tersinggung karena dia tidak mencuri walau itu benar adanya. "Kau sangat sibuk. Aku belum sempat bilang."
Alaric menghela napas panjang. "Tidurlah. Ini sudah malam."
"Ada perkembangan?" Sebelum suaminya pergi, Pandora harus tahu kelanjutan proses penyelidikan. Dia terlalu penasaran. "Pelaku itu, apa dia mau bicara?"
"Belum. Kurasa dia tidak akan bicara," balas Alaric masam. "Kami berniat memakai kekerasan kalau dirinya tidak mau bicara."
"Apa dia terprovokasi?"
"Dugaanku juga seperti itu. Kerajaan punya musuh tersembunyi. Sampai sekarang kami tidak mengetahuinya," aku Alaric pahit. "Peninggalan ayahku banyak yang bermasalah. Salah satunya ada di jajaran bangsawan."
"Aku tidak tahu harus bicara apa sekarang," kata Pandora pahit. Menatap sang suami dan hampir melupakan sesuatu. "Ah, raja menghubungi tadi."
"Kapan?"
"Saat kau pergi. Kami sempat berbincang sebentar. Dia bertanya keadaanku."
"Kau mengobrol dengan raja?" tanya Alaric tidak percaya. "Apa yang dia tanyakan?"
"Hanya pertanyaan biasa. Kau memberitahunya. Dan raja memintaku untuk tidak melihat berita atau apa pun untuk sementara waktu. Karena ini tidak akan terjadi hanya sekali. Apa kita dalam ancaman sekarang? Kehidupan ini tidak akan membuat kita tenang?"
Alaric tampak merenung. Mengambil napas panjang dan menyugar rambutnya secara kasar. "Ini tidak akan terjadi sekali. Berkali-kali. Dari pemimpin sebelumnya akan mendapati hal serupa. Ini bisa saja terjadi pada siapa pun. Aku, raja, kau atau Laura. Bahkan pada si kembar bisa."
"Anak-anak?"
"Musuh akan menyerang siapa saja tanpa memandang bulu, Pandora. Kenapa kau terlihat terkejut?"
"Aku tidak pernah menginjak kolam yang sama dengan kalian. Aku tidak tahu bagaimana kerasnya kehidupan para bangsawan kelas atas," balas Pandora lirih.
"Ini belum apa-apa. Tapi sejauh ini kami bisa mengatasinya. Ada alasan mengapa Dimitri menaruh perhatian berlebih pada pewarisnya. Sama halnya yang ayah kami lakukan dulu."
Pandora terdiam.
"Reputasi raja dulu memang tidak terlalu baik bagi beberapa kalangan. Tetapi dia mengayomi kedua putranya dengan cukup. Aku dan Dimitri merasa lengkap karena kehadirannya."
"Apa itu alasan kau menangis di pemakaman?"
"Kau melihatnya?" Alaric bertanya dengan nada terkesiap. Sementara Pandora berusaha memasang wajah datar walau ingin tersenyum.
"Tentu saja. Itu belum lama. Lagi pula, tidak ada salahnya laki-laki menangis saat kehilangan. Kau kehilangan sosok ayah pada saat itu. Wajar kalau kondisi itu membuatmu terpukul."
Sejenak, Alaric kehilangan suaranya. Kontan, Pandora mendekat dengan senyum. Menepuk lengan pria itu untuk memberi dukungan. "Aku juga akan merasa hancur seandainya itu terjadi padaku. Nah, sekarang waktunya untuk tidur. Aku akan kembalikan peta itu besok."
"Tidak perlu. Aku punya salinannya."
"Oh, itu untukku?" Senyum gadis itu mengembang. "Baiklah. Aku menerimanya. Aku perlu untuk menganalisa Cornelia sejauh mungkin."
Sorot kelam itu hanya menatapnya. Matanya yang gelap hanya terpaku pada matanya. Pandora merasa gemetar hanya karena melihat tatapan itu sebentar.
"Kau ingin apa?"
"Mencium."
Sebelum Pandora menolak dengan berbagai alasan, Alaric lebih dulu menunduk untuk mencium singkat pipi kirinya. Hanya kecupan ringan yang membuatnya hampir mencair di atas lantai. Senyum tipis pria itu membawanya pada kenangan pertama pertemuan mereka.
"Selamat malam."
Pandora tidak akan sanggup membalas kalimat penutup yang sama karena terlalu terkejut.