TKS - 28

1529 Words
Yang Pandora rasakan setelah melewatkan malam panjang hanyalah rasa letih berlebihan. Dan beberapa titik yang membuatnya lupa kalau dirinya sudah menyerahkan diri. Pada Alaric, pada suaminya. "Ini masih gelap. Tidurlah lagi." Suara serak dari sebelahnya kembali membuatnya terkejut. Dari dalam kamar yang remang, sayup-sayup mendengar pendingin dan bagaimana kulitnya yang bebas bersentuhan dengan permukaan kulit yang lembut serta kain selimut, Pandora baru sepenuhnya sadar. "Kita benar-benar melakukannya?" Ada senyum geli yang timbul di bibir suaminya. "Apa? Aku tidak mengerti maksudmu." "Kau tahu," kata wanita itu pelan. "Ya. Kita benar-benar melakukannya." Pandora ingin tertawa. "Aku tidak tahu kalau rasanya seperti ini. Seperti terbelah dua, dan yang selanjutnya tidak terjadi apa-apa." "Kau menyesal?" "Entahlah. Jangan bertanya." Kedua matanya kembali terpejam. "Kau sendiri? Aku belum lupa kita bertengkar dan membahas Laura sebelumnya." "Kita bertengkar karena dia dan tidak menyebutkan namanya," sela Alaric cepat. "Juga karena berita yang mengabarkan kau terlalu akrab dengan Rei yang bertunangan." "Media itu terlalu menyudutkanku," ujar Pandora pasrah. Tidak tahu harus berbuat apa karena gerak-geriknya selalu terpantau kamera wartawan. "Apa yang bisa membuat mereka bungkam? Aku merubah konstitusi atau menabrak aturan layaknya Princess Diana?" Alaric menggeleng di atas bantal. "Tidak. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri." "Kau terbilang pandai membual sekarang," ucap Pandora skeptis. Memandang langit-langit kamar dan untuk pertama kalinya merasa cukup bebas. "Aku hanya mengucapi selamat pada Tuan Rei dan semua menjadi malapetaka. Seharusnya aku bisa menjaga sikap." "Kita bisa mengesampingkan obrolan itu dulu." Pandora beralih. Memandang suaminya yang memilih untuk menurunkan tatapan dari balik selimut yang membungkus. "Apa?" "Saat aku melihatmu pertama kali, kau tak lebih seperti perempuan kuno yang tertinggal zaman karena gaya pakaianmu. Lalu aku menyesalinya. Saat melihatmu di lapangan dan unjuk kebolehan." Kenangan itu membuat Pandora marah sekaligus malu. Dia terbuka pada Alaric dan melonggarkan kewaspadaan saat lengah. Alaric menangkap itu. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain terus tampil buruk setiap saat. "Perbedaan yang cukup mencolok. Sejatinya, kau luar biasa tanpa penampilan yang mengganggu itu. Kau mungkin hanya sedang menjaga diri. Benar?" "Ada beberapa alasan," sahut Pandora pelan. Merasakan percakapan ini adalah normal sebagai suami istri. "Salah satunya karena aku tidak suka menjadi pusat perhatian siapa pun." Alis suaminya bertaut satu sama lain. "Karena aku miskin. Aku tidak punya orang tua dan semua orang menganggap bocah beasiswa hanya segelintir yang beruntung menikmati duit hasil silang orang kaya." Alaric terlihat terperangah, dan tidak bersuara atas apa pun. Melainkan hanya tetap bungkam. Dan Pandora merasa dirinya perlu bicara sedikit. "Kau mendapatkannya?" "Selama bertahun-tahun. Aku menempati tanah kelahiranku sendiri dan seperti imigran gelap yang terasingkan. Aku tidak bisa bicara pada pamanku. Hal itu hanya membuatnya semakin sedih. Ellie paham penderitaanku, dia membawaku untuk bersekolah di tempat lain dan hasilnya sama saja." "Beberapa kejahatan dipicu oleh keluarga bangsawan yang arogan. Aku mulai memisahkan diri dan tidak pernah mau ikut campur. Kau tahu, membuang empati pada orang lain. Mereka berbuat, mereka harus berani bertanggung jawab. Aku belajar bertahun-tahun untuk bertahan karena itu." Pandora menarik napas. Tidak lagi melanjutkan percakapan karena hanya membuatnya terkenang kenangan lama. Masa kecilnya berwarna. Kemudian berubah pekat dan matahari tidak lagi terlihat. Sebelum Ellie dan Laito membawanya pada dunia baru. Pandora merasa kehidupannya berubah. *** "Siapa yang akan berkemas?" Pandora bertanya pada Sara yang membungkuk. Melepas senyumnya dengan sumringah saat memandang Sang Duchess. "Anda, Yang Mulia. Ini perintah penting dari Duke yang meminta Anda untuk tidur di kamar sama." "Aku? Kapan?" Sembari membeo kebingungan, Pandora menemukan beberapa barang penting seperti pakaian telah dirapikan. Dan percuma meminta orang lain untuk membongkar semuanya. Karena pekerjaan berhasil dilakukan seratus persen. "Semua sudah selesai?" "Sudah." "Baik, mari kita biarkan Duchess melihat barangnya terlebih dulu." Sara berkata ceria. Seolah seperti penggembala yang mengatur barisan para hewannya untuk pergi dari kandang. Membiarkan Pandora sendiri. Terpana akan luas dan besarnya kamar sang suami. "Aku tidak tahu ada kamar sebesar ini," ujarnya takjub. Menatap keseluruhan kamar dengan kagum. Tidak ada selewatpun barang yang ia lupakan. "Perabotannya pasti mahal." "Tidak juga. Semua berasal dari kerajinan lokal dan hadiah. Aku tidak meminta banyak karena ini bukan rumah inti selayaknya Parvitz." Pandora berbalik. Menyadari siapa yang berdiri di ambang pintu, memberi seringai miring sambil bersandar dan menutup pintu. "Uh, kau bisa jelaskan?" "Apa setelah semalam aku membiarkanmu tidur sendiri?" Pintu tertutup setelahnya dan Pandora merasakan bulu kuduknya meremang. "Kau seharusnya bisa bertanya," gumam Pandora pahit. Melihat seisi kamar dengan napas berat. "Kamar ini terlalu besar." "Dan hampa." Alaric mendekatinya, menyandarkan kepalanya yang berat pada bahu kecil Pandora. "Kau melihatnya sendiri. Aku menghabiskan waktu di sini dan di ruang kerja. Tidak ada bedanya. Kosong." "Bagaimana rasanya?" "Apa?" "Hidup dengan rumah yang besar dan terasa asing. Apa kau pernah merasakannya? Pelayan dan staf terbilang cukup banyak, tapi kau masih merasa sendiri." Pandora berkata hati-hati. "Berulang kali." Ada jeda sebentar yang membentang. "Atau mungkin setiap menitnya. Saat aku memandang langit, semua terasa sama." Pandora meringis. Membayangkan Alaric kecil yang berlarian mencari ibunya dan tidak ada yang mendengar. "Aku bisa membayangkan. Kadang-kadang di aula yang sempit, aku merasa sendiri. Di tengah keramaian, dan hampa." Satu pelukan membuatnya terdiam. Bungkam cukup sebagai penutup percakapan. Pandora menarik napas. Menatap lekat pada seisi kamar yang luas. "Aku menyadari kalau kita sebenarnya barang yang sama dengan takdir yang berbeda." "Takdir?" "Kau bukan berasal dari golongan yang sama denganku. Tetapi dengan cara pandang yang serupa. Kesepian, kurang pandai bersosialisasi dan lebih senang menyendiri." Pandora mengangkat alis. Memutar badan hanya untuk memandang lekat paras rupawan itu di depannya. "Kau berpikir begitu? Kita? Aku merasa kau cukup bisa bersosialiasi." "Itu keharusan. Aku seorang pangeran, diplomasi sangat diperlukan." Alaric berkilah, tenggelam dalam mata istrinya yang indah. "Sebisa mungkin aku menghapus banyak kegugupan di masa lalu hanya untuk bertahan di masa depan." "Kau terlihat lelah," kepalanya meneleng pada ranjang. "Kau butuh tidur." "Kau mau bergabung?" "Aku harus memeriksa kebun sekarang." "Kau bisa melakukannya nanti, setelah aku tertidur." Alaric menjawab dengan senyum. Yang hampir membuat Pandora kehilangan napas. Sebelum bibir itu berhasil menyentuh bibirnya, Pandora mundur. "Hm?" "Kau ingin bicara sesuatu?" Alaric tahu, ini saatnya untuk terbuka. "Ya. Tentang pelaku yang melempari kita berdua dengan telur." "Apa yang terjadi?" "Dia tiba-tiba meninggal. Malam saat kita baru saja kembali dari istana dan rumah pamanmu. Tim forensik memutuskan kasus itu terjadi secara perseorangan, tetapi penyelidikan tetap berlanjut." Pandora mendadak tegang. *** Laura memandang putra kembarnya yang sibuk belajar. Saat ini mereka bersama tutor berkeliling kebun. Keduanya cukup antusias. Sementara sang suami menunggu dari jarak cukup jauh untuk mengawasi. Langkah Laura terdengar gusar. Saat dirinya mendekat, mengamati ekspresi datar yang tercermin di wajahnya. "Semua baik-baik saja?" "Ya, aku sedang melihat mereka berdua terus mengoceh tentang bunga." Dimitri menunjuk dengan dagu pada putra kembarnya yang ceria. Masa kecilnya tidak terlalu berwarna. Dan melihat kedua anaknya tumbuh sehat dan berkembang seperti pada umumnya, membuat Dimitri luar biasa bangga. "Secara tidak langsung, didikan kita berhasil." Ketika Laura hamil dulu, dia banyak memutuskan untuk membentuk kehidupan anaknya sendiri. Kehamilan kembar adalah kejutan baru. Dimitri berasumsi genetik kembar anaknya turun dari mendiang leluhur keluarga ibunya. Silsilah keluarga lama Laura yang pernah melahirkan anak kembar meski tidak keduanya selamat setelah berusia lima tahun. "Aku mengawasi mereka sampai usia dua tahun. Para pengasuh banyak membantu. Aku belajar banyak dari mereka," kata Laura mengenang masa-masa beratnya sebagai ibu. "Saat Ken kesulitan bicara, aku merasa terpuruk. Tetapi masih memberinya cinta yang semestinya. Keduanya hanya perlu waktu untuk menujukkan diri." Dimitri menghela napas. Menyadari benar penderitaan Laura saat mengetahui salah satu putranya mengalami kesulitan. Masa-masa yang berat telah mereka lalui bersama. "Kedua bakat mereka berbeda. Namun menyukai olahraga yang sama." Laura tertawa. "Aku setuju. Ken lebih berapi-api sekarang. Dulu, Ren yang cenderung berisik." Dimitri melihat kepala asisten kepercayaan istrinya mendekat. Ilama terlihat sibuk dan Dimitri paham pekerjaan sebagai staf senior seperti Ellie di dapur. "Pelaku yang melempari Alaric dan Pandora telur, terbukti menggantung dirinya sendiri. Dokter yang memutuskannya setelah melakukan autopsi." Laura terpaku. "Apa? Bagaimana bisa? Tanpa kita mendapat informasi apa-apa?" Dimitri menggeleng. "Belum. Setelah melarikan diri, dan ditemukan meninggal oleh tim pencari. Alaric baru dikabari setelahnya. Itu terjadi saat mereka berkunjung ke istana utama." Laura membeku. Sudut matanya bergerak melirik Ilama yang mendadak ikut diam. Kemudian membungkuk pada Laura dan Dimitri bersamaan. "Ada apa, Ilama?" "Pangeran kembar meminta bubur mangga karena melihat mangga di perkebunan berbuah. Aku berniat mengirimkan pesan itu ke koki sekarang." "Bubur mangga?" Dimitri tertawa singkat. "Aku mengenang masa-masa saat para koki senang berkreasi hidangan baru untuk kami." "Aku rasa tidak masalah. Beritahu koki untuk membuatkannya. Mereka tidak akan bisa menunggu jika perut sudah berbunyi," ucap Laura hangat dan Ilama bergegas untuk menyingkir. "Apa menurutmu Ilama mendengar?" Alis suaminya terangkat naik. "Aku tidak tahu. Dari jarak yang cukup ini, kurasa dia mendengar." "Tidak apa-apa jika pelayan tahu?" "Dia orang kepercayaanmu, bukan?" tanya suaminya. "Toh, dia bisa menjaga rahasia. Biarkan saja. Pelaku itu sudah terkubur tanpa kita tahu motifnya." "Aku turut menyesal," ujar Laura sedih. "Semoga ini menjadi yang terakhir. Termasuk para media yang berhenti bercerita buruk tentang Pandora." "Pandora dan Rei?" Dimitri mendengus. "Adik Viscount itu bahkan akan menikah bulan depan. Media benar-benar membuatku jengkel sekarang." "Apa juru bicara istana perlu memberi klarifikasi?" "Biarkan saja. Mereka akan melupakan berita konyol ini secepatnya." Laura menghela napas. Memandang kedua putranya dan tiba-tiba salah satu dari mereka tergelincir. Yang membuat tutor dan pengasuh panik, lalu kedua orang tuanya hanya tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD