CTS~4

1441 Words
Episode sebelumnya .... Setelah kepergian asistennya, pria tua angkuh itu tersenyum puas karena menemukan jalan lain untuk meraup keuntungan sekaligus menjatuhkan lawan. Ibarat sekali tepuk dua nyamuk mati. Ia yakin, jika Ditya Corp berhasil ia takhlukkan,maka harga saham akan melonjak naik dan yang pasti akan banayak tawaran kerjasama yang muncul. Bayangan pundi-pundi rupiah yang ia raih jika semua itu tercapai sudah menggelapkan matanya. Ia tak peduli, meski harus mengirim sang putri ke kandang serigala demi ambisinya. Dengan senyum lebarnya, pria tua angkuh itu meraih cangkir kopi dan menyesapnya dengan penuh nikmat. Tanpa sadar, apa yang baru saja ia perbuat. Tanpa tahu siapa yang baru saja dia hadapi. ****  Rio menatap bangunan yang setengahnya terbakar itu dalam diam. Alvin yang sengaja menemani Rio pun tak membuka suara. Hanya suara para pekerja yang tengah membereskan kekacauan dan mempersiapkan untuk membangun kembali. Beruntung, berkas yang sangat penting tidak ikut terbakar karena kebetulan yang mereka bakar adalah bagian kiri gedung dimana terletak lift, lobi, dan kantin. Memang sangat bodoh dan ceroboh. “Apa rencana lo?” tanya Alvin setelah bungkam sekian lama. “Lo tahu pasti apa yang bakal gue lakuin, Vin,” balas Rio mantap. Ia sama sekali tidak bisa menolerir siapapun yang berushaa mengusiknya ataupun orang-orang terdekatnya. “Perintahkan pasukan diamond untuk siaga! Perintah akan turun sewaktu-waktu. Tapi sepertinya, kita hanya berhadapan dengan orang bodoh, tpi tak ada salahnya untuk berjaga!” Selesai memberikan perintah kepada Alvin, Rio lalu berbalik memasuki mobilnya dan memacu dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan Alvin yang sudah siap meledak. “YAAAKK b******k! GUE BUKAN BAWAHAN LO LAGI SIALAN!”   ****   “Ada apa, Pa? Dea kan udah bilang masih mau menikmati udara Paris, kenapa Papa meminta Dea cepat-cepat pulang?” gerutu seorang gadis yang baru saja tiba di Indonesia itu. Sudah satu minggu ia menikmati liburan di Paris, rencana ia akan menambah waktu satu minggu lagi tetapi sang ayah justru memintanya untuk cepat pulang. Tak menjawab pertanyaan putrinya, Heru justru menyodorkan sebuah foto. “Ini siapa, Pa?” tanya Dea heran. “Calon suami kamu,” jawab Heru. Bola mata Dea membesar dan spontan berdiri. “PAP MAU JODOHIN DEA? PAPA TAHU INI SUDAH TAHUN BERAPA? BAGAIMANA KALAU LAKI-LAKI INI MISKIN DAN NGGAK SANGGUP MENGHIDUPI DEA? PAPA KAN TAHU DEA NGGAK BISA HIDUP MISKIN!” Pekikan Dea yang melengking tinggi membuat Heru menutup telinganya. “Duduklah dulu, akan Papa jelaskan!” Dengan menahan kekesalannya, Dea menuruti perkataan sang ayah. “Tentu saja Papa tak akan sembarangan menjodohkanmu, kamu putri ayah satu-satunya dan papa tidak mau kamu hidup menderita.” Heru memberi jeda sambil menghisap cerutu yang tinggal setengah sebelum melanjutkan ucapannya. “Kamu tahu DITYA CORP bukan?” Dahi Dea sedikit mengernyit menandakan ia sedang berusaha mengingat. “DITYA CORP perusahaan yang mengalahkan tender papa?” tanya Dea setelah ingat. Heru hanya mengangguk. “Lalu apa hubungannya dengan laki-laki ini?” tanya Dea tak mengerti. “Dia adalah CEO DITYA CORP.” “Papa serius?” tanya Dea dengan mata berbinar. “Tentu saja, buat apa papa berbohong?” “Kalau begitu Dea mau dijodohin, Pa! Di mana Dea bisa bertemu?” Heru tersenyum puas saat niatnya disambut baik oleh putrinya. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kecuali dibawa badai. Rencana pertama sudah beres, tinggal rencana selanjutnya.   ***   Bukan hidup namanya jika tak ada masalah. Masalah satu sudah selesai, pasti akan datang masalah selanjutnya. Meskipun bersembunyi di ujung dunia, masalah akan selalu menanti. Bahkan, hidup tanpa masalah pun akan tetap menjadi masalah. Manusia yang tak pernah diterpa masalah, dia tak akan tumbuh, dan semuanya akan memburuk seiring bertambahnya waktu. Ia tak akan bisa menghadapi situasi yang mungkin berada di luar dugaannya. Mentalnya tak akan pernah dewasa, dan itu adalah masalah yang sesungguhnya. Rio sudah menyelesaikan dendam masa lalu, dan kini ia harus menghadapi masalah persaingan bisnis yang sedari dulu memang sekejam ini. Tak ada yang namanya keadilan jika sudah menyangkut uang. Yang berkuasalah yang mengendalikan keadilan. “Damanik Corp masih menjadi investor terbesar di perusahaaan Pak Tua itu kan? Hubungi CEO-nya, atur pertemuanku dengannya.” Deva hanya mengangguk menerima perintah dari bosnya. Ia juga tahu apa yang harus ia lakukan. Balas dendam ala Rio memang elegan. Bukan kelas kampungan dengan hancurin bangunan perusahaan. Tetapi emnghancurkan dari dalam tanpa harus turun tangan. Usai pertemuan Rio dengan CEO Damanik Corp, perusahaan Heru mengamali pailit lantaran Damanik Corp sebagai investor terbesar menarik investasinya. Banyak proyek yang tertunda dan tentu saja kerugian yang mencapai milyaran. Harga saham anjlok. Belum lagi tak ada perusahaan yang mau bekerja sama lantaran sudah dilobi oleh Rrio sebelumnya. Tentu saja hal itu membuat Heru murka. Rio mematikan televisi yang menayangkan tentang jatuhnya perusahaan Heru dan tersenyum sinis. Ia tak akan sejauh ini andai Pak Tua itu tak mencari gara-gara. Ia juga tak pernah tanggung-tanggung jika melakukan sesuatu. Pria tua itu terlalu bodoh dan ceroboh berurusan dengannya. “Yo!” “Uhuk!” Rio yang sedang menyesap minumannya tersedak kaget saat Ify tiba-tiba sudah duduk di hadapannya. “Kenapa, sih? Kek ngelihat setan aja,” celetuk Ify sambil meraih minuman milik Rio dan menyesapnya sedikit. “Ya lo setannya. Gunanya pintu buat apa, sih? Nyelonong mulu kerjanya,” omel Rio. “Ya emang kenapa? Masa masuk ke kantor pacar sendiri kudu ketuk pintu?” Rio hanya mampu memendam kekesalannya dengan tingkah Ify yang memang seenaknya sendiri. “RIO!” “Uhuk!” Kedua kalinya. Ify bahkan harus menepuk-nepuk punggung Rio karena pemuda itu tak berhenti batuk-batuk dengan mata yang sudah mulai berair. “Gila –uhuk- lo berdua!” Hidungnya terasa pengar dan susah untuk bernapas. Rio menepuk dadanya sendiri, berharap ia berhenti batuk-batuk. Alvin yang baru datang hanya menyengir lebar. Jangan salahkan dirinya. Ia kan tak tahu kalau Rio sedang minum. “Gue kan nggak tahu lo lagi minum, siapa suruh lo kagetan kaya gini,” elak Alvin saat Rio menatapnya tajam. Setelah pernapasannya normal, dan hidungnya tak terlalu pengar, Rio akhirnya bertanya tujuan kakak adik itu datang bersamaan ke kantornya. “Ngapain lo berdua ke sini?” Ify dan Alvin yang merasa ditanya pun saling berpandangan. “Nggak ngapa-ngapain,”  jawab mereka bersamaan. “Sebuah kesopanan jika ada tamu adalah menyuguhkan minum. Gue haus banget, nih!” Alvin mengelus tenggorokannya dramatis. “Kalian berdua itu tamu tak diundang, jadi jangan bertingkah layaknya tamu kehormatan,” balas Rio takl acuh. “Yo, gue juga haus!” “Am-“ Rio menghela napas panjang. Ia tak mampu menolak permintaan Ify jika gadis itu siudah menatapnya dengan pandangan mata yang membuatnya tak bisa berkutik. Gadis itu selalu tahu jika dirinya tak bisa mneolak dengan pandangan memelas yang mmebuat bola mata hitamnya berkaca-kaca. Meski dengan hati yang tak rela, akhirnya Rio mengalah dan bangkit menuju kulkas untuk mengambil minuman. “Nih!” Rio melemparkan kaleng soda ke arah Alvin yang untungnya bisa ditangkap pemuda itu dengan tepat meski umpatan mengiringinya. Sementara kaleng soda milik Ify ia serahkan ke gadis itu dan mnegambil tempat duduk di sebelah kekasihnya yang mmbuat Alvin mendelik. “Sama gue dilempar, giliran sama Ify aja ngasihnya lembut banget.” “Udah nggak usah manja mentang-mentang kurang kasih sayang.” Singkat tapi menyakitkan saudara-saudara! Alvin hanya mampu tersenyum kecut dan berdoa di dalam hati berharap Sivia segera pulang dan menemuinya. “Inget, Yo! Posisi lo sebagai calon menantu keluarga kita masih belum sekuat itu sampai lo tega menyakiti gue. Apa lo nggak inget gimana dulu kita snagat deket-“ “Tutup mulut lo sialan!” Rio melempar kaleng kosong miliknya ke arah Alvin yang membuat pemuda itu tertawa terbahak-bahak. “Inget, Fy! Kalau buaya ini macam-macam, bilang sama gue! Gue bikin jadi perkedel.” “Rio buaya Kak Alvin komodonya?” balas Ify yang membuat Rio tertawa penuh kemenangan karena dibela. Alvin merasa dikhianati. “Gue kakak lo ini, Fy! Masa lo lebih milih ngebela Rio daripada gue?” protes Alvin tak terima. Ify hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan dua lelaki yang sangat disayanginya ini. “Udah ya, gue nggak mau lihat tingkah kekanakan kalian lagi. Gue pergi dulu!” pamit Ify lalu bangkit dari duduknya. “Mau kemana? Butuh supir?” tanya Rio menyusul bangkit. “Lo mau nganter?” Ify bertanya balik yang mendapat balasan gelengan dari Rio. “Itu ada pengangguran yang butuh kerjaan,” ucap Rio sambil menunjuk Alvin yang sudah melotot. “Lo yang nawarin kenapa gue yang jadi korban?” “Setidaknya gue udah berbaik hati ngasih lo kerjaan.” “Kalian berisik! Gue pergi dulu!” Cup! Rio mematung mendapat satu kecupan dari Ify sementara Alvin kembali melotot. “Gue siap antar kemanapun!”  Rio kemudian menyusul Ify yang sudah keluar. Samar-samar ia mendengar seruan Alvin yang membuatnya tersenyum geli. “ANJEERRRRR! GUE MASIH POLOS YA ALLAH!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD