"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Nina."
Pandora tersenyum saat mendapati Nina berdiri di depan pintu kamarnya. Seperti biasa, Nina bangun lebih awal dan bersiap untuk memulai hari lebih dulu darinya.
"Apa kau tidur semalam?"
"Beristirahat dengan baik, Yang Mulia. Terima kasih."
"Aku baik-baik saja," katanya saat menuruni tangga. "Kau tidak perlu menungguku di depan pintu."
"Bukan masalah, Yang Mulia. Itu sudah menjadi kewajiban."
Pandora bereaksi dengan tawa hambar setelahnya. Kemudian berbelok untuk pergi ke ruang makan. Namun melihat pelayan yang masih sibuk, dia kembali mundur. Berkeliling koridor bersama Nina.
Dan samar-samar mendengar suara seseorang dari balik pintu. Ia mengenal suara ini. Dengan jelas dan kerinduan yang terlanjur membuncah. Pandora sedikit berlari, mendorong pintu dengan tidak sopan dan melihat Ellie ada di ruang kerja suaminya.
"Ellie?"
"Oh, ya Tuhan."
Pandora ingin menangis sekarang. Ia bergegas menerjang Ellie, memeluknya dan tampak lega. Nyaris, hampir saja air matanya tumpah. "Aku ingin sekali menghubungimu. Apa kau bertemu paman?"
"Aku mampir sebelum pergi ke sini," kata Ellie senang. Meremas tangan Pandora. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik. Seperti yang kau lihat," dan Pandora bergeser saat melihat tamu lain yang ikut datang. Gadis manis dengan cepol rambut yang mengesankan. "Oh, kau bersama seseorang?"
"Selamat pagi, Your Grace. Aku, Nirvana."
"Pandora." Mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya. Selintas, Nirvana agak ragu. Dan Ellie mengangguk dengan senyum. Gadis itu menghapus keraguannya dan membalas Pandora. "Kau tampak muda."
"Dia memang masih muda."
Pandora masih senang mendapati Ellie di sini. "Kurasa Ellie bisa sarapan bersama kita, kan?"
Alaric bangun dari kursinya. "Tentu saja. Mereka berdua pergi dengan kereta dan itu melelahkan. Sarapan sebentar lagi. Kita perlu duduk untuk menunggu sampai semua selesai dihidangkan."
Ellie bergeser saat Alaric pergi lebih dulu. Saat Pandora mengalungkan tangannya pada lengan Ellie yang kurus. Lalu meraih tangan Nirvana dengan ramah. Menjadi seorang Duchess merubahnya. Kepribadian anti sosial kini harus segera dia hapuskan. Pandora akan merana sendirian sampai tua seandainya dia tetap pada egonya.
"Kau sudah sarapan?" tanya Pandora saat Nirvana dengan malu menunduk.
"Belum, Yang Mulia. Madam Ellie hanya memberiku roti dan susu."
"Aku hanya punya itu," kata Ellie getir.
Pandora membawa Ellie pada Nina di ujung pintu masuk. "Nina, ini Ellie. Bibiku. Dan gadis manis ini bernama Nirvana."
Nina dengan sopan membungkuk. "Halo, senang bertemu kalian."
"Kami juga. Kau tampak tegas. Astaga, bahunya seperti robot. Latihannya pasti keras sekali."
Komentar Ellie membuat Nina mengangguk. Pandora membawa mereka ke ruang makan. Saat Alaric lebih dulu duduk dan Nirvana dengan malu meremas tangan Ellie.
"Kita tidak seharusnya duduk di sini, bukan?"
Alaric meneleng, memandang Nirvana datar. "Bukan masalah. Ini kunjungan yang tiba-tiba. Lagi pula, menu sarapan kami banyak."
"Aku hanya diperintahkan ratu untuk datang kemari."
Pandora menurunkan tatapannya dari pelayan yang memberinya segelas teh panas pada Ellie. Alisnya menyatu, mendengar Ellie menyebut ratu, membuatnya terusik. "Ratu?"
"Ya, Pandora. Beliau tahu kalau kita berdua dekat."
Alaric berdeham kecil. Sementara Pandora memindahkan tatapannya dari Ellie pada suaminya. "Makanlah. Ambil hidangan yang kalian suka."
"Apa yang membuatnya memutuskan untuk mengirimmu pergi?"
"Karena mencemaskanmu," ujar Ellie senang. "Ini kesempatan karena aku bisa melihatmu. Laito ingin sekali ikut dan dia tidak bisa. Hanya titipan salam untukmu."
Pandora hanya mengangguk dengan senyum. Selanjutnya tidak bersuara lagi.
***
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kau mau bicara?"
"Semuanya terjadi secara tiba-tiba. Aku dan Alaric pergi ke sebuah museum baru. Kami menjadi tamu untuk membuka pameran tersebut ke publik. Lalu, yah, semua terjadi. Aku belum lupa rasanya saat lemparan telur itu mengarah padaku."
Ellie meringis. Sementara Nirvana memasang raut pilu. "Terkena lemparan telur sama sekali tidak menyenangkan. Saat aku bersekolah dulu, cukup menyakitkan. Kepalaku sakit sampai malam. Rambutku sangat bau."
"Aku juga mengalaminya. Posisinya aku tidak sadar," kata Pandora miris. "Aku tidak tahu bagaimana diriku yang kacau pada saat itu. Karena di sana ada para wartawan, semua mengambil gambar secara terbuka."
"Oh, ya Tuhan. Beritanya belum sampai ke kota. Tapi kerajaan tahu kabar buruk ini."
Pandora memandang Ellie cemas. "Dia mengincar Alaric, bukan aku. Lemparan telur itu terarah padanya. Aku hanya secara spontan berusaha melindunginya."
Ellie terdiam. Sedangkan Nirvana ikut mengangguk. Menatap Pandora nelangsa. "Aku tidak bisa membayangkan kesialan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Astaga, mulutku. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi."
"Semoga Duchess dan keluarga diberi perlindungan. Membayangkan saja membuat perutku mual," ujar Nirvana simpatik. "Yang Mulia, tetaplah kuat. Badai akan selalu ada."
"Terima kasih banyak," balas Pandora ramah. "Kau baik sekali. Terima kasih karena mau menemani Ellie datang. Dia agak canggung semisal pergi dengan transportasi umum."
Nirvana melebarkan senyumnya. "Aku tahu. Saat kami bersama-sama pergi, Madam Ellie terlihat gelisah. Kakinya gemetar."
"Nirvana," tegur wanita itu tanpa menyalahinya. Nirvana hanya terkikik kecil.
"Ini kudapan dan teh panasnya. Silakan."
"Terima kasih."
"Minumlah. Koki di sini pintar membuat campuran teh baru. Mereka mencari cara agar lidah para anggota kerajaan tidak bosan."
"Apa ada yang datang berkunjung?"
Pandora menggeleng. "Belum ada. Aku tidak tahu karena mereka enggan, atau memang Alaric tidak membuka tempat ini untuk umum."
Nirvana menghela napas. "Tidak semua tamu menyenangkan," tukasnya pahit. "Kadang-kadang mereka bisa saja bersikap mengesalkan."
"Aku setuju," timpalnya.
"Kau tahu siapa pelakunya?"
"Tidak secara spesifik, tapi dia seorang laki-laki." Pandora membalas getir. "Tampak muda dan mungkin usianya tidak jauh berbeda denganku. Aku tidak bisa mengenalnya karena dia memakai jaket kulit dan topi."
Ellie mendesah. Melirik Nirvana dalam diam. "Laki-laki?"
"Ya, laki-laki. Alaric sudah menangkapnya, dan pelaku itu belum mau bicara."
Tiba-tiba raut Ellie berubah pucat. "Kau serius? Bisa aku bertemu?"
"Madam?" Nirvana cemas. "Apa maksudnya?"
"Ellie, ini berbahaya." Pandora menukas tajam. Menatap Ellie dengan sorot menegur. "Kau tidak sebaiknya pergi. Kurasa pelaku tertahan di penjara sekarang."
Ellie hanya mengangguk. Menghabiskan tehnya saat Alaric muncul dari dalam. Menyembunyikan tangan di saku celana.
"Ellie, bisa kita bicara sebentar?"
"Ya, Yang Mulia." Ellie lekas bangun. Memberi Pandora dan Nirvana senyum sebentar sebelum mengekori pria itu pergi.
"Aku tiba-tiba takut."
Pandora menghela napas. Memainkan cangkir dalam bungkam. Rasanya sesak. Napasnya berubah lebih berat. "Apa istana baik-baik saja? Ellie?"
"Madam Ilama." Nirvana dihadang keraguan sebelum bersuara. "Madam Ellie dan Madam Ilama semakin tidak terlihat bersahabat. Tapi aku tidak bisa menjelaskan dengan pasti karena tidak terlalu paham."
Pandora mengangguk. Memberi Nirvana senyum perhatian. "Bukan masalah. Aku hanya perlu memastikan kalau Ellie baik-baik saja. Tiba-tiba saja aku merasa cemas." Kemudian berpaling untuk menoleh ke belakang dan sosok keduanya tidak lagi terlihat mata.