TKS - 25

1735 Words
"Aku tidak tahu kalau kedai gelato berbentuk seperti tadi. Apa aku bisa pergi ke sana kapanpun?" "Tidak semaumu," kata Alaric saat berbalik, memandang sang istri. "Nina bisa menemanimu. Tidak perlu terlalu sering." "Yah, oke." Pandora tidak lagi membantah. Mungkin kedai gelato akan menjadi tempat favoritnya selama di Cornelia selain tempat-tempat bersejarah lain. "Kau ingin tidur?" "Ya." Nina melirik dalam diam. Saat Alaric berhenti, mengernyit dan memandang istrinya dalam diam. "Aku punya koleksi buku yang mungkin belum kau baca di ruang kerja. Kalau kau berkenan, boleh saja." "Boleh saja?" "Membacanya," timpal sang suami datar. "Kurasa kau tidak akan tidur siang." "Tidak, mungkin sebentar." Alaric lekas pergi setelahnya. Tidak bersuara atau mengatakan apa pun yang serius. Pasca membiarkan sang istri sendiri. Menatap kepergiannya dan melihat Nina. "Aku akan mencoba memeriksanya sendiri, Nina. Aku tidak perlu tidur siang." Nina memberi anggukan tipis dan melangkah mundur. Memberi Pandora ruang ketika gadis itu berjalan pergi, menyusuri koridor yang sepi dan cerah. Sinar matahari menembus masuk melalui jendela yang terbuka. Tirai dengan sutera berwarna emas tersingkap. Membiarkan lantai serta patung antik yang terdapat di tepian koridor bermandikan cahaya. Ruang kerja suaminya benar-benar luas dan nyaman. Perabotannya terlihat mahal dengan pelitur cokelat mengilap. Warnanya didominasi cokelat dan abu-abu. Semua berasal dari batang pohon yang kokoh. Keseluruhannya bernilai mahal serta berkelas. Pandora menghela napas. Satu-satunya dunia menurutnya hanya perpustakaan. Dan saat dia bergeser semakin dalam, melihat rak-rak buku dengan potensi bacaan cukup meyakinkan yang menyilaukan mata. Senyumnya melebar. Mungkin di antara ratusan buku, Pandora tertarik pada dua buku lain yang berjejer di rak nomor dua. Pandora tidak pernah melihat pangeran kedua tertarik pada bacaan. Namun melihat surga ini, jelas Alaric menyimpan bakatnya sendiri. Kita berawal dari ketidaksempurnaan. Judul buku yang tidak mencakup sinopsis apa pun. Pandora membukanya, mencari halaman demi halaman dan menemukan sesuatu baru saja terjatuh. Tepat di halaman seratus. Bersama segaris tinta yang membawahi sebuah kalimat. Suatu hari, orang lain akan mencintaimu sebagaimana dirimu yang layak dan kau tidak perlu merasa khawatir. Dan pada sebuah lukisan yang membuat napas Pandora berhenti. Matanya menelusuri sebuah sketsa sempurna dari potret seorang wanita. Dirinya terpaku, memandang gambar itu dalam dam dan menyadari siapa objek yang menjadi alasan lain sketsa ini terbentuk. Laura. Lalu pada rangkaian kecil sebuah nama bertuliskan sambung dengan tanggal yang dicelup cat hitam. Alaric, 20 Januari 20xx Pandora terpaku. Hanya mengenang percakapan mereka semalam. Membahas soal impian. Dan suaminya tidak berkenan menjawab itu. Berasumsi bahwa dirinya tidak punya impian apa pun di masa lalu untuk masa depan. Keluarga kerajaan akan selamanya mengemban tugas berat. Lukisan ini seakan menjawab pertanyaannya. Hanya gambar wajah Laura dan Pandora merasa ini sudah cukup. Masa lalu di antara mereka yang membuatnya terseret dalam lingkaran ikatan penuh lika-liku. Seberapa besar cinta Alaric untuknya? Atau seberapa besar Laura bisa menutupi segalanya? Apa yang dirasakan perempuan itu pada adik iparnya sendiri? Pertanyaan yang tentu membutuhkan jawaban. Dan Pandora merasa belum perlu mencari tahu. Tetapi dengan sketsa ini, ia hanya menyadari dua hal. Cinta. Lalu, pengorbanan. *** "Anda akan menginap?" Pandora menatap Nina sebentar. "Aku tidak tahu." Lalu memandang limusin yang berhenti untuk menunggu mereka. Siap mengantar sampai ke tempat tujuan. Nina mengangguk. Membukakan pintu untuk Pandora masuk. Saat dirinya duduk, menunggu kurang dari lima menit sampai kursi di sebelahnya terisi. Alaric datang memenuhi undangan dengan setelan santai. Tanpa jas dan hanya kemeja bersama celana hitam. Limusin membawa mereka pergi. Sepanjang perjalanan Pandora habiskan untuk duduk, merenung dalam diam dan tidak bersuara sepatah katapun. Atau mungkin mereka memang menikmati masa-masa kesunyian yang sempat hilang. Pandora memberi jarak pada tempat duduk mereka. "Kau sudah menemukan bukunya?" "Belum." "Ah, benar. Aku belum memberitahumu judulnya. Tapi kupikir kau bisa mencarinya sendiri." Alaric berkata santai. "Aku tidak sempat membongkar semua rak bukumu. Terlalu banyak." "Aku sudah membaca semuanya. Buku-buku yang ada di sana. Kurasa, kau tidak akan asing dengan beberapa judul?" Pandora menggeleng tanpa menatap suaminya. "Tidak." Alaric terdiam. Lidahnya terasa kaku. Matanya berulang kali melirik sang istri yang memilih untuk menutup rapat bibirnya. Tanpa berpaling ke arahnya, berbicara hanya sembari memandang ke luar mobil. "Kita mungkin akan menginap." "Oke." "Kau mungkin mau bertemu dengan pamanmu?" Kalimat itu berhasil menarik perhatian istrinya. Alaric menghela napas, melihat pendar pada mata indahnya yang diliputi keraguan. "Kau yakin?" "Hanya saja, Nina perlu menemanimu. Dan itu tidak boleh terlalu lama. Berkunjung ke rumah pamanmu tidak ada dalam jadwal." Alaric memberi kesempatan, dengan terbuka tentunya. "Kau tidak bisa sembarangan pergi dengan titelmu yang sekarang." Pandora tersenyum masam. "Kebebasan yang terikat, benar? Aku paham." "Kau tidak lagi bebas," timpal Alaric dingin. "Kau sudah menikah sekarang." "Aku merasa masih bebas," istrinya tidak mau kalah. "Kita hanya pasangan di atas hitam dan putih. Selebihnya tidak ada." Alaric hanya diam. Tidak bisa mengelak fakta tersebut. Saat matanya memicing tajam, Pandora membalasnya dengan sorot yang sama. Tanpa kebencian dan hanya berupa kejengkelan alami. "Apa menikah denganku terdengar seperti kutukan?" Alaric bisa mendengar istrinya menghela napas tajam. Namun, tidak bersuara apa-apa. Pandora tetap diam. Malas untuk berdebat. "Kita sepakat untuk menghormati pribadi masing-masing. Aku padamu, dan begitu sebaliknya." Suaminya hanya bungkam. Rasa dingin merayap dari kaki sampai ke tengkuknya. Suasana di kursi belakang limusin semakin tegang atau ini hanya perasaan Pandora saja. Limusin membawa mereka dengan santai ke istana utama. Beberapa staf dan pelayan telah menunggu. Memberi sambutan singkat saat pasangan suami istri itu tiba. Pandora memberi senyum seadanya, berjalan bersama sang suami masuk ke dalam. Perasaannya agak kebas saat tiba di koridor. Kenangan yang terakhir melekat adalah saat dirinya kembali dipermalukan dan mempermalukan diri sendiri. Pandora tidak mau mengingatnya, tapi kejadian itu tidak mau pergi dari ingatannya. "Selamat malam, Yang Mulia." Ilama menyambut dengan senyum formal. Pandora mengangguk singkat, melirik Ellie yang memberi senyum dan lambaian kecil. Ada Nirvana yang berdiri di sebelah wanita itu dan terlihat pucat. Pandora merasa cemas. Namun Ilama tiba-tiba sedikit mendorongnya untuk masuk ke dalam ruangan setelah Alaric lebih dulu pergi. Yang memaksanya untuk tidak memerhatikan Nirvana dan Ellie terus-menerus. *** "Oh, udang!" "Selamat sore, Duchess. Aku mendengar Anda menyukai hidangan laut termasuk udang. Aku juga membuat cumi tepung. Ini rekomendasi dari Ellie." Pandora tersenyum memandang koki yang begitu baik menyapanya. Koki senior itu terlalu banyak menghabiskan waktu di dapur. Semasa Pandora masih bekerja sebagai kurator buku di istana, dirinya tidak pernah melihat koki itu beristirahat selain malam hari. "Terima kasih." "Sama-sama." Pandora tidak melihat Ellie ada di dapur. Karena Alaric tiba-tiba menghilang di istana utama dan Pandora tidak mungkin mencari suaminya di bangunan super besar ini, dirinya hanya mencari Ellie dan mengutarakan izin Alaric untuk menemui Laito. "Nirvana?" "Yang Mulia." Gadis itu memberi senyum separuh. Pandora membalas senyumnya, dan bisa melihat bekas luka di sudut bibir Nirvana cukup jelas. "Apa yang terjadi?" "Apa semua sudah siap?" Laura masuk secara tiba-tiba. Ada Ilama yang setia mengekorinya. Ketika Nirvana mendadak mundur, menyibukkan diri dengan mengelap peralatan makan bersama rekannya. "Seratus persen, Yang Mulia." Semua serempak menjawab dengan semangat. Laura mengulas senyum, menatap Pandora yang sibuk melihat hidangan di atas meja besar. "Kenapa ada tiram di sana?" Laura berseru pada sepiring tiram segar yang dipanggang bersama keju. Pandora mengangkat kepalanya dari tumpukan sotong segar siap direbus pada tiram. "Pangeran Alaric alergi pada tiram dan jamur. Apa koki di sini lupa?" "Oh, ya Tuhan. Tapi raja menyukai hidangan laut." Salah satu dari mereka menyahut. Dan Laura menarik napas keras. "Kami membuatnya untuk raja, Yang Mulia." "Kau tidak tahu?" tanya Laura agak sinis. "Kalau suamimu punya alergi sesuatu?" "Tidak." Pandora membalas tanpa gentar. Melirik Ilama yang mendengus, memandangnya rendah. "Dia juga tidak mengatakan apa pun." "Seakan kau bertanya saja," ujar Laura dingin. "Kalau kau bertanya, dia akan menjawabnya. Itu berbahaya." Pandora menghela napas. Memandang Laura datar sebelum bibirnya membuka. "Seolah suamiku akan memberi jawaban yang memuaskan." Nirvana melirik pertengkaran itu dalam diam. Sementara Pandora mendesah, memandang Laura cukup sengit. Laura melengos pergi begitu saja. Begitu pula dengan Ilama yang menghardiknya tidak sopan dalam bisikan. Kembali mencela Pandora di depan umum sekali lagi. Ketika gadis itu membungkuk, dan semua orang merasa bersalah karena mendengar pertengkaran kecil tersebut. Nirvana diam-diam menarik napas berat. "Pandora?" Gadis itu memberi tatapan terkejut karena melihat Dimitri mendekat. Memberi senyum lumrah saat menemuinya. "Yang Mulia." "Aku sudah mendengar kabarmu dari Alaric. Kau mendapat lemparan telur dan itu menyakitkan. Kau sempat tidak sadarkan diri setelahnya. Kau melindungi Alaric saat itu." Pandora memberi senyum formal. "Begitulah. Hanya tindakan spontan karena aku menangkap gerak-gerik mencurigakan." Dimitri mendesah panjang. "Kehidupan istana yang sulit. Tidak semua orang memang menyukai kami, sebagai keluarga kerajaan. Beberapa anti pemerintahan dan kerajaan akan memberi kekacauan kecil. Aku berusaha untuk tidak terkejut." "Aku baik-baik saja. Pangeran juga baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan." Sorot kelam Dimitri menatapnya penuh arti. "Benar. Alaric juga memintaku begitu. Terlebih berita hanya baru menyebar di Cornelia. Kuharap di masa depan kita tidak akan menemukan kejadian memalukan lagi seperti itu. Keamanan harus diperketat." Raja berbaik hati mau bicara. Dengan kerendahannya, membuat Pandora cukup tersanjung. Ia tidak akan bisa melupakan kebaikan Dimitri yang membantunya saat malam mengenaskan itu terjadi. "Apa kau akan menginap?" "Ya, kurasa Alaric memintanya begitu." Dimitri tertawa. "Perjalanan pagi lebih baik. Kau akan tiba di istana Cornelia agak larut." Alaric berhenti melangkah mencari istrinya saat mendengar dua orang bercakap-cakap. Termasuk suara tawa kakaknya yang terdengar agak nyaring. Dan saat dirinya menoleh, menemukan Pandora berdiri bersama Dimitri menghadap ke kebun jeruk istana. Kedua matanya menyipit. Bermaksud menyimpulkan hubungan keduanya dengan jelas dan tidak dapat menemukan apa pun. Selain rasa asing yang membuatnya mendengus, lebih berusaha menahan kesal untuk alasan yang tidak logis. Pandora tampak akrab dengan Dimitri. Hanya itu yang bisa Alaric simpulkan sekarang. "Yang Mulia?" Alaric beralih saat mendengar suara Ellie. "Makan malam sudah siap." Dan melihat Pandora ikut berpaling. Bersama Dimitri yang memberinya seringai lebar. Menyapa sang adik dari kejauhan. Pandora berjalan menghampiri. Sama sekali tidak mengindahkan eksistensi sang suami kala memeluk lengan Ellie, membawanya berjalan masuk dan Ellie melepas tangannya sesampai mereka di ruang makan. "Terima kasih," bisik Pandora saat Ellie memintanya untuk duduk dengan senyum. Pelayan beramai-ramai mengatur meja. Bersama Ellie yang bertugas memeriksa kelengkapan hidangan dan mengangguk untuk memberi pelayan waktu undur diri. "Kalian akan menginap, kan?" Laura bertanya dengan senyum. "Kurasa iya. Kami akan menginap." "Kami akan pulang." Ketiganya memindahkan tatapan dari piring makan malam pada Alaric. Yang menunggu sampai pelayan mengisi gelas minumnya. "Kami akan kembali ke Cornelia malam ini." Pandora ingin bertanya, tetapi dia hanya diam. Sama halnya pada Dimitri. Sorot kelamnya menatap lurus pada sang adik, lalu menghela napas berat. Sementara Laura mematung. Berusaha terlihat datar dengan sama sekali tidak terpengaruh oleh kalimat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD