Keluarga bangsawan senang berpesta. Pandora sudah mendapatkan informasi ini dari koleksi buku sejarah yang ia baca sebelumnya. Mempelajari adat dan kebiasaan mereka yang diwariskan secara turun-temurun dengan bangga. Melibatkan banyak orang serta kepuasan pribadi dalam mencapai target hidup.
Bangsawan biasanya menyukai kesetaraan. Mereka bisa menyingkirkan cinta dan buah hati jika menyangkut ambisi. Banyak dari mereka yang mengorbankan keluarga terdekat demi meluruskan misi. Dan sebagian kecil yang terang-terangan menyatakan sebagai pribadi setia pada satu pasangan.
Kebanggaan para lelaki yang mampu menaklukan banyak perempuan. Sistem patriarki yang sempat ingin mendiang ratu hapuskan. Menjadikan sosoknya berkuasa penuh atas negara. Banyak yang menentang ide kasarnya dan banyak pula yang memberi dukungan penuh atas nama revolusi.
Pandora terlanjur percaya pada buku-buku. Baginya, mereka hanya memberi informasi berdasarkan pustaka dan narasumber asli. Tidak seperti media yang memelintir ucapan nyata demi keuntungan menyesatkan. Ilmu yang ia dapatkan tidak sedikit. Dan Pandora mencoba menerapkannya selama menjabat sebagai Duchess di Cornelia. Tata cara bersosialisasi, merias diri, dan merawat kebun serta berbincang bersama para staf dan pelayan. Istana mengatur segalanya atas nama kedisplinan dan protokol.
Pestanya luar biasa. Madam Rei, ibu kandung dari Rei menggelar pesta cukup mewah untuk kerabat Cornelia. Tidak lupa mengundang pasangan penting yang membawahi garis biru secara murni. Kecuali Pandora yang malang.
Sambutan yang dia dapatkan tidak seantusias suaminya. Para gadis terang-terangan memandang Alaric sebagai piagam emas. Sementara dirinya hanya seonggok kotoran kambing yang tidak sengaja memperkeruh pemandangan. Pandora tidak tahan untuk mencibir. Dan berusaha memasang senyum sebaik mungkin agar terlihat sempurna.
Viscount Cornelia, Orlan dan istrinya, Valentina tampil modis dan sepadan. Mereka memberi salam dan saling berjabat tangan. Baik keduanya tidak memberi tatapan penghakiman yang sama dengan bangsawan lain pada Pandora.
"Duke dan Duchess dari Cornelia. Suatu kehormatan Anda berkenan hadir di pesta ini." Orlan yang tampan memberi sapaan singkat. Senyumnya serupa dengan Rei selintas. Kalau dilihat seksama, mereka mirip satu sama lain.
"Anda tampak luar biasa, Yang Mulia. Senang melihat Anda lagi untuk yang kedua kali." Valentina memberi sapaan ramah. Senyumnya sampai ke mata dan Pandora merasa tersanjung. "Aku dan suamiku datang ke pernikahan. Belum ada perubahan selain aura Anda yang semakin bersinar."
Pandora hanya tertawa singkat. "Aku perlu belajar banyak bagaimana cara memuji orang dengan selayaknya. Terima kasih, Valentina. Kau juga tampil luar biasa malam ini. Para gadis tidak akan bisa menyaingimu."
Valentina tertawa. Dan rasanya sangat wajar jika Orlan jatuh cinta setengah mati pada istrinya yang cantik dan berkelas.
"Aku akan menjamu tamu yang lain. Nikmati pestanya, Yang Mulia."
Orlan menarik tangan Valentina untuk pergi. Menghampiri tamu yang lain dan Pandora bergeser ke meja minuman.
"Kau ingin sampanye dingin?"
"Tentu."
Matanya sontak melebar kala melihat Alaric mengendus aroma tiram dan Pandora nyaris tersedak minumannya sendiri. "Kau tidak bisa menyantap itu sekarang. Terlalu berbahaya."
"Berbahaya?" tanya Alaric skeptis. "Kau tahu aku punya alergi terhadap tiram?"
"Tiram dan jamur, lebih tepatnya." Pandora membalas dengan dengusan. "Laura yang memberitahuku di dapur. Aku tidak punya alergi spesifik terhadap hidangan laut. Tapi kau punya."
Suaminya mengangkat bahu seakan tidak peduli. "Semua hidangan tampak lezat."
"Dan para gadis juga menganggapmu sama. Seperti hidangan tiram basah di atas meja ini."
Pandora bergidik menangkap bayangan sorot memuja dari lingkaran perempuan yang terang-terangan masih menaruh minat besar pada pria yang telah beristri. Alaric jelas memenuhi kriteria menjadi suami idaman yang mengesankan setiap gadis. Pesonanya tidak akan luntur meski memiliki anak sekalipun.
Dan gagasan itu lekas membuat Pandora membeku. Tenggorokannya tiba-tiba kering dan merasa butuh sampanye sekali lagi. Saat matanya bertemu dengan mata lain, dirinya terkejut.
"Yang Mulia."
Rei menyapa dengan senyum menawan. "Selamat datang. Satu-satunya perempuan dengan rambut indah yang menarik perhatianku. Senang melihat Anda hadir di sini."
Pujian itu tak lantas membuat Pandora tersanjung. Rei perayu ulung. Dan mendengar seseorang berdeham dari balik punggungnya, Pandora berbalik. "Kau tidak datang bersama tunanganmu?"
"Tentu saja dia ada di sini. Bergosip lebih menyenangkan daripada bergabung bersama calon suami yang membosankan," keluh Rei dengan senyum tipis.
"Tidak biasanya aku mendengarmu mengeluh," timpal Alaric datar. Mencium aroma sampanye dingin sebelum meminumnya. "Kalila tidak mungkin membuatmu bosan, kan? Dia tipikal yang menyenangkan."
Rei menyipit dengan muram. "Yang Mulia, kalau kita bicara menyenangkan dalam konteks lain, kupastikan itu benar. Tapi aku benar-benar menginginkan pasangan yang bisa membagi suka dan duka bersama."
Pandora mendadak cemas. "Kalian baik-baik saja?"
"Mereka baik-baik saja," sahut Alaric datar. "Rei dan Kalila sering bertengkar. Untuk menandakan mereka sama seperti pasangan pada umumnya."
"Kami sering bergurau. Beberapa kali mengalami guncangan dalam kehidupan asmara," timpal Rei masam. "Kuharap kalian hanya menemukan kebahagiaan di dalam istana."
Pandora hanya tersenyum. Tidak akan berbicara tentang kehidupannya sendiri di dalam istana. Sementara Alaric hanya mengangguk, mengangkat gelas sampanye dan bersulang bersama adik Viscount.
"Kau ingin kudapan manis?"
"Ya." Alaric mendesah. Melepas matanya dari deretan tiram segar dengan perasan lemon di atas meja. "Jangan yang terlalu manis."
"Aku tahu." Pandora berpindah setelah mengangguk pada Rei. Mencari kudapan manis di sekitar meja lain dan kembali mengacuhkan kerumunan yang terang-terangan mencela dirinya melalui mata.
"Gaun keluaran terbaru yang sama sekali tidak cocok dengan Duchess. Ew!"
Mereka kembali berbincang dan tertawa. Sedangkan Pandora sibuk memindahkan beberapa kudapan lain di piring kecil.
"Aku tidak akan mengikuti selera pakaian murahan dari Duchess. Harga pakaiannya boleh saja mahal. Karena yang memakai bukan dari golongan atas, semua tampak murah."
Beberapa orang di sekitar meja terlihat berusaha keras menahan tawa. Sementara Pandora berpindah, memberi piring itu pada suaminya dan berlalu pergi tanpa suara.
"Yang Mulia?"
"Halo, selamat malam." Pandora membungkuk, menyapa janda Viscount yang ramah. Saat dirinya berlalu terburu-buru, mencari tempat lapang untuk menarik napas dan menenangkan diri. Entah, tempat ramai selalu membuatnya kalah dan tertekan.
Satu-satunya pelarian terbaik dan jauh dari pesta adalah kolam ikan serta pancuran air yang indah. Pandora memandang ikan-ikan gemuk yang berenang untuk mencari makanan dengan wajah letih.
Kediaman ibu kandung Rei cukup luas dan megah. Walau tidak sebesar istana utama di Cornelia, rumah para bangsawan memang biasanya didesain mewah dan besar. Untuk menampung banyak orang sebagai pekerja mereka.
"Ups!"
Pandora tidak bisa menahan diri saat tubuhnya terhuyung ke depan dan tercebur di dalam kolam. Dirinya terlanjur terendam dan seluruh gaunnya basah. Yang membuatnya marah sekaligus benci. Melihat siapa perempuan yang berani melempar senyum licik padanya dan penuh kemenangan. "Sepuluh juta dolar, Duchess. Aku memenangkannya karena berhasil mendorongmu ke air dengan sengaja."
"Kalila!"
Pandora terbatuk saat mencoba naik ke tepian. Seseorang mengulurkan tangan dan sebelum Pandora sempat meraihnya, ada yang lebih dulu menariknya untuk naik. Mendudukkannya di pinggir kolam dengan raungan. "Aku butuh handuk sekarang!"
Semua orang menahan napas serta pekikan mereka melihat kondisi Pandora sekarang. Tidak ada yang bisa membantunya selain rasa malu yang terlanjur menggunung. Pandora hanya mampu menunduk, tidak sanggup menatap mata siapa pun.
"Ya Tuhan." Valentina berlari untuk membantu Pandora setelah pelayan membawakan handuk besar. Dibantu ibu mertuanya, Dahlia, menuntun agar Pandora menjauh dari kolam penuh hati-hati.
Alaric melempar tatapan tajamnya pada Kalila yang kurang beruntung. Saat Rei mendengus, memandang tunangannya yang baru saja bersikap tidak bermoral. "Bangsawan mana yang mengajarkanmu bertindak kurang ajar terhadap Duchess?"
Suara pria itu tinggi dan siapa pun tidak berani membantah atau menatap matanya sekarang.
Kalila gemetar. Dia mencoba mendekat pada tunangannya dan seketika Rei mundur, memberi tatapan sinis. "Tetap di sana."
"Duchess menabrakku. Dan aku sangat kesal karena hampir menumpahkan minumanku tadi."
"Menabrakmu?"
Valentina bangun dengan rahang mengeras. Sorot matanya berapi-api memandang Kalila yang bertingkah tanpa sesal. "Kau berbohong! Duchess tidak mendorongmu. Kau dan teman-temanmu merundungnya seperti sampah. Taruhan apa, Kalila? Kau senang bertaruh, bukan? Apa yang kau dapatkan jika mendorong Duchess ke kolam ikan?"
"Valentina," suaminya menegur dengan muram. Berharap murka istrinya padam. "Tenangkan dirimu dulu."
"Ya Tuhan." Dahlia terperangah tidak percaya. "Sepuluh juta dolar untuk membuat Anda basah kuyup?"
Rei membeku. Sama halnya dengan orang-orang di dalam taman. Kalila hampir menangis karena malu. Memandang tajam pada rekannya yang sama sekali tidak membantu.
"Aku bisa jelaskan sekarang."
Rei menolak untuk menatap tunangannya sekarang. Saat Valentina membantu Pandora bangun, dan Alaric dengan segenap keputusan yang telah tergambar di kepalanya.
"Kau dan teman-temanmu harus datang ke istana besok siang. Selambatnya jam dua siang. Aku akan menunggu kalian di sana."
"Yang Mulia!"
"Mari, kita lihat apa yang bisa kuberikan pada kalian sebagai hukuman karena membuat malu seorang Duchess."
Semua orang membeku. Saat Alaric berbalik, melempar cibiran keras pada mereka dan menunduk untuk melihat Pandora yang melamun, tidak mau menatap matanya.
"Aku akan membawamu pulang sekarang."
Tidak ada perasaan yang membuatnya lebih baik saat Alaric menggendongnya pergi. Dengan Nina yang terkejut, berusaha mengendalikan emosi di wajahnya dan berlari mengejar keduanya ke pintu utama.
"Rei."
"Jangan sebut namaku, Kalila. Kau membuatku dan keluargaku sangat malu sekarang."
Kalila gemetar saat Rei menepis tangannya. Berjalan menjauhi taman dengan Valentina yang mencemooh dan Dahlia yang menggeleng marah padanya. Membuat Kalila frustrasi hebat.