"Nirvana?"
"Ya?" Gadis itu berlari setelah membersihkan kompor dengan cepat. Saat mendengar Ellie memanggilnya, memintanya untuk menghadap. "Ada yang bisa kubantu?"
"Berikan roti-roti panas ini pada pekerja kebun. Kau harus kembali lagi untuk mengantarkan sisanya pada pekerja di peternakan."
"Siap!" Nirvana mengencangkan tali pada seragamnya dan berjalan bersama nampan berisi tumpukan roti isi yang hangat.
Setiap pagi istana disibukkan dengan kegiatan rutin dari para pekerjanya. Seperti para militer yang bertugas menjaga keamanan di istana berlatih, pekerja yang menempati tempat masing-masing dan suara mesin pemotong rumput yang berdenging sampai ke dapur. Semua orang sibuk, tidak terkecuali Nirvana yang harus bekerja karena bosan.
"Selamat pagi. Semoga hari kalian menyenangkan."
"Selamat pagi. Kau juga."
Semua orang saling bertukar sapa. Di antara staf dan pelayan, Nirvana menyukai orang-orang yang bekerja untuk perkebunan dan peternakan. Beberapa orang di dapur sedikit menjengkelkan. Terutama staf yang bekerja di sekitar raja dan ratu. Mereka terlihat sombong dan congkak. Gaya bicara mereka juga membuat Nirvana muak.
"Oh, makanan tiba!"
Suara gadis itu yang lembut meletus di tengah sibuknya kebun. Semua orang menoleh, tersenyum lebar saat Nirvana menaruh nampan dan mulai mengisi piring-piring dengan roti. Semua terasa ringan, dan dia bisa membawanya sendiri. Dia terbiasa melakukannya setiap pagi. Kadang-kadang menyiapkan makan bagi para anggota keamanan yang super tenang dan terlihat menyeramkan.
"Apa isi roti ini?"
"Yang kudengar sosis dan keju," balas Nirvana ramah. "Cobalah. Kau bisa mencium aroma roti yang lembut. Aku selalu suka tekstur rotinya yang sedikit manis."
"Koki di istana yang terbaik," salah seorang dari mereka berceloteh. "Hanya sarapan roti, tapi aku suka sekali. Kalau roti ini masuk pasaran, harganya bisa empat kali lipat. Tidak seperti roti pada umumnya. Yang berisi potongan kecil kismis dan keju yang tidak terasa keju sama sekali."
"Kau banyak mengeluh," timpal staf yang lain dan mereka tertawa. Berhenti untuk mencicipi sarapan sebelum kembali bekerja.
"Nikmati sarapan kalian."
"Terima kasih, Nirvana."
"Sama-sama."
Gadis itu kembali berjalan. Membelah lorong dan belum sempat kembali ke dapur saat melihat Nakia berjalan di koridor. Tampak terburu-buru dan menabrak bahu Nirvana tidak terlalu keras.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ya, tidak apa."
"Salahku. Maaf, aku terburu-buru." Nakia pergi begitu saja. Yang meninggalkan kesan penuh misteri di benak Nirvana.
Terlalu banyak hal yang membuat kepala Nirvana sakit sejak kemarin. Madam Ellie juga tidak menjelaskan apa pun selain memintanya untuk tetap diam. Nirvana tentu akan menjaga rahasia. Yang menjadi masalah, dia merasa kejadian akhir-akhir ini bukan hanya kebetulan. Dan Madam Ellie terbukti ikut merasakannya.
Nirvana berbalik. Mengekori langkah Nakia sampai di ujung taman. Beberapa orang terlihat acuh dan tidak peduli. Selama pekerjaan mereka beres, itu sudah cukup. Istana akan menerima bersih.
Nirvana bersembunyi di balik pintu masuk. Terkejut melihat jaket yang sama, serupa dengan sosok perempuan yang dilihatnya kemarin. Saat berkunjung ke sebuah pondokan kumuh bersama Ellie. Bahkan tanpa masker pun, sosok itu terlihat dingin dan misterius. Nirvana mendapati dirinya merinding. Sosok perempuan asing yang menghantui malam sekaligus rasa penasarannya.
Percakapan mereka yang misterius tidak bisa Nirvana tangkap. Gadis itu gemetar, berdiri dengan gelisah sebelum akhirnya berlari kencang. Sebelum Nakia menangkapnya dan semua akan menjadi buruk.
"Nirvana?"
Hampir saja dirinya terjungkal dan Madam Ellie lebih dulu menangkap tangannya. Rautnya diliputi kelegaan. "Oh, ya Tuhan."
"Kau baik-baik saja?"
"Yes, Madam." Nirvana meringis, menarik napasnya yang tersengal. "Aku akan membawa roti sisanya ke peternakan."
"Kau yakin?"
Nirvana memandangnya. "Cukup yakin. Aku berlari karena harus terburu-buru."
Ellie tidak lagi berkomentar.
***
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Dimitri menggeser tatapannya dari lukisan aristokrat mendiang raja pada istrinya. Laura tiba-tiba memberinya kejutan lain saat muncul di ambang pintu. "Berdoa untuk mendiang raja."
Laura dalam diam mendekat. Mengamati lekat postur sang suami sebelum duduk di sebelahnya. Sama-sama merenung memandang potret kenangan yang ada di depan sana.
"Apa menurutmu dia sudah bahagia di sana?"
"Aku tidak tahu," kata Dimitri pahit. "Semasa hidupnya, dia banyak melakukan percobaan. Kejahatan banyak tidak terhindari dan aku tidak mau mengulang masa-masa pahit yang sama."
Laura terdiam.
"Ibu juga pergi dengan cara yang paling menyakitkan. Buatku, mereka berdua adalah dua individu yang tidak bahagia. Tidak dengan pernikahan, tidak dengan kehidupan."
Seketika, Laura terkenang kehidupan keluarganya yang penuh ambisi. Tidak ada satupun dari mereka yang berani menentang perintah sang kepala keluarga. Mendiang kakeknya adalah seorang Viscount, dan ayahnya tidak ingin mendapat gelar itu lagi karena beberapa hal. Termasuk hubungan yang terlanjur patah.
"Kau tidak pernah bercerita tentang kehidupan militer yang berat. Kau melakukannya karena keinginan nurani atau mencoba mengubur masa lalu?"
Dimitri berpaling. Memandang istrinya dengan sorot pedih. "Apa aku terlihat mencoba melarikan diri?"
"Kau, kau saat remaja." Laura menimpali manis. "Aku belum lupa saat kau lebih suka minum-minum sendiri daripada berlatih di lapangan. Kau pergi secara diam-diam menyelinap ke klub malam."
Dimitri mendengus keras. "Tidak ada orang yang mau berlatih di malam hari. Kau tahu itu. Semua yang mereka lakukan hanya membuang waktu dan sangat berisik. Aku lebih suka mabuk," suaminya tersenyum. "Ah, dan aku melihatmu. Kau membopong temanmu yang mabuk."
"Itu bukan teman, itu kerabat. Dia menyebalkan."
"Ke mana dia sekarang?"
Laura melirik dalam getir. "Pergi karena malaria. Ia ikut temannya mendaki gunung, dan gagal setelah sampai di hutan. Penyakit malaria menyerangnya empat hari setelah dirinya berpamitan."
"Apa ini kerabat yang pernah dekat denganmu?"
"Ya, itu dia. Kuakui dia menjengkelkan. Tapi seseorang yang akan datang kapanpun kau membutuhkan kehadirannya. Kadang-kadang aku hanya teringat saat kami kabur untuk melepaskan diri."
Laura tidak mau menangis. Tapi rasanya sulit setelah sekian lama banyak menelan pahit dalam hidupnya. Kehidupannya berubah setelah dia menikah. Mungkin, keluarganya yang keras dan otoriter tidak akan berharap banyak darinya. Laura tidak bisa menyelamatkan apa pun selain nama baik. Ayahnya sangat menjunjung reputasi atas nama leluhur walau terkadang membenci garis keturunannya sendiri. Banyak dari kerabat yang berguguran hanya karena ambisi dan kehilangan harapan.
"Sayang?"
"Aku tidak menangis. Sungguh," katanya dengan senyum. Mengulurkan tangan untuk meremas tangan suaminya. "Aku juga akan ikut berdoa untuk mendiang raja dan ratu."
Dimitri menarik napas, membuangnya perlahan. Saat matanya menangkap pedih yang melumuri wajah sang istri, dirinya hanya sanggup membisu.
"Kau harus tahu," ujar Laura tiba-tiba. Tanpa sama sekali menoleh ke arahnya. "Aku mencintaimu. Aku memujamu. Hidupku hanya untuk keluarga dan kedua putraku."
"Pada dasarnya, kita berdua sama-sama manusia yang rentan dengan kesalahan. Kau dan aku pernah berbuat kesalahan. Dan kita tidak tahu apa itu termaafkan. Benar, kan?"
Kepala Dimitri tertunduk. Melihat tangan istrinya yang beristirahat di atas pangkuan. Melihat cincin yang mengingatkannya akan lamaran pada Laura sebelum pernikahan. Dan membawa tangan itu ke bibirnya, mengecupnya lembut. Bersamaan dengan sebelah tangannya yang terjalin satu sama lain.
***
"Apa yang kau lakukan setelah ini?"
"Tidur."
Pandora mengangkat alis. "Jadwal yang menyenangkan. Kau sempat istirahat."
"Apa itu sindiran?"
"Itu kebenaran," tukas Pandora masam. Melihat jalanan yang berlalu dari dalam limusin. "Aku juga ingin tidur sekarang."
"Kau seharusnya tidak ikut," kata suaminya masam. "Kesehatanmu belum benar-benar membaik."
"Yang paham kondisiku sendiri adalah aku." Pandora melirik dalam cemoohan. "Aku merasa sudah sehat sekarang."
"Berkat cokelat panas?"
"Kau terdengar seperti menghina."
Alaric tertawa. Menggeser tatapannya dari jendela pada istrinya. "Aku tidak menghina. Orang-orang cenderung akan menenangkan diri dengan hal lain, dan kau memilih cokelat?"
"Ini karena Paman Laito. Dia sering memberiku bujukan dengan minuman cokelat panas. Satu-satunya minuman mahal yang bisa dia berikan," kata Pandora. Mengenang masa-masa kecilnya yang kelam dan berwarna secara bersamaan. "Aku tidak tahu harus sedih atau bagaimana sekarang. Minuman itu termasuk yang tidak murah."
"Bayaran menjadi staf di lapangan bangsawan tidak terlalu besar. Tetapi paman menyukai pekerjaannya." Pandora kembali berujar getir. Dan tiba-tiba menyesal karena telah bicara tentang keluarganya. "Lupakan saja."
"Aku tidak akan melupakannya," sahut Alaric cepat. "Harga kebutuhan pokok sempat melonjak tajam karena krisis yang parah. Inflasi sempat menerjang Parvitz dengan mimpi buruk berkepanjangan. Aku belum lupa."
"Kau juga masih kecil saat itu," tukas Pandora.
"Memang. Tapi aku melihat orang-orang sibuk saling memaki. Raja yang tidak bisa diam. Dan ibuku yang seakan menang serta puas."
Pandora tidak ingin berkomentar. Ellie pernah bercerita tentang mendiang ratu yang banyak menyulitkan orang lain selama di istana. Reputasinya selama ini begitu baik. Hampir tidak seimbang dengan raja pada saat itu. Ketika semua orang memuja mendiang ratu, raja hanya mendapat sebagian kebencian.
"Ratu menentang sistem patriarki," ucap Pandora lamat. Menyadari bahwa gagasan mendiang ratu luar biasa bagus. Terobosannya terhadap hak-hak wanita membuat negara krisis pada saat itu. "Aku banyak membaca tentangnya. Termasuk buku dan menonton dokumenter."
"Dan kau percaya?" tanya Alaric dingin.
"Aku, ya, tidak semua. Menurutku ada beberapa yang janggal. Tetapi idenya sangat luar biasa." Pandora mengakui. Dia menyadari kalau mendiang ratu sempat menjadi tokoh sentral dalam masa itu. Kontroversial yang membuat penggemar kerajaan memecah diri.
Alaric hanya diam. Ia tidak lagi memfokuskan diri pada Pandora, melainkan ke luar jendela.
"Berhenti di sini."
Suara yang berat dari suaminya membuat Pandora kebingungan. Ia melirik dalam diam. Terkejut karena limusin berhenti di depan kedai penjual gelato. Dan kedai tampak senggang.
"Kau mau turun?"
"Kita akan mampir?" Pandora bertanya antusias. "Kau serius?"
"Kau mau turun atau tidak?"
"Tentu saja aku mau!" Gadis itu melompat dari kursinya. Berdiri di depan kedai gelato saat melihat Nina ikut turun, terburu-buru menghampiri Pandora.
"Yang Mulia?"
"Nina, aku akan mencoba gelato ini lagi."
Nina hanya mengangguk. Memberi senyum tipis saat melihat Alaric turun, meminta agar supir dan pengawal menunggu di luar.
"Sebentar," kata Pandora berseri-seri saat mengekori suaminya masuk ke dalam kedai gelato.