TKS - 31

1032 Words
"Berapa banyak kisaran pengunjung setiap harinya?" "Mungkin lima puluh sampai dua ratus orang, Yang Mulia. Bertambah di akhir pekan atau hari libur. Anak-anak cukup antusias melihat alat musik dari seluruh dunia." "Museum ini luar biasa," puji Pandora tulus. "Mereka akan senang melihat bentuknya secara langsung. Anak-anak perlu imajinasi dari penggambaran visual sebenarnya." "Barang yang sempat dicuri, sudah dikembalikan?" "Sudah, Yang Mulia." Salah satu penjaga museum membawa keduanya pada etalase kaca dan Pandora terpana karena bentuknya yang indah. "Ini barang langka dari Cornelia. Mereka menyebutnya sebagai musik dari surga." "Harpa?" Pandora tercengang. "Saat aku berada di kampus dulu, tidak semua orang bisa memainkannya. Mungkin hanya ada satu atau dua orang, dan mereka bergantian. Ini luar biasa." "Satu-satunya peninggalan dari Cornelia. Parvitz menyukai perayaan dengan musik. Harpa ini berbunyi sangat indah." Pandora tersenyum lebar. "Aku mengenang masa kuliah dulu. Apa ada yang bisa memainkannya?" "Ratu." Sahutan itu membuat semua orang setuju. Kecuali Pandora yang mendadak bungkam. Menoleh memandang suaminya yang menunduk, tampak salah tingkah. "Laura bisa memainkannya. Saat lamaran dulu, dia memainkan alat musik ini untuk Dimitri." "Kau ada di sana?" tanya Pandora tanpa peduli orang-orang sedang memandang mereka sekarang. "Aku hadir." "Ratu memang luar biasa," ucap Pandora tiba-tiba. Menatap sekitarnya dan melihat para staf mengiakan hal itu. "Dia sempurna dalam segala hal, bukan?" Alaric hanya menatapnya. Tanpa bersuara, tanpa memberi kesempatan untuk bibirnya membuka. Kemudian penjaga museum kembali membawa mereka berkeliling. Tidak ada yang menarik. Saat Pandora masuk lebih dalam, dia melihat okulele dengan biola. Seketika senyumnya pudar. Etalase kaca itu otomatis terbuka, dan Pandora mundur tiba-tiba. "Anda baik-baik saja?" "Ya," balas Pandora pada Nina yang cemas. "Biolanya sangat cantik." Alaric berpaling ke arahnya. Lagi-lagi memandang tanpa suara, seolah menilai keseluruhan dirinya dalam diam. Kemudian dengan satu kalimat, berhasil membuat Pandora tegang. "Kau bisa memainkannya, bukan?" "Apa?" "Okulele atau biola?" Semua orang memandang serius ke arahnya. Sebagian lagi diliputi rasa penasaran yang tinggi. "Aku tidak terlalu bisa," lirihnya lamat. "Duchess pandai memainkan salah satunya," kata Alaric tiba-tiba. Membuat semua orang yang hadir menemani mereka antusias. "Mungkin saat pentas seni kampus, dia bermain satu atau dua lagu di atas panggung dengan salah satunya. Kalian bisa menebak?" "Bisa berikan kami pertunjukkan manis itu, Yang Mulia?" Alaric menyeret pandangannya dari para kerumunan pada istrinya yang pucat pasi. Seketika menyadari ada yang salah, dirinya terburu-buru mengendalikan situasi. "Kita akan melihatnya lain kali. Dengan persiapan yang lebih matang, mungkin?" Penjaga museum dengan polos sumringah. "Tentu saja! Kami akan sangat menantikannya! Semoga saat festival musim panas nanti, Duchess bisa memberi hiburan bagi kami semua." Pandora hanya mengangguk. Lidahnya terasa kelu untuk sekadar bersuara. Saat Alaric mundur, meraih tangan sang istri dan dengan tiba-tiba Pandora menepisnya. Melirik pria itu sekilas sebelum akhirnya bergerak maju. Berjalan melanjutkan perjalanan seolah tidak terjadi apa pun di antara mereka. *** "Kau mau bercerita?" "Tidak ada yang perlu kubagi denganmu sekarang." Pandora berbalik, melepas kalung permata yang terasa mengganjal di lehernya. "Kau mau pergi? Aku butuh tidur." "Sesuatu yang salah baru saja terjadi di sini," sela suaminya dingin. "Mengapa kau melepasnya?" "Aku tidak betah dengan bandulnya. Terasa gatal." Pandora mencebik, menaruh perhiasan itu dengan hati-hati di atas meja rias dan menggerung lega setelah melepasnya. "Itu berharga seratus juta dolar. Aku seperti membawa seluruh toko permata di dunia." "Kau tidak suka?" "Apa? Memakai perhiasan?" Pandora menggeleng. "Aku lebih senang memakai jam tangan. Tapi kerajaan tidak menolerir itu sama sekali. Karena selalu ada pengawal yang siap memberi waktu kapanpun kita membutuhkannya. Lihat?" Alaric menghela napas muram. Bibirnya membentuk garis lurus. Ketika Pandora mengintip dari cermin, ekspresi suaminya terlihat muram sekaligus jengkel. "Kau marah?" "Tidak." "Sedang mencoba untuk tidak marah lebih tepatnya," ujar Pandora miris. Dia berani menentang suaminya sekarang. "Kau ingat, malam nanti kita akan pergi ke rumah janda mendiang Viscount Cornelia." "Aku tahu." "Kau akan ikut?" "Kau akan pergi sendiri?" "Aku hanya bertanya," kata Pandora letih. "Aku tidak marah, tapi kau terlihat sebaliknya." Alaric mundur. Menarik sulur rambut gelapnya dan Pandora kebingungan. "Aku tidak tahu. Tiba-tiba kau membuatku kesal." "Salahku, Your Grace." Istrinya berbalik dengan perasaan bersalah dan tatapan penuh sesal. "Aku tidak bermaksud begitu. Ada kejadian buruk tentang salah satu alat musik itu dan membuatku gelisah. Hanya itu." "Kau tidak mau menceritakannya segala rinci padaku? Tentang kegelisahanmu yang mengusik?" Pandora kembali berbalik untuk mengurai rambutnya yang terkuncir. "Nanti. Tidak sekarang. Kita berdua sama-sama lelah." Alaric terlihat menyerah dan pasrah. Pandora melepas semua beban yang membuat kepala serta kulitnya memerah. Kemudian berjalan ke kamar mandi mewah di dalam kamar. Memeriksa pancuran air hangat dan sekali lagi mengecek kondisi di dalam yang masih tetap sama. Ini istana, tempat terbaik yang ada di muka bumi ini daripada apa pun. "Kau mau membersihkan diri?" Ia hanya tidak tahu kalau suaminya menganggap itu sebagai umpan baru. Alaric masuk setelahnya. Mengunci pintu kamar mandi dan membuatnya terperangkap dalam kurungan dua tangan ke dinding. Mengekangnya. Membuat Pandora tidak bisa bernapas, tidak bisa melarikan diri untuk bersembunyi atau sekadar melepas debaran kurang menyenangkan ini pergi. "Kehidupan pernikahan hanya berjalan satu sisi dan aku menyayangkan itu," ujarnya sinis. Menunduk sembari melepas kemeja dan bagian bawah bajunya. Mencium sepanjang tulang selangka dan bahu istrinya. "Aku merasa cukup terbuka dan kau tidak. Sama sekali tidak dalam hal apa pun. Aku tersinggung." "Aku merasa cukup terbuka dan apa adanya." Pandora hanya tidak bisa berkonsentrasi saat seluruh kewarasannya tersedot habis. Bibir suaminya dingin, bercampur uap yang berasal dari pancuran air hangat. Kondisi kontras yang membuatnya tidak bisa meluruskan logika. "Kita perlu mandi." "Dan sedikit olahraga ekstra." "Kau sudah mendapatkannya semalam," hampir mendorong bahu itu pergi dan seakan Pandora baru saja menyentuh karang di pinggir pantai. "Dasar maniak. Kita perlu mandi dan istirahat." "Kau menyukainya." Istrinya membuang muka. "Hubungan timbal balik ini menyenangkan," kata Alaric parau. Menyentuhkan telapak tangannya yang kasar ke seluruh permukaan kulit licin sang istri yang lembut. "Aku hampir tidak bisa membedakan mana mimpi dan kenyataan. Semua terlalu samar dan abu-abu, tetapi begitu menyenangkan." "Kau?" Pandora kehabisan suara saat bibir itu terbenam dalam bibirnya. Menyerukan untuk memagut lebih dalam dan jauh. Rasanya menyenangkan saat berciuman dengan seseorang yang tepat, pikir Pandora muram. Membayangkan bibir suaminya seperti candu dan berharap Alaric juga berpikir hal yang sama saat menciumnya di seluruh kulit tanpa terkecuali. Membuat mereka berdua terbang, tidak lagi memijak tanah karena semua begitu indah dan menyenangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD