Episode sebelumnya ....
Rio mendesah kasar. Merepotkan sekali gadis ini. Namun Rio memilih untuk memberikan kartu namanya agar ia bisa segera pergi dari sini. Apalagi hari sudah beranjak malam. Ia ada janji dengan Alvin untuk menemani pemuda itu ke sebuah toko emas karena akan membeli cincin untuk Sivia. Sebenarnya salah besar Alvin mengajaknya karena ia pun tak tahu menahu tentang hal tersebut. Harusnya Alvin mengajak Ify saja yang mungkin memiliki selera yang sama dengan Sivia. Tapi berhubung Ify sedikit sibuk dengan tugas akhirnya sebagai mahasiswa yang sebentar lagi wisuda, amka tak ada pilihan lain bagi Alvin slain mengajak Rio.
“Aku pergi!” ucap Rio setelah memberikan kartu namanya dan saat ini ia benar-benar pergi. Pemuda itu mengembuskan napas lega begitu sudah berada di dalam mobil dan bersiap-siap pergi. Gadis itu merepotkan dan membuatnya gerah , tapi karena ia merasa bertanggung jawab , terpaksa ia menahan semua rasa kesal di hatinya.
****
Ify sedang sibuk bermain candy crush saat suara mobil yang sangat ia kenali berhenti di teras depan. Tak mau susah payah, gadis itu hanya berteriak, menyuruh orang yang menekan bel untuk masuk ke dalam rumah. Karena jarak ruang tamu dan pintu tak terlalu jauh, orang yang di luar bisa mendengar sehingga pintu segera terbuka dan menampakkan Rio yang masih mengenakan setelan kantornya. Wajahnya terlihat sangat lelah, ia sudah tak memakai jas, hanya atasan putih dan dasi yang sudah longgar serta dua kancing teratas yang sudah terbuka.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rio membaringkan dirinya di sofa dan menjadikan paha Ify sebagai bantal. Ia menutup wajahnya dengan lengan dan mulai memejamkan mata. Rasanya sangat nyaman, setelah lelah bertempur dengan pekerjaan, ia bisa berbaring nyaman di paha yang tersayang. Mungkin hanya satu adegan yang kurang, harusnya sebagai calon istri yang baik Ify menghampirinya, mencium tangannya dan menghiburnya. Namun dasarnya Ify yang terlalu mager, ia enggan meninggalkan permennya hanya untuk menyambut Rio. Baru setelah ia kehilangan semua kesempatannya bermain, Ify meletakkan ponselnya dan mulai fokus kepada Rio.
“Mandi dulu, geh!” suruh Ify sambil mengelus rambut Rio pelan. Jujur, Ify sangat suka mengelus rambut Rio karena rambut pacarnya itu sangat lembut.
Rio membuka matanya, kemudian bangkit dan mengecup bibir Ify singkat sebelum melangkah ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Sepeninggal Rio, Ify pun berlalu ke kamarnya. Pasti pemuda itu belum makan, dan karena ia malas masak, maka makan di luar adalah solusinya. Hitung-hitung sekalian nge-date kan?
Tak membutuhkan waktu lama bagi Ify untuk bersiap diri. Begitu ia membuka pintu, Rio sudah berdiri di depan pintu dengan tangan yang mengelus perutnya. Rambutnya yang masih agak basah menetes beberapa ke lantai.
“Makan di luar, gue males masak,” sahut Ify yang langsung mendapat anggukan dari Rio.
“Sini dulu!” Ify menarik Rio masuk ke kamarnya. Mendudukkan pemuda itu di meja rias, mengambil hairdryer dan mulai mengeringkan rambut pemuda itu.
“Fy!”
“Hmm.”
“Nikah, yuk!”
Ify menghentikan kegiatannya dan menatap Rio yang juga sedang mnenatapnya melalui kaca rias.
“Tiba-tiba?” tanya Ify lalu meneruskan kegiatannya mengeringkan rambut Rio.
“Enak aja ntar kalau ada yang mandiin, ngeringin rambut, nyuapin- PANAS FY!” Rio bangkit sambil mengusap-usap pipinya yang memerah.
“Lo mau cari istri apa mau jadi bayi, pilih salah satu!” Ify berkacak pinggang. Ia sudah bersiap-siap untuk mengarahkan hairdryer ke wajah Rio lagi saat pemuda itu malah terkekeh lalu melayangkan kecup jauh sebelum keluar dari kamarnya.
****
Sebenarnya sejak tadi siang Ify ingin sekali makan mie setan, salah satu faktor kenapa ia sengaja tidak masak dan memilih makan di luar. Ify dengan berbinar memandang kedai di hadapannya sementara Rio sudah cemberut parah.
“Pindah resto aja, yuk! Makan steak gimana?” bujuk Rio yang tak diindahkan oleh Ify.
“Yo, lo kalau punya anak kayaknya bukan tipe suami siap sedia, deh!” celetuk Ify yang membuat Rio mengangkat alisnya heran.
“Apa hubungannya?”
“Ya kalau gue ngidam lo pasti bakalan cari seribu satu alasan buat ngeles. Kaya sekarang ini.”
“Fy!” Rio menatap Ify gusar dengan mata melotot marah membuat gadis itu yang kini bingung. “Lo kok bisa hamil? Kan gue belum nyi-ADUH!”
Ify menatap kekasihnya itu gemas. Sangat tidak peka, ia tadi kan hanya memberi perumpamaan, bukan berarti saat ini dirinya tengah hamil dan ngidam.
“Pokoknya gue mau makan di sini, Yo!” ucap Ify tanpa bisa diganggu gugat. Rio hanya mampu menghela napas panjang dan menyusul Ify yang sudah terlebih dahulu turun dari mobil.
Kedai mie setan ini lumayan banyak pelanggannya. Selain karena menu yang baru dan banyak dimsum-nya, juga karena dekorasi tempatnya yang instagramable banget. Tak heran jika kedai ini didominasi oleh pasangan muda.
Ify mengambil tempat duduk di sebelah dinding yang digambar gravity doodle berbagai jenis makhluk halus yang membuatnya justru terlihat lucu. Rio menyusul kemudian setelah memesan menu.
“Manusia sekarang ada-ada aja ya idenya,” gumam Rio sambil memandang ke sekeliling. Ia tak bisa memungkiri jika bisnis mie setan termasuk bisnis yang menjanjikan. Menunya kreatif, dengan nama-nama makhluk halus seolah mempertegas jika manusia lebih serakah daripada setan. Makanan setan aja kita makan, lantas setan makan apa? Kasihan sekali populasi setan sekarang jadi bercandaan dan bahan makanan.
Sepuluh menit menunggu, dua porsi mie setan, satu dimsum dan dua porsi es genderuwo kini sudah terhidang di meja. Sebenarnya Rio ingin tertawa membayangkan dirinya meminum es genderuwo. Ia saja tak pernah tahu bagaimana wujud genderuwo dan kini ia malah menikmati hidangannya.
“Kok nggak pedes?” Ify protes lantaran Rio memesan level empat dimana menurutnya level itu masih kurang pedas.
“Nggak usah banyak protes, makan!”
Bibir Ify mengerucut sebal. Inilah salah satu hal menyebalkan saat mereka makan bersama di luar dan Rio yang memesan menu. Pemuda itu tak pernah membiarkan dirinya menikmati makanan pedas favoritnya.
Dengan kesal, Ify meneruskan acara makannya tanpa mempedulikan Rio yang tersenyum kecil melihatnya kesal.
“Aw!” Ify mengaduh saat pelan saat giginya terantuk dengan sesuatu yang keras. Ia mengambil benda itu dan terkejut saat sebuah cincin berlian yang meah kini berada di tangannya.
“Alyssa Saufika Umari, will you marry me?” Kejutan kedua yang membuat Ify membelalak kaget. Karena terlalu kesal, Ify asyik menikmati makanannya tanpa mempedulikan apapun. Ia bahkan tidak tahu kapan dan dimana Rio mendapatkan buket bunga yang begitu cantik dan kini ada di hadapannya.
Ify mengangguk malu, apalagi saat para pengunjung bertepuk tangan heboh. Padahal ini acara lamaran dadakan dan kurang persiapan.
“Gue tahu lo nggak bakal nolak,” sahut Rio dengan d**a membusung bangga. Meskipun terkesan jual mahal, Rio tahu dimana titik lemah Ify. Gadis itu tak terlalu menyukai hal yang mewah dan mencolok, apalagi berujung lebay. Ini pula alasan mengapa Rio menyiapkan acara lamaran dadakan. Karena Ify lebih suka hal yang sederhana.
“Karena gue kasihan aja kalau lihat lo malu pas gue tolak.” Ify menyangkal meski semburat merah masih ada di pipinya. Ia terus berusaha terlihat biasa meski hatinya berbunga-bunga. Ia tak mau membuat Rio lebih membanggakan dirinya sendiri.
“No!” Rio menggeleng. “Sejak awal pilihan lo cuma dua, jadi istri gue, atau jadi ibu dari anak-anak gue.”
“Sama aja gue nggak punya pilihan, Tuan Mario Stevano Aditya Ma-“
Dengan cepat Rio membekap mulut Ify. “Lo terusin bilang maling dan gue bakal bikin malam pertama kita lebih awal, hitung-hitung nyicil.”
Ify melotot mendengar ucapan Rio yang sangat frontal. Untung saja pemuda itu mengucapkannya dengan berbisik sehingga Ify tidak harus menanggung malu karena kemesuman seorang Rio.
“Lo m***m!” sungut Ify setelah bekapannya dilepas.
“Emang!” balas Rio enteng.
“Awas aja gue nggak mau nikah sama lo!” ancam Ify kesal. Ia mengambil satu udang rambutan dan melahapnya dengan kasar seolah-olah ia tengah mengunyah seseorang yang membuatnya kesal.
“Lo cuma punya dua pilihan, Sayang! Nggak mau nikah sama gue, berarti lo jadi ibu dari anak-anak gue. Bisa dimulai kapan?”
Ify melotot, melayangkan ancaman melalui pandangan mata yang dibalas seringaian oleh pemuda itu, membuat Ify jadi teringat momen dimana mereka jadian terasa tak jauh berbeda.