Cornelia tidak ubahnya sama seperti kastil utama yang besar. Tiang-tiang tegap yang menopang bangunan terlihat mencolok dengan seisi dinding dipenuhi cat putih yang dominan. Nuansa hidup karena istana dipenuhi bunga serta tanaman lain menambah keindahan. Gerbang yang menjorok ke dalam sebagai tanda bahwa istana ini bukan diperuntukkan bagi umum untuk berwisata.
Tempat ini indah. Pandora tidak pernah pergi ke Cornelia untuk urusan jalan-jalan. Beberapa orang menyebut tentang gelato sebagai makanan terbaik musim lalu dan musim ini. Pandora mungkin berniat mencoba saat semuanya berjalan normal.
Limusin berhenti tepat di pintu masuk. Ada lima anak tangga dan para staf serta pelayan telah berjejer untuk memberi sambutan. Ekspresi mereka terlampau datar. Dan Pandora tidak berniat mencari masalah di tempat baru.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia."
Khusus sapaan ini diberikan pada Alaric. Raja memberikan Cornelia sebagai daerah kekuasaan sebelum mengembuskan napas terakhir. Saat putra mahkota sulung menempati Damais sebagai wilayah teritorial.
"Sambutannya cukup bagus. Seharusnya tidak perlu terlalu meriah seperti ini."
"Menurut kami ini penting."
"Ini kepala staf, Sara. Dia yang memegang hampir semua peran untuk mengatur orang di sini." Alaric mengenalkan Sara pada Pandora. Ketika keduanya saling bertukar sapa, Pandora mengulurkan tangan dan Sara menerimanya dengan ramah.
"Halo, Pandora. Senang bertemu denganmu."
"Aku juga, Yang Mulia." Sara memberi senyum. Secara gratis memberikan tur singkat sebelum Pandora mencari kamar dan ingin beristirahat. "Aku mendapat tugas untuk memisahkan dua kamar penting. Ini yang paling utama."
"Kamar kami berseberangan?"
Sara tidak ingin bertanya lebih lanjut karena dia hanya menunaikan tugas. "Ya, sesuai permintaan, Yang Mulia. Barang Anda akan dipindahkan."
Wanita itu melesat pergi. Sesaat membiarkan mereka saling berdiam diri.
"Ini kamarku sebelumnya. Kamarmu yang baru, di sebelah sana. Jangan pecahkan guci di samping pintu."
"Apa aku terlihat berniat merusak barang di tempat ini?" tanya Pandora sinis.
Alaric mendengus. Mengerutkan kening dengan tatapan mencela terang-terangan. "Kau terlihat sangat penasaran. Bisa saja kau paham berapa harga satu barang antik di sini dan berniat menjualnya ke kolektor secara ilegal. Who knows? Aku tidak terlalu mengenalmu."
Sindiran itu seharusnya cukup membuat Pandora bungkam. Tetapi matanya menyipit, memindai Alaric seolah barang murah dan melengos. "Yah, terserah."
Pelayan kembali dengan beberapa barang. Pandora mengekori mereka masuk ke dalam kamar. Tidak bisa membuang pandangan dari interior di dalam kamar yang mewah. Semua barangnya seakan terbuat dari emas. Bahkan tersedia kamar mandi dalam dan pemanas. Kamar ini lengkap. Seandainya dia terlahir sebagai sendok emas, mungkin menghabiskan waktu di kamar akan menjadi hobi alih-alih berbelanja perhiasan dan tas.
"Ini luar biasa."
Pelayan yang memindahkan koper dan barang sama sekali tidak berkomentar. Mereka hanya melakukan tugas secara cepat dan cekatan. Membiarkan Pandora berkeliling, memeriksa kamar dengan kagum.
"Berapa lama kalian bekerja di sini?" tanyanya pada dua pelayan muda yang terlihat kikuk.
"Baru sebentar. Kami harus pergi, Yang Mulia."
"Um, ya. Terima kasih karena telah membantu membawakan barang!"
Keduanya bergegas pergi tanpa lagi menoleh. Pandora mendapati dirinya lagi-lagi terabaikan. Atau mungkin hanya perasaannya saja?
"Bagaimana dengan kamarnya, Yang Mulia?"
"Oh, ini indah. Aku suka aromanya. Terima kasih."
"Dengan senang hati. Jangan sungkan memberitahu kalau Anda butuh bantuan." Sara mengulas senyum ramah sebelum menutup pintu dan membiarkan Pandora sendiri di tengah kamar yang luas.
***
Mereka berpapasan di depan pintu kamar. Saat Alaric menyaksikan istrinya sedang memutar badan demi rok selutut yang memamerkan kaki jenjang tanpa cela, napasnya tiba-tiba berubah kasar. Darahnya berdesir. Secara tidak sopan memikirkan hal senonoh. Itu sembrono, akunya suram.
Pandora mungkin belum sadar kehadirannya di depan pintu kamar. Mengamatinya dalam diam dan terpukau karena pakaian yang tersedia di lemari cocok dengan tubuh rampingnya.
"Kau sepertinya menyukai pakaian baru."
"Ini bukan gaya kolot. Aku suka warnanya." Pandora mengetuk ujung sepatu yang sedikit memiliki hak ke lantai. "Apa menurutmu kemeja ini cocok dipadukan dengan rok?"
Alaric memberi komentar bersama satu cibiran. "Aku bukan penata riasmu. Tanyakan pada mereka nanti."
"Oh, tidak perlu. Aku hanya perlu kaca dan bertanya pendapatku sendiri." Pandora berjalan dan baru menyadari ada yang tidak beres. "Kenapa kau menatapku?"
"Kedua mataku masih sehat," kata Alaric dingin. "Omong-omong, aku tidak menatapmu."
"Kau sepertinya cukup lancang karena memandang kakiku sekarang. Apa mereka gemuk?"
Apa-apaan itu?
Alaric belajar untuk tidak mengumpat dalam situasi mendesak apa pun. Walau kadang dia dan Dimitri sering melanggar aturan tersebut secara naluriah. Kehidupan militer dan kampus sangat berbeda. Alaric terbiasa berbaur dengan banyak kepala. Yang membuatnya lebih maju di usia dua puluhan daripada mendiang raja terdahulu.
"Kakimu gemuk?" Alaric membeo. "Kau seperti lidi. Itu hanyalah dua bambu yang berjalan."
"Yah, terserah. Betisku cukup kuat kalau sekadar untuk menegur bagian belakang seseorang."
Pandora terus mengoceh saat mereka berdua turun ke lantai dasar. Alaric mendapati dirinya mencium aroma parfum yang tidak biasa. Kalau Laura tertarik pada aroma kayu yang menenangkan, Pandora condong pada vanila dan aroma buah yang manis.
"Kau memakai parfum. Parfum apa?"
"Yang murah." Memberi senyum saat melihat staf mengatur pelayan yang sedang membersihkan guci. "Aku tidak bisa membeli parfum mahal. Botol ukuran 10 ml seharga dua ratus lima puluh dolar membuatku hampir terserang serangan jantung."
"Kau berlebihan," tukas Alaric menahan senyum.
"Sendok emas tidak sepatutnya mencela." Pandora berpindah dari sisi lain dan Alaric masih setia mengikuti. "Kalau aku pergi ke kamar mandi dan buang air besar, apa kau juga akan ikut bersamaku?"
"Apa-apaan?" Kemudian tersentak mundur. Memberi ruang karena Pandora berniat mengecek peternakan di belakang kastil. "Kau mau ke mana?"
"Melihat domba kesayanganmu."
"Aku lupa kalau masih memiliki domba. Apa mereka masih hidup?" Alaric melihat Sara baru saja muncul dari pintu lain. "Peternakan masih ada?"
Sara memberi senyum bangga. "Berkembang pesat sesuai dugaan, Yang Mulia. Semua hewan yang kami rawat tampak sehat dan gemuk. Para betina bisa melahirkan banyak anak untuk dibagikan ke warga setempat."
"Oh, begitu."
Sara pamit dan Pandora memberi reaksi tercengang. Apa pangeran bodoh ini hanya makan gaji buta? "Kau tidak tahu kalau punya peternakan? Sara bercerita banyak tentang urusan hewan saat bersamaku tadi."
"Kalian akrab."
Pandora mendengus kesal. "Bukan itu yang ingin kubahas."
"Urusanku banyak. Tidak melulu soal peternakan dan hasil alam," ujar Alaric membela diri yang sayangnya terkesan penuh bualan di mata Pandora. "Kau ingin aku berkomentar sedikit?"
"Apa?" gadis itu berubah galak.
"Rokmu cukup pendek."
Pandora menunduk untuk menurunkan roknya yang terlalu naik ke pinggang. Menarik napas kesal, membuangnya perlahan. Percuma mendebat suaminya sekarang. Mereka baru saja kembali dari Parvitz ke Cornelia. Seharusnya istana suram ini dihiasi tawa, bukan derai air mata.
"Komentarmu ditolak. Kau mencela saat aku memakai rok panjang, dan sekarang mencela karena aku memakai rok pendek? Ini selutut. Ratu juga pernah memakai rok seperti ini."
"Dia pantas, kau tidak."
"Ah, terserah." Pandora bergegas pergi. Melangkah menyusuri lorong dan pergi menuju rumah belakang. Tempat peternakan itu hidup.