"Aku sama sekali tidak mengerti dengan keputusan tiba-tiba yang mengesankan itu darimu," kata Pandora sinis. Saat mereka selesai makan malam dan Dimitri pergi meninggalkan ruangan bersama Laura tanpa berbicara apa pun.
Alaric menarik napas. Berbalik untuk memandang istrinya yang terlihat kesal. "Mereka tidak terlihat senang menjamu kita di sini."
"Ini hanya perasaanmu saja atau aku tidak berpikir begitu?" Pandora mendengus sinis. "Raja cukup ramah dengan mengajak kita bicara di meja makan sesekali. Mungkin itu tidak terdengar sopan, tapi menurutku itu hal yang bagus."
"Dia mengajakmu bicara, bukan aku. Dan semua pertanyaannya terdengar monoton." Alaric membalas dengan intonasi yang lebih dingin. "Pekerjaanmu sekarang sama seperti Laura dulu. Sebagai Duchess. Kenapa dia mesti bertanya?"
Istrinya menautkan alis. Merasa bingung untuk mengurai semua kalimat suaminya secara benar. "Aku rasa itu hanya sebagai bentuk kerendahan hatinya."
Alaric mundur, menarik napas dalam-dalam. "Kita akan kembali ke Cornelia."
"Aku belum bertemu pamanku," tukas Pandora dingin. "Kau berjanji akan membawaku padanya. Kau memberiku izin. Mengapa sekarang kau mengacaukannya?"
Nirvana mendengar pertengkaran itu dan terdiam. Ia terburu-buru mundur dan memilih untuk tidak mendengarnya lagi atau berpura-pura tahu.
"Kita akan bertemu pamanmu," ucap Alaric secara mengejutkan. Hampir membuat Pandora berjengit karena tak percaya. "Aku yang akan meminta supir membawamu ke sana. Kau punya waktu. Sesuai janjiku. Aku menepati janji."
Rasanya akan malu sekali seandainya dia menangis di depan Alaric sekarang. Saat pria itu memilih untuk membiarkannya sendiri, Pandora berpaling untuk melihat sepinya koridor di istana inti. Lalu menyusul langkah suaminya pergi.
"Kau serius? Aku perlu membeli sesuatu untuknya."
Alaric berhenti hanya untuk menatap. "Membeli bingkisan?"
"Ya, semacam itu." Pandora membalas dengan cemas. "Kita harus mampir ke toko buah dan supermarket."
"Kenapa tidak mengambilnya di dapur?"
"Aku tidak akan mencuri. Biar kubeli dengan uangku sendiri," kata Pandora serius. Yang malah menimbulkan pertanyaan di kepala suaminya. "Aku punya uang. Apa-apaan tatapan itu?"
"Kau punya uang?"
"Kau terdengar mencelaku sekarang," dengus sang istri masam. "Baiklah, aku akan mengaku. Aku meminjam uang."
"Ellie?"
"Bukan."
"Lantas?"
"Kau akan terkejut," ujar Pandora dengan senyum sembrono. "Aku meminjam dari Nina. Akan kuganti nanti. Dia memberikan lebih banyak dari yang kupinjam."
"Nina?" Ya Tuhan, lidah Alaric tiba-tiba terasa kelu. "Kenapa kau meminjam darinya? Kau bisa meminta uang padaku."
Kepala istrinya menggeleng. Dengan kekeraskepalaan dan alasan yang membuat Alaric bingung bukan main.
"Oh, aku tidak bisa melakukannya. Aku belum sebulan menjadi istrimu, dan tidak bisa menolerirnya. Sudahlah, perkara uang tidak harus membuat kita bertengkar satu sama lain."
"Kau benar-benar unik," sejenak Alaric kehilangan suaranya. Menarik napas panjang dengan cibiran pendek. "Aku tak percaya ini."
"Nina tidak akan berpikir macam-macam tentangmu. Dia baik." Pandora membela dengan teguran. Saat merangkul bahu Alaric dengan sok akrab, membawanya berjalan bersama. Hal ini dilakukan agar perasaan pria itu luntur. Tidak mencela Nina karena meminjamkan uang tunai pada istrinya.
"Nina!"
Wanita itu segera merapat dengan pandangan serius. Terlebih melihat ekspresi suram pangeran di sebelah istrinya. "Yang Mulia, Anda butuh sesuatu?"
"Apa dia mendengarku?"
"Kami akan pergi ke suatu tempat. Alaric tiba-tiba memutuskan untuk tidak menginap. Ayo, siapkan mobil. Kita bisa pergi setelah berpamitan sekarang."
Nina terperangah. Melirik Alaric sebentar lalu mengangguk. Meninggalkan Pandora yang tersenyum puas.
"Kau memutuskannya sendiri," putus Alaric jengkel dan istrinya tertawa. Berbalik masuk ke dalam guna mencari raja dan ratu untuk berpamitan.
***
"Duduklah."
Laito menggeser kursi untuk Alaric. Dengan sikap sopan yang berlebihan, pria paruh baya itu membersihkan kursi cukup keras. Yang membuat Pandora mendesah, sementara Alaric meminta agar Laito berhenti.
"Tidak apa," tukas pria itu. "Kau duduk saja."
Laito menurut dalam diam. Matanya bersinar saat melihat Pandora tiba. Dengan senyum merekah yang sama, Pandora mendorong dua bungkusan untuk pamannya.
"Aku tahu, ini belum seberapa. Tapi aku harap kau mau menerimanya."
Laito melirik Alaric. "Apa ini diperlukan? Kulkas tuaku sudah cukup penuh."
"Paman berbelanja?"
Senyum Laito terdengar meringis. "Tidak, Pandora. Aku tidak berbelanja. Apa kita pernah mengisi kulkas secara penuh? Pangeran yang membuatnya begitu."
"Alaric?"
Sedangkan si pelaku hanya mengangkat bahu tampak acuh. Alaric bersidekap. Memandang keduanya tanpa suara.
"Ah, begitu." Pandora kehabisan kata-kata. Terutama karena pamannya terlihat cukup sehat. Sesuai yang Ellie katakan. Laito cukup baik selama Pandora tidak ada di kota.
"Aku bisa membuatkan perasan jeruk manis untuk kalian. Sebentar."
Pandora mendongak, memberi senyum singkat saat pamannya berjalan masuk ke dapur. Sementara Alaric hanya melamun, menatap lurus pada meja yang berisi kudapan kering.
"Kenapa kau melakukannya?"
"Karena aku mau," balas suaminya datar. "Itu bukan kemauanmu, aku tahu. Itu juga bukan karena belas kasihanku pada pamanmu. Aku murni melakukannya karena aku mau."
"Oh, berharap aku bisa memahaminya." Pandora bergidik sembari memutar bola mata. "Paman akan merasa sungkan padamu."
"Aku tidak memintanya untuk berubah padaku. Dia seharusnya memperlakukanku biasa, sama seperti pekerjaannya."
"Kau tahu dia masih bekerja?"
Alis Alaric terangkat naik. "Ya, masih. Tapi pihak pemilik tidak memberinya waktu intens seperti dulu. Pemasukannya berkurang sesuai jam kerjanya."
Pandora mendesah. Tidak lagi bersuara.
"Setidaknya dia tidak perlu kebingungan mengisi kulkasnya lagi. Untuk membeli lauk atau sayuran, bayarannya lebih dari cukup. Dia tidak menghidupimu lagi."
"Aku rasa dia menabung keras," kata Pandora pahit. "Aku tidak tahu untuk apa. Tapi kemungkinan besar untuk biaya pengobatan. Rumah sakit tidak murah."
Alaric menyipit penuh tanya. "Apa dia sakit?"
"Kadang-kadang. Merasa nyeri berlebihan pada belakang punggung dan persendian kaki. Dia pernah berbaring selama dua hari penuh karena penyakit itu."
"Maaf karena menunggu terlalu lama." Laito hadir membawakan dua gelas jeruk perasan. Senyumnya melebar ramah. Yang membuat perasaan Pandora menghangat. "Ini, minumlah. Pandora menyukainya dulu. Dan aku jarang membuatkan minuman ini karena harga jeruk yang cukup mahal. Dia juga lebih suka minuman manis."
"Terlalu banyak meminum manis hanya membuat tulangmu keropos lebih cepat. Kau tidak tahu?"
Itu sindiran. Pandora hanya menanggapi dengan delikan masam dan Laito tertawa. "Dia tahu, Yang Mulia. Tetap saja, keras kepala."
"Aku setuju untuk kalimat terakhirnya," timpal Alaric senang. Meraih gelas jeruknya dan perlahan meminumnya. Tidak ada ekspresi aneh pada wajahnya. Alaric terlihat menikmati. "Ini lumayan."
Laito mengangguk senang. Memandang Pandora hangat saat gadis itu meneguk minumannya dengan santai. "Bagaimana Cornelia? Aku ingin sekali berkunjung tapi lokasinya cukup jauh. Aku juga tidak terlalu pandai membaca peta. Mungkin menumpangi transportasi umum membuatku terdampar sampai ke Damais."
Pandora tertawa. "Kau bisa pergi lain kali bersama Ellie. Dia akan menggandeng tanganmu di kereta."
Laito menanggapi kalimat keponakannya dengan senyum tipis. Merasa bersalah karena tidak banyak mengenal dunia luar. Tidak bisa menemui Pandora di kala senggang ketika dirinya benar-benar ingin.