TKS - 27

2133 Words
"Kau di sini." Pandora mendorong pintu ruang kerja suaminya. Memandang pria itu yang tengah melamun. Ada gantungan kunci yang tergeletak di atas meja. Yang menjadi objek pandang Alaric secara mutlak. "Kau akan pergi setelah ini?" Pandora bertanya hati-hati dan suaminya tidak kunjung bersuara. Alaric masih sibuk melamun, merenung memandang gantungan kunci berbahan dasar kayu dengan ukiran berbentuk bunga daisy. "Itu dari Laura?" "Ya." Pandora kembali diam. "Saat kita berpamitan, dia memberikanku ini." Suaminya bersuara setelah membisu. "Aku tidak tahu apa alasannya." "Sebagai kenang-kenangan? Atau bukti kalau kalian tetap berhubungan?" Alaric mendengus pelan. "Aku tidak berhubungan dengannya lagi. Kami selesai saat Dimitri meminangnya. Sekeras apa pun aku membujuk Laura untuk menolak lamaran itu, dia menolaknya." "Kau menaruh harapan padanya?" Pada akhirnya mereka hanya berakhir dengan saling menatap. Saat Pandora memandang mata suaminya, ia mengingat tentang sketsa yang Alaric gambar. Itu Laura. Dan Pandora pikir, cinta pria itu memang tidak terbatas pada kakak iparnya sendiri meski telah berkeluarga sekalipun. "Apa aku harus menjawab jujur?" "Kau tidak perlu," balas Pandora datar. "Ini hanya pertanyaan singkat. Lagi pula, kau bisa membawa lari dirinya setelah kita bercerai." Ini hanya perasaannya saja, karena setelah mengucapkan kata bercerai, ekspresi Alaric berubah. Selintas, matanya berkilat agak sinis. Yang membuat Pandora berpaling, diam-diam menarik napas berat. "Aku tidak segila itu." "Kau terlihat terlalu dalam mencintainya." Pandora berkilah, kembali membiarkan mata kelam itu menelanjangi wajahnya. "Aku tidak tahu yang melandasi perasaanmu di masa lalu. Tapi mata tidak bisa berbohong." Alaric tenggelam dalam bisu. "Apa sejelas itu?" Pandora bereaksi dengan cibiran. "Kau sepatutnya berdoa agar raja tidak melihat perasaan itu teramat jelas. Lagi pula, kakakmu juga seorang pria dan dia memahami sesamanya begitu baik." Alaric mencemooh dengan dengusan yang sama. "Aku juga bisa melihat bagaimana raja memandangmu kemarin." "Kau bergurau." "Tidak, tidak sama sekali." "Kuanggap kita tidak pernah membahas ini," kata Pandora pahit. "Jatuh cinta dengan pria beristri bukan tipikalku. Aku tidak akan berbuat sejauh itu." "Aku tahu." Alaric menjawab dengan santai. "Kau tidak tergiur dengan takhta yang Laura duduki sekarang. Atau seperti perempuan lain yang berlomba-lomba menjadi perempuan nomor satu di negara ini selain raja." "Ayolah, itu memalukan. Aku tidak sehebat itu dalam memimpin kapal." Pandora mencibir keras. "Jadwal yang ada di Cornelia sudah cukup membuat kepalaku sakit." "Kau menikmatinya?" "Tentu. Sebagian dari mereka mungkin tidak bisa menerimaku. Tapi sebagian lagi memberikan perhatiannya padaku. Aku akan lebih fokus pada mereka yang mencoba memahamiku." Alaric menarik napas, membuangnya agak keras. "Kau benar." Lalu membuang gantungan kunci itu ke tempat sampah setelah membentur dinding. "Aku akan bicara jujur padamu." "Tentang?" Rasa penasaran Pandora terusik. "Aku tidak pernah menghubungi Laura dan meminta agar Ellie datang. Laura tidak pernah berbicara tentang hal itu padaku. Dia juga tidak menjawab saat aku bertanya." "Yang kemarin?" tanya Pandora. "Ya. Aku mendapati kabar Ellie ada di kereta dari pengawal istana. Mereka yang bertugas di setiap tempat memberi kabar. Dan aku harus menyambut tamu secara baik. Benar, bukan?" "Kau tidak tahu apa pun perihal kunjungan Ellie kemarin?" Alaric menggeleng sebelum bangun. Berjalan meninggalkan Pandora di ruang kerjanya sendiri dan bertemu Nina. Yang menurunkan tangan serta memberi salam. "Pelaku pelemparan telur ditemukan tidak bernyawa setelah berhasil melarikan diri." "Kapan?" "Semalam. Tepatnya pukul sepuluh. Tim masih menyusuri penyebabnya. Dokter forensik bilang karena kematian mendadak." Dan Alaric tidak bisa percaya semudah itu. *** "Nirvana." "Madam Ellie," balas gadis itu lirih. "Selamat datang. Aku harap bisa bangun lebih cepat pagi tadi. Ellie menggeleng. "Kau sedang sakit. Berbaringlah. Kubawakan minuman hangat dan camilan. Kau ingin bubur?" Nirvana menarik napas. "Terima kasih banyak. Aku merepotkan Anda." "Tidak sama sekali," ucap Ellie getir. Memandang Nirvana yang kepayahan. "Kau mau bicara kenapa sampai seperti ini? Apa kepergian kita ke Cornelia?" Nirvana meneleng. "Aku hanya terkejut kalau bertemu pelaku yang melempar telur pada Duchess hari itu." "Aku seharusnya minta maaf," ucap Ellie pahit. "Aku membuatmu seperti ini." "Madam," tegur Nirvana. "Anda jangan merasa sungkan. Ini salahku. Ada beberapa hal yang tidak kuceritakan pada Anda." "Hm?" Nirvana mencoba duduk. Bersandar pada kepala ranjang yang sempit dan menatap Ellie getir. "Ada beberapa hal, Madam. Aku tidak tahu harus mencemaskan siapa. Antara Duchess atau Anda." "Nirvana?" Ellie meremas tangan gadis itu. "Kau bisa cerita padaku. Kegelisahan, kecemasan, ketakutanmu. Tidak apa. Semua akan baik-baik saja." Sudut bibir Nirvana tertarik. "Aku berdoa untuk itu. Semoga keselamatan dilimpahkan pada kita." Ellie menunggu dalam diam. Sedangkan Nirvana hanya mematung. Memandang Ellie dalam bungkam. Rasa dingin perlahan menusuk kulit. "Saat kita pergi ke pondok kumuh, aku merasa kita diikuti seseorang." "Diikuti?" "Perempuan. Berjaket kulit abu-abu dan memakai masker. Kami sempat bertatapan sebelum perempuan misterius itu menghilang. Jujur, aku sangat takut. Itu pengalaman mendebarkan buatku." "Lantas?" tanya Ellie cemas. "Saat kita kembali, aku tidak melihat sosoknya lagi. Dia menghilang setelah aku melihatnya. Kupikir dia hanya ingin meninggalkan jejak." Ekspresi Ellie berubah. "Bagaimana ciri-cirinya?" "Cukup tinggi. Mungkin seumuran dengan penata rias pribadi ratu." "Nakia?" "Ya." Nirvana mengangguk. "Aku tidak bisa tidur karena cemas. Bertanya-tanya siapa perempuan itu dan mengapa dia terlihat sangat misterius? Kepalaku sakit semalaman." "Dan ini yang membuatmu pucat keesokan harinya?" Nirvana mendesah panjang. "Aku minta maaf, Madam Ellie. Seharusnya aku bersikap lebih berani dan menceritakan semuanya padamu." "Ini penting untukku." Ellie menukas muram. Mengusap lengan Nirvana yang kurus. "Menyadari kalau tidak semua manusia di bumi ini punya hati seperti kita." Nirvana berulang kali mencoba menarik napas dan membuangnya. Menatap Ellie sebentar, lalu menunduk. "Saat aku mengantar roti isi ke perkebunan, aku melihat seseorang." Ellie tiba-tiba tegang di tempatnya. "Perempuan yang kulihat kemarin di luar pondok sedang berbincang bersama Nona Nakia, diam-diam. Secara sembunyi. Dan setelah melihat mereka, aku melarikan diri." Ellie terperangah. "Nakia?" Tidak bisa menahan keterkejutannya. "Untuk apa? Maksudku, apa dia punya masalah dengan keluarga istana?" Nirvana menggeleng pahit. "Aku tidak tahu. Saat melihatnya aku benar-benar terkejut dan panik. Aku tidak bisa berkata-kata dan berharap tidak pernah melihat apa pun. Itu membuatku takut." Nirvana menangis tanpa isakan. Ellie memeluknya dan gadis itu tampak tenang. Membalas dekapan Ellie dengan isakan pilu. *** Pandora memandang ramah serta antusias pada para pekerja yang melakukan proyek untuk sebuah yayasan amal. Mereka merenovasi bangunan lama yang berdiri sejak abad ke tujuh belas. Dan berkat persetujuan pihak istana, mereka baru membangun tempat-tempat yang perlu direnovasi. Mereka kebanyakan berusia muda dan produktif. Sementara yang bertugas sebagai mandor terlihat lebih tua dan senior dalam memimpin. Barangkali Pandora mengagumi bangunan lawas yang mendiami Cornelia selama ratusan tahun. Bangunan bersejarah yang menjadikan Cornelia sebagai tempat kebudayaan. Warisan budaya dari Parvitz yang hampir musnah dan harus dilestarikan. Saat Pandora masuk semakin dalam, dia berpapasan dengan seorang pria tampan berbaju sedikit resmi karena melambangkan keluarga kerajaan pada bagian d**a kiri. Setelah bersalaman dan pria itu siap pergi, mata mereka bertemu satu sama lain. "Yang Mulia." Pandora membalas dengan sama sopannya. Ketika sosok itu mengulurkan tangan, Pandora merasa dadanya berdebar terlalu keras. Terutama aroma mahal yang tercium sampai hidungnya. "Perkenalkan namaku, Rei." "Tuan Rei masih termasuk keluarga kerajaan. Posisinya sebagai keluarga Viscount cukup terpandang di Cornelia, Yang Mulia." Pemilik bangunan menerangkan dengan senang. "Keluarga Tuan Rei banyak memberi kontribusi terhadap bangunan ini di masa lampau." "Semacam tempat tinggal?" Rei tersenyum ramah. "Ya. Dulu mendiang leluhur kami menempati kastil ini sebelum menghadiahkannya pada penduduk setempat sebagai cagar budaya. Kebunnya sangat luas. Dan lama-lama ditinggalkan karena peradaban. Aku tidak bisa menyalahkan mereka." "Keluarga Viscount?" Pandora mengangkat alis. Saay para staf meminta mereka untuk duduk dan Rei yang tampan tidak keberatan mengajak Pandora berbicara. "Kau seorang Viscount?" "Bukan aku," balas Rei dengan tawa. "Aku punya seorang kakak. Dia yang mengemban tugas itu. Sebagai anak tertua, tentunya. Kami dua bersaudara. Ibuku adalah janda." Pandora merasa penasaran. "Apa pekerjaanmu?" "Tangan kanan?" Rei memberi senyum miring yang membuat Pandora berhenti bernapas. "Aku membantu kakakku mengurus ladang-ladang yang ada di Cornelia. Ladang itu milik kerajaan. Dan kami mendapat separuh bagian sesuai kesepakatan." "Aku belum pernah melihatmu." "Belum, Duchess. Aku tidak datang ke pesta pernikahanmu. Ibu dan kakakku turut hadir." "Ah, pantas." Rei memberi tatapan lembut yang membuat Pandora terpaku. "Aku melihatmu di majalah dan berbagai portal media. Kau luar biasa. Meski latar belakangmu tidak sepadan dengan kami, tapi itu mengagumkan. Aku bisa menjadi penggemarmu. Melihat bagaimana latar belakangmu." "Latar belakang yang menyedihkan?" Rei tertawa dan semua orang terlihat salah tingkah. "Bukan, latar pendidikan. Kau punya segudang prestasi. Aku percaya duke tidak akan salah pilih. Terutama karena dia seorang pangeran." Pandora ingin tertawa keras. Namun nyatanya tidak akan bisa sebebas itu. Ekspresi Rei cukup hangat dan kerap berubah-ubah. Perbedaan yang mencolok antara Alaric dan pria itu. "Kami turut bahagia atas pertunangan Anda, Tuan Rei. Semoga kebahagiaan melimpahi Anda dan keluarga." Senyum itu kembali hadir. Kali ini berhasil membuat Pandora membeku. Menyadari kalau pria itu tidak lagi sendiri. "Terima kasih banyak. Kalian baik sekali." "Sebentar lagi akan ada pernikahan?" tanya Pandora basa-basi, merebut perhatian Rei. "Kapan itu terjadi?" "Bulan depan, Yang Mulia. Aku akan mengirimkan undangan secepatnya ke istana utama." Pandora memberi anggukan dengan senyum yang sedikit dipaksakan. "Ya, aku akan menunggu. Ikut senang karena kabar baik itu." "Terima kasih, Yang Mulia." *** Nina menautkan alis saat melihat pangeran muncul dari kamarnya. Memegang sebuah tablet dan tampak marah. "Yang Mulia." Alaric sama sekali tidak perlu bersikap baik pada bawahannya sekarang. Dirinya mendesak masuk ke kamar Pandora, mendapati istrinya sedang duduk di sofa, berselimutkan bantal dan membaca. "Kau pikir apa yang coba kau lakukan?" "Apa?" Pandora terkesiap. Melompat bangun dan terkejut mendapati ekspresi itu terlihat keras. "Apa yang kulakukan memangnya?" "Kau pergi mengunjungi situs kebudayaan yang sedang direnovasi, bukan?" tanya Alaric sinis. "Dan kau bertemu Rei dari keluarga Viscount Cornelia?" Pandora menarik napas. Melirik tablet di tangan suaminya dengan kernyitan. "Ya. Aku bertemu dengannya. Ada apa memang?" "Lihat ini," Alaric mengulurkan tablet dari tangannya. "Kau perlu menjaga sikap lain kali." "Aku?" Pandora mendengus keras. Mengambil tablet itu dari tangan suaminya dan terkejut saat melihat gambar-gambar yang media sebarkan di laman portal berita. "Kami hanya mengobrol biasa. Kenapa dengan gambar ini?" "Kau pikir aku tahu?" Alaric membalas dengan nada yang lebih dingin. "Rei punya tunangan dan mereka akan menikah. Tidakkah berita ini bisa menghancurkan reputasinya? Dan apa-apaan tatapanmu itu?" Demi Tuhan, kepala Pandora terasa sakit sekarang. Portal media terlalu berlebihan padanya. Memberitakan tentang hubungan dekat antara adik Viscount dan seorang Duchess. Publik akan bertanya-tanya mengenai gambar mereka yang tampak mesra walau ini semua hanya tipuan kamera dan sudut gambar pengambilan. "Aku bisa menjelaskan." "Kau terdengar gemetar. Seperti seorang tikus yang terpojok," tukas Alaric datar. Bersidekap dengan sorot menghakimi. "Apa yang bisa kau jelaskan?" "Kau harus tenang." "Aku cukup tenang." "Itu tidak seperti yang kau lihat. Kami memang bercakap-cakap. Seperti biasa, aku harus bersikap baik karena beberapa wartawan mengambil gambar. Aku bertemu Rei dan kami mengobrol sebelum dia memperkenalkan kastil yang sempat menjadi tempat tinggal mendiang leluhurnya. Cukup sampai di sana dan dia berpamitan. Kami bahkan hanya berjabat tangan." Pandora tidak percaya dirinya bisa berbicara sepanjang itu hanya untuk membuat Alaric percaya. Euforia bertemu Rei hanya sesaat. Dan semuanya menguap saat pria itu berjalan pergi untuk lebih dulu meninggalkan tempat dari dirinya. Pandora tidak punya pikiran atau asumsi berlebihan tentang kehidupan asmara bersama adik Viscount di masa depan. Alaric menarik napas panjang. Satu hal yang membuat Pandora berdiri dalam getir. "Kalau aku bisa mengikat kebebasanku, kau juga harus." "Aku tidak paham apa maksudnya ini," kata Pandora mencemooh. "Aku tentu mengabdikan diri pada pernikahan. Sesuai sumpah dan kesepakatan. Selama satu tahun, dan aku akan setia padamu. Sementara kau?" Ada tawa sindiran yang meluncur. "Aku tidak percaya kita membahas ini." Alaric melempar tablet malang itu sembarangan di atas sofa. Pandora terlonjak saat pria itu menerjang dirinya, membawanya ke pelukan dan membenamkan bibirnya dalam-dalam ke bibirnya sendiri, mencari kepuasan serta melampiaskan rasa kesal yang terlanjur memuncak. Membuat Pandora gemetar. "Kau harus tahu," bisik pria itu di telinganya. Melarikan kedua tangannya ke sepanjang daster tidur dan berlabuh di belakang tengkuknya. "Aku tidak memikirkan Laura sama sekali saat aku bersamamu." Pandora hanya merasa pusing dengan sensasi baru yang mendebarkan. Dia perempuan dewasa dan tahu akan kebutuhan biologis seorang pria. Yang menjadi masalah, apa dia akan memberikannya pada suaminya? Suami sementaranya? Alaric tidak memberinya kesempatan untuk bicara sama sekali. Saat mendorong kepalanya untuk turun, mencium bibirnya lebih dalam. Mereguk kenikmatan dari sisa cokelat hangat yang tertinggal di dalam mulutnya. Pandora lemas, merasa limbung dan tidak bertenaga. Terutama saat jajahan bibir lapar itu turun ke lehernya. Menimbulkan rintihan kecil yang tidak Pandora kenal sebelumnya. Menyadari jika Alaric siap memberinya kenikmatan yang membuatnya lupa untuk memijak tanah. Dan benar saja saat Pandora terbaring di atas ranjangnya sendiri. Menyaksikan bagaimana cara pria itu menatap dirinya penuh lapar sekaligus memuja. Pandora merona. Merasakan panas yang asing di titik sensitif tubuhnya. Terlalu tanggung untuk dilewatkan. Terutama iris kelam suaminya yang berapi-api penuh hasrat. "Aku harus memujamu malam ini." Pandora memejamkan mata. Gagasan untuk melarikan diri atau berpura-pura tidur tidak lagi ada. Isi kepalanya terasa kosong. Semua kewarasannya mendadak lenyap, tersapu kabur gairah yang Alaric kenalkan padanya untuk kali pertama. Pandora hanya bisa merasakan kulit mereka yang polos bersentuhan dan dunia terasa memudar setelahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD