"Jadi, ratu yang memintamu datang?"
Ellie menghela napas. Melirik sekelilingnya dalam diam sebelum menjawab. "Bukan, tetapi Ilama."
"Ilama?"
"Atas perintah ratu."
Alaric menautkan alis. Memandang staf senior di bagian dapur itu dengan pandangan menelisik. "Apa kau akan menginap?"
"Tentu saja tidak, Yang Mulia. Aku akan kembali. Pekerjaan tidak bisa ditunda lebih lama," ujar Ellie merasa bersalah. "Aku telah melihat Pandora dan akan mengabarinya pada ratu secepatnya."
Alaric mendesah. "Pelakunya laki-laki. Berusia dua puluh tiga tahun. Tidak berkuliah dan hanya tamatan bangku menengah pertama."
Ellie terkesiap. "Tamatan menengah pertama?"
"Dia tidak bicara tentang keluarganya dan kami akan mencari tahu melalui data kependudukan sipil. Dia berpindah-pindah tempat. Dan sampai sekarang masih bungkam."
"Apa pelaku menyerang Anda?"
"Awalnya. Tapi aku sendiri tidak yakin," timpal Alaric. "Dia sadar kalau Pandora peka terhadap keberadaannya. Kemudian semua terjadi begitu saja. Kita tidak tahu itu disengaja atau tidak. Kecelakaan bisa saja terjadi. Atau dia hanya punya maksud terselubung pada keluarga kerajaan."
"Semoga Tuhan melindungi Anda dan Pandora," ucap Ellie gemetar. "Aku tidak bisa membayangkan hal buruk kembali menimpa Pandora."
"Aku juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi padanya." Alaric berujar lamat. Berpaling agar mata Ellie tidak menangkap ekspresi wajahnya sekarang. "Kau melihatnya. Duchess menjadi sasaran kebencian setiap orang. Beberapa menaruh harapan, tetapi sebagian besar tidak. Terlanjur mencelanya."
Ellie hanya diam.
"Maafkan jika aku lancang. Tapi kupikir, ada maksud provokasi dari setiap kejadian yang menimpa Pandora."
"Provokasi?"
"Seperti seseorang melempar umpan, dan menyerang Pandora sebagai pelampiasan," papar Ellie menjelaskan. Kemudian terdiam saat melihat raut Alaric saat ini. "Itu hanya asumsi, Yang Mulia. Bukan bermaksud membuka masalah baru."
"Aku menerima masukanmu," tukas Alaric santai. "Kebencian anggota kerajaan memang telah mendarah daging. Itu bukan sesuatu yang bisa kita hindari. Termasuk pada Pandora."
Ellie hanya diam. Mengangguk karena tidak sanggup bersuara lagi.
"Tapi aku perlu bantuanmu."
Tiba-tiba suasana terasa tegang.
"Sebisa mungkin, Yang Mulia."
Alaric menarik napas. Mengetukkan jemarinya di atas meja. Memandang Ellie serius. Menaruh perhatian pada wanita itu. "Kau orang kepercayaan Pandora. Kupikir kau akan melakukan apa pun untuk Pandora."
"Aku menyayanginya. Dia seperti putriku sendiri. Pandora yang malang. Dia kehilangan banyak orang sejak kecil."
"Apa yang terjadi?"
"Kakak Laito adalah ayah baptisnya. Orang tua Pandora tewas karena kecelakaan pesawat ketika usianya lima tahun. Tidak lama ayah baptisnya menyusul karena sakit parah. Laito yang mengurus Pandora."
Alaric terdiam.
"Pandora anak yang baik. Laito berusaha keras membuatnya tumbuh dalam lingkungan penuh cinta. Meski tidak berasal dari keluarga berada dan lengkap." Ellie tanpa sadar berkaca-kaca. Teringat Pandora yang berusia sepuluh tahun mengetuk pintu rumahnya untuk memberinya setangkai bunga matahari dari kebun milik sang paman. "Saat dia bekerja untuk istana, aku sangat senang sekaligus cemas. Dia banyak belajar. Dia tidak pernah mau menyerah."
"Apa dia punya kekasih sebelumnya? Berkencan?"
"Maaf, Yang Mulia?"
Suasana berubah dalam sekejap. Alaric mendengus, nyaris menertawakan dirinya sendiri saat bangun dari kursi. Memandang Ellie serius dan mereka berpindah dari topik membahas masa lalu Pandora pada topik lain.
***
"Madam Ellie?"
"Nirvana, apa ada seseorang di istana yang tidak kau suka?"
Gadis itu mengernyit. Memerhatikan langkah Ellie yang terkesan berhati-hati. "Tentu saja ada. Aku juga manusia. Istana juga bukan tempat yang bagus untuk bergosip."
Ellie menghela napas. Menarik tangan Nirvana agar berjalan lebih cepat. "Aku berharap ini bisa menjadi rahasia kita berdua."
"Tentu saja, Madam Ellie. Percaya padaku." Senyum lebarnya membuat Ellie lega. "Duchess sangat baik. Aku hampir tidak mengenali dirinya yang sekarang dengan yang dulu. Tapi sejak dulu dirinya memang menawan. Aku pernah melihatnya tanpa kacamata dan piyama saat mencuci muka di taman."
"Pandora memang semaunya," kata Ellie masam. Dan Nirvana tertawa.
"Duchess mencintai kebebasan," kata Nirvana hangat. "Aku mendengarnya bicara tentang budaya di luar sana. Negara yang tidak akan pernah kujamah dalam realita. Hanya bisa dalam mimpi. Dan dia membuatnya terdengar nyata."
Ellie tersenyum. Melihat bagaimana binar pada mata Nirvana benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya. Gadis itu polos, mengingatkan Ellie pada Pandora remaja yang berapi-api dan haus ilmu.
"Kalau bisa saja aku pergi, aku ingin di Cornelia."
"Kalau kau pergi, aku sendirian?"
Nirvana tertawa. "Oh, jangan rindukan aku."
Mereka pergi ke sebuah toko. Ellie masuk ke dalam dan mencoba beberapa topi serta masker pada Nirvana. Serta membelikan gadis itu jaket.
"Madam? Ini untuk apa?"
"Kita punya misi penting."
"Apa kita akan melakukan tindakan tak bermoral?"
"Bayaranku tidak cukup sampai harus melakukan tindakan memalukan itu?" tanya Ellie balik dan Nirvana mendengus pelan.
"Aku penasaran." Nirvana mengekori Ellie dengan langkah lebar. "Apa kita akan memata-matai seseorang lagi?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Ke sebuah tempat." Ellie menukas dengan senyum dan Nirvana merasakan dadanya berdebar. "Kau akan tahu setelah melihatnya, Nirvana. Semoga kerasnya dunia tidak membuatmu membenci kehidupan."
"Aku sudah benci hidupku," ucap gadis itu pahit. "Tapi aku bekerja sekarang. Aku bisa melupakan kesedihan itu dan sibuk melayani keluarga kerajaan."
Ellie menuntunnya sampai ke sebuah tempat. Setelah berjalan kurang lebih dua puluh menit, mereka sampai di sebuah pondokan kecil yang ada di sudut kota. Cukup kumuh karena yang mendominasi tinggal di sini adalah gelandangan dan mereka yang merantau belum menemukan pekerjaan tetap.
"Permisi."
"Ya?"
Ellie berbisik dalam bisikan lirih, dan pria berpakaian serba hitam segera memberinya tempat untuk masuk. Nirvana merasakan dirinya berdebar keras. Napasnya berantakan, matanya yang polos melebar cemas.
"Madam?"
"Tidak lama. Hanya sebentar, Nirvana."
Remasan tangan Nirvana mengencang. Saat Ellie berbelok ke sebuah lorong dan samar-samar mendengar suara rintihan sakit yang mengusik telinga.
"Ya Tuhan."
"Tidak terlalu parah. Kami hanya memberinya sedikit sentuhan agar mau bicara. Tapi dia sama sekali tidak mau bicara."
Nirvana mundur untuk memberi jarak. Matanya memandang Ellie penuh cemas. Lalu memilih untuk bersandar pada jendela. Mengamati dari kejauhan.
"Kalau kau mau keluargamu selamat, kau seharusnya bicara."
"Aku lebih baik terbakar di neraka!"
Nirvana gemetar mendengar bentakan keras itu dari depan. Kedua matanya memicing, menyesuaikan dengan cahaya matahari dari jendela. Lalu menarik napas, menenangkan rasa takutnya yang berlebihan.
"Dasar berlebihan, semua keluarga kerajaan! Itu hanya lemparan telur biasa, demi Tuhan. Kalian semua berlebihan!"
Kepala Nirvana berpaling, menatap seseorang dengan masker dan jaket abu-abu misterius yang memandang lurus ke arah jendela. Saat mata mereka bertemu, perempuan itu tiba-tiba pergi. Menghilang cepat menghindari tatapan matanya.
Nirvana merasakan sekujur tubuhnya membeku.
***
"Aku akan merahasiakannya, Madam Ellie. Jangan cemas." Nirvana memberi senyum separuh. Setelah Ellie mengantarnya sampai ke pintu asrama, wanita itu baru meninggalkannya sendiri. Berjalan melintasi lorong dan melihat Ilama sedang berbincang dengan seseorang.
"Ellie!"
Ellie menarik langkahnya untuk diam. Bertahan selama beberapa detik saat Ilama mengejarnya. Menatapnya penuh tanya. "Kau sudah kembali?"
"Aku akan bertemu ratu sekarang."
Ilama mengangkat alis. "Untuk apa?"
"Membicarakan kondisi Pandora, tentunya. Ada apa?" tanya Ellie skeptis. "Kau terlihat terkejut, atau hanya perasaanku saja?"
"Kau bergurau," sela Ilama dingin. Suaranya tiba-tiba sinis. "Ratu ada di perpustakaan. Kalau kau mau menemuinya, silakan."
Ellie memandang Ilama sekali lagi. Sorotnya terlihat berapi-api penuh tekad. Entah apa yang merasuki kepalanya sekarang. Melihat Ilama hanya membuatnya bertambah kesal.
"Aku pergi."
"Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri," timpal Ilama datar. "Mau bagaimanapun juga, aku orang kepercayaannya. Kami berdua dekat."
"Kau berbicara seolah-olah dekat satu sama lain," ketus Ellie muram. "Padahal kasta kalian berbeda. Semoga kau tidak lupa hal itu, Ilama."
"Mengapa kau terkesan membenciku?"
Ellie menahan langkahnya. "Aku tidak membencimu," dengan dengusan pahit. "Kau salah tentang itu."
"Wajahmu berkata lain."
Sepenuhnya Ellie mengacuhkan. Ia terburu-buru pergi untuk menemui Laura, mencarinya ke penjuru tempat dan menemukan ratu sedang duduk bersama salah seorang staf keamanan berjaga.
"Yang Mulia."
"Ellie?" mata Laura yang teduh memandangnya. "Ada perlu apa?"
"Aku membawa kabar dari Cornelia," kata Ellie pelan. Yang membuat kening Laura mengernyit, kemudian tersentak. "Aku baru saja kembali dari sana."
"Oh, ya Tuhan. Pandora. Benar," kata Laura agak cemas. "Apa dia baik-baik saja?"
"Ya, Yang Mulia. Kondisinya mulai membaik. Semua sesuai dugaan. Pandora tidak terluka parah. Hanya lebam ringan dan dokter membantunya memulihkan diri."
"Semoga Tuhan melindunginya." Laura melirik Ilama yang menunduk. "Kerja bagus, Ilana. Kau menyuruh orang yang tepat untuk melakukan tugas ini. Aku bisa secepatnya membuat keputusan."
Alis Ellie terangkat naik, tetapi dia tetap bungkam.
"Suamiku berniat membawa Alaric dan istrinya datang untuk makan malam bersama. Kami akan membahas beberapa hal. Sekiranya kondisi Pandora sudah membaik, semua akan berjalan sempurna."
"Pandora akan datang?"
"Kau memastikannya?" tanya Laura pada Ellie. "Aku tidak tahu. Suamiku belum memberi kabar kepastian. Mungkin datang, atau mungkin tidak."
"Aku rasa, Pangeran Alaric tidak akan menolak undangan penting tersebut." Ilama bersuara dengan mengejutkan. Yang membuat kening Laura berkerut. "Tentu saja. Ini ajakan raja dan ratu, duke tidak akan punya pilihan selain datang."
Laura meringis. "Aku hanya bisa membayangkan rasanya menjadi Pandora saat mendapat lemparan telur busuk dari seseorang yang tidak dikenal."
Ellie menarik napas panjang.
"Kau bisa pergi, Ellie. Terima kasih banyak untuk ketersediaannya. Kau meluangkan banyak waktu untukku. Semoga bisa kembali bertemu Pandora secepatnya."
Ellie memberi senyum. Memandang Laura penuh harap sebelum bersuara. "Yang Mulia, bisakah Anda memberi waktu agar Pandora pulang untuk bertemu pamannya di rumah?"
"Di gubuk tua itu?"
"Itu rumah," sahut Ellie murung pada Ilama. "Kami menyebutnya rumah."
"Tentu saja. Aku akan bicara dengan Dimitri nanti."
Sementara Ellie mundur, Laura memandang Ilama dengan tatapan datar. Lalu mendengus dan menunduk untuk kembali tenggelam dalam buku bacaan.
***
"Kau bisa pergi tidur, Nina."
"Satu jam lagi, Yang Mulia. Ini masih sore."
"Sore?" Pandora berjengit tidak percaya. Dia tidak segan menunjukkan langit di malam hari melalui jendela yang belum tertutup tirai. "Kau bisa menjelaskan ke mana matahari bersembunyi sekarang, Nina."
Nina tampak tidak terpengaruh sama sekali.
"Ya, baiklah. Asal kau mendapat tidur yang cukup itu membuatku lega." Pandora berjalan melintasi koridor dan mendengar Alaric bercakap-cakap bersama seseorang.
"Aku akan datang besok."
Pandora mendorong pintu, melihat suaminya bersandar pada ujung meja dan sebelah tangannya memegang gagang telepon. Alaric sudah bersiap tidur dengan piyama di tubuhnya. Tetapi masih harus bekerja.
"Kau butuh sesuatu?"
Alaric berbalik. Hanya harus mengendalikan diri agar tidak terkejut melihat istrinya masih berkeliaran seperti sedang berpatroli. "Tidak. Ada yang bisa kau lakukan untukku?"
"Kalau maksudmu membantu membedah kejahatan, aku tidak bisa melakukannya." Pandora mundur, lalu tiba-tiba pergi.
Alaric hanya memandang tanpa suara. Kebingungannya terjawab setelah kurang dari lima menit Pandora kembali dengan dua cangkir cokelat panas.
"Cokelat?"
"Aku tidak terlalu suka aroma kopimu. Minuman ini terasa segar. Karena aku tidak terlalu senang dengan rasa vanilla." Pandora mendorong cangkir itu maju. "Cobalah. Aku selalu meminum ini saat kesulitan tidur dan mimpi buruk."
"Kau bermimpi buruk?"
"Ya, tentang orangtuaku," Pandora menarik kursi untuk duduk. Merenung mengingat kenangan terakhir mereka. "Aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal karena terlalu sibuk bermain saat itu. Dan menyadari kalau kalimat itu sangat berarti."
"Mengapa kau menceritakannya padaku?"
Pandora memandangnya dengan bola mata hijaunya bersinar lebih redup. "Aku tidak tahu. Hanya merasakan kalau kau hidup merana, sengsara dan kesepian. Walau kau punya kakak sekalipun."
"Kau berpikir begitu?" tanya Alaric, terperangah.
"Tentu saja. Saat kau pergi, aku berkeliling dan merasakannya. Nina mungkin menyadari sikapku yang gelisah. Tapi aku mencoba mencari kesibukan lain."
Alaric terdiam tanpa kata. Menunduk memandang cairan cokelat manis yang ada di cangkirnya. Seketika bayangan dirinya di masa kecil ada di sana. Tergambar dengan sangat jelas. Kenangan itu justru mengacau, membuatnya terguncang dan tidak stabil.
"Apa kau pernah berpikir seandainya kau tidak menjadi pangeran, kau akan tumbuh menjadi apa?"
"Aku tidak tahu," aku Alaric samar. "Kau bertanya tentang impianku?"
"Huum. Semua orang punya impian. Termasuk pamanku yang ingin membangun peternakan kuda. Ellie yang senang dengan kebun bunga matahari. Aku yang ingin berkeliling dunia dan tidur di Antartika. Kau pasti juga memilikinya."
Alaric hanya diam. Matanya mendadak memancarkan sesuatu yang asing. Pandora mengurainya sebagai pandangan penuh kesakitan. Suaminya mungkin terlalu pandai menyimpan rapat segalanya. Yang berhubungan dengan kerajaan, akan selamanya menjadi rahasia.
"Aku tidak punya impian," ujarnya lamat. Menyadari kalau dirinya baru saja berbohong. "Kau tahu, aku sudah terbentuk menjadi anggota kerajaan sejak usiaku masih sangat muda."
"Dan rentan," selanya. "Kau melupakan hal itu. Yang paling utama soal krisis dan membangun karakter. Apa mereka sering meneriakimu?"
"Ibu," Alaric tidak percaya suaranya berubah. Pandora membuat segalanya lebih mudah terbuka. Ia tidak pernah membagi rasa sakitnya pada siapa pun. "Apa kita perlu membahas ini?"
Pandora hanya diam. Sembari menatap mata suaminya yang gundah, ia mendapati kesimpulan menyakitkan. "Tidak harus. Aku hanya tidak punya teman untuk bicara. Kau orang yang tepat malam ini."
Selintas, ekspresi suaminya berubah. Pandora bangun dari tempat duduknya. Meremas cangkir cokelatnya dengan senyum tipis.
"Aku minta maaf karena sudah mengganggu jam kerjamu. Sebaiknya, aku kembali ke kamar sekarang. Habiskan minuman cokelatnya. Itu mahal."
Pandora memilih untuk mundur. Menarik pintu berdaun besar tersebut dan sosok suaminya tidak lagi terlihat. Diam-diam menarik napas berat, menyandarkan dahinya pada pintu yang tertutup.
"Yang Mulia?"
"Nina?"
"Ya? Anda baik-baik saja?"
"Tentu." Pandora berpaling, menatap Nina serius. "Apa kau percaya ramalan?"
"Tidak terlalu."
"Aku tidak suka bergosip, kurang pandai bergaul dan beradaptasi, tapi mencemaskan soal ramalan. Aneh sekali," kata Pandora masam, mendengus karena dirinya sendiri serta memandang Nina redup. "Aku akan kembali ke kamar. Pergilah tidur, Nina. Besok kau bisa kembali bekerja. Selamat malam."
Nina hanya menatapnya kosong. "Selamat malam."