Perhelatan pernikahan yang diadakan ramai di Katedral dan istana mengundang banyak rasa penasaran. Media beramai-ramai mengangkat topik berita yang sama. Sejenak melupakan skandal yang menimpa salah satu mempelai. Keberuntungan si gadis dan asal-usulnya yang telah merebak ke seluruh kalangan membuat semua orang bersuka. Sebagian dari mereka dengan terbuka mengesampingkan berita yang nyaris mencoreng nama baik kerajaan.
Laito berdiri cemas. Bersama Ellie yang konon diberi kelonggaran sebagai salah satu anggota keluarga Pandora, diperkenankan hadir. Pangeran Dimitri yang memintanya. Pandora tidak punya keluarga dekat selain pamannya yang mengurus dirinya. Serta Ellie yang berkontribusi cukup besar di kehidupan masa lampau gadis malang itu.
Para tamu berdatangan dengan pakaian formal mereka. Berdandan untuk menyempurnakan penampilan. Selayaknya para bintang yang bersinar di atas karpet merah. Beberapa kalangan yang hadir tidak hanya sebatas kaum borjuis yang sama. Selebriti kelas A bersama pasangan mereka dan beberapa penghuni pemerintahan turut bersuka cita menyambut pernikahan terbaik abad ini.
Putra mahkota menjadi pengiring pengantin. Putra kembar pasangan Pangeran Dimitri dan Putri Laura berdandan sempurna untuk mengiringi Pandora dan gaun mereka. Jas hitam terpasang apik. Rambut hitam mereka disisir rapi.
Sementara Pandora tertahan untuk mematut penampilannya sekali lagi. Meresapi bayangan yang ada di depan cermin. Menarik napas dalam-dalam, sebelum membuangnya perlahan.
Nakia sedang menata rambutnya. Untuk yang terakhir kali, memberi sentuhan manis sebagai akhir dari pekerjaannya. Memandang Pandora dengan seulas senyum, berusaha ikut membunuh kegugupan yang mengudara.
"Well, Putri Pandora. Kau akan menjadi Duchess di Cornelia. Aku akan mulai belajar memanggilmu Yang Mulia. Your Grace, kau benar-benar terlihat sempurna hari ini. Kau mencuri semua perhatian semua orang."
"Di antara banyak orang, kau pengecualian. Hilangkan saja kesempatan itu." Pandora bangun dari kursinya. Menatap mahkota yang berhiaskan tiara di bagian dalam dan tepiannya. Lapisan perak murni dan kilauan emas yang bercampur berbaur menjadi indah di rambutnya. Pandora hanya bermimpi bisa memakai mahkota secantik ini dalam hidupnya.
"Pandora sudah siap?"
"Sebentar lagi, Ellie. Kau membuatku semakin cemas." Laito bergerak gusar. Menanti keponakannya dengan berdebar kencang. "Astaga. Aku butuh tisu sekarang. Tanganku berkeringat."
"Oh, tahan dulu. Kau tidak mungkin membuat kita malu."
"Ellie. Kau bercanda!"
Nakia membuka pintu. Dengan senyum lebar yang membingkai wajah manisnya, ia memberi ruang untuk Pandora melintas. Seketika napas Laito seakan terhenti. Begitu pula Ellie yang berkaca-kaca. Tidak sabar untuk memeluk Pandora barang sebentar.
"Apa aku terlihat aneh?"
"Sempurna. Tidak ada kata yang pantas menggambarkan hal itu. Kau sangat luar biasa cantik."
Nakia memberi senyum lebar. "Terima kasih pujiannya. Aku tidak terlalu banyak meriasnya dan Pandora sudah terlalu memikat. Ini sempurna. Ayo, tegakkan punggungmu. Kita harus pergi karena orang-orang sudah menunggu."
Laito menunduk, menyeka sudut matanya yang berair. Meski pernikahan ini hanya pura-pura, tetapi Pandora layak diberi apresiasi sekarang. Keponakannya seolah muncul dari dimensi yang berbeda.
Pandora menyelipkan tangan untuk merangkul lengan sang paman. Berdiri bersamanya saat berjalan menuju altar. Berharap tidak ada satupun dari mereka merekam wajahnya yang gugup.
Karena tidak butuh waktu lama sampai kakinya benar-benar memijak Katedral yang agung. Semua orang berdiri menyambutnya. Fokus Pandora terpecah antara pendeta di depan sana atau Alaric yang berlapiskan seragam kerajaan. Rangkulannya pada lengan Laito mengencang seiring napasnya yang memburu.
Ini hanya sementara.
Dan rasanya Pandora tidak akan bisa melupakan momen ini untuk selamanya.
***
Semua orang berpesta setelah pasangan saling mengucapkan sumpah satu sama lain. Menempati kursi masing-masing untuk menunggu pelayan menyajikan makanan di piring. Saling bercengkerama dan memamerkan seberapa banyak aset mereka selama ini.
Pandora berdiri untuk menyambut tamunya. Ia harus sebisa mungkin menjaga dirinya untuk terlihat aktif dan tidak pasif di pesta pernikahannya sendiri. Para bangsawan melingkari tempat yang berbeda. Seolah istana telah mempersiapkan kemungkinan ini dengan sangat baik.
"Pengantinmu terlihat sangat menakjubkan. Kau berpikir yang sama, kan?"
Seseorang menghampirinya dengan senyum lebar. Pria bertubuh jangkung dengan bakal janggut tipis menyertai. Berdiri di samping Alaric sambil memegang segelas sampanye dingin. "Kau mendengarku?"
"Kau bercanda."
"Apanya?"
Alaric mendengus. Menarik napas dalam karena dirinya tidak bisa fokus. Sejak tadi hanya melamun, memandang Pandora yang mencoba berbaur dengan segenap kemampuan sosialiasi minim yang dia miliki. "Kau bicara apa?"
"Demi Tuhan! Aku bertaruh kau terlalu terlena," kata si kontraktor menyebalkan yang pernah ada di kampus yang sama dengannya. "Pengantinmu sangat cantik. Sayang sekali, aku tidak melihat gadis seperti itu di kampus kita dulu."
Kening Alaric mengernyit dalam. "Lupakan saja. Aku sama sekali tidak tertarik membahasnya."
"Membahas pengantinmu?"
Alaric mendesah. Melirik sekilas pada rekan lamanya sebelum melihat Pandora terhuyung. Kesulitan memakai sepatu hak tingginya sendiri. "Aku harus pergi."
"Tentu saja, Yang Mulia. Semoga kau berbahagia."
"Apa kau butuh minuman dingin lagi? Aku dengan senang hati bisa meminta tolong pada pelayan untuk membawakan minuman baru."
Pandora bertanya pada salah satu tamu, dan mereka menanggapi dengan keramahan yang sama. Nyaris saja dirinya terjatuh. Tidak terlalu pandai mengatasi sepatunya sendiri.
"Duduk dulu sebentar."
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir," Pandora mengembuskan napas saat tahu siapa yang mendorongnya untuk duduk di kursi, sedikit memaksanya. "Sedang apa kau di sini?"
"Kenapa kau ketus sekali padaku?"
"Aku melihatmu berbincang dengan teman pria tadi," kata Pandora. Mengendik pada tempat Alaric sebelumnya berdiri. "Ke mana dia?"
"Pergi bersama kekasihnya. Kau hampir terdorong. Apa gaun dan sepatu itu menyulitkanmu?"
"Kau ingin jawaban jujur? Ya, tentu saja. Ini membuatku kesulitan. Ingin rasanya melepas gaun ini secepatnya." Pandora bernapas kesal. Menunduk menatap gaunnya dan mendapati tatapan suaminya ikut turun. Ia lantas berdeham.
"Bisa kau singkirkan tanganmu dariku? Aku perlu memasang wajah ramah sekali lagi untuk menyelamatkan diri."
Alaric melepasnya tanpa ragu. "Dasar keras kepala. Aku akan membiarkanmu seandainya kau jatuh dan gaunmu terinjak."
"Oh, apa aku perlu duduk dan menunggu sampai tamu menyapaku? Memangnya aku ini siapa?"
Ekspresi tidak suka berlumur di wajah Alaric sekarang.
"Aku tidak sepertimu. Kau sejak tadi berdiri seperti kepala sipir penjara. Dan orang-orang menempel padamu seperti lalat buah. Sementara aku? Aku tidak bisa. Aku harus menyapa mereka."
"Kau tidak perlu melakukannya," bibirnya terkatup saat mata sehijau hutan pinus itu memandangnya tajam. "Atau berbuat sejauh itu. Biarkan saja mereka mengurus diri sendiri."
"Atau seseorang akan bergosip tentangku. Ini penting untukku. Aku tidak mau dicap mempelai sombong nanti."
Alaric mulai menyerah dengan sikap keras kepala istrinya. "Yah, terserah padamu."
Pandora bangun. Memperlihatkan senyum manis saat beberapa orang memandangnya dengan sikap ramah yang sama. Tidak semua tamu berkelakuan seperti manusia tak bermoral selayaknya pesta kemarin.
"Aku permisi."
Dan seperti yang Alaric duga setelahnya. Karena baru empat langkah menjauh, Pandora tersandung kakinya sendiri. Hampir membuat keributan kecil karena istrinya baru saja mempermalukan dirinya sendiri, Alaric harus segera bertindak.
***
"Aku mengacau lagi."
Alaric menunduk, memerhatikan alas kaki Pandora yang memerah. Setelah menelisik sepatu mahal itu, ia mendapati kesimpulan.
"Lagi?" Kemudian mengembuskan napas berat. "Kalau sepatu ini terasa sempit untukmu, kenapa kau memaksa memakainya?"
"Aku tidak punya pilihan. Sepatu itu terlihat bagus." Pandora mengendikkan kedua bahunya. "Ini yang kedua. Pertama saat di pesta keluargamu."
Alaric hanya diam. Lalu bangun untuk memberi ruang bagi mereka berdua. "Ini kamarmu. Untuk sementara sampai penobatan selesai."
"Kapan penobatan terjadi?"
"Besok."
"Besok? Secepat itu?"
"Istana tidak perlu istirahat. Dimitri telah menunaikan tugasnya dengan sangat sempurna."
Pandora mengambil inti kalau sindiran itu begitu tajam. Alaric masih marah karena perjodohan tiba-tiba ini. Sama halnya pada Pandora yang menyepakati tanpa ada obrolan di antara mereka berdua. Menurutnya itu tidak perlu. Atau Pandora bisa saja bersikap ceroboh dan membocorkan rahasia yang sebenarnya.
"Di mana kamarmu?"
"Kau perlu bertanya?"
"Agar aku tidak salah masuk. Kau tidak melihatnya, kalau di sini semua model pintu sama. Ukirannya juga sama."
"Kecuali kamar raja dan ratu." Alaric menyahut tanpa ekspresi.
"Kamarku di depan. Tepat di seberang pintu kamarmu. Saat kita di Cornelia, kita tidak akan tidur di kamar yang sama."
"Oh, bagus. Itu terdengar melegakan." Pandora membuat dirinya sendiri berbaring. Mengusap seprai ranjang yang nyaman. Semua terbuat dari sutra. Rasanya sangat sempurna. Dia tidak pernah memimpikan tidur di atas ranjang yang empuk seperti ini. "Apa bantal ini terbuat dari bulu ayam?"
"Bulu angsa. Kualitas terbaik."
"Apa ini alasan kerajaan mengelola pabrik peternakan angsa?"
"Aku tidak tahu. Mereka memproduksinya dalam jumlah banyak untuk diperjualbelikan."
"Bisnis tetap bisnis," balas Pandora sembari meringis. "Aku bisa saja terlelap sekarang."
"Aku punya pertanyaan untukmu."
"Jangan sekarang. Aku baru saja mempermalukanmu."
"Tidak, bukan aku. Kau mempermalukan dirimu sendiri." Alaric menimpali cepat. Dia sama sekali tidak merasa malu saat istrinya tersandung dan membuat semua orang cemas.
"Oke, bagus."
"Kau mendengar suara siapa di lorong? Sebelumnya, kau sempat berbicara begitu padaku."
Pandora bangun dan kembali duduk. Meluruskan punggung dengan ekspresi bingung. "Ini obrolan dewasa. Kau serius bertanya begini?"
"Tentu. Kau hanya perlu menjawab."
"Apa itu penting? Mengapa kau perlu tahu? Pelakunya adalah dirimu."
"Aku bertanya karena aku merasa tidak pernah melakukannya. Itu terjadi siang atau malam hari?"
"Siang."
"Demi Tuhan, apa aku terlihat seceroboh itu?"
"Kau dan Putri Laura terlihat sangat b*******h soal asmara. Kupikir kalian memang tidak kenal waktu," lidahnya mendadak terasa kaku. Pandora terbayang hal memalukan yang membawanya sampai pada pernikahan sementara. "Sementara kau tidak kenal tempat. Bukan salahku."
"Bukan salahmu dan kau sekarang perlu menjelaskan."
"Apa yang perlu kujelaskan?" Pandora membalas pahit. "Semua tampak jelas. Kau melakukannya di sebuah ruangan, membiarkan beberapa orang tahu dan tanpa malu di tempat terbuka. Itu siang hari."
"Kau perlu menjelaskan."
Pandora kembali berbaring. Meringkuk seperti bayi dan menenggelamkan kakinya ke dalam gaun pengantin. Ia belum mau melepas gaunnya dan ingin cepat tidur. "Aku butuh istirahat. Kalau kau pergi, jangan lupa untuk menutup pintu."
Alaric perlu belajar menahan diri sekali lagi mulai dari sekarang.
***
Penobatan benar-benar berlangsung di hari selanjutnya. Seakan tidak ada satupun yang diperkenankan beristirahat. Sama halnya dengan Pandora. Yang harus bangun pagi-pagi sekali, masih memakai piyama dan pergi ke ruang makan, yang membuatnya mendapat teguran dan mendapat hukuman untuk sarapan di dalam kamar. Beruntung karena Ellie menemaninya. Pandora tidak terlalu merasa malu atau bersalah.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi semua."
Para staf dengan ramah menyapanya. Pandora berjalan melintasi lorong dan pergi ke ruangan khusus saat Nakia ada di sana. Penobatan setengah jam lagi dan dia perlu berdandan.
"Nakia? Oh, selamat pagi."
"Selamat pagi." Laura hadir di dalam ruangan dengan Nakia yang sibuk menata rambutnya. "Kau terlihat baik pagi ini. Tidurmu nyenyak?"
"Ya, Yang Mulia. Terima kasih telah bertanya."
Laura memberi senyum tipis. "Aku mendengar masalah kecil baru terjadi di ruang makan. Alaric marah padamu?"
"Kurasa, ya. Aku tidak membuatnya terkesan sama sekali. Kebiasaan lama," ujarnya malu. Menyadari kalau dirinya membuat kesalahan dan akan belajar di masa depan. "Itu tidak akan terjadi lagi di masa depan."
"Santai saja. Orang cenderung berbuat salah di hari pertama," kata Laura. "Kau juga bukan dari golongan bangsawan yang terpelajar. Itu pasti sesuatu yang asing menurutmu."
Nakia meliriknya tanpa suara. Dan Pandora lekas menunduk, memberi anggukan tipis tanpa lagi bersuara.
"Anda terlihat luar biasa," puji Pandora saat Laura telah selesai dirias. Nakia membiarkan Laura bercermin sekali lagi sebelum pergi.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Ilama datang untuk menjemput. Membantu Laura dan Pandora bergeser memberinya ruang untuk pergi. Ketika Laura tidak lagi terlihat, Nakia memintanya untuk duduk. Merapikan riasan Pandora dan menata rambutnya.
"Tidak perlu tambahan apa pun, digerai saja cukup. Aku perlu memakai topi."
"Ah, benar." Nakia terburu-buru mencari perlengkapan yang Pandora mau. Membiarkan gadis itu memilih dan menata rambutnya lebih baik.
"Bajunya terlihat sempurna."
"Aku bingung mencari pakaian yang cocok kali ini. Dan mendapatkan ini di lemariku."
"Itu sudah cukup," ujar Nakia ramah. Menyemprot parfum rambut untuk terakhir kalinya sebelum meminta Pandora bangun. "Nah, sempurna. Kau siap menghadiri penobatan sekarang."
"Tanganmu adalah karya. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Yang Mulia. Senang dapat membantumu."
"Kau hanya bergurau," balas Pandora pelan dan berjalan pergi. Mencoba mengatur langkahnya dengan sepatu yang sama dan lebih longgar. Agar kakinya tidak kembali sakit seperti kemarin.
"Kau berharap aku bahagia? Tanpamu?"
Suara Alaric terdengar. Yang membuat Pandora harus menarik langkahnya diam. Memerhatikan sekitar dan benar-benar hanya mendapati mereka berdua. Berdiri dengan jarak yang cukup lebar. "Itu mustahil."
"Kau bisa melakukannya selama ini."
"Dan kembali teringat padamu!" Intonasinya mulai agak naik. "Aku mengaku kalah. Dan sebelumnya pernah bicara hal yang sama. Kau tidak mau mengerti."
"Aku punya keluarga. Sebentar lagi kedudukanku berubah. Kau berharap pada hal yang salah."
Laura terdengar berapi dan kesal. Pandora mengernyit, menemukan wanita itu nyaris menangis. "Aku tidak lagi mencintaimu. Lupakan saja. Aku memang tidak pernah mencintaimu."
Laura menarik gaunnya untuk pergi. Melewati Pandora begitu saja dan tidak yakin melihat gadis itu di sana atau tidak. Sementara Pandora hanya mematung. Kembali mendengar pertengkaran yang seharusnya tidak melibatkan dirinya ada.
"Kau mendengarnya."
"Lagi."
Pandora menarik napas, membuangnya secara kasar. Matanya menatap sang suami tanpa suara. Sebelum mulutnya membuka, dan tidak ada suara apa pun yang meluncur. Ia kembali membisu, tanpa suara.
"Kau sama sekali tidak membuatku terkesan."
Senyum gadis itu membingkai sinis. Pandora mendengus kecil. Merapikan rambutnya dan memandang Alaric penuh cela. "Aku memang tidak berniat membuatmu terkesan. Egomu perlu ditingkatkan lagi agar tidak salah menilai orang lain."
Mendengar suara terompet berbunyi nyaring, ini tiba saatnya untuk pergi. Pandora menyeret kedua kakinya untuk kembali ke realita sebelum benar-benar berusaha melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Dia harus bermain lakon sekarang.