CTS~3

1331 Words
Sepanjang perjalanan tak ada yang mmebuka suara. Hening, hanya suara tarikan napas berat milik Rio yang tengah menahan amarahnya. Saat seperti ini, Ify sangat berharap ada sebuah keajaiban yang membuat rumahnya menjadi jauh, atau Rio menjadi bingung hingga hanya berputar-putar di satu tempat tanpa tahu arah. Tapi harapan tinggal harapan, saat pagar hitam rumahnya sudah terlihat di depan mata, mau tak mau Ify harus menghadapi semuanya. Suara pintu mobil yang  dibanting membuat Ify mengelus d**a karena kaget. Gadis berdagu tirus itu hanya memandang punggung Rio yang sudah berlalu menghilang dibalik pintu dan menghela napas pasrah. Hanya tinggal memilih, sparing dan masalah cepat selesai karena amarah Rio yang mereda, atau membiarkan amarah Rio mereda dengan sendirirnya tapi membutuhkan waktu yang lumayan lama. Sepertinya, ia tak punya pilihan lain kecuali meladeni amarah Rio, karena jika dibiarkan berlarut-larut pemuda itu akan menjadi orang yang sangat menjengkelkan di dunia dan Ify tak mau repot untuk itu. Cukup sekali ia mengabaikan Rio yang marah dan tensi darahnya langsung naik membuatnya pening seketika. Lebih baik lelah badan daripada lelah hati, bukan?   ***   Serangan demi serangan yang Rio berikan mampu ditepis oleh Ify. Gadis berdagu tirus itu menunduk saat tendangan dari Rio hampir mengenai wajahnya. Sebagai balasan, Ify melakukan tendangan bawah dengan sasaran kaki Rio. Namun pemuda itu tak kalah gesit, ia melompat tinggi sembari melakukan manuver sebelum mendarat dengan posisi bak pahlawan kesiangan. Merasa menang, seringaian tampak di bibir Rio. Tak menyerah, Ify berlari ke pinggir ring, memanjat dan bersalto dengan mengarahkan tendangan ke ulu hati Rio tapi sayangnya mampu dibaca oleh pemuda itu yang sudah mengelak ke arah kiri dan sebagai gantinya ia menangkap kaki Ify membuat gadis itu bertumpu kepada pundak Rio dan kembali bersalto hingga genggaman tangan Rio di kakinya terlepas. Beberapa menit berlalu hingga Rio maupun Ify merasa sudah tak sanggup lagi melanjutkan pertandingan lagi. Pertandingan tak resmi itu berakhir dengan skor imbang. Baik Rio maupun Ify tak ada yang lebih unggul, hanya saja Ify yang terlihat lebih lelah karena ia mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya hanya demi membuat ini semua cepat selesai. Ify hanya mampu terkapar lemas di atas ring. Tenaganya benar-benar terkuras habis untuk meladeni kemarahan Rio, laki-laki itu benar-benar mengerikan saat marah. Mungkin kalian bingung dengan cara pasangan satu ini untuk berbaikan. Tapi memang inilah mereka. Jika salah satu sedang marah, maka mereka memilih bertarung sampai tenaga terkuras habis. Menurut mereka, cara ini lebih mudah untuk meluapkan emosi daripada bertindak melllow dengan menangis dan mabuk-mabukan. Menangis hanya saat mereka sedih atau bahagia, bukan saat mereka marah. “Udah puas?” cibir Ify kepada Rio yang kini juga terbaring lemas di sampingnya. “Lagian siapa suruh cari cowok lain, hah?!” dengus Rio di sela-sela usahanya menetralkan napasnya yang memburu karena kelelahan. Ify tak menjawab dan hanya memutar bola matanya malas. Keadaan hening sesaat hingga Ify merasakan tarikan kuat dari Rio dan dalam sekejap ia sudah berada dalam pelukan pemuda itu. “You’re mine, berani cari cowok baru kita tarung dua hari dua malem,” bisik Rio di telinga Ify. “Rioooo, lengket nih, bau!” rengek Ify sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Rio. Tubuh mereka berdua basah oleh keringat, bisa-bisanya pemuda itu langsung memeluknya.  Meski sebenarnya itu bukan alasan yang asli. Aroma Rio setelah berolahraga tak sebau itu, justru perpaduan dari parfum dan aroma tubuh Rio yang asli membuat Ify ingin berlama-lama ada di sana. Bahkan detak jantungnya saja mulai berpacu diatas rata-rata. Bisa gawat kalau sampai Rio mendengar detak jantungnya, bisa-bisa pemuda itu akan mengejeknya setiap ada kesempatan. “Jawab dulu!” desak Rio sambil mengeratkan pelukannya. “Iya, iya! Janji nggak cari cowok lain,” janji Ify membuat Rio melonggarkan pelukannya. “Punya cowok satu aja udah kek piara setan apalagi kalau cari lagi,” dumel Ify lirih yang sayangnya didengar oleh Rio. “Ngomong apa, Sayang?” bisik Rio rendah yang membuat bulu kuduk Ify berdiri. “Nggak ngomong apa-apa,” ucap Ify sambil berusaha menghindari tatapan Rio yang seolah siap mengulitinya hidup-hidup. “Kalau ngomong tatap mata lawan bicaramu, Sayang!” “Nggak, gue nggak ngomong apa-apa!” bantah Ify sambil bangkit dan berniat lari, tapi Rio berhasil menangkap tangannya  membuatnya kembali jatuh dan kini tepat di atas pemuda itu. “Ahahahahaahah H-hentikan, Rioooo! Geli ampuunnn ....” Ruangan itu dipenuhi gelak tawa keduanya, sebelum ponsel Rio berbunyi yang membuat pemuda itu menghentikan kegiatannya menggelitik Ify yang dimanfaatkan oleh gadis itu utnuk melepaskan diri. “Halo!” “Yo, lo nggak bunuh adik gue kan?” Alvin, di seberang telepon bertanya panik membuat Rio dan Ify mendengus geli. Pertanyaan bodoh macam apa itu? “Lo yakin nelpon gue Cuma mau ngomong ini doang?” Rio berdecak malas. Alvin di seberang sana tertawa. “Enggak, ada sedikit masalah.” Suara Alvin berubah menjadi serius yang membuat Rio juga menyimak dengan seksam. Pemud itu berjalan menjauh dari Ify membuat gadis itu akhirnya bangkit dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil minuman. “Perusahaan yang lo rebut tendernya kemarin ngamuk, dia nggak terima kalah dari lo ngirimin orang-orangnya buat hancurin perusaan lo yang di Tangerang. Kayaknya lo perlu menambah staff keamanan yang di sana.” “Shitt! Kenapa lo nggak ngomong dari tadi? Terus gimana?” tanya Rio sambil berjalan keluar dari ruangan olahraga diikuti oleh Ify yang setia dalam diam. Dia paham jika telepon itu sangat penting mengingat wajah serius Rio dan dia tak mau mengganggu. “Tenang aja, udah gue urus kok, Cuma ya kebakar setengah aja si perusahaan lo yang di sana,” ucap Alvin enteng seolah tengah menceritakan pengalamannya masak telur hingga gosong. “Korban jiwa?” “Beruntungnya nggak ada korban jiwa karena pas tengah malam.” “Cari gara-gara tuh orang,” geram Rio. “Gue otewe bentar lagi.” Setelah menutup sambungan telepon secara sepihak, Rio segera membersihkan diri dan bersiap melihat anak perusahaannya yang ada di Tangerang. Rio benar-benar ingin meratakan perusahaan milik tua bangka yang sudsah berani membakar perusahaannya itu. Lihat saja, tak ada yang bisa loos setelah mecari gara-gara dengan seorang Mario Stevano Aditya Haling. **** “Pak, sepertinya CEO Ditya Corp tidak akan tinggal diam,” ucap seorang laki-laki parubaya yang menjadi kaki tangan pria tua yang masih angkuh meski kerutan-kerutan sudha terlihat di wajahnya. “Lalu, kau takut?” remeh laki-laki angkuh itu sambil menghisap cerutu di bibirnya. “Menurut saya, ada cara lain yang bisa kita gunakan untuk menjatuhkan Ditya Corp dan merebut tender kita lagi.” Mendengar ucapan kaki tangannya, pria tua angkuh itu mematikan cerutunya dan memberikan atensi penuh kepada sang asisten. “Katakan!” “Kenapa kita tidak bermain secara halus saja? Kita bisa menghancurkan perusahaan itu secara perlahan dari dalam.” “Kau mau menyusup ke Ditya Corp?” Sang asisten menggeleng. “Tutup mulutmu atau kujahit jika memang tak punya cara yang lebih baik.” “Kita bisa mengalah untuk sementara. Bukankah menggabungkan Ditya Corp dan perusahaan kita adalah sesuatu yang luar biasa? Saya dengar, CEO itu masih lajang.” “JADI MAKSUDMU PUTRIKU MENJADI TUMBAL?” Sang asisten bergidik mendengar teriakan pria tua angkuh itu. Andai hidupnya tak bergantung kepada gaji yang diberikan pria tua itu, ingin sekali rasanya menyumpal mulut busuk yang selalu saja mengundang masalah itu. Meski begitu, sang asisten hanya mencibir saja karena sudah tahu bagaimana akhirnya. Bekerja selama puluhan tahun dengan pria tua itu telah memberikannya pengalaman yang luar biasa, dimana otalnya selalu diperas untuk memikirkan cara menyelesaikan masalah yang dibuat oleh bosnya. “Boleh juga.” Perkiraan sang asisten tak pernah meleset. Pria tua itu hanya mahir dalam menciptakan masalah sehingga selalu mengandalkan dirinya untuk menyelesaikannya. “Lagipula CEO itu tidak terlalu buruk untuk menjadi menantuku. Atur saja semuanya. Tapi jangan sampai dia tahu kalau Dea adalah putriku. Kau harus membuat semuanya tampak alami. Karena aku yakin, CEO muda itu sudah mulai bergerak.” Sang asiten hanya menganggukkan kepala dan pergi meninggalkan ruangan bosnya. Padahal, ia tadi hanya memberikan saran ngawur, tapi ternyata bosnya memang sangat bodoh. Tak heran kenapa ia kalah tender melawan Ditya Corp yang terkenal kompeten dan cerdas. Perusahaan bisa bertahan selama ini karena dirinya yang bekerja dibalik layar. Kalau dipikir-pikir, dirinya justru lebih pantas menjadi CEO. Setelah kepergian asistennya, pria tua angkuh itu tersenyum puas karena menemukan jalan lain untuk meraup keuntungan sekaligus menjatuhkan lawan. Ibarat sekali tepuk dua nyamuk mati. Ia yakin, jika Ditya Corp berhasil ia takhlukkan,maka harga saham akan melonjak naik dan yang pasti akan banayak tawaran kerjasama yang muncul. Bayangan pundi-pundi rupiah yang ia raih jika semua itu tercapai sudah menggelapkan matanya. Ia tak peduli, meski harus mengirim sang putri ke kandang serigala demi ambisinya. Dengan senyum lebarnya, pria tua angkuh itu meraih cangkir kopi dan menyesapnya dengan penuh nikmat. Tanpa sadar, apa yang baru saja ia perbuat. Tanpa tahu siapa yang baru saja dia hadapi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD