CTS~5

1317 Words
Episode sebelumnya .... “Mau kemana? Butuh supir?” tanya Rio menyusul bangkit. “Lo mau nganter?” Ify bertanya balik yang mendapat balasan gelengan dari Rio. “Itu ada pengangguran yang butuh kerjaan,” ucap Rio sambil menunjuk Alvin yang sudah melotot. “Lo yang nawarin kenapa gue yang jadi korban?” “Setidaknya gue udah berbaik hati ngasih lo kerjaan.” “Kalian berisik! Gue pergi dulu!” Cup! Rio mematung mendapat satu kecupan dari Ify sementara Alvin kembali melotot. “Gue siap antar kemanapun!”  Rio kemudian menyusul Ify yang sudah keluar. Samar-samar ia mendengar seruan Alvin yang membuatnya tersenyum geli. “ANJEERRRRR! GUE MASIH POLOS YA ALLAH!” ****  Wajah yang sudah dipenuhi dengan tanda-tanda penuaan itu mengeras. Pupil matanya membesar dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Jika keadaan terus dibiarkan seperti ini, maka ia bisa gulung tikar dan menjadi gelandangan. “BRENGSEEKKK!” Heru membuang semua barang yang ada di mejanya hingga berhamburan. Napasnya terengah karena amarah yang meluap. “Janan!” panggil Heru kepada sang asisten yang sedari tadi hanya berdiri diam tanpa berani berbuat apapun. “Ya, Pak!” “Cepat laksanakan rencana kita.” “Baik, Pak!”   ****   Sepulangnya mengantar Ify, Rio mengemudikan mobilnya dengan santai. Langit yang mulai membias dengan warna jingga membuat suasana begitu santai. Lagu ballad mengalun mengiringi Rio dalam perjalanannya. Lampu-lampu jalan mulai menyala dan beberapa pedagang makanan mulai bersiap menggelar lapak jualannya. Suasana seperti ini benar-benar membuat  Rio merasa sangat rileks. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali bisa sangat santai semenjak ia memutuskan untuk melakukan ekspansi ke Negeri Gingseng. Rio sedang melirik mobil yang ada di belakangnya saat seseorang melintas di depan mobilnya. Suara decitan ban yang beradu dengan aspal karena rem mendadak memecah hiruk pikuk lalu lintas di senja itu. Disusul dengan suara klakson yang saling bersahutan. Rio mengembuskan napas panjang, mentralkan detak jantungnya yang menggila karena terkejut. Lalu setelahnya, ia membuka pintu mobil dan keluar untuk melihat orang yang hampir ia tabrak. Seorang gadis berambut sebahu terduduk di trotoar. Kepalanya menunduk dan tangannya mengurut pergelangan kakinya. “Kamu tidak apa-apa?” Rio berjongkok. Ikut memeriksa kaki sang gadis yang sepertinya membengkak karena keseleo. Jelas, karena ia tak merasa telah menabrak gadis itu. Hanya hampir. Mungkin gadis itu terjatuh karena terkejut. “Ah, ini sakit,” rintih gadis itu yang membuat Rio segera membopong gadis itu untuk dibawa ke mobilnya. Kerumunan orang menyingkir memberi jalan untuk Rio, hingga mobilnya melaju, barulah kerumunan itu bubar dan lalu lintas kembali berjalan lancar. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Rio untuk sampai di rumah sakit karena lokasi kecelakaan yang tak terlalu jauh. Gadis itu langsung dibawa ke dalam untuk diperiksa, sementara Rio mengurus administrasi. Beruntung tak ada agenda penting sore ini membuat Rio bisa sedikit bersantai. Ia juga tak perlu memanggil sekretarisnya karena ia bisa mengurus semuanya sendiri. Lima belas menit, gadis itu keluar menggunakan kursi roda. Rio bangkit dari duduknya menghampiri dokter yang berdiri di belakang gadis itu. “Bagaimana kondisinya, Dok?’ “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya pembengkakan di ligamennya, asal ia tak menggunakan kakinya untuk beraktifitas berat, dalam waktu satu minggu pasti akan pulih.” “Terima kasih, Dok!” Dokter itu berlalu membuat  Rio menghampiri sang gadis. “Rumah lo di mana?” tanya Rio sambil mendorong kursi roda sang gadis. “Aku nggak apa-apa kok pulang sendiri,” sahut sang gadis sambil berusaha menjalankan kursi rodanya sendiri. Sebenarnya Rio senang, karena ia tak perlu repot-repot mengantar gadis itu, tetapi rasa tanggung jawab membuatnya kembali meraih pegangan kursi roda dan mendorongnya pelan. “Gue anter, bilang aja rumah lo di mana.” “Apartemen Langham Residence di jalan-“ “Gue tahu, lo tunggu di sini sebentar gue ambil mobil,” potong Rio sambil berlalu pergi untuk mengambil mobilnya setelah meninggalkan gadis yang tak ia tahu namanya itu di lobi rumah sakit. Tak lebih dari lima menit, Rio sudah sampai di lobi dan membantu gadis itu untuk masuk ke dalam mobil. Setelahnya mobil Rio mulai membaur di jalan raya bersama kendaraan lainnya. “Sorry ya ngerepotin,” gadis itu membuka percakapan karena Rio tetap membisu dan fokus menyetir. “Enggak apa-apa,” jawab Rio singkat. “Oh iya, kenalin nama gue Dea, nama lo siapa?” Gadis itu mengulurkan tangannya tetapi hanya dilirik sekilas oleh Rio. “Rio,” jawab Rio singkat dan tak repot membalas jabatan tangan membuat gadis itu menarik kembali uluran tangannya. Sepanjang perjalanan berlalu dalam keheningan hingga mereka tiba di depan sebuah apartemen yang elite. Setelah mengeluarkan kursi roda dari bagasi dan membantu gadis itu duduk di atasnya, Rio berniat untuk pergi saat lengannya di tahan oleh gadis itu. “Aku ingin berterima kasih, bisakah kau mampir sejenak untuk minum teh?” “Ah, maaf tapi ak-“ “Sekali ini saja, hmm?” Gadis itu menggoyang-goyangkan lengan Rio dan menatap pemuda itu dengan pandangan memelas layaknya anak kecil yang minta dibelikan permen membuat Rio hanya mampu mendesah kasar dan mulai mendorong kursi roda gadis itu untuk pergi ke unit apartemennya. Rio membuka pintu apartemen sesuai instruksi dari Dea. Kata sandinya tak terlalu rumit, bahkan Rio sudah mengingatnya dalam satu kali dengar. Saat pintu terbuka,Rio disuguhkan dengan ruangan apartemen yang lebih mirip disebut penthouse saking besarnya. Atau mungkin karena barang yang ada tak terlalu banyak sehingga ruangan ini terlihat lebih luas daripada yang seharusnya. Rio memilih duduk di salah satu sofa yang terdapat di tengah ruangan. Di depannya terdapat TV 112 in dengan speaker yang akan membuat kita seolah-olah menonton di bioskop. Bukan hal yang menakjubkan sih bagi Rio, karena ia juga mampu membeli itu Semua. Namun ia dan Ify memiliki hobi yang sama, dibanding membeli barang-barang yang nantinya jarang dipakai, Rio dan Ify lebih memilih membeli barang yang akan sering mereka pakai. Misal peralatan olahraga, seperangkat pistol berbagai merk. “Ah maaf, ternyata di dapur hanya ada teh.” Dea datang dengan secangkir teh sembari mendoron g kursi rodanya sendiri membuat Rio bsngkit dan mengambil teh itu dari tangan Dea. “Tak apa, aku juga tak bisa lama-lama di sini,” sahut Rio singkat lalu kembali duduk di sofanya. “Kamu mau ketemu pacar ya?” tanya Dea dengan kekehan ringan bermaksud bercanda tapi Rio mengangguk. “Serius? Kamu udah punya pacar?” tanya Dea dengan mata terbelalak. “Ya, kenapa?” “Aku sudah tidak ada kesempatan lagi?” bisik Dea lirih yang mampu didengar oleh Rio tapi pemuda kitu berpura-pura tak mendengarnya. Rio menyeruput sedikit tehnya sekedar sopan santun. Ia kemudian bangkit dan berpamitan. “Aku harus pergi sekarang.” Dea mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. “Kau tak bisa tinggal lebih lama?” Rio menggeleng. “Aku harus segera pergi, ada hal yang harus aku urus.” “Kalau begitu boleh aku minta kartu namamu?” Rio sedikit mengernyitkan keningnya. “Buat apa?” “Aku ingin berterima kasih dengan mentraktirmu makan lain kali. Mungkin kita juga bisa berteman.” Dea mengulum senyum sambil menyelipkan anak rambut di belakang telinganya. “Aku baru datang dari Paris dan tak punya teman di sini.” Rio mendesah kasar. Merepotkan sekali gadis ini. Namun Rio memilih untuk memberikan kartu namanya agar ia bisa segera pergi dari sini. Apalagi hari sudah beranjak malam. Ia ada janji dengan Alvin untuk menemani pemuda itu ke sebuah toko emas karena akan membeli cincin untuk Sivia.  Sebenarnya salah besar Alvin mengajaknya karena ia pun tak tahu menahu tentang hal tersebut. Harusnya Alvin mengajak Ify saja yang mungkin memiliki selera yang sama dengan Sivia. Tapi berhubung Ify sedikit sibuk dengan tugas akhirnya sebagai mahasiswa yang sebentar lagi wisuda, amka tak ada pilihan lain bagi Alvin slain mengajak Rio. “Aku pergi!” ucap Rio setelah memberikan kartu namanya dan saat ini ia benar-benar pergi. Pemuda itu mengembuskan napas lega begitu sudah berada di dalam mobil dan bersiap-siap pergi. Gadis itu merepotkan dan membuatnya gerah , tapi karena ia merasa bertanggung jawab , terpaksa ia menahan semua rasa kesal di hatinya.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD